My Wife My Hero

My Wife My Hero
142.makan siang



Tampak Steven yang sudah masuk ke dalam rumah dana langsung menuju meja makan keluarga karena Steven yakin istrinya tak pernah jauh dari dapur dan meja makan, tampak Steven yang sudah berada di dekat meja makan menatap istrinya dengan berbinar


Anisa yang mengetahui kedatangan Steven menghembuskan nafasnya kasar, "tampaknya pengganggu kegembiraan ku sudah datang." ucap Anisa, Steven tersenyum lalu mendekati Anisa sayang ku akhirnya aku menemukanmu istriku tercinta dan tercantik." ucap Steven lebay, membuat ke tiga wanita cantik yang berada di tempat tersebut nampak menatap geli ke arah Steven sejak kapan kakaknya yang sangat menjaga harga dirinya bisa berkata manis seperti itu pikir Sofia


"Astaga mana ember aku sudah tak bisa menahan rasa mual di perut ku benarkah kau itu kakak Steven." ucap Sofia membuat Steven mengalihkan pandangannya ke arah Sofia


"Diam kau jomblo sayang mereka hanya iri kepada mu karena telah menikah dan memiliki suami sebaik dan setampan diri ku ." ucap Samuel penuh percaya diri


Sementara Sheila tampak terus melirik kearah Doni yang berdiri tak jauh dari meja makan tanpa mempedulikan apa yang sedang terjadi sementara Dinda merinding melihat kakak Steven yang seperti itu "astaga demi dewa aku tak menyangka apa yang kau katakan tentang kakak Steven ternyata benar aku jadi merinding akhirnya aku mengerti kenapa kau ingin keluar bersenang-senang." ucap Dinda


"Oh jadi kalian yang suka menghasut istri ku yang baik,penyabar, penurut untuk memberontak padaku, pasti kalian sudah memberinya ide-ide yang buruk agar dia melawanku pantas saja beberapa hari ini dia selalu marah padaku." tuduh Steven


Sofia memutar bola matanya malas melihat kelakuan kakaknya "oh astaga kakak Samuel kau sekarang mudah memfitnah orang ya, itu semua karena sifat mu yang terlalu overprotektif pada Anisa membuatnya kurang nyaman apalagi Anisa butuh teman di saat dia sedang bosan di rumah." ucap Sofia


"Si jomblo kau jangan khawatir istri ku tak akan bosan karena aku akan selalu ada untuk menemani dan mendengar keluh kesahnya istriku hanya perlu menekan nomor ku makan aku akan langsung datang padanya untuk menemaninya benarkan sayangku." ucap Steven sambil mencolek Anisa yang sedang duduk


"Kakak aku katakan padamu wanita hamil itu butuh refreshing sebaiknya kau melonggarkan sedikit overprotektif mu pada Anisa biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan yang penting itu tak membahayakan kandungannya itu baik bagi kesehatan mental Anisa apalagi umur Anisa yang sangat muda saat hamil itu juga akan membuat Anisa mudah tertekan jika selalu di tekan." ucap Sofia memperingati sang kakak


Saat mereka sedang berdebat tiba-tiba Samuel masuk bersama Abraham tampak Abraham menatap ke arah Dinda dengan senyuman tipis


"Suara kalian terdengar sampai ke ruang tamu seperti orang sekampung saja yang sedang berbicara, ayo Abraham Dion duduk." ucap Samuel langsung duduk di kursi miliknya di susul Abraham dan Dion


Kakak Samuel aku rindu ucap Sofia, Samuel bangkit kalau memeluk adiknya tersayang kemudian kembali duduk


Steven mengembuskan nafasnya kasar setelah mendengar perkataan Sofia, "sudahlah aku mengerti sekarang biarkan aku duduk dulu di samping istriku sebaiknya Dinda kau pindah ke sebelah di samping Dion." ucap Steven saat melihat Dion yang sudah duduk di meja makan


"Kakak sebaiknya kakak saja yang duduk di samping Dion apalagi di sini wanita semua dan di sana pria semua, kakak bisa terus bersama Anisa setelah makan bahkan membawa dia kemanapun kakak suka." ucap Sofia


Sofia benar Steven lagi pula ini hanya makan siang saja kau tak perlu terus memperlihatkan kemesraan mu di hadapan kami itu membuat aku mual dan butuh di infus karena tak kuasa melihat hal tersebut ." ucap Samuel


"Kalian memang tak bisa melihat ku bahagia hanya karena kalian tak memiliki pasangan seperti ku, sayang maafkan aku harus duduk di sebelah karena para jomblo iri dengan kemesraan dan cinta kita." ucap Steven penuh percaya diri


Sementara Anisa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya entah obat apa yang di minum oleh Steven semakin hari otaknya semakin erro tanpa malu selalu mengatakan hal-hal yang romantis di mana pun dan kapan pun dia inginkan.


Sementara itu Stuart yang berada di ruang kerjanya tampak melangkah keluar dari ruang kerjanya menuju meja makan setelah melihat jam tangan miliknya tampak Stuart tersenyum melihat anak-anaknya sudah terkumpul "tumben kalian datang makan siang bersama ada apa." tanya Stuart yang sudah duduk di kursi miliknya


Semuanya hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan Stuart tak berselang lama Kikan datang dengan beberapa makan yang di bawa oleh pelayan di belakangnya oh kalian sudah berkumpul aku sangat senang apalagi ini hari yang sangat baik karena Sofia sudah kembali aku sudah menyiapkan makanan kesukaan kalian ayo sebaiknya kita makan


Makanan siang pun di mulai tapi saat makan siang berlangsung tampak raut wajah Stuart yang tiba-tiba berubah lalu melihat ke arah samping kanannya tampak putranya Steven sedang senyam-senyum tak jelas dan sampai kirinya Anisa menantu kesayangannya yang sedang hamil


"Steven hentikan kaki nakal mu itu kaki ayah bukan kaki istrimu." ucap Stuart tanpa filter membuat semua anggota keluarga tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan tersebut , sedangkan wajah Anisa jangan di tanya wajahnya memerah karena malu melihat tingkah suaminya


Sementara Steven hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan makanannya, Stuart memperhatikan Sofia putrinya yang sedang makan dengan lahap, Kikan melihat semua orang lalu matanya tertuju pada Sheila dan Dinda yang makan secara perlahan tidak seperti biasanya membuat Kikan penasaran


"Dinda, Sheila apa makan Tante tidak enak kali ini tumben kalian makan seperti itu mana porsinya sedikit bisanya piring kalian penuh bahkan sampai tambah dua kali." tanya kikan, sumpah demi Apapun Sofia ingin tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan ibunya sementara Anisa tampak tak bisa menahan tawanya sedangkan Kikan masih terlihat bingung


Dinda hanya bisa tersenyum kecil begitupun Sheila, "oh mereka berniat membungkus makanan setelah pulang ibu itu lah kenapa mereka hanya makan sedikit takut yang lain gak dapat kalau mereka makan seperti porsi mereka biasanya yang seperti gunung." ucap Steven membuat Sheila dan Dinda menatap Steven kesal dan malu pada gebetan mereka sementara Steven tampak sangat puas, " oh begitu tenang saja ibu sengaja masak banyak jadi tidak masalah kalian makan banyak dan membungkusnya untuk pulang kebetulan aku ingin menitip masakan kesukaan ibu kalian." ucap kikan melanjutkan makannya.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya