
Arsenio mematikan mesin mobilnya setelah ia memarkirkannya di halaman rumah mereka. Sirin langsung turun, melongos masuk ke dalam rumah dengan bibir cemberut. Sirin gak terima, sekarang Papanya lebih sayang sama Diana dari pada kepadanya.
"Sirin ! kamu kenapa sayang ?" tanya Mama Bunga yang duduk duduk di sofa ruang tamu. Melihat Sirin berjalan dengan wajah cemberut ke arah pintu kamar.
"Sekarang Sirin gak punya Mama. Dan sekarang Papa di kuasai Diana !" jawab Sirin cemberut.
Mama Bunga mengulas senyumnya, memaklumi sikap Sirin yang agak sensitif semenjak hamil besar. Munkin anak itu waswas atau mulai takut untuk menghadapi kelahiran anaknya. Sehingga ia lebih membutuhkan lebih banyak perhatian dari orang orang sekitarnya.
Di tambah Arsen sangatlah sibuk, harus sekolah, mengurus usaha mereka, dan sesekali Arsenio begadang sampai larut malam, karna setelah mengurus toko baru ia punya waktu bersama teman temannya. Sehingga waktu Arsen sangat sedikit untuk Sirin, Sirin merasa kurang di perhatikan Arsenio. Seperti barusan, setelah mengantar Sirin pulang ke rumah, Arsen langsung kembali ke sekolah. Tadi Arsen hanya minta ijin sebentar untuk menemani Sirin kontrol ke Dokter.
"Sini duduk di samping Mama sayang !" ajak Mama Bunga.
Sirin pun melangkahkan kakinya ke arah Mama Bunga dan mendudukkan tubuhnya di samping Mama Bunga. Mama Bunga langsung mengusap usap rambut Sirin dari samping dengan lembut. Mama Bunga pun mencium kening menantunya yang kurang perhatian itu.
"Ayo hadap sana ! biar Mama pijatin punggungnya. Mumpung Sabin lagi tidur !" ucap Mama Bunga. Menyuruh Sirin untuk memutar tubuhnya membelakanginya.
Mama Bunga tau, punggung Sirin sering tidak enakan, karna harus menopang perutnya yang besar. Sirin pun memutar tubuhnya, dan Mama Bunga langsung memijat mijatnya.
.
.
Malam sudah menunjukkan setengah dua belas malam, Arsenio baru sampai di rumah. Arsenio melangkahkan kakinya berjalan ke arah kamarnya dan Sirin di lantai bawah rumah orang tuanya itu.
"Arsen !"
Suara berat itu berhasil menghentikan langkah Arsenio. Arsenio pun memutar tubuhnya ke arah Papa Arya yang berdiri di belakangnya.
"Iya Pa !" balas Arsenio.
"Kamu berantem lagi ?" tanya Papa Arya, melihat sedikit luka memar di sudut bibir Arsenio.
"Orang yang melempar toko kemarin, menghadangku saat perjalanan pulang Pa !" jawab Arsenio.
Papa Arya menghela napasnya, anak ke empatnya itu sangat hoby menyelesaikan masalah dengan kekerasan.
"Oke ! malam ini kamu pulang larut malam karna ada yang menyerangmu !. Selama ini, mentang mentang Papa tidak perbah memberimu hukuman lagi, kamu semakin sering pulang larut malam. Kamu lupa ?, kalau sekarang kamu punya istri !. Sirin itu lagi hamil besar, mengandung anakmu !. Malah kamu masih suka begadang. Sirin itu butuh perhatian yang lebih dari kamu Arsen. Kenapa kamu tidak paham dengan keadaannya yang sedang hamil ?." cerca Papa Arya.
"Maaf Pa !" ucap Arsenio.
"Kalau besok kamu masih berani begadang, Papa akan patahkan kakimu itu !" ancam Papa Arya. Kepada anaknya yang sama bandelnya dengan istrinya itu.
Papa Arya pun membalik tubuhnya kembali ke kamar. Memiliki banyak anak memang hal yang sangat menyenangkan, sekaligus membuat sakit kepala dengan segala sifat dan tingkah masing masing setiap anak.
Membesarkan anak memang bukan hal yang sulit. Yang sulit itu adalah mendidiknya untuk menjadi manusia yang baik.
Arsenio pun membalik tubuhnya, berjalan masuk ke dalam kamarnya dan Sirin. Sampai di dalam kamar, di lihatnya Sirin sudah tertidur pulas dengan posisi miring.
Arsenio melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur, dan mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur. Arsenio memandangi wajah Sirin yang nampak lelah, Arsenio kasihan melihat itu.
Rasa menyesal itu pun singgah di hati Arsenio. Seharusnya ia tak menghamili Sirin waktu itu, sehingga mereka tak perlu harus terpaksa menikah muda. Sirin tidak mengalami kesulitan bergerak karna perutnya yang besar. Sirin bisa mengepakkan sayapnya kemana ia inginkan. Sirin bisa meraih cita citanya keluar Negri untuk menjadi Dokter kulit, seperti yang keinginannya selama ini.
Dan Arsenio juga tidak capek dan lelah, karna harus sekolah dan mengurus usaha mereka. Arsenio juga bisa bebas menikmati masa remajanya.
Arsenio membungkukkan tubuhnya, mencium kening Sirin agak lama.
Maafkan aku Sirin !, aku belum menjadi suami yang baik untukmu !. Batin Arsenio, lalu melepas ciumannya.
Arsenio pun berdiri dari tempat duduknya, berjalan masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan diri. Tubuhnya sangat lelah, seperti itu terus setiap hari. Karna terlalu sibuk, ia selalu kurang istirahat setiap malam. Bahkan ia sering kali tak punya tenaga untuk bersenang senang dengan Sirin lagi.
Selesai membersihkan diri, Arsenio langsung keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk di lilit di pinggangnya. Arsenio berjalan ke arah lemari pakaian. Setelah mengambil pakaian santai untuknya, ia pun langsung memakainya. Kemudian menyusul Sirin ke atas tempat tidur.
Arsenio memeluk tubuh Sirin dari belakang, setelah menjatuhkan satu kecupan di pipinya. Arsenio pun memejamkan matanya menyusul Sirin ke alam mimpi.
Sirin langsung membuka kelopak matanya, air matanya langsung bercucuran dari sudut matanya. Dari tadi Sirin belum tidur, ia hanya pura pura tidur saat mendengar pintu di kamar mereka di buka. Sirin susah tidur jika Arsenio tidak mengusap usap perutnya. Sampai saat ini, Arsenio belum juga berobah. Arsenio masih sering pulang larut malam, tidak peduli kepadanya yang sering menunggunya pulang.
"Sirin !" panggil Arsenio, mendengar Sirin terisak.
Arsenio mendudukkan tubuhnya, membalik tubuh Sirin sampai terlentang. Di lihatnya wajah Sirin sudah basah air mata.
"Kamu kenapa menangis ?" tanya Arsenio, menghapus air mata dari pipi Sirin.
"Setelah anak ini lahir, aku ingin kita cerai Arsen !" isak tangis Sirin.
Sontak membuat Arsenio membeku, memandang wajah Sirin dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
Arsenio menggeleng gelengkan kepalanya, tidak percaya dengan permintaan Sirin. Ya dia memang sering begadang, tapi itu bukan berarti Arsenio tidak serius dengan pernikahan mereka. Arsenio lelah, ia hanya butuh hiburan sesekali berkumpul dengan teman temannya.
"Sebenarnya kita sama sama belum siap menikah Arsen" ucap Sirin lagi.
Sirin lelah, hatinya lelah, pikirannya lelah dengan apa yang menimpanya selama ini. Kenapa Arsenio saja yang butuh hiburan ?, di tidak. Sirin tidak bisa pergi kemana mana sendiri dengan perutnya yang besar. Selama menikah, Arsenio tidak pernah memberinya hiburan, hanya sekedar jalan jalan saja, makan makan di mall. Sirin terkesan seperti istri simpanan, yang tidak pernah di kenalkan ke halayak rame.
Ya ! pernikahan mereka memang masih di rahasiakan. Hanya sebagian kecil yang tau dengan pernukahan mereka. Untuk menjaga nama baik Arsenio dan Papa Arya di sekolah. Dan bahkan sampai sekarang mereka belum mengadakan resepsi pernikahan.
Arsenio mendudukkan tubuh Sirin, lalu membawanya ke pelukannya. Arsenio pahan dengan hormon Sirin yang tidak stabil, Arsenio mencoba mengabaikan ucapan Sirin yang ingin bercerai.
"Aku minta maaf !, mulai besok aku akan selalu cepat pulang !" ucap Arsenio, mengusap usap kepala Sirin yang menangis terisak.
"Kamu pasti bohong !"
"Aku serius !"
"Bagaimana kalau kamu berbohong ?"
"Kamu boleh memberiku hukuman apa saja, tapi jangan meminta cerai !" jawab Arsenio.
"Kalau kamu berbohong !, aku tidak akan mengijinkanmu menyentuh anak kita selamanya !" ancam Sirin.
"Kalau aku tidak berbohong ? bagaimana ?" tanya Arsenio.
Sirin diam sambil berpikir, kemudian berbicara."Kamu harus membelikan aku mobil setelah melahirkan !."
Arsenio tersenyum mendengar jawaban Sirin, sambil menghapus sisa air mata dari pipi Sirin. Untuk membeli mobil baru, sepertinya tabungan Arsenio belum cukup. Tapi demi menyenangkan hati si badut, Arsenio pun mengiyakannya.
"Okeh !, sekarang ayo tidur, pagi masih lama." Arsenio kembali membaringkan tubuh Sirin ke atas kasur.
Sirin memandangi wajah Arsenio tanpa berkedip.
"Apa ?" tanya Arsenio.
"Apa aku sangat jelek ya dengan tubuh besar seperti ini ?. Kenapa kamu jarang sekali menyentuhku akhir akhir ini ?." Sirin menatap Arsenio dengan tatapan meneduh. Kepercayaan dirinya hilang, dengan bobot badannya yang besar dan bengkak.
Arsenio mengulas senyum manisnya, satu tangannya terulur membelai wajah Sirin." Kamu malah tambah cantik dengan model seperti ini" jawabnya.
"Kenapa kamu jarang menyentuhku ?"wajah Sirin memerah saat menanyakan itu.
"Terkadang tubuhku sangat lelah Sirin, aku takut mengecewakanmu !" jawab Arsenio jujur, dan Sirin pun terdiam.
"Aku takut tak sampai memuaskanmu, akunya sudah keluar" ucap Arsenio lagi.
"Tapi aku menginginkanmu !"
Baru juga mengingkan cerai, malah sudah pengen anu anu. Dasar si badut, gak jelas !, pikir Arsenio.
Arsenio perlahan membungkukkan tubuhnya, mencium kening Sirin agak lama. Ciuman itu perlahan turun, dan terus turun, turun turun turun turun... hingga membuat Sirin melambung hingga ke surga.
.
.
Pagi hari Arsenio terbagun dari tidurnya, kening Arsenio mengernyit, tiba tiba merasakan perutnya mual dan ingin muntah.
Kenapa tiba tiba perutku mual ?, ya ampun !. Arsenio bangkin dari tempat tidur, berlari masuk ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya di atas washtapel.
Oek oek oek !
Ya Tuhan ! ini sakit banget, batin Arsenio.Arsenio terus memuntahkan isi perutnya, sampai asam lambungnya ikut keluar.
Selesai memuntahkan isi perutnya, Arsenio mencuci mulut dan wajahnya yang memerah dan berkeringat dingin.
Masa iya aku ngidam ! hamil Sirin 'kan sudah besar ?. Apa aku masuk angin ya ?. batin Arsenio lagi, berjalan gontai kembali ke kamar. Tubuhnya terasa lemas, Arsenio membaringkan tubuhnya lagi di atas kasur.
.
.
.
.