
Dari tadi Sirin mengurung dirinya sendiri di kamar, karna Arsenio yang tidak mau mencari baby bambu ke hutan. Dan selama itu juga Arsenio mengetuk ngetuk pintu kamar mereka, sambil berbicara membujuk Sirin supaya mau membuka pintu kamar mereka.
"Sirin ! buka pintunya dong sayang !" bujuk Arsenio, entah sudah berapa kami ia mengucapkan kalimat itu.
"Aku gak mau !" teriak Sirin dari dalam kamar.
Ini cewek ! kelihatannya aja lembut dan kalem dari luar, tapi hatinya sangat keras dan menyebalkan. Batin Arsenio
"Ya udah kalau gak mau, aku pergi nih ngelayap sampai larut malam" ancam Arsenio.
"Pergi aja ! aku gak peduli !, gak usah pulang sekalian !" sahut Sirin dari luar.
"Ya udah ! aku pergi cari istri baru !"ucap Arsenio lagi.
"Cih ! kasi makan satu istri aja gak sanggup, mau cari istri baru !" cibir Orion dari sofa. Sambil tangabnya mengusap usap kepala Queen yang tidur di pangkuannya.
"Cari aja !, aku nikah sama bang Reyhan !!"balas Sirin lagi dari dalam.
"Mana mau bang Reyhan sama yang sudah gak perawan, bunting lagi" ejek Arsenio tak berperasaan, padahal dia sendiri yang membuat Sirin bunting.
Mendengar itu, langsung saja emosi Sirin naik ke ubun ubun, dadanya sudah kembang kempes, tangannya mengepal, dan rahangnya pun sudah mengeras. Sirin pun bangun dari atas kasur berjalan ke arah pintu dan langsung membukanya. Dan langsung memukuli dada Arsenio dengan kedua tangannya.
"Kamu yang mengambil perawanku !!, kamu yang membuatku bunting !!, kau sangat jahat Arsen !!, kau sangat menyebalkan !!" teriak Sirin sambil menangis dengan emosi meluap luap, dan tangannya tidak berhenti memukul dada Arsenio.
"Maaf !" Arsenio menangkap kedua tangan Sirin, dan langsung memeluk Sirin.
"Papa !! jemput Sirin Papa !!, Arsenio jahat sama Sirin !!, antar aja Sirin ke rumah kakek Papa !!" tangis Sirin di dalam pelukan Arsenio.
"Bang Orion ! kenapa brisik ?" gumam Queen, terbagun dari tidurnya, karna mendengar suara teriak teriak dan menangis.
"Sirin dan Arsen berantem sayang !" jawab Orion.
"Papa...!!! uhuk uhuk uhuk !" tangis Sirin memanggil Dokter Aldo sampai terbatuk batuk.
"Arsen ! kamu bisa minta tolongin karyawan kebun untuk menemanimu mengambilnya ke hutan" tegur Orion, kasihan melihat Sirin, yang mengidam, tapi Arsenio tidak mau menurutinya."Sirin lagi ngidam, harus di turuti, gak kasihan melihatnya seperti itu ?."
"Ya udah ! aku akan mencarinya langsung ke hutan, jangan menangis lagi ya !" pasrah Arsenio, menghela napasnya. Tidak percaya dengan ngidam aneh istrinya itu. Emang rasanya akan berobah lebih enak ! itu anak bambu kalau tangannya yang mengambil sendiri ?.
"Kamu jahat Arsen !"
"Cup cup cup....! kakak yang cantik ! udah ya nangisnya !, adek akan pergi mencarinya, oke !" bujuk Arsenio dengan sedikit menggodanya, sambil tangannya menghapus air mata Sirin.
Arsenio menuntun Sirin kembali masuk ke dalam kamar, dan membaringkannya di atas kasur lesehan mereka.
"Aku pergi dulu ! istrirahatlah !." Arsenio menjatuhkan satu kecupan di kening Sirin, lalu keluar kamar.
"Bang Orion !" panggil Arsenio
"Apa ?"
"Temani !"
"Malas !"
Arsenio mencebikkan bibirnya," Ayolah !, Queen juga tadi menginginkannya" bujuk Arsenio.
"Iya bang Orion ! Queen juga mau !" sambung Queen.
"Untukmu beli yang di pasar aja !" balas Orion.
"Sepertinya lebih enak yang di ambil langsung dari rumpunnya, lebih segar." Queen berbicara dengan merengek manja.
Orion menghela napasnya," ya udah !" pasrahnya.
Queen mendudukkan tubuhnya, dan Orion pun langsung berdiri.
.
.
Sekarang di sinilah Orion dan Arsenio berada, di bawah rumpun bambu yang sangat lebat, ditengah tengah perkebunan kakek uyut mereka, bersama dengan salah satu mandor perkebunan itu. Dengan memakai safety yang lengkap. Memakai sepatu but sampai selutut, memakai baju hujan, sarung tangan tebal, dan juga helem, supaya ular tidak bisa mematok mereka, jika bertemu dengan ular. Dan tidal lupa cangkul dan parang di tangan mereka.
Mereka pun memutari rumpun bambu itu, mencari si baby bambu yang baru muncul dari tanah.
"Sepertinya bambunya tidak ada yang beranak bang Orion" ucap Arsenio, mencari bambu berwarna putih, seperti yang pernah ia lihat di pasar, yang sudah di iris iris di rendam air di dalam ember.
"Sepertinya begitu !" balas Orion, ia juga tidak menemukan si baby bambu yang berwarna putih seperti yang ia banyangkan.
Pak mandor yang mengulum senyum dari tadi, melihat penampilan anak juragannya, yang sudah seperti astronop, menghela napasnya. Dia ada di situ, tapi kedua anak juragat kelapa sawit itu tidak mau bertanya, seperti apa itu rebung. Mereka mencarinya memutari rumpun bambu seolah sudah mengenalnya.
"Pak mandor ! kita pindah ke rumpun bambu lain, di sini tidak ada bambunya yang baru lahir" ujar Orion.
"Itu di depan kalian ada " tunjuk Pak mandor itu dengan dagunya.
Arsenio dan Orion langsung mengikuti arah yang di tunjuk pak mandor.
"Mana ?" tanya Orion dan Arsenio bersamaa.
"Itu !" si pak mandor pun, mendekti Orion dan Arsenio. Lalu menunjuknya dengan telunjuk.
"U..u..ular......!" teriak Orion dan Arsenio bersamaman, dan langsung ngacir menjauhi rumpun bambu itu.
Kedua kakak beradik itu pun berlari saling tarik menarik. Arsenio yang larinya kencang, di tarik Orion supaya tidak ketinggalan, karna Orion larinya lambat.
"Lepas bang Orion !"
"Jangan tinggalin abang !, abang bisa mati ketakutan di sini" Orion memegang kuat baju hujan yang di pakai Arsenio.
"Lepas bang !, Arsen gak mau ikut mati di sini" Arsenio berusaha melepas tangan Orion dari baju ujanya.
"Pak Orion, dan tuan Arsen !, ini Bapak sudah mengambil rebungnya" ucap Pak mandor itu, memberikan rebung yang di lilit ular tadi kepada Orion.
"Yang di lilit ular tadi Pak ?. Gak gak gak !" Orion bergidik ngeri melihat si baby bambu yang bekas di lilit ular.
"Gak apa apa Pak !, ular itu sudah lama di situ, ular itu tidak pernah mengganggu. Sepertinya ular itu adalah penghuni bambu itu" jelas si Pak mandor, yang sudah bekerja puluhan Tahun di kebun kelapa sawit kakek Samsul itu.
"Lagaian apa gak ada yang lain lagi, yang tidak di lilit ular sialan itu ?. Dan itu kenapa warnanya hitam ke coklatan, tidak berwarna putih ?" tanya Orion.
"Ini harus di kupas dulu kulit luarnya Pak Orion, baru nanti kelihatan putihnya" jawab Pak mandor yang usianya sudah tua itu, bahkan rambut dan alisnya sudah ubanan.
"Pak mandor ! cari yang lain, aku gak mau memberikan istriku bekas yang di lilit ular sialan itu" printah Orion.
"Baik Pak Orion !" patuh pak mandor itu, berbalik badan kembali ke rumpun bambu tadi.
Orion memutar badannya, ternyata Arsenio sudah tergeletak tak sadarkan diri di atas semak semak.
"Pak Orion !, saya sudah memindahkan ularnya, ayo Bapak silahkan ambil."
Orion memutar tubuhnya kembali ke arah sumber suara itu. Orion mengerutkan keningnya, melihat si Pak mandor datang padahal baru pergi.
Bukankah Pak mandor sudah mengambil rebung yang di lilit ular itu ?. Ini kenapa malah Pak mandor menyuruhku mengambilnya lagi ?. batin Orion.
"Ular itu memang sering di sekitaran bambu, itu bukan ular berbisa, dan juga tidak mengganggu Pak !" ucap Pak mandor.
"Bukankah Bapak sudah mengambilnya barusan ?" tanya Orion. Mungkin saja si pak mandor yang sudah tua pikun, pikirnya.
"Mengambilnya ?, Bapak saja baru memindahkan ular itu dan langsung mencari kalian" jawab si Bapak mandor, yang juga heran.
"Barusan Bapak membawa rebung itu kesini Pak !. Karna saya tidak mau sama yang bekas di lilit ular, saya menyuruh Pak mandor mencari yang lain" jelas Orion. Membuat si Pak mandor bingung dan berpikir keras.
Dia tidak ada mengambil rebung itu, karna Orion dan Arsen tadi mengatakan mereka sendiri yang akan mengambilnya dengan tangan mereka sendiri.
"Sepertinya yang menemui kalian itu adalah Kakek Jin penghuni kebun ini" ujar si Pak mandor.
"Apa !!!" pekik Orion, sampai membuat Arsenio terbangun dari mimpi buruknya.Masa iya ? dia di temui kakek jin penghuni kebun.
"Bang Orion ! apa hantunya sudah pergi ?" Arsenio mengarahkan pandangannya ke kiri dan kekanan, mencari mahluk menyeramkan yang membuatnya sampai jatuh pingsan.
"Sudah !" jawab Orion.
"Ayo pulang bang !, Arsen lebih baik menghadapi preman sepuluh orang dari pada menghadapi satu ular dan mahluk menyeramkan tadi" Arsenio bergidik ngeri, mengingat wajah menyeramkan yang di lihatnya tadi. Dengan wajah berwarna merah, ada tanduk dan taring, rambutnya panjang dan gondrong, kukunya panjang berwarna hitam.
"Apa rebungnya mau di ambil lagi Pak ?" tanya Pak mandor itu.
Orion dan Arsenio saling pandanga, apakah si baby bambu harus mereka ambil atau tidak. Karna demi istri dan si buah hati mereka yang belum lahir, akhirnya mereka pun mengangguk bersama.
"Iya Pak !" ucap mereka serentak.
.
.
Di tempat lain
Kedua gadis remaja yang sama sama sudah berstatus istri itu. Dengan santai menikmati makanan dari piring mereka di sebuah cafee.
"Sirin ! ini duit untuk peganganmu, ambillah !, bang Orion yang memberikannya"ucap Queen memasukkan sebuah amplop berwarna coklat ke dalam tas kecil milik Sirin.
"Jangan sampai ketahuan Arsen, nanti dia bisa memarahimu. Belilah makanan apa yang kamu suka, jangan memendamnya" ujar Queen lagi. Kasihan melihat Sirin yang tidak punya uang sama sekali.
Sirin menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
Queen sudah tau, Arsen tidak mau menerima bantuan uang dari siapa pun. Kecuali menerima bantuan modal usaha dari Papa Arya. Itu pun Arsenio mengatakan akan mengembalikannya, jika usahanya nanti sudah lancar.
"Ayo cepat kita habiskan makanan kita !, jangan sampai Bang Orion dan Arsen sudah pulang, kita belum ada di rumah" ujar Sirin. Queen menganggukkan kepalanya, kemudian mempercepat makannya.
Setelah selesai menghabiskan makanan mereka. Mereka pun keluar dari dalam cafee itu, dan langsung masuk ke dalam mobil antar jemput yang menunggu mereka dari tadi.
"Jalan Pak Ahmad !" suruh Queen kepada supir pribadinya dan Orion.
Tanpa menjawab, Pak Ahmad pun langsung menjalankan kenderaannya. Membawa kedua cewek cabe cabean yang lagi tekdung itu, ke ke tempat asal dari mana dia membawanya.
Pak Ahmad menghentikan laju kenderaannya, karna sudah sampai. Queen dan Sirin melihat mobil Arsenio sudah terparkir di depan rumah.
"Mampus !" ucap Queen dan Sirin bersamaan, karna mereka pergi ngelayap tanpa ijin dari suami.
Sambil membuka pintu di samping masing masing, Queen dan Sirin menghalas napas mereka dalam sebelum menurunkan kaki mereka dari dalam mobil.
.
.