Brother, I Love You

Brother, I Love You
08.Bersorak gembira



"Huaa....! sakit Mama...!" tangis Queen, terus memegangi kedua buah berharganya. Sepertinya pas terjatuh tadi, terbentur ke dada Orion.


"Ghaisan ! ambilin minyak kayu putih ke rumah sayang !" suruh Gandi kepada anak keduanya.


"Iya Pah !" Ghaisan pun langsung berlari masuk ke dalam rumah. Dan tak lama kemudian kembali ke halaman rumah, membawa minyak kayu putih di tangannya, langsung memberikannya kepada Papa Gandi.


Gandi membuka tutup botol minyak kayu putih itu, menuangkan sedikit ke jari telunjuknya, lalu mengoleskannya ke hidung Orion.


Orion yang menghirup aroma yang menusuk masuk ke rongga hidungnya pun, akhirnya mengerjapkan matanya.


"Orion ! bangun !" Gandi menepuk nepuk pipi Orion.


Orion membuka mtanya, meringis merasakan sakit di bagian kepala belakang, punggung dan bokongnya, saat ia mendudukkan tubuhnya. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Queen yang menangis di pangkuan Vani.


Gandi yang mendengar Queen terus menangis, pun mendekati Putri dan istrinya. Gandi mengambil Queen dari pangkuan Vani, mengusap usap kepala Queen di gendongannya.


"Dimana yang sakit sayang ?" tanya Gandi


"M*mi Queen sakit Papa...!" tangis Queen mulutnya terbuka lebar, kedua tangannya tak lepas dari kedua buah berharganya itu.


Gandi terdiam, mengalihkan tatapannya ke arah tangan putrinya yang memegang dadanya. kemudian mengalihkannya kepada Vani, meminta jawaban. Kenapa buah berharga putrinya bisa sakit.


Orion yang mendengarnya, pun menelan salivanya dengan sudah payah. Ia kawatir, di tuduh sudah mengapa ngapain gadis kecil itu. Kenapa dada gadis kecil itu bisa sakit ?, pikir Orion. Pandanganya tak lepas dari tangan Queen yang memegang buah dadanya yang masih datar.


"Sepertinya saat mereka terjatuh, m*minya terbentur" ucap Vani, yang paham dengan tatapan suaminya.


"Sampai sesakit itu sayang ?" bingung Gandi. Punya istrinya saja sudah habis di konyok konyoknya saat membuat adonan kue, gak ada istrinya kesakitan, malah ketagihan. Ini kok bisa punya putrinya sakit hanya karna terbentur, sampai menangis meraung raung.


"Huaaa....!" tangis Queen


"Sssstttt.....!!!!" Gandi bingung jadinya gimana mendiamkan putrinya yang kesakitan dibagian dadanya. Gak mungkin Gandi mengusap usapnya 'kan !. Kalau dada istrinya yang sakit, okelah !.


"Sepertinya sudah ada biji keras di dalam m*minya Queen. Pertanda Queen sepertinya mau dewasa Papa. Sedikit aja tersentuh benda keras, itu sangat sakit" jelas Vani, mengambil Queen dari gendongan Gandi.


Gandi yang baru tau kalau buah dada perempuan yang akan beranjak balik dewasa. Akan mengalami pengerasan terlebih dahulu, sebelum berubah menjadi kenyal, pun diam seperti memahami yang di jelaskan istrinya.


Dug dug dug ....!


Mendengar Queen mulai ada tanda tanda akan dewasa, entah kenapa jantung Orion tiba tiba berdetak kencang. Seperti ada yang bersorak gembira melompat lompat di dalam dadanya, tanpa sadar wajahnya berbinar, bibirnya berkedut.


"Kakak Queen kenapa Ma ?, kok kakak pegang pegang m*minya ?" tanya Ghaisan, adik Queen yang berusia sembilan Tahun.


"Gak apa apa !" jawab Vani, membawa Queen yang masih menangis masuk ke dalam rumah. Vani juga bingung bagaimana cara meredakan rasa sakit di dada putrinya.


"Kakak Queen sakit ya Ma ?" tanya anak ketiga Vani dan Gandi. Namanya Arcilla, usianya tujuh Tahun. Melangkahkan kakinya ikut masuk ke dalam rumah.


"Iya sayang !" jawab Vani.


Gandi mengalihkan pandangannya ke arah Orion yang masih duduk di batu beton. Gandi memicingkan matanya, melihat wajah Orion yang berbinar, ada sedikit senyum di bibirnya.


"Orion !, aku apakan putri Om ?" sergah Gandi, merubah raut wajahnya datar.


Orion yang tersentak pun, langsung mengalihkan tatapannya ke arah Gandi."ng..ngak di apa apain om !" gugupnya.


"Kamu yang membuat putri om kesakitan !" tuduh Gandi dengan wajah dingin.


"Ka..kami terjatuh om !. Orion juga gak tau kenapa i..itunya bisa sakit Om !." Orion ketakutan melihat wajah Gandi yang tampak marah.


Orion juga gak tau kenapa buah berhaga Queen bisa sakit. Yang dia ingat terakhir, kakinya kesandung dan lalu terjatuh, setelah itu Orion gak tau apa apa lagi, karna dia pingsan.


"Kalau terjadi apa apa sama putri Om !, kamu harus bertanggung jawab. Kenapa kamu membuatnya terjatuh sampai kesakitan !" ancam Gandi, kemudian memutar tubuhnya masuk ke dalam rumah.


Gila !, batin Orion, kenapa malah dia yang di salahkan, tubuhnya sudah pada sakit semua karna jatuh. Jika tadi ia tidak berusaha terjengkang ke belakang, mungkin tadi pas jatuh, ia sudah menimpa tubuh Queen.


"Ghaisan ! bantuin abang berdiri !" sahut Orion kepada adik Queen yang mengikuti Papa Gandi masuk ke dalam rumah.


"Dia sudah besar gak usah di bantuin !" Gandi menarik anaknya masuk ke dalam rumah, membiarkan Orion yang kesusahan berdiri.


Amit amit punya mertua seperti mereka, satu kurang waras, yang satunya gak berperasaan. Gerutu Orion dalam hati, melangkahkan kakinya tertatih keluar dari gerbang rumah keluarga Queenara. Sepertinya kakinya yang kesandung benda keras tadi sudah memar.


Di dalam rumah, tangis Queen sudah mulai reda, dadanya sudah tak sakitnya sudah mulai hilang.


Gandi yang tidak menyangka putri sulungnya sudah ada tanda tanda mulai dewasa. Gandi hanya diam memandangi wajah Queen yang basah air mata. Rasanya baru ia menimang nimang putrinya itu, tak terasa sudah besar.


Mengingat putrinya yang sudah merasakan jatuh cinta dengan pria lain. Rasanya Gandi tak sudi, Gandi cemburu, putrinya mencintai laki laki lain selain dirinya.


.


.


"Abang kenapa ?" tanya Elang, melihat Orion masuk ke dalam rumah dengan kaki pincang.


"Terjatuh kesandung benda keras di halaman rumah Queen" jawab Orion. Mendudukkan tubunya di sofa ruang tamu, kemudian mengangkat kakinya kepangkuannya, untuk melihat jempol kakinya yang terasa sakit.


Pantasan aja sakit banget, ternyata sampai terluka, batin Orion melihat jempol kakinya berdarah.


Gadis kecil itu, sudah meresahkan dan sering menyusahakan, sekarang malah membuatnya terluka. Orang tuanya gak bertanggung jawab lagi. Pikir Orion, malah meminta pertanggung jawaban darinya.


Gimana Orion mau luluh hatinya menjadi menantu ?.


"Kok bisa ?, abang udah gede juga, masa jalan aja bisa terjatuh !" ejak Elang, adik keduanya.


"Papa mana ?" tanya Orion


"Sepetinya lagi urusan pribadi di kamar !" jawab Elang. Tadi dia memanggil Mamanya di depan kamar kedua orang tuanya, tidak ada yang nyahut.


"Adek Bilal ?" tanya Orion lagi. Biasanya kalau sudah ada urusan pribadi kedua orang tuanya. Si bontot itu pasti sudah tidur di kamarnya.


"Di kamar abang" jawab Elang.


"Yang mindahin ke kamar abang siapa ?" tanya Orion lagi. Sampai sekarang usianya sudah sembilan belas Tahun. Orion sudah dewasa, ua sudah bisa menebak apa itu yang dimaksud urusan pribadi keduan orang tuanya.


"Papa yang kasih sama Elang tadi, terus Elang antar ke kamar Abang !" jawab Elang.


Apa Papa mau nambah anak lagi ?, perasaan hampir setiap malam, Bilal tidur di kamarku. batin Orion


Orion melihat jam di dinding, ternyata sudah jam sepuluh malam. Pantas saja, pikirnya


"Elang ! masuk kamar ! jangan begadang !" suruh Orion. Kemudian berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah tangga.


"Iya Bang !" balas Elang


.


.


#Jangan lupa ! like dan komen , Okeh !