
Malam hari
Elang menurunkan laju kenderaannya saat akan memasuki gerbang rumah orang tuanya. Elang memarkirkan mobilnya dengan sempurna di tempat parkiran yang tersedia. Elang mengusap kepala Naysila dengan lembut, karna melihat Naysila diam saja.
"Ayo turun !" ajaknya kepada wanitanya itu.
"Tapi aku takut !" ucap Naysila.
"Jangan takut, Papa tidak akan marah sama kamu. Papa hanya akan memarahiku nanti" balas Elang terseyum.
"Tetap aja aku takut !" ucap Naysila lagi.
Cup !
Elang mengecup kening Naysila, kemudian membuka pintu di sampingnya. Elang melangkahkan kakinya memutari bagian depan mobilnya ke arah pintu di samping Naysila, lalu membuka pintunya.
"Ayok !" Elang mengulurkan tangannya kepada Naysila, supaya Naysila meraihnya.
Naysila menghela napasnya dalam, lamu mengulurkan tangannya menyematkannya di atas telapak tangan Elang. Elang pun menggenggam tangan itu erat, membantu Naysila keluar dari dalam mobil. Setelah menutup pintunya, Elang menggandeng tangan Naysila berjalan ke arah pintu masuk rumah.
Elang membuka pintu rumah itu sembari mengucap salam. Elang menghela napasnya saat akan melangkahkan kakinya membawa Naysila ke rumah itu. Elang siap menerima kemarahan Papanya.
"Bang Elang !" tegur Bilal yang lagi bermain bersama Boy di ruang keluarga.
"Mama sama Papa mana ?" tanya Elang.
"Di kamar !" jawab Bilal, netranya tak putus dari gadis yang berdiri di samping abangnya itu.
"Nay ! duduk di sini dulu, aku akan memanggil Papa sama Mama dulu" ucap Elang, mendudukkan Naysila di sofa ruang keluarga.
Naysila menganggukkan kepalanya dengan menggigit bibir bawahnya. Jantungnya terasa dekdekan akan bertemu dengan orang tua Elang.
"Elang !"
Elang dan Naysila menoleh ke arah sumber suara itu.
"Kak Yumna !" ucap Elang.
"Kamu bawa siapa ?, apa dia pacarmu ?" tanya Yumna.
Elang dan Naysila saling berpandangan, kemudian Elang menjawab." Iya Kak !"
"Gak bagus pacaran Elang !, di acaran Agama kita tidak ada yang namanya hubungan berpacaran. Berpacaran itu akan mengundang maksiat" nasehat Yumna.
"Iya Kak !, makanya Elang membawanya kesini !. Kenalkan Kak Yumna !, namanya Naysila" balas Elang.
Naysila pun berdiri dari tempat duduknya, menyalam tangan Yumna." Naysila Kak !" ucap Naysila terseyum masam.
"Yumna !, aku adalah kakak ipar kedua Elang" balas Yumna tersenyum ramah, terlihat sangat cantik, karna di dalam rumah ia tak memakai nikapnya." Duduklah tunggu Elang di sini, kakak mau ke dapur dulu" ucap Yumna, lalu melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk mengambil air minum untuk stok di kamar.
Di depan kamar Papa Arya dan Mama Bunga. Reyhan mengetuk daun pintu kamar orang tuanya itu.
"Ma ! Pa !" panggil Elang.
"Ada apa Elang !!?" sahut dari dalam.
"Boleh Elang masuk Ma ?" tanya Elang.
"Masuklah ! pintunya gak di kunci !" sahut dari dalam lagi.
Elang pun membuka pintu kamar orang tuanya dan langsung masuk.
"Ada apa ?, kemana seharian anak Mama ?, kanapa gak datang tadi ke rumah sakit ?" tanya Mama Bunga.
"Ma ! Pa !, ada hal penting yang ingin Elang bicarakan" ucap Elang tanpa menjawab pertanyaan ratu sejagat.
"Apa ?" Mama Bunga mengerutkan keningnya melihat wajah anak ketiganya yang serius dan tegang.
"Terutama sama Papa !" ucap Elang lagi, kemudian menelan salivanya bersusah payah.
"Mau bicara apa nak ?, kenapa wajahmu tegang seperti itu, bicaralah !" ujar Papa Arya yang sibuk menimang nimang putri kesayangannya.
"Pa ! Ma ! bisa kita keruang tamu ?, Elang ingin memperkenalkan seseorang sama Mama dan Papa !" ucap Elang.
Papa Arya dan Mama Bunga sama sama menautkan alis mereka, kemudian saling berpandangan. Mereka heran dan penasaran siapa yang akan di kenalkan Elang kepada meraka.
"Apa kamu membawa pacarmu kesini ?" tebak Papa Arya.
"I..iya Pa !" jawab Elang menunduk.
"Untuk apa kamu memperkenalkan pacarmu sama Papa ?" tanya Papa Arya lagi.
"Elang ingin menikah Pa ! Ma !" jawab Elang.
Sontak Mama Bunga dan Papa Arya saling berpandangan lagi. Mereka tidak pernah mendengar anak ketiga mereka itu dekat dengan cewek manapun. Kira kira cewek mana yang akan di nikahinya.
"Aaryan ! kita akan mantu lagi !" ucap Mama Bunga terharu. Tak terasa anak anak mereka sudah pada besar, padahal baru rasanya Mama Bunga mengandung dan melahirkan anak anak mereka semua.
Papa Arya menghela napasnya, berpikir, kenapa anak anaknya masih berusia muda sudah pada ingin menikah semua ?.
Papa Arya pun berdiri dari sofa yang di dudukinya. Berjalan ke arah pintu dengan membawa Sabina kecil di dekapannya. Begitu juga dengan Mama Bunga, ia melangkahkan kakinya mengikuti suaminya ke luar kamar, langsung di ikuti Elang.
Sampai di ruang keluarga, Papa Arya mengerukan keningnya tidak asing dengan wajah kekasih dari anaknya itu.
Naysila pun berdiri dari tempat duduknya, melihat kedua orang tua Elang dan Elang sudah datang ke ruang keluarga.
"Assalamu alaikum Om ! Tante !" Sapa Naysila sedikit menundukkan pandangannya, Naysila tidak berani menatap kedua orang tua kekasihnya itu.
"Walaikum salam !" balas Papa Arya dan Mama Bunga bersamaan. mereka pun duduk di sofa yang sama.
Elang, ia mendudukkan tubuhnya di samping Naysila. Dan Kemudian mengambil tasnya yang terletak di atas sofa sebelahnya. Elang mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, dan memberikannya kepada Papa Arya.
"Apa ini ?" Papa Arya menajamkan pandangannya ke arah Elang dengan kening mengerut.
"Perkenalkan Pa ! Ma ! namanya Naysila Madina. Dan surat itu adalah titipan dari mendiang kakek Naysila untuk Papa sebelum beliau meninggal Dunia eman Bulan yang lalu."
Papa Arya semakin mengerutkan keningnya, setelah memberikan Sabina kecil kepada ratu sejagat. Papa Arya pun membuka amplop surat itu. Kira kira apa sebenarnya isi surat itu ?. Papa Arya mengeluarkan isi surat itu, membuka lipatannya dan mulai membacanya.
📃 Assalamu alaikum wr wb.
Apa kabar Arya ?, mungkin kamu sudah lupa dengan pamanmu yang jahat ini. Paman minta maaf atas semua kesalahan paman di masa lalu yang sudah merebut hakmu. Merebut harta warisan yang seharusnya milikmu. Paman minta maaf sebesar besarnya. Harta itu sudah habis, maaf ! Paman tidak bisa mengembalikannya.
Dua Tahun yang lalu Paman kembali ke kota ini, Paman ingin menemuimu, tapi Paman tidak punya keberanian menemuimu untuk meminta maaf. Paman menyesal Arya, setelah harta itu habis, hidup paman menderita. Istri Paman meninggalkan paman. Dan sepupumu Halimah sakit sakitan. Sampai ia menikah dan melahirkan seorang putri bernama Naysila Madina yang datang bersama anakmu Elang.
Sepupumu Halimah sudah meninggal delapan belas Tahun yang lalu bersama suaminya, saat mereka perjalanan ke kampung suaminya, saat itu Naysila baru berusia empat Tahun, dan dia selamat dari kecelakaan yang merenggut kedua orang tuanya itu.
Sekali lagi Paman minta maaf Arya, Karna sekali lagi Paman sudah mencuri hak milikmu. Paman menikahkan anakmu bernama Elang dengan cucuku tanpa seijinmu. Saat itu Paman sakit keras, Penyakit Paman sudah tidak bisa di sembuhkan lagi. Pada saat itu Paman kawatir memikirkan nasib cucu Paman. Jika Paman meninggal siapa yang akan menjaganya. Sehingga Paman meminta anakmu Elang untuk menikahi Naysila. Supaya ada yang menjaganya, dan paman bisa pergi dengan tenang.
Paman mohon Arya !, terimalah cucuku menjadi menantumu. Dan jangan memarahi Elang, sebelum saya menikahkan mereka, dia tidak tau kalau aku pamanmu. Kalau aku kakeknya, dan Naysila itu sepupunya. Saya memberitahu itu lewat surat, menyuruhnya membacanya setelah saya tiada. Dan begitu juga surat yang kamu baca ini. Karna Paman sangat takut akan menghadapi kemarahanmu. Anggaplah Paman pengecut, tapi Paman mohon, terimalah cucuku sebagai menantumu. Dia tidak memiliki siapa siapa lagi selain kalian. Karna sepupu sepupumu yang lain tidak ada yang mau menerimanya karna kejahatan Paman sendiri yang serakah akan harta warisan.
Dari pamanmu
Ali Mukhti Alfarizqi
***
Selesai membaca isi surat yang ternyata dari pamannya itu. Papa Arya melipat surat itu, meletakkannya di atas meja. Tanpa berbicara apa apa, Papa Arya berdiri dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya kembali ke kamar.
"Aaryan !" panggil Mama Bunga, langsung mengikuti suaminya kembali ke kamar, meninggalkan Elang dan Naysila.
Naysila yang menunduk dari tadi menghela napas beratnya, kemudian mengarahkan pandangannya ke wajah Elang yang duduk di sampingnya.
Elang tersenyum getir, sambil meremas tangan Naysila yang di genggamnya dari tadi.
"Antar aku pulang Elang !" lirih Naysila, Elang menggelengkan kepalanya." Orang tuamu pasti tidak menerimaku !" ucapnya lagi, menatap Elang dengan teduh.
Elang diam tidak bisa berkata apa apa. Elang bingung karna setelah membaca surat dari kakek Naysila, Papanya hanya diam, tidak mengatakan sepatah kata pun. Apakah papanya merestui pernikahan mereka atau tidak.
"Malam ini kamu akan tidur di sini !" ucap Elang.
Naysila mengelengkan kepalanya, bagaimana bisa dia tidur di rumah orang tua Elang, kalau tidak mendapat restu.
Di dalam kamar, Mama Bunga meletakkan Sabina kecil di dalam box bayi. Kemudian mendekati Papa Arya yang duduk termenung di pinggir tempat tidur. Mama Bunga mendudukkan tubuhnya di samping laki laki yang egois untuk memilikinya itu, mengusap bahunya lembut.
Meski Mama Bunga tidak tau apa isi surat itu, tapi mama Bunga bisa menebak, kalau isi surat itu sepertinya sudah menyinggung perasaan suaminya, membuat hatinya terluka.
"Gadis yang di bawa Elang itu adalah cucu dari Paman Ali. Dan Paman Ali sudah menikahkan mereka."
Mama Bunga terdiam menghentikan gerakan tangannya mengusap bahu Papa Arya. Meski Mama Bunga tidak mengenal Paman dari suaminya itu. Tapi Mama Bunga sudah pernah mendengar cerita Papa Arya, tentang keluarga Ayahnya.
"Dulu setelah Papa dan Mama meninggal, saat itu usiaku baru dua belas Tahun. Dengan teganya Paman mencuri surat surat rumah dan tanah yang seharusnya menjadi milikku. Dan diam diam menjual semua harta warisan dari kakek dan harta hasil kerja keras Papa. Paman Ali membawanya kabur bersama istrinya entah kemana. Sampai aku, kakek dan nenek terusir dari rumah saat si pembeli rumah datang dan menyuruh kami untuk mengosongkan rumah." Papa Arya diam sebentar, tak terasa air matanya mengalir begitu saja dari sudut matanya. Mengingat dulu betapa sulitnya kehidupannya bersama kakek dan neneknya, setelah meninggalkan rumah yang seharusnya miliknya itu.
"Dulu Nenek terpaksa harus menjual cincin kawinnya, untuk membeli tempat tinggal untuk kami. Dan tentunya supaya kami memiliki uang untuk biaya hidup. Dan semenjak itu, mendiang kakek sakit sakitan dan meninggal setelah setahun kejadian itu. Dan aku tinggal berdua saja dengan Nenek !."
"Sekarang dia merampas anakku !" tangis Papa Arya pilu.
"Sssttt...!" Mama Bunga menarik tubuh Papa Arya ke dalam dekapannya. Mengusap usap punggung suaminya itu, dan mengecup lama ujung kepalanya.
Kalau sudah seperti ini, Papa Arya manjanya persis seperti Reyhan.
"Apa yang harus kulakukan Bungaku ?. Elang sudah menikahi gadis itu."
Papa Arya bingung, dilanda dilema. Elang sudah menikahi gadis yang ternyata keponakannya itu. Tak mungkin Papa Arya menyuruh Elang menceraikannya. Untuk menerimanya, hati Papa Arya berat, karna mengingat kekejaman Pamannya dulu yang merampas hak miliknya.
Mama Bunga diam, ia pun bingung. Mungkin untuk Mama Bunga tak masalah untuk menerima gadis itu, karna ia tak punya masalah dengan kakek gadis yang ternyata menantunya itu. Tapi Mama Bunga memikirkan perasaan suaminya yang terluka di masa lalu.
.
.