
Kini Abraham sudah berada di kediaman Sofia, Abraham langsung melangkah masuk ke dalam rumah langsung disambut oleh kikan begitu bertemu dengan Kikan Abraham langsung mencium tangan kikan, "kau sudah datang kau mencari Dinda ya sepertinya Dinda berada di kamar Sofia kau langsung saja ke sana." ucap kikan
"Iya ibu aku mencari Dinda baiklah aku ke kamar Sofia dulu." ucap Abraham lalu melangkah menuju kamar Sofia, kini Abram sudah berada di depan pintu kamar Sofia a Abraham langsung mengetuk pintu tersebut tampak pintu dibuka oleh Sofia "Dinda masih tidur aku akan membangunkannya dulu." ucap Sofia, "jangan biarkan dia tidur aku juga akan bertemu dengan Samuel di ruang kerjanya nanti setelah aku bertemu Samuel aku akan kembali dan kau bisa membangunkannya untukku Abraham." Abraham, , lalu pergi meninggalkan kamar Sofia menuju ke ruang kerja Samuel
Sementara itu di ruang kerjanya sama tampak mengutak-atik laptop miliknya setelah beberapa menit kemudian tampak sambal tersenyum puas tak berselang lama sebuah ketukan pintu mengalihkan pandangannya begitu pintu terbuka tanpa Abraham langsung masuk ke dalam "aku pikir kau akan langsung pulang setelah menjemput Dinda." tanya Samuel
"Sepertinya Dinda sangat kelelahan jadi dia tidur biarlah sekalian kami makan malam di sini sepertinya ibu Kikan memasak masakan enak malam ini." ucap Abraham dengan senyuman sumringah, "pantas saja kau dan Dinda sangat cocok karena kalian sama-sama suka makan apalagi masakan ibuku aku bingung Dinda kalau sudah kemari pasti hal pertama yang dilihat adalah meja makan." ucap Samuel
"Itu namanya jodoh." ucap Abraham sambil terkekeh, "oh iya bagaimana persiapan besok aku harap selama 3 hari ini kau fokus dengan hotel karena aku tidak mau ada kesalahan apapun saat acara berlangsung apalagi beberapa bulan lagi akan ada pertemuan internasional antara para pengusaha di seluruh dunia dan salah satu hotel kita merupakan tempat yang saat ini dilirik oleh panitia acara tersebut." ucap Samuel
"Baik Tuan aku mengerti semuanya sudah aku periksa dan semuanya sesuai dengan arahan Tuan bahkan para pengawal dan pelayan aku bagi menjadi dua shift yaitu pagi dan malam hari agar mereka tidak terlalu kelelahan, dan untuk acara malam aku juga sudah menyiapkan para pelayan yang khusus untuk acara malam." ucap Abraham
Sementara itu di perusahaan milik Steven tampak Steven dan Anisa keluar dari ruang kerja menuju ke tempat parkiran mobil setelah Anisa dan Steven masuk ke dalam mobil sang sopir langsung melajukan mobil tersebut ke kediaman Bima tampak Bima yang juga baru saja kembali dari perusahaan melihat ke arah Anisa dan Steven yang sudah kembali mesra tidak seperti kemarin
"Apa yang terjadi kenapa mereka sudah berbaikan saja bukankah kemarin mereka sempat bertengkar racun apa yang diberikan Steven kepada putriku Anisa sampai putriku dengan gampangnya bisa memaafkannya, apa mungkin dia memberikan obat penghilang ingat mengingat kakeknya seorang yang sangat jenius dalam bidang obat-obatan." ucap Bima sambil melihat ke arah Steven dengan tatapan yang sulit diartikan
"Ayah kau juga sudah pulang aku sangat bahagia hari ini ayah karena aku yakin suamiku sangat mencintaiku dan dia akan setia kepadaku." ucap Anisa bangga sambil merangkul ayahnya di sebelah kanan dan Steven di sebelah kiri
"Benarkah sayang ayah ikut bahagia untukmu jika kau senang ayah juga ikut senang." ucap Bima, "iya ayah aku tahu dan aku dan Steven sudah berbicara tadi setelah anak kami lahir kami berencana untuk pindah." ucap Anisa riang
"Baiklah ayah aku akan memikirkannya tapi jika memang aku bisa merawat anakku apalagi nanti ada baby sister yang akan menjaganya jadi aku tak terlalu pusing lagi pulang kami berniat untuk tinggal di rumah yang tepat berhadapan dengan kediaman ayah Stuart dan ibu Kikan." ucap Anisa
Bima tampak terdiam mendengar perkataan sang Putri "kenapa tidak membeli rumah dekat rumah ayah saja kan ibu mau bisa membantumu untuk menjaga anakmu jik kau ingin pergi berjalan-jalan bersama Steven ." ucap Bima kiri mereka sudah masuk ke dalam rumah Anisa tak menjawab perkataan sang ayah hanya mencium pipi Bima kemudian berjalan bergandengan menuju kamarnya bersama dengan Steven sementara Bima tampak murung lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya, tampak Nadia yang baru saja keluar dari kamar mandi bingung melihat Bima yang tampak sedih
"Ada apa denganmu kenapa kau pulang dengan wajah seperti itu apakah ada sesuatu yang terjadi di perusahaan atau kau sedang bertengkar dengan Steven." tanya Nadia
"Aku sedih karena putrimu mengatakan setelah dia melahirkan dia akan pindah bersama Steven dan kau tahu dia akan pindah ke mana dia akan pindah di kediaman Steven yang berhadapan dengan kediaman Stuart." ucap Bima
"Oh itu aku dan Kikan memang sudah membicarakan hal itu dengan Steven dan Anisa dan kami sepakat agar Anisa dan Steven tinggal di kediaman tersebut yang sudah dibangun oleh Steven saat dia mulai bekerja di perusahaan lagi pula kan bagus jika kediaman Anisa dan Steven dekat dengan kediaman Stuart dan Kikan kau tahu kan putrimu itu sangat suka makan dan untuk saja ibu mertuanya sangat suka memasak sehingga aku yakin dia tak perlu repot-repot untuk melakukan apapun jika ingin makan makanan enak." ucap Nadia
"Apa jadi kau sudah mengetahuinya mengapa kau tak mengatakannya padaku Dan kenapa kau kalian tak mengikutkan aku dalam diskusi tersebut." ucap Bima, "kau ini memangnya kau emak-emak mau ikut berdiskusi dengan kami sudahlah kau jangan terlalu berpikir tentang kepindahan Anisa lagi pulang rumah kita dan rumah yang akan ditempati Anisa kan tidak terlalu jauh hanya beberapa ratus meter." ucap Nadia
"Kau ini selalu saja tak mau mendengarkan keluh kesahku seharusnya kau mengatakan padaku sebelum kau berdiskusi dengan mereka agar aku bisa memberikanmu masukan." Bima, "kalau aku mendengar masukan darimu bisa-bisa putriku dan menantuku berpisah rumah hanya gara-gara dirimu jadi sebaiknya kau bersihkan tubuhmu setelah itu kita makan bersama di luar." ucap Nadia, dengan lesu Bima langsung berjalan menuju kamar mandi setelah menyimpan barang-barang miliknya tapi sebelum Bima masuk ke dalam kamar mandi dia langsung menoleh ke arah istri "kau sebaiknya mendengarkan suamimu jangan jadi istri durhaka." ucap Bima lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi takut melihat wajah Nadia yang terlihat kesal melihatnya.
Jangan lupa, like, komen, vote dan hadiahnya