My Wife My Hero

My Wife My Hero
22.oprasi



Anisa ibu Nadia dan ibu Kikan sedang menenangkan Nadia yang masih menangis setelah masuk ke dalam kamar, "sayang Jangan menangis Lagi semua ini sudah takdir kita bisa apa." ucap Kikan


"Sebaiknya kau ke kamar mandi cuci mukamu agar segar lalu kita akan keluar." ucap Nadia, Anisa bergegas ke kamar mandi untuk membantu wajahnya sementara Nadia dan Kikan langsung berpelukan akhirnya anak kita berjodoh dan kita jadi besan." ucap Nadia dan Kikan berpelukan sambil tersenyum,


Saat Anisa keluar dari kamar mandi Nadia dan kikan melepas pelukan mereka Lalu seperti biasa seolah tak terjadi apa-apa ayo sayang kita keluar dari sini kita harus menyaksikan apa yang terjadi di luar, harus sabar dan menerima semuanya mungkin saja ini memang takdir yang Tuhan berikan untukmu." ucap Kikan


Sementara di luar tampak suasana masih tegang apalagi Bima sangat marah mendengar perkataan Samuel ada seseorang yang menjebak Steven tapi jebakan tersebut bukan hanya mengenai Steven tapi juga mengenai Anisa membuat mereka tidur di kamar yang sama tanpa menyadari apa yang terjadi


"Siapa pelakunya aku akan membuat perhitungan pada orang itu karena berani melakukan hal tersebut." ucap Bima


"Sebaiknya kita sampingkan dulu masalah pelaku tersebut di sini kita akan melakukan pernikahan antara Steven dan Anisa jadi aku harap kau sebagai ayahnya dengan senang hati menyerahkan Anisa kepada Steven." ucap Ayah Leo


Tampak Bima terdiam setelah mendengar perkataan Ayah Leo Tak lama kemudian ikan Nadia dan Anisa keluar dari kamar berjalan ke arah ruang keluarga di mana semua orang sedang berkumpul, melihat putrinya lalu menunduk seperti dia tak kuasa menatap mata putrinya sementara Anisa juga melakukan hal yang sama dia tak bisa menatap mata ayahnya


Saat mendekati ruang keluarga Anisa memanggil "Ayah" ucap Anisa membuat Bima yang tertunduk langsung bangkit dan berlari memeluk putrinya, sontak saja Anisa Langsung menangis begitupun Bima "maafkan Aku Ayah aku telah melakukan kesalahan." ucap Anisa sambil memeluk erat ayahnya "tidak sayang ini bukan kesalahanmu ini kesalahan Steven, orang yang menjebakmu dan juga Abraham kau tidak bersalah Kau adalah putriku yang paling lugu yang tidak tahu tentang dunia." ucap Bima


Semua orang yang tadinya terharu mendengar Anisa langsung menjadi bingung begitu mendengar perkataan Bima apalagi yang salah bukan hanya Steven atau orang yang menjebak mereka tapi Abraham pun menjadi orang yang bersalah, Bima dan Anisa kemudian duduk Anisa dipeluk erat oleh Bima


"Jadi bagaimana Bima Apakah kau setuju untuk segera menikahkan anisa dengan Steven hari ini juga sebelum ada Steven junior di perut Anisa." ucap stuart


Sontak saja perkataan stuart membuat semua orang ingin tertawa Tetang junior Steven tapi tidak dengan Bima perkataan stuart membuatnya sangat kesal dia seperti sudah terperangkap kali ini tidak mungkin dia menolak pernikahan antara Steven dan Anisa jika nanti Anisa sampai hamil dan dia belum menikah itu akan membuat keluarga malu


"Baiklah aku bersedia menikahkan Anisa dengan Steven tapi dengan beberapa persyaratan tertulis dan aku ingin membicarakan syarat-syarat tersebut pada Steven." ucap Bima


Stuart mengehembuska nafasnya kasar dia mengetahui Apa rencana Bima dia pasti akan berusaha menjauhkan Anisa dengan Steven dia akan menguji Steven terlebih dahulu


"Yang mau menikah dirimu atau Anisa Kenapa harus ada perjanjian tertulis apalagi perjanjian tersebut hanya disepakati oleh Steven dan dirimu." ucap Stuart


"Aku tak ingin banyak basa-basi intinya Apakah Steven sepakat atau tidak itu saja pertanyaanku." ucap Bima dia yakin jika dia terus berbicara dengan Stuart pasti perjanjian itu takkan pernah terjadi


Steven yang tadinya tunduk sontak mengangkat wajahnya membuat kikan sangat terkejut karena dia tadi tak melihat wajah putranya karena Steven terus menutupi wajahnya dan tertunduk apalagi saat Steven datang dan di hajar oleh Bima Kikan tak melihatnya "Astaga sayangku apa yang terjadi dengan wajahmu siapa yang melakukan ini padamu." teriak kikan saat melihat wajah tampan putranya babak-belur


Mendengar teriakan istrinya stuart tersenyum tipis dia yakin baik dimata kan mengakui perbuatannya pada Kikan


"Aku tidak apa-apa Ibu aku tadi berkelahi dengan seseorang." ucap bohong Steven


"Aku berdoa semoga orang tersebut mendapatkan balasan yang setimpal telah memukul putraku, Astaga sayang tunggu ibu akan mengobati lukamu." ucap kikan lalu bangkit dan masuk ke dalam rumah untuk mengambil obat


"Aku setuju apa yang diinginkan oleh Paman Bima, tapi aku ingin perjanjian tersebut juga diketahui oleh Anisa sebagai saksi." ucap Steven yang memang cerdas karena dia yakin semua isi perjanjian yang di buat oleh Bima pasti akan merugikan dirinya


Bima terdiam sesaat mendengar perkataan Steven ternyata otak Steven seperti stuart


"Bagaimana Bima apa kau setuju dengan apa yang diinginkan oleh Steven Kalau memang kau setuju Ayo masuk ke ruang kerjaku bersama Anisa dan Steven dan silakan kalian buat surat perjanjian yang kau inginkan." ucap stuart


"Baiklah aku tidak akan membuat surat perjanjian tapi aku ingin kau dan Anisa tinggal di kediaman kami untuk sementara waktu." ucap Bima


"Baiklah aku setuju untuk tinggal di rumah paman setelah aku menikah dengan Anisa." ucap Steven, ikan datang dengan kotak P3K langsung duduk di samping Steven lalu mengobati luka Steven


Sementara Sofia yang berada jauh di sana tak mengetahui apa yang terjadi antara Anisa dan Steven apalagi Sofia sengaja mematikan ponselnya karena dia ingin berkonsentrasi dengan operasi yang akan dia lakukan sebentar lagi Sofia tanpa keluar dari kamar miliknya dengan pakaian rapi tampak Sofia berjalan keluar dari rumah tuan Ronald menuju ke rumah di mana terdapat Ayah Tuan Ronaldo yang sudah siap di ruang operasi tampak Sofia memasuki ruang operasi sementara Tuan Ronald dan Mr D tampak berada di ruang operasi untuk menunggu hasil kerja Sofia


Di dalam ruangan operasi tampak Sofia meminumkan beberapa pil terlebih dahulu kepada ayah Tuan Ronald para dokter yang membantunya sudah mulai menyiapkan alat-alat yang akan dipakai untuk melakukan operasi setelah meminumkan pil tersebut memulai operasi tersebut hampir beberapa jam berlalu tapi Sofia belum juga keluar dari ruang operasi membuat Ronald dan Mr D sedikit cemas


Tak berselang lama tiba-tiba perawat keluar dari ruang operasi tapi perawat tersebut langsung berlari mengambil sesuatu setelah beberapa menit perawat tersebut kembali dengan beberapa kantong darah kemudian masuk ke dalam ruang operasi lagi.


Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya