I Am The God Of Ghoul

I Am The God Of Ghoul
Bab 91 Ketenangan sebelum badai bagian ke 2



Disiang itu hari cerah dengan beberapa awan yang sedikit menutupi matahari hewa-hewan bersenandung bersama cerahnya harri tersebut, para serangga berterbangan kesana kemari seakan menari dilangit yang cerah tersebut dan lalu ada dua gadis yang sedang bertarung dengan niat membunuh meluap-luap dari diri mereka.


 “Kenapa pula bisa jadi begini” pikir Reiga yang sedang duduk ditengah pertarungan Lucy dan Nabila.


 Sebelumnya mereka cuman saling tatap-tatapan tetapi setelah beberapa menit tidak berbicara, mereka mulai mundur dan mengambil kuda-kuda masing-masing sementara itu Reiga yang bingung ketika melihat kedua gadis tersebut memasang kuda-kuda duduk diam agak jauh dari mereka karena dia merasa kalau tidak baik untuk ikut campur sekarang. Lalu tidak lama setelah Reiga duduk Lucy langsung dengan cepat beralari menuju arah Nabila dia dengan menggunakan tehnik jari keempatnya membuat tombak dari tangannya “Booomsshh…”.


 “Jari agung, jari keempat : tombak langit, tombak matahari” serangan yang dialancarkan merupakan serangan ledakan energy tipe area yang membuat Nabila terkena serangan tersebut.


 Tombak matahari adalah serangan yang mengakumulasikan energy pada seluruh area pangkal tangan yang dipadukan dengan kecepatan tusukan dari tangan, lalu dengan cepat akan membuat gesekan pada udara yang menjadikan serangan tersebut berenergy panas yang bahkan dapat melelehkan baja dengan mudahnya.


 Sementara itu Nabila yang terkena serangan langsung dari Lucy dapat bertahan dengan baik, dia mengubah kulit-kulit ditubuhnya seperti sisik ular yang lebih kuat dari baja dan dengan sisik tersebut dia dapat menghindari cidera fatal dari serangan Lucy. Lalu pada saat Lucy sadar kalau serangannya dapat ditahan Nabila dia dengan cepat mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-acang serangan yang lebih kuat lagi, namun tidak membiarkan hal itu Nabila dengan cepat mendekati Lucy dia menggunakan tehnik perubahan tubuhnya untuk dapat mengeraskan tangan kanannya dan dengan cepat dia melancarkan tinju kearah perut Lucy.


 “Jari agung, jari keenam : tinju kekosongan” Lucy lalu dengan cepat membalas serangan dari Nabila dengan serangan tinju juga.


 Dan ketika kedua tinju tersebut saling menghantam satu sama lain “BOOOMMSSHHH…” keduanya lalu terhempas dari tempat mereka Reiga yang melihat hal tersebut merasa bingung untuk membantu siapa jadi dia memutuskan untuk tetap duduk diam dan makan semangka.


 “Uhuuk… uhuuk… uhuuk..” Nabila lalu bangkit dan berjalan kearah Lucy dengan lambat.


 Lucy juga bangkit dari tempatnya dan mendatangi Nabila, keduanya sudah terluka agak parah walaupun tidak mengancam jiwa mereka tetapi luka tersebut dapat membuat mereka harus dirawat selama beberapa hari. Tetapi mereka berdua sama sekali tidak peduli dan tetap menuju satu sama lain dan ketika mereka sudah saling dekat mereka berdua lalu memusatkan sisa energy mereka kedalam tangan mereka, lalu disaat keduanya akan saling menyerang.


 “Sudah cukup” Reiga dengan cepat langsung menahan kedua serangan merekan hanya dengan satu jari, lalu dengan satu jari tersebut dia mengetuk kening mereka dan membuat mereka berdua pingsang ditempat.


 Reiga lalu membawa mereka berdua kembali kedalam kota untuk mendapatkan perawatan.


 “Wanita benar-benar aneh, tadi kulihat mereka saling tatap-tatapan seperti seorang teman lalu setelah itu mereka bertarung sampai cidera begini, Haaah… aku benar-benar tidak mengerti” pikir Reiga yang membawa mereka berdua ditangannya.


 Lalu Reiga dengan cepat membawa mereka berdua dan sesampainya disana Reiga menjelaskan situasinya kepada tabib setempat, dan lalu setelah satu malam diobati Lucy dan Nabila lalu mendapatkan omelan panjang dari Reiga karena berusaha menyakiti satu sama lainnya. Mereka diomeli sampai tiga jam lamanya dan orang-orang yang melihat tersebut merasa kalau mereka sedang melihat dua anak kecil yang terluka karena berantem dan Reiga yang seperti ibu mereka memarahi dengan penuh kasih sayang.


 Dan setelah satu minggu mereka berdua lalu keluar dari tempat perawatan dan ketika Reiga melihat mereka berdua lagi dia melihat kalau keduanya sudah berbaikan dan telah menyelesaikan masalah mereka berdua, bersamaan dengan hal tersebut sebuah ribuan kertas lalu muncul dari langit dari dalam keratas tersebut berisi : “Turnamen beladiri tiga bulan dari sekarang, dilaksanakan dikuil dewa pedang Damaskus pemenang dari turnamen ini akan mendapatkan kepingan artefak yang tingkatannya tidak bisa diketahui”.


Selebaran turnamen bela diri tersebut lalu sampai kesuluruh benua bahkan sampai juga ketangan Reiga, dan ketika dia membaca tentang hadiahnya dia merasakan kalau itu ada hubungan dengan kepingan artefka yang dia terima dari Agnus.


 “Menarik…” pikir Reiga yang sedang memikirkan rencana dari Damaskus.


meningkatkan kekuatan mereka, jadi harga dari artefak sangat mahal bahkan sampai ada seorang dewa yang rela mengorbankan seratus orang pengikutnya untuk membuat suatu  artefak.


 “Hahahaha…, bagus – bagus sekali acara ini cocok untukku mengait banyak pengikut” kata salah satu orang dewa fraksi putih.


 “Kebetulan sekali, kalau tidak salah ingat dulu Reiga dan Damaskus pernah saling bertikai, kalau begitu itu artinya Reiga pasti akan datang ke acara ini, Hehehe…. Segera siapkan para pertarung handalku kita akan hancurkan acara ini dan rebut semua yang ada disana” kata Dewa bayangan Drakula.


 “Baik tuanku” kata pengikut Drakula yang langsung pergi dari sana.


 “Hehehehe… kuharap kau menyukai pertunjukkan ku Reiga…” kata Drakula dengan tawa yang menakutkan.


 Sementara itu Reiga yang lebih tertarik dengan hadiah yang tertulis langsung menghubungi seluruh orang-orang kepercayaannya, dia menggunakan telepati untuk menguhubungi mereka semua. Dan pada akhirnya ada beberapa orang yang mewakili dewa Reiga untuk ikut dalam turnamen tersebut yaitu : Lucy, Nabila, Rael, Rial, Lea, Azazel, Dagan ( dipaksa ikut oleh ayahnya sang raja naga ), dan terakhir Leon yang meninggalkan pekerjaannya dinegara Terian untuk ikut bersenang-senang.


 Kedelapan orang tersebut akan mewakili Reiga dalam turnamen tiga bulan yang akan datang, didalam selebaran yang dibacakan kalau kompetisi berhak diikuti oleh siapapun baik itu pengikut dari dari dewa fraksi hitam ataupun putih, selain dewa semua orang yang memiliki kecerdasan dan akal dapat mengikuti turnamen ini, semua senjata diperbolehkan dalam turnamen, pemenang akan ditentukan kalau musuh sudah tidak bisa bangkit, mati, atau menyerah ditempat.


 “Hmmm… dengan kata lain disini kita dapat membunuh satu sama lain kah.., tapi apa kau yakin tidak ingin ikut acara ini Raiya” kata Reiga yang berbicara sendiri.


 Lalu dari bayangan Reiga munculah seseorang yang menggunakan baju hitam tertutup seperti seorang ninja, hawa kehadirannya yang sangat tipis membuat banyak orang selain beberapa dewa kelas atas dapat menyadari keberadaannya.


 “Iya tuanku, saya mohon maaf karena saya telah memutuskan untuk membantu anda dibalik bayangan jadi karena itulah saya tidak bisa menunjukkan diri saya didepan banyak orang” kata Raiya.


 Selama sepuluh tahun saat Reiga tertidur dia telah menjalani latihan berat dibawah bimbingan dewi pembunuh, latihan dari dewi itu membuat dirinya menjadi semakin kejam dan berdarah dingin. Sekarang ini dia bahkan dapat membunuh seorang dewa kelas bawah jika itu bukan dalam pertarungan langsung.


 “Begitu ya…., kalau begitu akan kuhargai keputusanmu, tapi tetap ikuti yang lainnya lindungi mereka dari balik bayangan, aku merasa turnamen ini akan menjadi ajang penuh darah” kata Reiga.


 Sementar itu di kuil dewa Damaskus sebuah kuil besar yang berbentuk arena colosseum yang dapat menampung ribuan penonton, didalam arena tersebut tepatnya dibawah tanah kedalam 10 ribu meter. Seseorang yang sedang duduk bermeditasi dengan sebuah pedang yang seputih kristal dipajang didepannya Damaskus yang sedang mengumpulkan tenaga untuk persiapan turnamen yang akan datang.


 “Akhirnya para dewa itu sudah bergerak, sebentar lagi aku bisa mengejarnya kealam atas dan para dewa baik itu putih, hitam, atau abu-abu akan kujadikan mereka pijakan kakiku untuk naik kealam atas” kata Damaskus, bersamaan dengan kata-katanya tersebut pedangnya bersinar seakan ikut bersemangan untuk bertarung bersama Damasku.


Bersambung.........


Berikan dukungan kalian dengan cara Like, Komen, Giff, dan Vote novel ini jika kalian menyukai cerita yang ada didalamnya agar penulis semakin bersemangat dan ceritanya semakin menarik lagi, Ok.....