
Sementara itu di ruang tengah tampak Steven dan Samuel saling melihat sambil tertawa terbahak-bahak karena berhasil menipu dion dan Abraham mengenai foto padahal foto tersebut hanya foto biasa yang tak ada hubungannya dengan Dion ataupun Abraham, "oh astaga mereka sangat lucu aku tak menyangka si batu kali itu bisa dia jatuh cinta." ucap Samuel
"Kau tahu aku tak menyangka si biksu itu bisa menyukai Sheila apa otaknya sudah miring apa dia tidak mengingat apa yang pernah dia saksikan saat aku mengajaknya makan tapi jika memang dia mencintainya aku hanya bisa mendukungnya." ucap Steven
"kalian berdua memang sangat kejam apa kalian pikir semudah itu merayu seorang wanita apalagi Abraham tipe yang sangat dingin begitupun Dion, jika mereka tak berhasil meyakinkan Dinda dan Sheila bahwa mereka tak pernah melakukan hal-hal yang seperti itu bukan kalian harus bertanggung jawab dan meyakinkan Dinda dan Sheila." ucap Sofia
"kami melakukan hal tersebut agar Dion dan Abraham bisa mengetahui seberapa parah sifat wanita jika sedang marah, jika kita sebagai pria tak sabar dan mengalah bisa depresi kaum lelaki, apalagi mereka selalu mengatakan kata-kata yang tidak jelas mengatakan tidak marah padahal mereka marah mengatakan baik-baik saja padahal tidak baik-baik saja mengatakan oke padahal itu adalah tidak." ucap Steven yang tak menyadari istrinya sedang meliriknya dengan tajam
oh jadi kau menganggap aku suka marah-marah dan tak jelas jadi kau bisa depresi." ucap Anisa, Steven yang menyadari bahwa istrinya sedang tersinggung langsung mengalihkan pandangannya ke sang istri, "sayang itu untuk pria dan wanita lainya kalau dirimu istriku yang paling cantik dan pengertian tak pernah menyusahkan suamimu ini, dan aku akan selalu melakukan apapun untuk mu dan tak akan pernah marah." ucap Steven
"kau pasti bohong aku akan mengadu pada ibu ternyata Selma ini kau menganggap aku beban di hidup mu." ucap Anisa lalu bangkit hendak mencari Kikan
"astaga untung aku jomblo tak perlu menghadapi situasi seperti ini." ucap Samuel sambil geleng-geleng kepal melihat Anisa yang bangkit dan berjalan masuk ke dalam
sementara Sofia dan Samuel masih berada di ruangan tengah menunggu para pasangan yang sedang melakukan pertengkaran cinta, tiba Abraham datang dengan Dinda dengan wajah yang cerah secerah mentari, sementara wajah Abraham tak ada ekspresi apapun masih sama seperti tadi saat menyusul dinda keluar
apakah pertengkaran cinta kalian sudah selesai wah aku sangat bangga padamu kau mampu membuat Dinda yang paling cerewet dan emosian bisa reda emosinya dengan cepat." ucap Samuel entah dia sedang menyanjung atau menghina
"kakak Samuel berhenti memprovokasi aku agar bertengkar dengan Kakak Abraham aku akan menunggu waktu yang tepat saat kakak memiliki pasangan aku akan membuat perhitungan di saat itu aku berdoa semoga kakak Samuel cepat menemukan jodoh kakak yang memiliki kecemburuan dia atas rata-rata." ucap Dinda
"Amin." ucap Sofia dan Abraham berbarengan, sementara Samuel acuh tak acuh dengan perkataan Dinda, sementara itu di sudut yang sama di mana tadi Dinda dan Abraham berada tampak Sheila dan Dion sedang saling berhadapan "aku tak melakukan apa yang di katakan oleh tuan Steven dan semua tak seperti yang kau pikirkan terserah kau bisa percaya atau tidak itu terserah padamu aku hanya bisa menerimanya apa yang kau inginkan karena aku tak ingin bertengkar dengan mu." ucap Dion tanpa basa-basi
Sheila sangat terkejut mendengar perkataan Dion yang tak ada romantis-romantisnya, sepertinya dia sedang menjelaskan sesuatu dan terserah dirinya mau mengerti apa tidak oh sungguh pria yang menyebalkan tapi juga sangat keren sebagai seorang pria membuat Sheila semakin jatuh cinta pada Dion yang sangat Cool dan keren di mata Sheila.
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya