
Sirin berjalan keluar dari gedung rumah sakit, menuju dimana Arsen memarkirkan mobilnya. Arsen menjemputnya ke rumah sakit, tapi tidak mau sama sekali menjenguk Ibunya. Sirin membuka pintu mobil Arsen dan langsung masuk duduk di kursi penumpang depan.
"Kamu benar benar tidak mau menjenguk Ibuku Arsen ?. Ibuku lagi sakit, dan dia sudah menyesali perbuatannya" tanya Sirin. Ia ingin sekali Arsen mau berdamai dengan Ibunya. Memaafkan kesalahan Ibuny. Karna bagaimana pun juga Ibunya sudah menjadi mertua Arsen.
Arsenio melajukan kenderaannya ke luar dari peralatan rumah sakit, tanpa menjawab pertanyaan Sirin kepadanya.
"Arsen !" panggil Sirin.
"Kalau aku menemui Ibumu saat hatiku belum baik. Aku kawatir, aku menghabisi Ibumu Sirin !" jawab Arsenio tanpa melihat ke arah Sirin yang duduk di sampingnya.
"Kamu keterlaluan Arsen !" ucap Sirin.
"Sudahlah Sirin, aku tak ingin membahasnya. Aku tak ingin kita bertengkar gara gara itu" balas Arsenio.
"Aku terlahir dari rahim wanita pembunuh itu Arsen !. Dan dari dulu kamu juga tau, Ibuku tidak merestui hubungan kita. Seharusnya kamu tidak menghamiliku" ujar Sirin.
"Aku tak ingin ribut denganmu Sirin. Kamu suka sekali mencari bahan keributan denganku. Dan pada akhirnya nanti kamu sendiri yang menangis" balas Arsenio."Dan kenapa kamu mau kuhamili saat itu. Kalau kamu gak mau, tidak mungkin 'kan perutmu membesar seperti badut sekarang, sangat kelihatan jelek, pipimu juga kelihatan sangat tembem, kaya bakpao !" ejek Araenio tak berperasaan.
Bukh !!
"Kamu mengejekku ?, lihat saja !, aku tidak akan mau memberi jatah burung balammu itu lagi" geram Sirin, meninju lengan Arsenio yang sibuk menyetir.
"Aku bisa mencari cewek lain. Aku ini tampan !,sekali kedipan mata saja, cewek cewek langsung klepek kelepek" balas Arsenio tersenyum.
"Pergi aja sana !, aku gak peduli !" ketus Sirin, buang muka ke arah samping jendela kaca mobil di sampingnya.
"Ayo cepat turun !, rumahmu sudah sampai. Aku harus pergi lagi mencari istri baru" usir Arsenio setelah ia memarkirkan mobilnya di depan rumah kontrakan mereka.
Sirin yang marah, pun membuka pintu di sampingnya dan langsung turun." Pergi sanah !" ketusnya, membanting kuat pintu mobil Arsenio.
Melihat kemarahan istrinya, Arsenio tersenyum, puas menggoda Sirin yang sensitif semenjak hamil. Arsenio pun membuka pintu di sampingnya, turun dari dalam mobil mengikuti Sirin masuk ke dalam rumah, dengan membawa dua bungkus nasi di tangannya.
Sampai di dalam rumah, Arsenio langsung memeluk Sirin dari belakang, dan mengecup pipi Sirin yang cemberut.
"Ayo kita makan, aku tau badutku ini pasti sudah lapar !" ucapnya mengelus elus perut buncit Sirin.
"Tadi aku sudah makan di rumah sakit bersama bang Ghissam" tolak Sirin, karna ia masih marah dengan Arsenio.
Arsenio meletakkan plastik makanan di tangannya di atas meja sofa. Tanpa aba aba, menggendong tubuh Sirin membawanya masuk ke dalam kamar.
"Kalau begitu, aku akan memakan badutku ini sekarang, pasti sangat enak" ucap Arsenio, meletakkan tubuh Sirin dengan sangat hati hati di atas kasur.
"Aku lagi marah sama kamu Arsen !, aku gak mau !" tolak Sirin, karna Arsenio menarik bajunya ke atas.
"Tapi suami tampanmu ini mau !" Arsenio tidak menghiraukan penolakan Sirin, ia pun terus membuka semua kain yang melekat di tubuh Sirin.
"Arsen ! aku gak mau !" tolak Sirin.
Cup !
Arsenio menjatuhkan satu kecupan di kening Sirin." Sebentar sayang !, aku sudah merindukanmu" ucapnya.
"Tadi kamu bilang mau cari cewek lain !" rajuk Sirin.
"Badutku ini lebih menggemaskan dari cewek lain. Untuk apa aku mencarinya lagi, ini lebih sedap dari apapun"Arsenio menyeringai lebar.
Setelah membuka baju seragam sekolahnya, sampai membuatnya polos, Arsenio pun mencium bibir Sirin dengan mesra.
Sirin yang tidak pernah bisa menolak pesona Arsenio pun, membalas ciuman Arsenio. Dan selanjutnya, mereka pun saling menjalankan peran masing masing di atas tempat tidur itu. Sampai peluh memabahi tubuh mereka berdua, karna kobaran api cinta yang mereka ciptakan sendiri. Kedua remaja itu menggila dan kehilangan kewarasan, saat tubuh mereka menyatu dengan sempurna. Saling memberi dan menerima satu sama lain.
Waktu berlalu cukup lama, akhirnya tubuh keduanya melemah setelah keduanya sama sama mencapai puncak kenikmatan Dunia. Arsenio pun menjatuhkan tubuhnya di samping Sirin, memeluk Sirin dan mengecup pipinya.
"Trimaksih sayang !, kamu sungguh nikmat, aku tidak pernah bosan untuk yang satu ini" ucapnya.
Sirin yang masih sibuk mengatur napasnya yang masih memburu, hanya diam saja. Ah !, dia juga tidak akan bosan untuk hal yang satu itu. Arsenio sangat pintar memanjakan tubuhnya.
Setelah tenaganya kembali pulih, Arsenio beranjak dari kasur setelah melilit tubuhnya dengan kain sarung miliknya. Ia hurus segera membersihkan diri, karna ia haris pergi mengurus toko mereka.
Selesai membersihkan diri di kamar mandi. kini Arsenio sudah selesai memakai baju santai. Dengan kaos oblong berwarna putih, di padukan dengan celana potong yang panjangnya di bawah lutut bermodel longgar berwarna coklat muda, di kiri dan kanannya terdapat saku. Dan gaya rambutnya di sisir dengan gaya berantakan.
"Kamu mau pergi ?" tanya Sirin yang masih terbaring di atas tempat tidur.
"Iya !, aku harus mengurus toko kita sayang" jawab Arsenio.
Sirin langsung mengerucutkan bibirnya, semenjak toko itu di buka, mereka sangat jarang menghabiskan waktu bersama, karna Arsenio yang sangat sibuk.
"Aku ikut !"
Arsenio mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur, kemudian membelai rambut Sirin." Nanti di sana kamu bisa bosan. Kalau di sini kamu bisa gabung sama emak emak geng gosip di sini" ucap Arsenio lalu terkekeh. Karna istrinya itu sekarang sudah menjadi geng emak emak berdaster tukang gosip di gang kontrakan mereka.
Sirin semakin mengerucutkan bibirnya," bagaimana lagi, aku suntuk jika harus mengurung diri di kamar sempit ini."
"Kalau ada orang yang lagi membicarakan keburukan orang lain, jangan ikut ikutan, kamu diam aja. Cukup jadi pendengar, dan ambil sisi baiknya, jadikan pelajaran" nasehat Arsenio.
Karna tidak mungkin istrinya tidak bergaul tinggal di lingkungan tempat tinggal mereka sekarang. Nanti bisa mereka di katain orang sombong. Apa lagi orang orang di tempat itu sudah tau, kalau mereka sama sama anak holang kaya yang terdampar.
"Iya !" jawab Sirin.
"Ayo makan, aku yakin badutku ini pasti sudah lapar kembali. Karna sudah banyak menghabiskan energi" ajak Arsenio, karna perutnya juga sudah sangat lapar, karna belum jadi makan siang.
"Ikut..!" rengek Sirin manja.
"Ya udah !" pasrah Arsenio, kemudian langsung menyibak selimut yang menutupi tubuh Sirin. Menggendong Sirin membawanya ke kamar mandi, dan langsung memandikan badutnya itu.
Sirin tersenyum, wajahnya berbinar, karna Arsenio selalu menunjukkan kasih sayangnya lewat perbuatan. Arsenio memang tak pandai merayu mengeluarkan kata kata manis, tapi Arsenio selalu memperlakukannya dengan sangat manis.
Selesai membilas tubuh Sirin sampai bersih, Arsenio melilitkan handuk ke tubuh Sirin, dan kepalanya. Kemudian menggendong tubuh Sirin keluar dari dalam kamar mandi.
"Tubuhku sudah sangat besar, apa tidak berat menggendongnya ?" tanya Sirin, melingkarkan tangannya ke leher Arsenio.
"Tentu saja berat !, bagaimana lagi !, apa pun akan kulakukan untuk menyenangkan hati badutku ini" jawab Arsenio tersenyum.
"Ish ! tumben kamu pintar merayuku !" ucap Sirin tersenyum.
Arsenio terkekeh, lalu menurunkan Sirin dari gendongannya, setelah mereka di dalam kamar."Biar hatimu senang badut !."
"Tapi aku lebih suka di rayu pakai duit !" ucap Sirin lagi.
"Dasar matre !" cibir Arsenio.
"Kenapa kamu masih menyukaiku ?" Sirin berbicara dengan bibir mengerucut.
"Aku kasihan aja sama kamu, yang tergila gila dengan ketampananku ini" jawab Arsenio.
Cup !
Arsenio mengecup bibir Sirin yang mengerucut. Setelah selesai memakaikan pakaian ke tubuh Sirin.
"Bibirnya di benarin, kalau mau ikut, nanti kamu bisa berakhir di kasur itu lemas tak bedaya" Arsenio menunjuk kasur mereka dengan dagunya.
Arsenio menarik tangan Sirin ke ruang tamu, membantu Sirin untuk duduk di sofa. Karna mereka harus makan dulu sebelum pergi. Supaya nasi yang di beli Arsenio tidak terbuang sia sia.
Selesai menghabiskan makanan mereka. mereka pun segera berangkat.
"Sirin ! mau kemana ?, sini deh sebentar !" sahut Ibu Pur tetangga mereka.
"Mau ikut ke toko Bu !, ada apa ya ?" tanya Sirin.
"Sini deh sebentar !" ujar Bu Pur.
Sirin menoleh sebentar ke arah Arsenio yang berdiri di sampingnya. Arsenio yang paham, melepas genggaman tangannya dari tangan Sirin dan menganggukkan kepalanya. Kemudian melangkahkan kakinya ke arah mobil miliknya, dan langsung masuk, menunggu Sirin di dalam.
"Ada apa Ibu Pur ?" tanya Sirin setelah mendekati sekelompok emak emak berdaster tukang gosib itu.
"Gini ! kami mau buat arisan panci, kamu ikut gak ?" tanya Bu Pur.
"Arisan panci ?" Sirin mengerutkan keningnya, sambil berpikir.
Sirin belum tau betul seperti apa budaya emak emak perumahan sederhana itu. Dari peralatan dapur, tikar, sprei, selimut, pakaian dan lain sebagainya. Hampir semuanya di dapat dari arisan, dan kredit.
"Iya dek !, anggotanya kurang satu, biar enam orang. Harga pancinya enam ratus ribu dek !, kalau beli cas 'kan sendiri sendiri, terasa banget tuh ke dompet suami. Jadi kita gotong royong dek membelinya, dengan cara arisan. Nanti giliran siapa yang narik, uangnya di beliin panci." jelas Bu Pur tetangga terbaik Sirin.
"Ikut ya dek ! biar pas eman orang. Kalau kamu gak mau panci, gak apa apa uangnya cas sama kamu. Cuma seratus ribu kok sebulan, kalian 'kan sudah punya toko, pasti sudah banyak dah tuh uang kalian" bujuk Bu Pur.
Sirin mengulas senyumnya,"Ya udah deh Bu !, Sirin ikut " ucap Sirin.
Tak apalah membantu emak emak tukang gosib ini, untuk memenuhi ke inginan mereka membeli panci anti lengket, biar masakan mereka nanti matang dengan sempurna. Secara mereka rajin ngantar ngantar makanan ke rumah. Tau mereka aku lagi ngidam dan gak bisa masak. Batin Sirin
"Pembayarannya setiap tanggal dua ya dek !" ucap Bu pur lagi.
"Iya Bu !, kalau begitu Sirin pergi dulu Bu !, suami Sirin sudah nunggu" pamit Sirin.
"Iya dek ! kalian hati hati, salam sama suami tampanmu !" balas Bu pur, lalu cekikikan.
Sirin pun hanya menanggapinya dengan tersenyum, kemudian memutar tubuhnya meninggalkan geng emak emak tukang gosib itu.
"Si Bu Pur bicara apa ?" tanya Arsenio, melihat Sirin sudah duduk di sampingnya.
"Bu Pur ngajak arisan panci sama emak emak lainnya" jawab Sirin, memasang sabuk pengaman ke tubuhnya.
"Oh !" balas Arsenio,dan langsung melajukan kenderaannya, keluar dari gak perumahan.
Sampai di pasar, tepatnya di depan toko sembako mereka. Arsenio memarkirkan mobilnya. dan langsung turun, begitu juga dengan Sirin. Mereka pun sama sama masuk ke dalam toko. Nampak pembeli sedang rame, Sirin tersenyum, sambil mengusap perut buncitnya. Berdoa dalam hati, semoga udaha mereka lancar, bisa cepat mengembalikan modal toko itu. Dan mereka bisa cepat membeli rumah. Supaya nanti anak mereka memiliki tempat tinggal yang lebih nyaman.
"Sayang ! masuk ke dalam gih !, aku harus membatu mereka, supaya pembeli gak terlalu lama ngatrinya"Arsenio menyuruh Sirin masuk ke ruangan rahasia toko itu.
"Aku mengambil cemilan dulu !" balas Sirin, berjalan ke arah rak tempat jajan jajanan.
"Masa iya ! perut udah besar gitu masih lapar !" ejek Arsenio tersenyum.
Sirin mengerucutkan bibirnya," anakmu nih ! yang rakus !" ucapnya, Arsenio suka sekali menggodanya dengan mengejeknya. Sirin pun mengambil beberapa bungkus makanan dan minuman, kemudian membawanya masuk ke ruangan rahasia toko itu.
Sirin meletakkan semua makanan di tangannya di atas meja yang ada di ruangan itu. Kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi berbahan plastik yang ada sandarannya. Sirin membuka satu bungkus makanan di depannya, dan langsung melahapnya.
Setengah jam
Satu jam
Satu jam setengah
Dua jam
Sirin mulai bosan, ia pun berdiri dari kursinya, keluar dari rungan itu, berjalan mendekati Arsen, yang berada di kasir.
"Arsen ! bosan !, antar aku pulang !" rengek Sirin. Membuat Arsenio yang lagi sibuk menghitung belanjaan orang menghela napasnya. Karna badutnya itu sepertinya mulai mengajak ribut.
"Sebentar !" ucap Arsenio.
"Antar pulang sekarang !" kekeh Sirin.
Arsenio diam saja, istrinya itu sangat keras kepala, tidak ada istilah tawar menawar. Setiap perkataannya adalah perintah, tidak boleh di bantah.
"Arsen..! aku mau pulang !"
"Sebentar badut jelek !" kesal Arsenio, ia lagi sibuk, badutnya itu mengganggu saja. Yang minta ikut ke toko siapa, yang gak betah..siapa ?. Selalu seperti itu, setipa Sirin ikut, bikin repot Arsenio harus mondar mandir mengantarnya pulang. Kalau ga di turuti ke inginannya pasti ngajak ribut dan akhirnya menangis.
"Arsenio !!! pulang !!!"
Oh ! Tuhan ! mau diapakan itu cewek ?. Ngajak ribut aja kerjanya. Batin Arsenio, mendengar teriakan Sirin, yang tidak ada malunya.
Plak !
"Pulang !" kekeh Sirin melempar Arsenio dengan sebungkus sabun colek.
Arsenio yang tak mau kalah pun, membalas melempar Sirin dengan sebungkus sabun itu, mengenai kepalanya."Pulang sana ! naik angkot !" suruhnya.
"Sirin aduin sama Mama Bunga !" ancam Sirin.
"Aduin sana !, aku gak takut"
Dengan mata berkaca kaca, Sirin pun melongos keluar dari toko itu. Berjalan cepat, entah kemana dia mau pergi.
Arsenio langsung mengejarnya, setelah ia mengembalikan uang kembalian pelanggan tokonya. Kawatir Sirin pergi entah kemana. Entar badutnya hilang, bisa gawat. Nanti ratu sejagat mencincang tubuhnya di jadiin sate.
Para pengunjung toko dan pegawainya, hanya bisa tersenyum dan geleng geleng kepala, melihat tingkah suami istri remaja itu.
Arsenio yang sudah berhasil mengejar Sirin, langsung menangkap tangan Sirin, menariknya kembali ke toko.
"Sebentar lagi badut !, nanti kita sekalian makan malam bersama" ujar Arsenio.
"Aku capek ! aku mau baring" keluh Sirin.
.
.