
Sampai di rumah sakit, Arsenio dan Sirin langsung masuk ke ruangan perawatan Queen.
"Queen !" seru Sirin, berjalan cepat ke arah Queen yang duduk di atas brankar, langsung memeluknya.
"Sayang ! pelan pelan jalannya !" tegur Arsenio kepada istrinya, berjalan ke arah sofa, duduk di salah satu sofa kosong.
"Babynya mana ?" tanya Sirin, menghiraukan teguran Arsen.
Queen mengerucutkan bibirnya cemberut, karna sahabatnya itu langsung menanyakan baby nya, tanpa menanyakan kabarnya setelah melewati perjuangan yang hebat." Kamu gak menanyakan kabarku ?" sungutnya.
Sirin tertawa cekikikan, kemudian tersenyum dan mencubit kedua pipi Queen." Aku sudah melihatmu baik baik saja, untuk apa aku menanyakannya lagi ?."
"Apa kamu gak penasaran bagaimana perjuanganku saat mengempeskan perutku ini ?" sungut Queen lagi.
"Sebentar lagi juga aku akan merasakannya !" jawab Sirin tersenyum, sambil tangannya mengusap usap perutnya yang besar.
"Bang Orion aja sampai pingsan melihatku !" ujar Queen.
Sontak semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arah Orion yang sedang bermain main dengan adik perempuannya di sofa.
"Orion ! kamu pingsan saat Queen melahirkan ?" tanya Papa Arya, tak percaya.
"Itu karna Orion kelelahan gak tidur semalaman Pa !" kelit Orion.
Papa Arya menggeleng gelengkan kepalanya." Kamu membiarkan Queen berjuang sendirian ?" tanya Papa Arya lagi.
"Iya Pa ! Queen udah kesakitan setengah mati, bang Orion malah bobo cantik di lantai !." Queen mengompori Papa mertuanya itu dari atas brankar.
"Anakku yang tampan no satu ini, kenapa mentalnya mental tahu ?, lembek !" ujar Mama Bunga yang duduk di samping Orion.
"Orion hanya ngantuk dan lemah aja Ma !" balas Orion, memencet mencet hidung adik perempuannya itu. Membuat bayi menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Cih ! gaya sok jadi mafia, melihat istri melahirkan saja pingsan !" cibir Papa Arya kepada anak sulungnya itu.
"Dek Sabin ! Papa ngejekin Abang !" adu Orion malah kepada adiknya yang masih berusia dua minggu itu. Melihat adik ceweknya cantik dan mungil, Orion jadi pengen punya anak cewek.
"Sekarang giliran babang Arsen yang gendong Sabin !" ujar Arsenio, mengambil Sabina dari gendongan Orion.
"Abang juga baru gendong.. sudah di ambil !" decak Orion. Karna Arsenio mengambil Sabina kecil dari tangannya.
"Wih ! wajahnya semakin mirip Papa!, Pasti nanti besarnya ini jadi cewek cool seperti Papa" ujar Arsenio, memperhatikan wajah adik perempuan satu satu mereka itu. Semakin mirip 90% dengan Papa Arya.
"Namanya juga anak Papa ! pasti mirip Papa dong !" bangga Papa Arya terseyum, sibuk dengan koran di tangannya.
"Tuh Bang Reyhan wajahnya banyakan mirip Mama !. Jadi gak di akuin tuh anak Papa ?." gurau Arsenio, menunjuk ke arah Reyhan dan Yumna dengan dagunya.
"Mama...!" manja Reyhan seperti biasa, sedang bermanja manja di pangkuan istrinya. Mendengar Arsenio adik durhakanya mengatakan dia gak di akui anak Papa Arya.
"Wajah Reyhan itu membuktikan kalau Papa itu mencintai Mama kalian" ucap Papa Arya. Meski Reyhan anak kedua keluarga itu tak setampan wajahnya. Tapi Reyhan adalah anak yang paling baik dan paling patuh di antara anak anaknya yang lain.
Reyhan langsung mengembangkan senyumnya mendapat pembelaan dari sang Papa." Trimakasih Papaku yang tampan !" ucap Reyhan kepada Papa Arya.
Arsenio dan Orion langsung memutar bola mata mereka jengah. Reyhan selalu bersikap ingin mengambil semua kasih sayang Mama Papa mereka dengan tingkah manjanya.
Papa Arya hanya menggelengkan kepala saja, dan menghela napasnya menghadapi anak anaknya yang otaknya rada rada gesrek semua. Semoga saja putri satu satunya itu normal, tidak gesrek sedikit pun, amin ! pikir Papa Arya.
Tok tok tok !
Semua menoleh ke arah pintu mendengar ada yang mengetoknya. Pintu itu pun terbuka dari luar, masuklah seorang pria paru baya yang kelihatan wajahnya masih tampan.
"Papa !" Queen merentangkan kedua tangannya, ternyata Papa Gandilah yang datang.
"Bagaimana kabarmu sayang ?" ucap Papa Gandi, memeluk putrinya itu dan mengecup ujung kepalanya dengan mata berkaca kaca. Putrinya itu sudah memberinya seorang cucu.
"Baik Pa !" Queen mengecup pipi Papa Gandi dengan raut wajah berbinar.
"Selamat putri Papa sekarang sudah menjadi seorang ibu !" ucap Papa Gandi lagi terharu.
"Selamat juga Pa ! Papa sudah menjadi seorang kakek !" balas Queen tersenyum.
"Mama kamu mana sayang ?, bukankah tadi dia kesini ?" tanya Papa Gandi, tidak melihat istrinya berada di ruangan itu.
"Jemput Cila pulang sekolah Pa !, nanti mama katanya kesini lagi" jawab Queen, dan Papa Gandi mengangguk.
"Sirin ! gimana kabarmu Nak ?" tanya Papa Gandi kepada putri sahabatnya yang sedang hamil besar itu.
"Baik Om !" jawab Sirin tersenyum.
Papa Gandi pun mengacak acak ujung kepala Sirin dengan sayang. Persahabatannya dengan Dokter Aldo, Mama Bunga, Leo Tari, dan istrinya Mama Vani. Membuat mereka saling menyayangi satu sama lain. Mereka semua sudah layak seperti keluarga.
Papa Gandi melangkahkan kakinya ke arah sofa, dan langsung menarik Orion sampai terjatuh dari sofa, lalu mendudukkan tubuhnya di sofa yang di duduki Orion.
"Dasar Papa mertua gak ada ahlak !" kesal Orion, mengusap usap pantat dan sikunya yang mencium lantai.
Papa Gandi hanya diam saja, merasa tak berdosa telah manarik Orion sampai terjatuh.
"Orion suruh perawatnya membawa cucuku kesini, Papa ingin melihatnya !" suruh Papa Gandi kepada Orion.
"Cucuku cucuku ! itu anakku kalau Om lupa kalau aku yang membuat adonannya " cetus Orion, lalu memutar bola matanya jengah.
"Dasar kau menantu durhaka !, aku ini Papa mertuamu. Masih saja kamu memanggilku Om !" balas Papa Gandi ketus.
Orion menghiraukannya, ia pun keluar dari ruang perawatan itu.
Mereka semua yang di ruangan itu, hanya diam saja dengan keributan mertua dan menantu yang tidak pernah akur itu. Karna mereka sudaj biasa melihatnya.
Tak lama kemudian, Orion masuk kembali dengan mendorong brankar bayi dengan tersenyum.
Papa Gandi langsung berdiri dari sofa. Begitu juga Arsenio dan Sirin, mereka pun mendekati keponakan mereka yang baru lahir.
"Anak bang Orion banyak miripnya dengan Papa !" ucap Arsenio.
Papa Gandi pun memperhatikan wajah cucunya itu. Ternyata yang di katakan Arsenio benar, kalau cucunya wajahnya banyakan mirip guru galak itu. Queen hanya kebagian bibirnya saja. Entah kenapa gen guru galak itu sangat kental menurun kepada keturunannya.
"Gak apa apa ! itu lebih bagus !, dari pada mirip Papa mertua. Gak ada tuh ganteng gentengnya !" ucap Orion tersenyum manis, mengecek Papa Gandi.
"Kau pikir wajah cantik putriku menurun dari siapa ?, kalau bukan dari wajahku. Apa kamu tidak melihat wajah Queen juga banyak miripnya denganku ?" cetus Papa Gandi. Enak saja menantu sialanya itu, mengatainya tidak ada ganteng gantengnya.
Papa Gandi pun mengambil cucu pertamanya itu dari dalam brankar bayi. Mendekapnya dengan lembut lalu mencium pipi bayi yang masih betah memejamkan mata itu dengan penuh haru.
"Namanya Siapa ?" tanya Papa Gandi.
Sontak semua menoleh kepada Papa Gandi dan Bayi itu. Karna mereka lupa menanyakan siapa namanya.
"Nanti setelah nenek gesrek di sini, baru Orion kasih tau, sekarang masih rahasia." Orion menaik turunkan alisnya ke arah Papa Gandi sembari tersenyum.
Brank !!!
Semua terlonjak dan langsung mengalihkan pandangan ke arah pintu yang di buka dengan kasar.
"Momy..!" tangis Boy tiba tiba masuk ke ruangan perawatan Queen setelah mendorong pintunya kuat. Boy datang bersama Bi Sumi, Darren dan Bilal. Boy berlari ke arah Queen, tapi Boy tidak bisa naik ke atas brankar karna tinggi.
Dari bagun tidur pagi tadi Boy tidak melihat Momy Queen dan Daddy Orion. Sehingga ia menangis mengira Momy nya pergi belajar lagi, dan akan lama pulang.
"Boy !" tegur Orion
"Momy sakit ?" tanya Boy menangis, mengulurkan tangannya supaya Queen membantunya menaik.
"Momy sakitnya sedikit aja sayang !" jawab Queen, mengusap kepala Boy, dan menghapus air matanya.
Orion pun mengangkat tubuh Boy mendudukkanya di pangkuan Queen. Dan Queen langsung memeluk Boy, dan mencium ujung kepalanya.
"Kata Bi Sum ! adek Boy cudah lahir ?" Boy menajamkan pandangannya ke wajah Queen.
Queen mengulas senyumnya, sambil tangannya menyugar rambut Boy ke belakang." Itu adeknya di gendong kakek" tunjuk Queen ke arah Papa Gandi.
"Boy senang gak punya adik ?" tanya Queen, Boy menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Mau adek !" ucap Boy, mengulurkan tangannya ke arah Orion,minta turun.
Orion menurunkannya, Boy langsung berlari ke arah Papa Gandi, melihat adiknya beda ibu itu.
.
.
Di tempat lain.
Seorang gadis menangis meringkuk di bawah selimut, tepatnya gadis itu berada di dalam dekapan Elang. Elang mengusap usap punggung gadis itu, dan mengecup ngecup ujung kepalanya.
" Nay !Aku minta maaf !" ucap Elang.Gadis bernama lengakap Naysila Madina itu diam tidak menjawab." Aku takut kehilanganmu !" ucap Elang lagi. Namun Nay masih enggan berbicara." Sekarang juga aku akan membawamu bertemu orang tuaku !" lanjut Elang.
Naysila masih diam, sesekali terdengar isakan keluar dari mulutnya.
"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu Nay !" ucap Elang lagi.
"Pulanglah Elang ! aku ingin sendiri !" lirih Naysila.
"Gak sayang !" tolak Elang." Gak tanpamu kali ini !" ucap Elang lagi.
"Kenapa ?" Tanya Naysila dengan suara lemah.
Elang mengecup lama ujung kepala Naysila."Karna aku ingin hidup bersama selamanya denganmu mulai saat ini !."
"Bagaimana jika orang tuamu tak merestui kita ?" tanya Nay dari dalam pelukan Elang.
"Mereka pasti merestuinya !" jawab Elang, mengecup kembali ujung kepala gadisnya itu.
.
.
Di rumah Dokter Aldo Pratama
"Sayang ! makan ya !" bujuk Dokter Aldo kepada Diana yang duduk di pangkuannya dan bersandar ke dadanya.
"Gak mau By !, Diana gak selera" ucap Diana dari dalam dekapan Dokter Aldo.
"Tapi kamu harus makan sayang !, nanti bayi kita bisa sakit kalau gak dapat nutrisi dari ibunya" bujuk Dokter Aldo.
"Gak mau By !" rengekDiana menggeleng gelengkan kepalanya. Dan Dokter Aldo menghela napasnya, karna istrinya itu dari tadi pagi tidak makan apa apa sama sekali.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit, kamu harus di rawat" ujar Dokter Aldo kepada istrinya yang sudah mengandung buah cinta mereka selama lima minggu.
"Gak mau !!" tangis Diana tiba tiba" Aku gak mau di suntik !!" raungnya semakin kencang.
"Kalau gak mau di suntik, Kamu makan ya !" bujuk Dokter Aldo lagi lembut, sambil tangannya mengusap usap rambut Diana dari belakang.
"Gak mau ! Huaaaaa....!!!!"
"Anak kita butuh nutrisi sayang !, kalau ibunya tidak makan, dari mana anak kita dapat nutrisi ?, sedikit aja !."
"Gak mau !!! Huaaaa....!!! uhuk uhuk uhuk Oak !."
Diana menangis semakin kencang, sampai terbatuk batuk dan mengkoak. Diana tidak mau makan, karna setiap ia makan, akan langsung muntah dan kepalanya akan terasa pusing.
"Sayang !" ucap Dokter Aldo lembut.
"Aku gak mau makan ! gak mau di suntik ! gak mau minum obat !" tangis Diana lagi.
"Ya udah ! Hubbymu ini juga gak mau makan !" ucap Dokter Aldo, sudah kehabisan cara untuk membujuk istrinya itu supaya mau makan atau di beri suplemen makana lewat infus.
"Diana mual lihat makanan !" tangis Diana lagi.
Dokter Aldo menghembuskan napasnya kasar dari hidung. Biasanya istrinya yang makan banyak seperti kuli. Seminggu terakhir ini istrinya tak berselera makan, hari ini dari pagi istrinya belum makan apa apa. Dan anehnya lagi, istrinya itu sering minta di gendong seperti bayi dan harus pakai sarung. Seperti saat ini, Diana duduk bersandar di pangkuan Dokter Aldo dengan memakai sarung yang menjadi penopang tubuhnya.
"Istriku ini pengen makan apa ? Hm..!" tanya Dokter Aldo lembut.
Diana diam sambil berpikir.
krik krik krik
Hening !
Setelah lama berpikir Diana lagi lagi menggelengkan kepalanya. Diana tak ingin makan apa apa sama sekali. Membayangkan makanan saja perutnya sudah bergejolak ingin muntah.
Dokter Aldo pun berdiri dari sofa yang di dudukinya, membiarkan Diana berada di dalam gendongannya. Melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mereka.
"Diana gak mau ke rumah sakit !!!, Diana gak mau di suntik !!!" tangis Diana meronta ronta di dalam gendongan kain sarungnya. Ia tau Dokter Aldo akan membawanya ke rumah sakit. Diana gak suka, Diana juga mual mencium bau obat obatan.
Ya Tuhan !, batin Dokter Aldo frustasi.
"Iya kita gak ke rumah sakit, kita di sini saja !" ucap Dokter Aldo. Berjalan ke arah taman belakang rumahnya, dan mendudukkan tubuhnya di gajebo.
"Makan buah mau ?" tanya Dokter Aldo lagi. Diana berpikir kembali, kemudian menganggukkan kepalanya pelan.
Dokter Aldo menghela napas lega, kemudian memanggil pembantu di rumahnya.
"Bu !"
Pembantu yang sudah lama bekerja di rumah itu pun langsung keluar dari dalam rumah.
"Iya Pak !"
"Tolong kupasin buah untuk istriku ya !, bawa kesini !" ucap Dokter Aldo.
"Baik Pak !" Wanita paru baya itu mengulum senyumnya melihat Dokter Aldo menggendong Diana seperti bayi.
"Buahnya di kasih garam !" ucap Diana pelan, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Dokter Aldo.
"Di kasih garam ya Bu !" sahut Dokter Aldo kepada pembantu yang hampir masuk ke rumah.
"Iya Pak !!" balas pembantu itu.
"Queen sudah melahir tadi pagi, apa kamu gak ingin melihatnya ?." Dokter Aldo merapi rapikan rambut Diana yang berantakan di wajahnya.
"Diana mual cium bau obat !" manja Diana, berbicara dengan bibir mengerucut.
"Ya udah !, nanti setelah mereka pulang dari rumah sakit, baru kita menjenguk mereka."
Cup !
Satu kecupan Dokter Aldo daratkan di bibir Diana yang mengerucut.
"Cium lagi !"
Dokter Aldo langsung terkekeh mendengar Diana minta di cium lagi. Dokter Aldo pun segera mencium bibir Diana dengan mesra.
"Sudah ?" tanya Dokter Aldo tersenyum, setelah melepas ciumannya. Dan Diana menganggukkan kepalanya. Dokter Aldo pun melap bibir Diana yang basah bekas salivanya.
"Ini Pak buahnya !" ucap pembantu itu meletakkan sepiring buah yang di potong potong di samping Dokter Aldo yang menggendong bayi tuanya.
"Trimakasih Bu !" balas Dokter Aldo tersenyum. Untung tadi pembantu itu tidak sempat melihatnya mencium bibir Diana. Kan malu kalau ketangkap basah.
Pembantu itu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Tanpa Dokter Aldo ketahui, ia tadi sempat melihat majikannya itu berciuman, mengharuskannya mengundurkan langkahnya bersembunyi di balik dingding.
.
.