I Am The God Of Ghoul

I Am The God Of Ghoul
Bab 256 Monster naga tampa kepala bagian 3



Mahluk monster naga tampa kepala tersebut mulai mengamuk dan suara amukannya menggema keseluruh daratan alam atas, para mahluk-mahluk kuat yang mana menjaga dunia Erras langsung pergi dan berkumpul ketempat suara monster naga tampa kepala tersebut berasal. Disisi lain Reiga yang mana sedang melindungi alam bawah sedang berusaha untuk melepaskan area miliknya sedikit demi sedikit, area milik Reiga lalu terbuka perlahan-lahan yang mana membuat para mahluk mulai berusaha beradaptasi pada energy dari alam atas yang mana masuk kealam bawah.


“Usahakan agar kalian beradaptasi dengan cepat, pastikan agar tubuh kalian bisa dapat terhubung dengan energy liar dari alam atas ini” kata Reiga, dia mulai membimbing para dewa/dewi yang ada disana dan kemudian membuka sedikit arean miliknya disekitarnya.


Sekali areanya terbuka sejumlah besar energy mulai memaksa masuk kedalam tubuh para mahluk hidup yang ada disana, para dewa/dewi berusaha keras untuk bisa beradaptasi dengan energy liar dari alam atas, berbeda dari sebelumnya kali ini tidak ada yang pingsan setelah merasakan energy dari alam atas itu semua karena Reiga telah membuat mereka bisa beradaptasi dengan kecepatan yang luar biasa menggunakan kekuatan dari area miliknya tersebut. Sementara itu Lucy yang mana merupakan dewi terkuat dari alam atas langsung dengan cepat beradaptasi dengan energy dari alam atas, “Trriinnggsss….” Bahkan dirinya sekarang sudah berada didepan pintu alam dewa raja dan sedikit lagi Lucy dapat naik menjadi seorang dewa raja.


“Hmm… bagus sekali kau bisa dengan cepat beradap tasi dengan energy dari alam atas ini, kalau kau dapat naik ketingkat dewa raja dengan cepat maka aku bisa membawamu kewilayahku dialam atas” kata Reiga yang memuji Lucy yang mana telah menjadi lebih kuat dari sebelumnya.


“Cih… dasar sok, wanita otak otot ini kenapa dia bisa lebih baik dari diriku” piki Nabila yang mana melihat Lucy dengan cemburu.


Melihat Nabila yang mana masih terduduk karena berusaha untuk beradaptasi dengan energy liar dari alam atas, Lucy yang mana melihat Nabila yang cemburu tersebut langsung memberikan sebuah senyuman mengejek pada dirinya.


“Kggghh….” Melihat senyuman mengejek dari Lucy membuat Nabila marah, dia beruaha berdiri dengan paksa dan menggunakan kemampuan berubah bentuknya untuk membuat tubuhnya bisa beradaptasi dengan energy dari alam atas.


“Hoho… kau bisa juga beridiri anak kecil, aku kira kau tidak akan bisa berdiri lagi selamanya” kata Lucy.


“Hmmm…. Itu hanya ada dalam mimpi saja, untuk bisa beradaptasi dengan energy sekecil ini maka itu sangatlah mudah dan gampang” kata Nabila.


“Mereka ini selalu saja bertengkar, apa tidak bisakah mereka rakun sedikit saja” pikir Reiga yang melihat keduanya mulai bertengkar, walaupun wajah mereka menunjukkan senyuman diwajahnya tetapi energy gelap mulai muncul terlihat jelas kedalam wajah mereka berdua.


Melihat kalau beberapa dewa dan sebagian besar mahluk dialam bawah telah beradap tasi dengan energy liar dari alam atas, Reiga lalu membuka area miliknya “Krrrraassskkkt….” Dengan cepat langit-langit malam yang mengelilingi mereka langsung hilang dan berubah kembali menjadi cuaca cerah dengan pemandangan mengerikan, sebuah pemandangan yang mana menunjukkan sebuah retakan dimensi dari alam atas membua kedua alam mulai menyatu.


“Kalau begini terus kedua alam tumpang tindih satu sama lainnya, maka dapat dipastikan banyak korban akan bermunculan dari kedua alam” kata Reiga yang melihat kondisi dari celah dimensi yang mulai hancur berkeping-keping.


Mendengar perkataan Reiga dewa/dewi yang lainnya langsung ketakutan dan jatuh kedalam keputusasaan, mereka tidak tahu harus berbuat seperti apa sekarang karena ketika mereka melihat mahluk monster naga tampa kepala tersebut membuat mereka tahu kalau mahluk tersebut bukanlah tandingan mereka. Disaat itu Reiga melihat wajah dari para dewa dan dewi yang lainnya itu, melihat wajah putus asa mereka membuat Reiga muak karena mereka sudah tidak dapat ditolong lagi dan tidak mungkin bagi mereka untuk bisa bertambah lebih kuat lagi.


“Hahahha… maafkan aku tapi kau tahu sepertinya aku sudah menjadi lebih aneh lagi sekarang” kata Reiga yang mana mulai menyadari kalau dirinya dulu pernah jatuh lebih menyedihkan dari mereka dulunya.


“Boommsshh….” Reiga lalu terbang pergi keatas dan berusaha untuk pergi kealam atas, para dewa yang mana menyembah dirinya kemudian melihat sosoknya yang agung tersebut, dengan sayap yang terbakar dengan api hitam kebiruan Reiga terbang dengan cepat pergi kealam atas meninggalkan mereka para mahluk alam bawah untuk bisa bertahan hidup sendiri.


“Wuuusshhh….” Dengan cepat Reiga terbang dan masuk kedalam celah dimensi yang retak tersebut, dan didalam celah dimensi itu banyak terlihat puing-puing batu bangunan yang mana merupakan reruntuhan dari alam atas. Didalam celah dimensi tersebut terdapat banyak mayat-mayat orang-orang dari alam atas yang mana terbunuh ketika celah dimensi mulai retak, Reiga bahkan lebih dikejutkan lagi dengan melihat banyaknya mahluk pelahap darah yang berada disana mereka tidak bergerak seperti sesosok mayat dan bahkan tidak melakukan apapun ketika Reiga menyentuh dan berkeliaran disekitar mereka.


“Mereka tidak melakukan apapun, mahluk-mahluk ini terlihat seperti mahluk tampa jiwa” Reiga lalu memegang salah satu pelahap darah tersebut dan dengan pedangnya dia “Crraasstt…” membongkar tubuh dari mahluk pelahap darah itu, dan didalam tubuh mahluk pelahap darah itu tepatnya dibagian otaknya terdapat sebuah batu kristal tabu.


Batu kristal tabu tersebut berbeda dari yang sebelumnya karena Reiga sama sekali tidak merasakan jijik didalamnya, dan yang menganehkan lagi Reiga tidak merasakan aura apapun didalam batu kristal tersebut. “Krrasstt…” Reiga dengan ganasnya menarik batu kristal tabu tersebut dengan tangannya dari otak mahluk pelahap darah tersebut, dia lalu melihat kedalam batu kristal tabu itu menggunakan mata dewa miliknya.


“Tidak ada apapun didalamnya, bahkan tidak ada satu titikpun energy didalamnya, ini menarik kelihatannya batu ini adalah jiwa buatan yang mana diciptkan oleh naga tampa kepala itu, tapi apa bahan untuk membuat batu kristal ini aku semakin ingin melawannya sekarang” kata Reiga yang mana melihat dan memeriksan batu kristal tabu tersebut dengan seksama.


Lalu dengan pedangnya “Srrasstt… Srrasstt… Srrasstt… Srrasstt…” Reiga dengan cepat memotong-motong para pelahap darah yang ada didalam celah dimensi tersebut, dia memotong jutaan dari mereka dengan hitungan detik tampa meninggalkan satupun hidup. Kekuatan milik Reiga telah meningkat sangat pesat karena dirinya mencoba meniru tehnik pedang milik Cronos yang mana tebasannya dapat melewati hukum ruang dan waktu itu sendiri.


Setelah selesai membunuh semua mahluk pelahap darah yang ada disana Reiga lalu pergi dengan cepat keluar dari celah dimensi itu, setelah dia keluar “Boomsshh… Buurrnnn…. Buuusshhkkk…” sebuah kehancuran besar terlihat dengan jelas dimatanya dan diatas kehancuran tersebut dia melihat sesosok pria dengan wujud setengah manusia setengah naga sedang melayang terbang dilangit. “Buummnngg…” dan dengan kekuatannya dia memunculkan bola energy bewarna merah darah ditelapak tangannya, “Boommsshh… Boommsshh…” dan dengan bola energy tersebut dia menghancurkan kota-kota dengan mudahnya, Reiga yang mana melihat kalau kotanya telah hancur lebur merasa marah dan telah mempersiapkan pedangnya.


“Sudah cukup lama aku tidak semarah ini, mari kita coba kekuatan dari pedangku yang penuh dengan amarah ini sekarang” kata Reiga, dengan membalut energy pedang yang mana sangat tebal kedalam pedangnya Reiga lalu “Buusshh…” dengan cepat langsung bergerak kearah pria tersebut.


“Srriiinnggsss…….” Dan dengan satu kali tebasan Reiga langsung menebas kepala orang tersebut dengan mudahnya.


Bersambung…..