
Sementara itu di kota D tampak Kevin yang sedang meratapi nasibnya sejak Ruben menjadi perusahaan Kevin selalu sibuk dan diperintah seenaknya oleh Ruben Kevin sudah lama pergi meninggalkan perusahaan, "Tuan bagaimana kabarmu di sana apakah kau baik-baik saja mengapa kau tak pernah menghubungiku lagi sejak terakhir aku melihatmu Tuhan aku rindu padamu aku bisa kurus kering dan jadi bujangan lapuk jika kau tak cepat datang." ucap kevin tiba-tiba ponsel Kevin berdering Kevin menghilangkan nafasnya dengan kasar karena berpikir itu adalah panggilan dari Ruben yang setiap menit akan menghubungi dirinya hanya untuk membelikan sebuah permen
"Jangan lagi si manusia jahanam satu itu yang menghubungiku apa sekarang dia ingin aku menyuapnya untuk makan ucap Kevin lalu melihat ponselnya ternyata itu adalah panggilan dari ponsel nomor yang di mana pernah mengirimkan pesan padanya untuk kembali ke kota D bergegas Kevin mengangkat panggilan telepon tersebut "halo." ucap Kevin
"Halo Kevin ini aku Arthur apakah kau baik-baik saja di sana aku harap kau secepatnya ke kota A nanti ada seseorang yang akan menjemputmu ke bandara." ucap Arthur dari seberang telepon, halo Tuan benarkah kau ini aku kan aku sedang tidak bermimpi kan atau berhalusinasi hanya karena aku sangat merindukanmu dan sudah tak kuat menjalani hidup ini." ucap Kevin yang sangat terkejut mendengar suara tuannya kembali
"Apa yang sedang kau katakan aku adalah Arthur sekarang persiapkan barang-barang yang akan kau bawa ke kota A lalu berangkatlah secepatnya aku menunggumu." ucap Arthur lalu mematikan sambungan telepon
Di kota A tepatnya di kediaman kakek Leo tanpa Arthur yang sudah selesai menghubungi semua orang lalu kembali masuk ke ruang tamu "bagaimana Arthur Apa kau sudah menghubungi mereka semua tanya kakek Leo begitu melihat Arthur masuk ke dalam ruangan tersebut
"Sudah kakek aku sudah menghubungi kakekku dan kedua orang tuaku." ucap Arthur, Arthur yang tadi meninggalkan ruangan tampak bingung akan duduk di mana tapi sepertinya dia ingin menghindar dari Stuart untuk saat ini melihat Arthur bingung tiba-tiba Kikan memanggil Arthur, nak mari duduk di samping ibu, ibu ingin bertanya sesuatu padamu." ucap kikan sontak saja Stuart ikut bangkit hendak berjalan ke arah Arthur yang hendak berjalan menuju ke arah kikan
Kikan yang melihat Stuart ikut bangkit dan dan hendak menghampiri Arthur yang sedang berjalan ke arahnya menjadi bingung Kenap suaminya ikut berdiri , "Kenapa kau juga ikut berdiri aku hanya memanggil Arthur bukan memanggilmu ucap Kikan, "sayang mengapa kau memanggilnya untuk duduk di sampingmu kau kan bisa bicara dia duduk bersamaku lagi pula kursi kita saling berhadapan." ucap Stuart
"Itu urusanku karena Arthur lebih harum dan tampan darimu ayo nak duduk kemarin kau tidak perlu memikirkan pria itu dia memang selalu seperti itu." ucap Kikan, "ingat nak jangan berani kau merayu istriku apalagi duduk di sampingnya jika kau melakukannya kau tahu apa akibatnya." ancam Stuart , Sofia menghembuskan nafasnya kasar melihat kedua orang tuanya yang sedang bertengkar lalu Sofia bangkit dan mendekati ibunya lalu duduk tepat di samping ibunya kemudian menyuruh atur untuk duduk di sampingnya agar ayahnya tidak terlalu banyak protes benar saja keluar terdiam lalu kembali duduk di tempat duduknya
Sementara Kevin tampak kegirangan karena baru saja mendapat panggilan telepon dari Arthur Kevin langsung bangkit dan berjalan keluar dari perusahaan tapi begitu akan masuk di lift ternyata Ruben dan asistennya serta pengawalnya juga berada di dalam lift tersebut tampak Ruben melihat Kevin dengan alis yang saling bertautan, "wah pelayanku ini sudah mulai berlagak di depanku lihatlah dia bahkan tidak menyapaku saat melihatku berada di lift eh pelayan segera bersikap sepatuku." ucap Ruben sombong
"Wah tuan sepertinya asisten Tuan Arthur itu sangat berani pada Tuhan lihatlah dia bahkan tak memperdulikan Tuhan saat dia pergi padahal selama ini dia menjadi pelayan tuan yang mau saja diperintah melakukan apapun yang Tuan inginkan." ucap asisten Ruben, tampak Ruben melihat ke arah mobil Kevin yang sudah melaju "benar juga cari tahu apa yang sudah terjadi sehingga dia begitu gembira pasti salah satu CCTV menangkap kegiatannya." ucap Ruben, asisten Ruben mengangguk mengerti kemudian pintu lift tertutup setelah beberapa menit pintu lift kembali terbuka Ruben dan asistennya serta pengawalnya langsung keluar menuju ruangannya
Sementara itu Steven dan Samuel yang mendengar kabar bahwa Sofia akan menikah kembali besok tampak bingung kenapa ayahnya bisa luluh secepat itu mereka tak mengetahui bahwa ibunya saat ini sedang mengandung tanpa kedua pria tersebut sama-sama keluar dari mobil mereka yang sudah terparkir sempurna di depan kediaman Tuan Leo "menurutmu Kenapa ayah melunak padahal dia mati-matian ingin memisahkan Sofia dengan Arthur bahkan sampai ibu meninggalkan kediaman utama." tanya Steven
"Entahlah aku juga tidak tahu mengapa ayah langsung melunak begitu saja Ayah bukan orang yang dengan mudahnya menerima seseorang sebagai menantunya apalagi seperti Arthur yang terlihat lugu dan tidak memiliki kekuasaan apapun, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi." ucap Samuel, kini kedua pria tersebut sudah masuk ke dalam rumah Tuhan Leo tampak mereka Langsung hendak menabrakkan tubuhnya kepada sang ibu lalu memeluknya dengan kencang seperti biasanya tapi dengan sigap sang ayah langsung menarik mereka berdua "jangan lagi memeluk ibumu seperti biasanya cukup pelukan ringan." ucap Stuart
"Ada apa dengan ayah aku kan hanya memeluk ibu karena aku sangat merindukannya aku tidak mungkin memeluk ibu sampai Dia sesak nafas." ucap steven yang kesal dengan sang ayah yang menarik mereka
"Ayah kalau cemburu jangan sekarang kan sudah merindukan ibu dan sangat merindukannya Sudah beberapa hari ini kami tak bisa memeluk ibu." ucap Samuel, "kedua anak ini ayah bilang jangan ya jangan cukup memeluknya biasa saja jangan sampai menekannya sekarang ibu sedang hamil Adik kalian jadi jangan lagi memeluknya seperti biasanya nanti Adik kalian kesakitan di dalam perut ibumu." ucap Stuart dengan bangga
Kedua pria tersebut tampak syok mendengar perkataan sang ayah tentang kehamilan ibunya yang di usia 50 tahun bukannya apa usia mereka saja sudah hampir 30 dan sekarang mereka akan memiliki adik oh tidak bagaimana bisa mereka menghadapi dunia dengan jarak antara dirinya dan adiknya beda beberapa tahun.
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya