My Wife My Hero

My Wife My Hero
115. Jeremy



Ada apa dengan kalian kenapa kalian tidak ingin memberikan hak sepupu kalian biar bagaimanapun dia adalah cucu dari adik kakek kalian ayahku seharusnya kalian bersyukur mendapatkan warisan yang cukup banyak kenapa kalian harus mempermasalahkan warisan yang memang milik orang lain lagi pula kakek mu dan ayah yang membangun perusahaan kalian tinggal menikmatinya dan kalian masih protes." ucap sang ayah


"Justru karena itu kerja keras ayah dan kakek seharusnya anak-anak ayah yang mendapatkan hasilnya bukan dia yang tak melakukan apapun hanya menitip harta secuil bisa dapat setengah perusahaan kami saja harus berbagi." ucap pria tersebut


"Ayah tidak ingin berdebat dengan kalian ayah hanya ingin memberitahukan kalian bahwa ada pewaris lain selain kalian berdua dan pembagiannya mungkin akan membuat kalian sedikit kecewa, semu harta akan jatuh ke kalian jika orang tersebut menghilang atau tak bersedia menerima warisan sesuai dengan ucapan dari pengacara Kakek mu." ucap sang ayah lalu bangkit dan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan kedua anaknya istrinya dan ibunya yang tampak masih tetap berada di ruangan tersebut


Kedua bersaudara tersebut saling menatap seolah-olah mereka berbicara satu dengan yang lain melalui mata mereka, "nenek hanya ingin kakek kalian tenang di alam sana jadi sebaiknya kalian terima saja apa yang sudah menjadi isi dari wasiat kakekmu baiklah nenek akan beristirahat." ucap sang nenek lalu keluar dari ruangan tersebut kembali ke kamarnya


"Bagaimana ibu apa ibu juga setuju dengan ayah dan nenek aku rasa mereka sepertinya kehilangan pikirannya dulu bagaikan belum saya ini dan aku yakin harta milik adik kakek juga tak seberapa lalu kenapa kami harus berbagi apalagi ayah adalah anak satu-satunya dan selama ini Kamilah yang membantu ayah di perusahaan." anak perempuan tersebut


"Kalian berdua tenang saja semua pasti ada solusinya aku dengar anak itu lumpuh sedangkan kakaknya sudah meninggal apakah tidak sebaiknya dia ikut mati juga agar harta itu aman dan tetap menjadi milik kalian." ucap sang ibu


Benarkah sepertinya aku memiliki solusi yang baik untuk hal itu bagaimana kalau kita pura-pura baik padanya dan menawarkan seorang dokter yang akan merawatnya tapi sebenarnya dokter itu bukan untuk merawatnya tapi untuk memperparah penyakitnya dan dengan begitu tak akan ada yang mencurigai kita." ucap seorang pria


"Jeremy idemu bagus sekali ibu senang mendengarnya dengan begitu harta warisan aman dan semua terkendali tapi kita harus melakukannya secepatnya karena yang ibu ibu mendengar bahwa wasiat kakekmu akan dibacakan bulan depan dan jika sampai warisan itu sudah jatuh ke tangan pria itu maka kita tak bisa mengklaim lagi apalagi jika dia sudah memiliki keluarga." ucap sang ibu


"Bagaimana jika ibu menyuruh ayah untuk menghubungi kakek pria tersebut dan pura-pura memberinya bantuan dokter untuk mengatasi penyakitnya dan setelah dia setuju kami yang akan mengurus sisanya." ucap Jeremy


"Itu bukan masalah ibu pasti akan melakukannya untuk kalian berdua dan aku yakin mereka tak akan menolak bantuan dari kita, jadi aku harap kalian bisa pergi ke ayah kalian untuk meminta maaf dan berpura-puralah menerima semua itu dengan baik agar ayah dan nenek kalian tidak curiga atas apa yang akan kalian lakukan." ucap sang ibu


"Baik ibu terima kasih sudah mendukung kami." ucap kedua bersaudara tersebut lalu keluar dari ruangan tersebut menyisakan sang ibu yang sedang tersenyum jahat tentu saja aku akan melakukan apapun untuk kalian berdua Aku juga tak ingin harta milik kalian jatuh pada siapapun." ucap wanita tersebut lalu bangkit dan berjalan keluar menyusul kedua putra dan putrinya


"Aku sudah memiliki calon istri dan lusa aku akan menikahinya di Pulau ini itu saja yang ingin aku sampaikan kepada kakek jika kakek ingin hadir silakan hadir jika tidak itu tidak jadi masalah untukku." ucap Arthur cuek


"Dasar anak kurang ajar mana mungkin kau bisa menikah lusa kita harus melamar anak gadis orang dulu dan memintanya kepada kedua orang tuanya lalu bertanya apa yang dia inginkan setelah semuanya sesuai dengan kesepakatan maka kau boleh menikah dengannya ada apa kau sangat terburu-buru ingin menikah terkecuali kau Sudah sudah menyiapkan pengantinmu sendiri sehingga kau bisa menikahinya langsung, kau pikir wanita seperti barang kalau suka langsung di ambil dan bawa pulang." ucap sang kakek sedikit kesal


"Baiklah aku mengerti kakek jadi kakek jangan sampai kaget atau syok atau terkena serangan jantung jika mendapati bahwa aku sudah menikahi seorang wanita." ucap Arthur lalu menutup panggilan teleponnya, "kenapa cukup-cuku itu sejak mengalami kecelakaan otaknya juga jadi bermasalah entah apa yang dipikirkannya kemarin dia menolak untuk menikah Aku bahkan menyodorkan semua wanita cantik yang bersedia menikahinya dan menerima semua kekurangannya tapi dia masih tetap menolak tapi tiba-tiba dia mengatakan bahwa lusa dia akan menikah dengan seorang wanita apa dia pikir wanita itu barang." ucap kakek Arthur


"Mungkin saja dia sedang bercanda denganmu terus jika memang dia menikah apa ruginya toh dia menikah sesuai dengan keinginannya sendiri bukan karena kau memangsanya atau menyodorkannya seorang wanita dan itu akan lebih baik lagi jika ada sesuatu masalah di pernikahannya kau tak akan disalahkan olehnya." ucap seorang pria yang tampak duduk saling berhadapan dengan kakek Arthur


"Entahlah pasalnya cucu ku itu tidak pernah bercanda oh iya bagaimana kabar keluargamu aku dengar kau memiliki tiga orang cucu yang kembar dari putra mu ." ucap kakek Arthur


"Aku bersyukur putraku yang aku pikir takkan bisa menghasilkan cocok untukku ternyata langsung memberiku tiga orang cucu sekaligus dan salah satu cucuku adalah seorang gadis yang sangat berbakat dan dia adalah seorang dokter." ucap pria tersebut


"Kau sangat beruntung karena putramu sudah memberikanmu tiga cucu sekaligus dan salah satunya seorang wanita apalagi aku dengar menantumu sangat baik dan bahkan kau dan istri mu berencana untuk tinggal bersama mereka." ucap kakek Arthur


"Kau benar menantuku memang sangat baik sejak awal dia terus meminta kami berdua untuk tinggal bersamanya agar mudah mengawasi kami jika terjadi sesuatu walaupun dia tahu kami cukup hidup dengan nyaman di kediaman kami karena banyak pelayan dan pengawal yang akan membantu kami tapi dia merasa tidak tenang apalagi katanya putra-putrinya sudah dewasa dan dia sering kesepian sehingga memanggil aku dan istriku untuk tinggal bersama mereka, tapi istriku tak ingin merepotkan menantuku." ucap pria tersebut.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya