I Am The God Of Ghoul

I Am The God Of Ghoul
Bab 271 Bersamamu sampai akhir



Dengan tubuh yang mana setengah naga dia diselimuti oleh sisik merah terang bagaikan darah, dengan sayap naga besar yang mana memiliki beberapa duri untuk menusuk Susano menampilkan keganasannya lalu aura yang diakeluarkan bukanlah lagi aura dari seorang petarung bela diri tetapi itu adalah aura dari mahluk buas. Sementara itu Reiga yang mana mengeluarkan sayap phoenix iblis miliknya langsung mengeluarkan aura dari hukum kematian yang diapunya, pedang dan jubahnya langsung beresonansi dengan kekuatan hukum kematian milik Reiga, pedangnya memanjang dan mengeluarkan aura kabut hitam pekat sementara jubah milinya berubah bentuk dan menjadi sepasang sayap dengan corak langit malam  didalamnya.


“Kau punya sayap yang bagus juga” kata Susano yang merasakan sesuatu yang berbahaya dari sayap dengan corak langit malam milik Reiga.


“Benarkah menurutku sayapmu juga keren, keberatan kalau aku mengoyaknya dan menggantungnya di rumahku” kata Reiga.


“Hahahaha…. ambil saja jika kau bisa, tetapi harga untuk mencobanya adalah nyawamu” kata Susano yang mana menyiapkan kuda-kuda miliknya.


Sementara Reiga tidak menyiapkan apapun tetapi dia menguatkan aura pedang dan kekuatan hukum kematian dipedangnya itu, “Busshh…” dengan cepat Susano mengambil ini siatif terlebih dahulu dan menyerang menggunakan tinju tangan kanannya melihat serangan Susano yang sangat jelas, “Wuusshh…” Reiga lalu menghindari tinju Susano hanya dengan gerakan kecil namun “Srrasstt…” Susano langsung berputar dan dengan menggunakan ekor naga miliknya dia melukai pipi Reiga. Merasa kesal dengan serangan ekor tersebut Reiga lalu mengangkat pedangnya keatas dan ingin melancarkan serangan tebasan yang kuat, tetapi Susano langsung berputar kembali dan menghalangi serangan pedangnya dengan tinju belakang dari tangan kirinya “TRRAAANGGSSKKK…” serangan pedang Reiga membuat energy hukum darah monster ditubuh Susano langsung terkoyak-koyak, semua itu dikarenakan pedang White Nightmare milik Reiga yang menetralisir segala kekuatan.


“Cih pedang yang sangat menyebalkan” kata Susano, “Buusshh…” dia langsung melompat mundur penjauh dari Reiga.


Tetapi Reiga yang mana tidak membiarkan Susano pergi langsung dengan cepat mengejarnya “Bussh…” dengan cepat dia memperpendek jaraknya dari Susano.


“Pedang kematian, tehnik keempat : kilat hitam, cahaya penghapus emosi” serangan pedang yang kecepatannya menyamai kecepatan cahaya itu langsung dengan cepat “Srraassttt…” mengenai tubuh Susano yang mana tidak sempat menahan serangan pedangnya.


Tebasan pedang Reiga sangatlah cepat sampai-sampai Susano tidak bisa menahan serangan tebasan pedang itu, tetapi menggunakan sisik naga dari kekuatan hukum darah monster yang diapunya Susano langsung dengan cepat menutup luka-luka yang ada didalam tubuhnya, dan untuk menyembuhkan tubuhnya dari energy unik pedang Reiga dia menggunakan kekuata hukum kehidupan dan mengambil energy kehidupan para pelahap darah yang dia simpan dalam dirinya. Sebelumnya Susano telah mempersiapkan beberapa pelahap darah yang mana telah diperkecil sehingga dapat disimpan dengan mudah, dan ketika Reiga datang dia tidak dapat merasakan energy dari pelahap darah tersebut karena mereka sangatlah kecil dan energy dari Susano menutupi keberadaan mereka.


“Tidak kusangka kau bisa bermain trik seperti ini, kau benar-benar sudah berubah” kata Reiga, dulunya Susano akan menghadapi siapapun lawannya dengan tehnik dan kekuatan murni yang dia punya dan dulunya dia enggan untuk menggunakan trik-trik disaat bertarung karena itu semua tidak sejalan dengan tehnik bertarungnya.


“Semua itu adalah masalalu, dan Susano yang kau kenal dulu sudah mati yang ada dihadapanmu sekarang ini adalah mahluk ciptaan Susano yang mana akan menguasai planet Erras” kata Susano.


“Begituyah Susano yang dulu sudah mati, kalau begitu akan kubuat kau mati bersama dengan dirimu yang dulu” kata Reiga, energy pedang miliknya lalu berubah menjadi semakin halus dan semakin tajam seperti sehelai rambut yang sangat tajam pedang milik Reiga tiba-tiba saja menghilang dari padangan Susano.


“Hmm…?? Apa kemana perginya pedangnya” bingung karena melihat senjata milik Reiga menghilang Susano jadi tidak fokus dan dengan cepat Reiga secara tiba-tiba sudah ada didekat Susano.


“Pedang kematian, tehnik ketiga : mekarnya mawar kematian, taman bunga kematian” dengan tebasan pedang miliknya dan juga energy pedang yang dia miliki, Reiga langsung menggambar seribu bunga mawar ditubuh Susano, “Srrasstt… Srrasstt… Srrasstt… Srrasstt… Srrasstt… Srrasstt…” serangan pedangnya tidak terlalu cepat seperti sebelumnya tetapi gerakan yang diabuat sangatlah indah dan sederhana sehingga membuat Susano hanya bisa melihat gerakan pedangnya dan tidak bisa menahan pedangnya.


“Gaaaaaggkkk…..” dan ketika Reiga telah selesai menggambar seribu bunga Susano lalu merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa dari setiap tebasa milik Reiga, semua itu dikarenakan oleh kekuatan hukum ketiga milik Reiga hukum keberan pedang adalah hukum yang memotong segalanya diatas sebuah tebasan pedang, dan kali ini Reiga memotong setiap saraf yang ada ditubuh Susano dan membuat dirinya lumpuh selamanya.


“Sebaiknya kau tidak bergerak, karena aku menggunakan pedangku kau tidak akan mungkin bisa menyembuhkannya walaupun kau menyerap energy kehidupan mahluk-mahluk kecil itu” kata Reiga, dia mengalirkan energy unik dari pedang White Nightmare miliknya dan membuat tubuh Susano teraliri oleh energy tersebut, dan selaama energy pedang tersebut tetap ada didalam tubuh Susano maka dia tidak akan mungkin dapat untuk menyembuhkan setiap luka yang diapunya.


“Apa yang kau lakukan Aeria, apa kau juga ingin berkhianat” kata Reiga yang mana melihat Aeria menyerang dirinya.


Aeria yang mana telah terluka parah akibat serangan dari Susano sebelum dia berkhianat memaksakan dirinya, Reiga yang melihat Aeria langsung menyadari ada luka dalam yang membekas dibeberapa organ tubuhnya dan itu harus disembuhkan dengan cara beristirahat selama beberapa tahun. Tetapi dia memilih datang kemari dan membuat dirinya dalam kondisi yang tidak bagus, itu semua karena pria yang dia cintai Susano yang mana juga adalah orang yang melukai dirinya.


“Reiga maafkan aku tetapi aku sama sekali tidak memiliki niat untuk berkhianat” kata Aeria, dari matanya terpancar suatu tekad yang sangat kuat namun dengan tubuh yang mana sangatlah lemah dia berusaha tetap tegar.


“Aku mengerti, lakukan sesukamu” kata Reiga yang mana mengetahui niat dari Aeria.


Aeria lalu mendatangi Susano yang mana tidak bisa bergerak itu, dan memeluknya dengan lembut.


“Apa yang kau lakukan, seharusnya kau tidak ada disini, kau tahu kalau kondisi tubuhmu itu sangat parah kalau kau tetap memaksakan diri maka kau akan mati” kata Susano.


“Aku tahu tetapi kalaupun aku tetap hidup sudah tidak ada gunanya lagi kalau tidak bersama denganmu” kata Aeria.


“Cih… dasar wanita menyebalkan” kata Susano, nyawanya sudah hampir habis energy kematian yang mana juga dilapisi dalam pedang Reiga mulai menggerogoti tubuhnya.


“Kalau kau mau pergi mari kita pergi bersama-sam, tidak memikirkan soal dunia, dewa, wilayah, rangking atau apapun itu, kita bisa tenang disana sekarang” kata Aeria, tubuhnya lalu bercahaya dengan sangat terang, dia menggunakan kekuatan penuh dari hukum langit yang diapunya.


“Trriinggsss…..” cahaya, angin dan awan menari disekitar mereka berdua bersama dengan hal itu tubuh Aeria dan Susano mulai hancur menjadi cahaya, sedikit demi sedikit tubuh mereka menjadi kasat mata dan lalu menghilang selamanya dalam ketenangan dan kesedihan dari langit.


“Selamat jalan teman-temanku, semoga kalian berdua dapat terus bersama-sama dialam sana” kata Reiga yang mana melihat kepergian sepasang kekasih tersebut.


Setelah mereka pergi Reiga lalu dipenuhi oleh amarah karena orang yang telah memanipulasi Susano dan membuat banyak orang di planet Erras menderita tidak akan pernah dia maafkan, dengan amarah dan kebencian itu dia langsung pergi keasala energy hukum darah monster yang sangat kuat tersebut, sesampainya dia disana dia melihat pemandangan yang sangat mengejutkan.


“Yooo…. Kau sudah datang” kata sesosok pria dengan rambut hitam dan mata iris merah yang mana memegang tubuh mati dari Cronos dengan sebelah tangannya.


Bersambung……