Brother, I Love You

Brother, I Love You
152. Merasa seperti di selingkuhin



"Habiby !" pekik Yumna, karna Reyhan tiba tiba menindih tubuhnya.


"Sebelum ke rumah sakit, kita ikhtihar dulu sayang !." Reyhan tersenyum manis kepada Yumna, sampai menampakkan gigi gigi putihnya yang berjejer rapi.


Yumna mengerucutkan bibirnya,tapi matanya nampak berbinar. Suaminya itu genit sekali, tapi Yumna menyukai itu.


Reyhan pun mendekatkan wajahnya ke telinga Yumna. Setelah membaca do'a, Reyhan langsung mencium telinga itu dan mengisapnya . Membuat Yumna langsung merinding si bulu roma. Perlahan kelopak mata Yumna terpeham, menikmati sapuan lidah Reyhan menjalar di lehernya. ******* halus pun lolos dari bibirnya.


Reyhan tersenyum, ia pun mengagkat wajahnya dari leher Yumna. Kemudian mencium kening Yumna dengan rasa sayang, dan seterusnya hingga terjadi pergulatan panas penuh bara cinta di pagi itu.


Satu jam lebih berlalu, kini keduanya sudah keluar dari kamar mandi, dengan sama sama memakai handuk di lilit di tubuh mereka.


Saat Yumna mendudukkan tubuhnya di kursi meja rias. Reyhan langsung membuka handuk yang membungkus kepala istrinya itu. Kemudian mengambil hiredryer dari dalam laci meja dan mencolokkannya, untuk mengeringkan rambut Yumna.


Reyhan sangat menyukai rambut pirang ikal bergelombang istrinya itu. Sebisa mungkin ia akan ikut merawatnya jika ada waktu.


"Habib !" panggil Yumna.


"Hm..!"


"Menjauh dulu ! Yumna mau kentut" ucapnya tersenyum.


Reyhan menghela napasnya, mematikan hiredryer di tangannya lalu meletakkannya di atas meja. Kemudian mencubit gemas kedua pipi Yumna dari belakang, sampai membuat Yumna mengaduh kesakitan.


"Sakit Habib !" keluh Yumna.


"Kamu itu cantik cantik kok tukang kentut sih !" gemas Reyhan, lalu menjauh.


Setelah Reyhan menjauh keluar ke arah balkon kamar mereka. Yumna pun mengeluarkan kentutnya bersuara merdu dan besar kemudian tertawa sendiri.


Reyhan yang melihat Yumna tertawa tawa dari kaca balkon, mengeleng gelengkan kepalanya. Tiga bulan tinggal bersama, berstatus suami istri, istrinya perlahan lahan mulai menunjukkan keanehannya.


"Habib ! susah !" sahut Yumna dari dalam.


Reyhan segera masuk perlahan lahan, hati hati ! jangan sampai ia mencium aroma tak sedap yang di keluarkan bidadari menyebalkannya itu.


"Sudah gak bau Habib !" ujar Yumna tersenyum.


Reyhan mendekati Yumna, kemudian mengangkat tubuh istrinya itu ke atas pundaknya.


"Habib !" pekik Yumna


Bruk !


"Aw !" keluh Yumna.


Reyhan menjatuhkan Yumna ke atas kasur, dan langsung menindihnya.


"Kamu harus di hukum sayang !" gemas Reyhan, membuka handuk yang melilit tubuh istrinya itu.


"Habib ! kan sudah tadi !" Yumna mendorong tubuh Reyhan supaya tak melanjutkan aksinya untuk mencumbuinya lagi. Karna mereka baru selesai mandi dan akan pergi ke rumah sakit.


Reyhan menyeringai, ia pun mendekatkan wajahnya ke dada Yumna, dan mengecupnya bergantian.


"Itu hukuman untuk istri tukang kentut sepertimu" ucap Reyhan tersenyum. Kemudian turun dari atas tubuh Yumna.


Yumna mengerucutkan bibirnya, sambil melilit handuk kembali ke tubuhnya. Kemudian Yumna berdiri di atas kasur, lalu naik ke punggung Reyhan yang masih berdiri di pinggir tempat tidur.


Reyhan langsung menahan bokok Yumna dari belakang, setelah Yumna melingkarkan kakinya ke pinggangnya.


"Bajunya di pakein !." Yumna menyandarkan kepalanya ke punggug Reyhan.


"Cium dulu !" Reyhan memiringkan wajahnya ke samping supaya Yumna menciumnya.


Cup !


Tanpa berikir atau malu malu, Yumna langsung mencium pipi Reyhan dari samping.


Reyhan mendudukkan tubuh Yumna di atas meja rias. Kemudian memutar tubuhnya menghadap Yumna.


"Di sini ! di sini ! di sini !"


Reyhan menunjuk sebelah pipinya lagi, kening dan juga bibirnya.


Cup ! cup ! cup !


Yumna langsung mencium wajah Reyhan yang di tunjuknya, sembari tersenyum. Reyhan pun menangkupkan kedua telapak tangannya di kedua sisi wajah Yumna, lalu menghujaninya dengan ciuman tanpa ada yang terlewatkan.


Terakhir Reyhan mengecup lama kening bidadari surganya itu agak lama. Reyhan senang, melihat Yumna tak lagi sedih seperti tadi pagi.


"Love you !" ucap Reyhan lembut.


Yumna melingkarkan kedua tangannya ke leher Reyhan. Kemudian langsung mencium bibir Reyhan, dan melu***nya dengan hikmat. Dibalas langsung oleh Reyhan dengan begitu mesra.


Ciuman itu pun berlangsung cukup lama, hingga keduanya hampir kehabisan pasokan oksigen, barulah mereka sama sama melepaskan tautan bibir mereka.


"Love you too !" balas Yumna tersenyum.


Reyhan merekahkan senyumnya, mengecup kening Yumna sekali." Yuk kita siap siap ! ucap Reyhan, yang di angguki Yumna.


Reyhan memutar tubuhnya, Yumna melompat ke punggung Reyhan lagi sambil tertawa. Terpaksa Reyhan menggendong Yumna berjalan ke arah lemari pakaian. Untuk mengambil baju untuk mereka berdua.


Selesai bersiap siap, Reyhan dan Yumna pun langsung ke luar kamar. Berjalan menuruni anak tangga dengan bergandengan tangan. Wajah keduanya nampak berbinar, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka berdua.


Sampai di bawah tangga, Reyhan melepas tautan tangan mereka. Berpindah melingkarkan tangannya ke pinggang Yumna dari belakang. Begitu juga dengan Yumna, ia pun melingkarkan tanganya ke pinggak Reyhan dari belakang.


Sampai di dekat mobil Reyhan yang terparkir di depan rumah. Reyhan membukakan pintu untuk Yumna, dan menuntunnya masuk. Setelah menutup pintu kembali, barulah Reyhan menyusul masuk, dan melajukan kenderaannya keluar dari pekarangan rumah.


.


.


Sementara itu di rumah sakit, Orang tua yang berbahagia itu, sama sama terlelap di atas brankar, di ruang perawatan Queen. Keduanya sudah sama sama lelah dan mengantuk, karna dari tadi mereka tidak tidur sama sekali.


Pintu ruang perawatan Queen terbuka dari luar, setelah di ketuk terlebih dahulu. Mama Vani yang menunggu putri dan menantunya di ruangan itu menoleh, dan langsung berdiri melihat brankar bayi di dorong seorang perawat.


Oe oe oe..!


Tangis bayi itu, suaranya sangat nyaring, tapi kedua orang tua itu tidak terusik sama sekali.


"Kenapa cucu saya menangis Sus ?"tanya Mama Vani, mendekati cucunya yang brada di atas brankar.


"Bayinya haus Bu !, dia tidak mau minum susu botol !" jawab Dokter itu.


"Oh ! sebentar !"


Mama Vani langsung berjalan ke arah Queen dan Orion yang sudah tak sadarkan diri di atas brankar.


"Queen ! bangun sayang !, bayi kalian haus, mau mimi susu !." Mama Vani menggoyang goyang lengan Queen agak kuat.


Queen langsung terbangun, kesadarannya langsung kembali, mendengar suara bayinya menangis sangat nyaring.


"Bayi kalian tidak mau minum susu formula" ucap Mama Vani lagi, membantu Queen duduk bersandar di kepala ranjang dengan menggunakan bantal.


Tok tok tok !


"Assalamu alaikum !" sahut dari luar.


"Walaikum salam !" balas Mama Vani dan Queen bersamaan.


"Masuk !" sahut Mama Vani lagi.


Pintu ruang perawatan Queen pun terbuka dari luar.


"Dede bayinya lagi mimi ya ?" ucap Yumna, menahan Reyhan supaya tidak langsung masuk.


"Almira ! ada apa kenapa gak masuk ?" tanya Reyhan, yang berdiri di belakang Yumna.


Yumna memutar tubuhnya menghadap Reyhan." Habib masuknya nanti aja, Dede bayinya lagi mimi susu !" jawab Yumna.


"Lantas ?" Reyhan menaikkan satu alisnya. Kenapa kalau dede bayinya mimi susu ?, pikir Reyhan.


Yumna berdecak, kemudian mendorong pelan tubuh Reyhan." Ada hak bang Orion yang tidak boleh di lihat Habib !"jawab Yumna.


"Apa ?"


"Habib !" Yumna megerucutkan bibitnya, lantaran suaminya tak paham. Melihat tak ada orang di lorong rumah sakit. Yumna pun mengangkat satu tangannya ke dada Reyhan, dan sedikit meremasnya, dan langsung masuk ke dalam ruang perawatan Queen, tidak lupa menutup pintunya.


Setelah menyalam Mama Vani, Yumna melangkahkan kakinya berjalan mendekati Queen dan Baby nya di atas brankar.


"Bayi nya tampan sekali !" puji Yumna, mengelus pipi Baby itu. Yang bergerak gerak, karna menyedot sumber nutrisinya dengan rakus.


"Gimana dengan kak Yumna ? apa sudah isi ?" tanya Queen.


"Belum !, padahal aku sudah terlambat dua hari, tadi pagi di cek, garisnya masih satu" jawab Yumna, wajahnya nampak sedih.


"Baru tiga bulan, dulu tante juga agak lama dapatin Queen. Hampir satu Tahun menikah, baru tante hamil" ucap Mama Vani, berdiri dari sofa, berjalan ke arah brankar.


Mama Vani mengusap lembut bahu Yumna." Keseringan bercinta juga bisa penyebab sulit hamil" ucapnya tersenyum. Menebak kalau si burung unta, tidak jauh beda genitnya dengan si burung gagak milik ratu sejagat.


Wajah Yumna merona di balik nikapnya, kalau mama Vani bisa menebak kalau dia dan Reyhan sering melakukannya. Bahkan sampai tiga kali sehari semalam, seperti minum obat resep dari Dokter.


"Namanya juga pengantin baru Ma !, wajar dong kalau mereka sering sering bercinta. Kaya mama gak paham aja" sambung Queen.


"Emang Queen sama bang Orion dulu seperti itu juga ?, Ops !." Yumna menutup mulutnya yang keceplosan.


Queen tertawa cekikikan, lalu menganggukkan kepalanya. Istri dari Reyhan itu, meski terlihat kalem dan anggun, tapi sering kali berbicara ceplas ceplos.


"Tai kenapa aku belum hamil juga ya ?"tanya Yumna, bingung.


"Kak Yumna sama bang Reyhan sering bercinta ?" tanya Queen mengulum senyumnya. Tanpa sadar Yumna pun menganggukkan kepalanya.


"Bahkan sebelum kesini, Kami masih sempat melakukannya satu ronde, Ops !, maaf !."


"Huahahahah...!!!" tawa Queen dan mama Vani bersamaan.


Sehingga membuat bayi yang menyusu di pangkuannya itu, kaget dan langsung menangis. Bergitu juga dengan Orion yang tidur di samping Queen, langsung membuka mata.


Oe oe oe...!


"Cup cup cup ! maaf sayang !, kaget ya ?" ucap Queen, menggoyang goyang sedikit bayi di tanganya. Kemudian memindahkan kepala bayi itu ke sumber nutrisi sebelahnya.


"Anak kita kenapa menangis Queen ?" tanya Orion. Mendudukkan tubuhnya sambil menguap.


"Gak apa apa bang Orion, Dia cuma kaget aja, karna Queen sama Mama sama sama tertawa" jawab Queen.


"Momy sama nenek gesreg brisik ya sayang ?." Orion mengusap kepala buah cintanya dengan Queen itu dengan lembut, kemudian mencium keningnya, lalu memperhatikan mulut bayi itu, menyedot ompengnya dengan rakus.


Orion mengulurkan tangannya menyentuh dagu yang bergerak naik turun itu, menariknya perlahan, supaya terlepas dari sumber nutrusinya. Namun bayi itu semakin memperkuat sedotannya, enggan untuk melepas mulutnya.


"Rakus banget anak Daddy !, sisain dong sama daddy, masa di habisin !" ucap Orion, lebih kuat menarik dagu bayi itu, sampai mulutnya terlepas dari ompeng praktisnya.


Oe oe oe...!


Tangis bayi itu.


"Bang Orion !" tegur Queen, jahil banget suaminya itu.


Orion malah tertawa cekikikan, melihat mulut anaknya terbuka lebar, mencari cari sumber nutrisinya sampai dapat, dan langsung melahapnya kembali dengan rakus.


Orion menarik wajah anaknya itu lagi, membuat anak itu menangis kembali, karna mulutnya terlepas dari susu praktis miliknya.


"Ya ampun bang Orion !" gemas Queen mencubit pinggang suami genitnya itu, karna suka sekali membuat bayi mereka menangis.


"Itu milik abang Queen !" rajuk Orion, ngiler menyaksikan ompeng miliknya dikenyot kenyot anaknya dengan rakus, mengalahkan rakusnya. Mengingat ia harus berpuasa sebulan lebih, mendadak kepala Orion pusing.


"Sekarang gak lagi" sanggah Queen.


"Dede bayi kita minum susu formula aja !" ujar Orion.


"Dede bayinya gak suka susu muook !" balas Queen.


"Kok abang merasa seperti di selingkuhin sih !" ujar Orion lagi, tidak terima anaknya menguasai hak miliknya. Apa lagi Orion menunggu buah itu matang cukup lama, dari yang bari berbiji hingga mengkal, sekarang udah matang sempurna, malah anaknya yang lebih berkuasa.


Queen memutar bola matanya malas, mendengar suaminya merasa di selingkuhi. Padahal suaminya sendiri yang perbah selingkuh, meski tak disengaja.


Di depan ruang perawatan Queen, Reyhan sibuk memainkan handphon canggihnya. Entah apa yang di kerjakannya, hanya Reyhanlah yang tau.


"Reyhan kok gak masuk ?"


Reyhan langsung mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara itu. Kemudian menekuk bibirnya ke bawah.


"Yumna ngusir Reyhan Ma !" adunya.


"Kenapa ?" tanya Mama Bunga, yang membawa bayi di gendongannya. Papa Arya, ia hanya menggeleng gelengkan kepalanya, melihat sifat hello kitty anak keduanya itu.


"Cucu Mama lagi mimi cucu katanya !" jawab Reyhan , berbicara dengan bibir mengerucut.


"Oh !" Mama Bunga pun melangkahkan kakinya ke arah pintu ruang perawatan Queen. Membuka pintu di depannya sambil mengucap salam.


Sedangkan Papa Arya, ia pun mendudukkan tubuhnya di samping Reyhan.


"Apa kamu belum ada proyek baru lagi ?" tanya Papa Arya, menoleh sebentar wajah Reyhan.


"Sudah ada pengajuan dari salah satu perusahaannya. Reyhan lagi mempelajarinya Pa !" jawab Reyhan. Papa Arya mengangguk anggukkan kepalanya.


Anak anaknya memiliki otak yang pintar, Papa Arya yakin, anak anaknya bisa sukses, berdiri di kaki mereka sendiri.


"Bagaimana ? apa sudah ada kabar baik untuk Papa ?" tanya Papa Arya tersenyum, menepuk pelan bahu Reyhan.


"Do'akan saja Pa ! semoga secepatnya terkabul." Reyhan membalas senyuman Papanya.


.


.