
"Benarkah jadi Steven sudah jatuh cinta pada Anisa sejak awal dan dengan adanya kejadian ini membuat Steven menikah dengan Anisa." ucap Abraham
"Apa kau tahu dulu Steven pernah membuat surat untuk Anisa tapi Paman Bima membuang surat tersebut karena surat tersebut salah di masukan bukanya di tas Anisa tapi di tas belanja mama Nadia membut paman bima kesal." ucap Samuel, lalu tertawa terbahak-bahak, Bima semakin terkejut ternyata dia tidak mengetahui tentang Steven yang menyukai adik perempuannya
"Benarkah itu berarti Anisa tak salah menikah dengan Steve karena Steven Memang mencintai Anisa dengan tulus walaupun dia berusaha untuk menyembunyikannya." ucap Abraham
"Jadi kapan kau akan kembali ke rumahmu kau harus menghadapi ayahmu aku yakin dia pasti tak lagi marah padamu." ucap Steven
"Entalah Mungkin saat ibuku menyuruhku untuk pulang." ucap Abraham
Tampak Bima yang sudah kembali lalu masuk ke dalam rumah saat melewati ruang makan tampak Bima melihat Steven yang sedang makan dengan lahap tapi Bima tak menemukan putrinya di meja makan membuatnya bertanya-tanya di mana keberadaan putrinya Anisa ingin ke kamar Anisa Bima ragu akhirnya Bima menuju ruang makan dan duduk di hadapan Steven
"Sepertinya kau sangat kelaparan lahap sekali kau makan Apakah kau habis bekerja keras semalam tanya." Bima iseng-iseng
Steven tersenyum penuh arti aku habis olahraga pagi tadi Ayah jadi aku sangat kelaparan ucap ucap Steven membuat Bima melotot "tak mungkin Anisa mau tidur dengan Steven setelah Apa yang dilakukan kemarin itu bukan sifat Annisa putriku." ucap Bima dalam hati
Anisa yang mengintip dari dalam kamar mandi melihat kamar jika Steve sudah selesai sarapan tapi untungnya belum Anisa bergegas ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya Karena tadi dia lupa handuk dengan cepat Anisa menggunakan baju yang lebih tertutup karena ada bekas kemerahan di bagian lehernya
Tampak Anisa keluar dari kamar menuju ruang makan senyuman Anisa tampak sumringah saat melihat sang ayah yang berada di meja makan "Ayah mau sarapan." tanya anisa mendengar suara putrinya dari arah belakang Bima langsung menoleh tapi kemudian kedua alis yang saling bertautan saat melihat baju yang dikenakan oleh putrinya "Kenapa kau memakai baju seperti itu Ini kan bukan musim dingin." ucap Bima
"Oh aku merasa kedinginan ayah saat tadi pagi jadi aku memakai baju ini yang membuatku terasa hangat Kenapa Ayah belum mengambil makanan jika ayah memang ingin sarapan." tanya Anisa mengalihkan pertanyaan sang ayah
"Ayah sudah sarapan bersama ibumu tadi pagi Ayah hanya menemani sambil bercerita Ayo kau harus sarapan aku yakin kau Pasti sangat kelelahan akibat masalah kemarin." ucap Bima
Anisa duduk di samping sang ayah lalu mau mengambil makanan tapi dia tak ingin melihat Steven Dia sangat malu dengan apa yang terjadi sehingga dia tak mau melihat Steven kalau seandainya dia tak lapar dan perutnya sudah berbunyi dari dia bangun tidur dia tak akan mau sarapan bersama Steven
Tampak Bima melihat putrinya yang tak mau melihat ke arah Steven seolah-olah Anisa tak menyukai keberadaan menurut pandangan Bima "sayang Apa kau baik-baik saja Sepertinya kau berkeringat." ucap Steven ingin mengerjai Anisa, perkataan Steven membuat Bima menatap tajam ke arah Steven
Anisa tak merespon perkataan Steven dia yakin Steven sengaja agar dia membuka baju musim panasnya sehingga bekas yang ditinggalkan oleh Steven terlihat dengan jelas, "tak usah terlalu lebay sebaiknya kau habiskan makananmu." ucap Bima
"Apa-apaan kau bertanya seperti itu di meja makan sebaiknya kau jangan memikirkan hal-hal seperti itu dulu Anisa masih terlalu muda lagi pula kalian kan baru melakukannya satu kali belum tahu apa itu berhasil apa tidak." ucap Bima
"Bukannya sudah dua kali ya Anisa itu berarti kemungkinan besar ayah mertua akan memiliki cucu semakin besar." ucap Steven dalam hati Steven ingin tertawa karena mengetahui Bima yang sangat tak menyukai dirinya apalagi membahas tentang cucu
Bima yang sangat emosi hampir saja lepas kendali tapi mendengar suara istrinya dari belakang membuat Steven menahan diri "Apa kau bilang cucu ah semoga kau cepat hamil Anisa Ibu sudah tidak sabar ingin menggendong cucu." ucap Nadia yang baru saja datang
Sementara Anisa tak tahu harus berkata apa dia hanya fokus pada makanannya tak ingin menanggapi perkataan sang suami yang kadang membuat sakit kepala tampak Bima mengepalkan tangannya melihat Steven menggoda putrinya
"Oh iya nak Steven Bagaimana tidurmu Apakah nyenyak Apakah kau betah tinggal di kediaman ini Ibu harap kau betah tinggal di kediaman ini sampai Anisa bersedia untuk tinggal bersamamu di kediaman kalian sendiri." ucap Nadia
"Iya Ibu di rumah ini seperti rumah kedua bagiku Aku akan menyiapkan rumah yang diinginkan oleh Anisa begitu dia siap untuk pindah maka kami akan pindah Bagaimana Anisa menurut pendapat." tanya Steven
Anisa langsung menatap semua orang "aku terserah Kakak saja Bagaimana baiknya." ucap Anisa
"Tapi sayang sebaiknya kau tinggal di kediaman ini saja terlebih dahulu untuk beberapa tahun ke depan nanti jika memang kau menginginkan untuk tinggal di rumah milikmu sendiri ayah akan membuatkannya untukmu." ucap Bima
"Untuk apa kau membangunkan rumah untuk Anisa suaminya memiliki uang untuk membangun rumah kau tak perlu ikut campur tentang rumah yang akan disiapkan untuk Anisa itu sudah masalah mereka sebagai pasangan suami istri kita tak boleh mencampuri masalah seperti itu." ucap Nadia yang kesal pada suaminya
Bima terdiam mendengar perkataan istrinya sementara Steven hanya tertawa geli melihat ayah mertuanya yang seperti itu "terima kasih Ayah atas keinginannya untuk membangunkan rumah kami tapi aku sudah menyiapkan rumah untuk Anisa dan aku tinggali." ucap Steven
"Benar sebaiknya kau segera menyiapkan rumah tersebut agar kau dan Anisa bisa segera pindah Ibu bukannya mengusir kalian dari rumah ini Tapi alangkah baiknya sebagai pasangan suami istri kalian hidup mandiri berdua tanpa ada campur tangan keluarga termasuk kedua orang tua." ucap Nadia
Anisa tampak terdiam mendengar perkataan ibunya lalu dia menoleh kepada sang ibu kemudian melihat ke arah sang ayah terakhir ia melihat ke arah sang suami, "Iya Ibu aku juga memikirkan hal tersebut karena pasti kurang nyaman untuk aku dan Anisa saat berada satu rumah dengan orang tua dari suami maupun istri." ucap Steven
"Sebenarnya Ibu nyaman-nyaman saja kalian berada di kediaman ini tapi Ibu ingin kalian mandiri dan merasakan bagaimana pernikahan itu sesungguhnya dan untuk kau anisa Ibu harap kau bisa lebih dewasa menyikapi keinginan suamimu." ucap Nadia
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya