I Am The God Of Ghoul

I Am The God Of Ghoul
Bab 207 Perang melawan dewa iblis bagian 3



Dalam waktu beberapa detik tanah mati tampa ada rerumputan berubah menjadi padang salju, para prajurit yang mana belum mempersiapkan keadaan dingin tersebut langsung dibuat kedinginan karenanya. Namun disana “Buurrrnn…” ada beberapa mahluk mistik yang mana terkenal karena kekuatan apinya, para phoenix yang mana ikut ambil bagian dalam peperangan tersebut mengeluarkan api mereka dan mengubah cuacanya menjadi lebih hangat.


“Klan phoenix api kekucauan mereka sangatlah suci dan menghancurkan, tubuh mereka yang indah itu dan kekutan mereka yang besar itu benar-benar membuat orang iri saja, raksasa ingkarnasi kehancuran aku perintahkan padamu bunuh burung terbakar itu” kata Invidia, dengan hanya ucapanya saja raksasa hijau bermata


lima tersebut bergerak sesuai kehendaknya dan menyerang menggunakan kapak batu besar ditangan kanannya.


“Tidak akan kubiarkan” kata White king, dirinya melompat “Buuuggkkk….” Dan dengan tandukan dari kepalanya dia menghadang serangan dari rakasasa tersebut.


“GRRROAAARR….” Raksasa yang marah tersebut langsung mengangkat tangannya kembali, dan melakukan serangan kedua.


“White Rush” White king lalu menggunakn skill miliknya, energy dari seluruh tubuhnya lalu dipusatkan pada ketiga tanduk kristal dikepalanya dan dia lalu dengan gagah berani menghadapi serangan dari raksasa itu lagi.


“Trrraaaannkk….. Buuggghhkk…” dengan sundulan yang sangat kuat White king dapat menghancurkan senjata dari raksasa tersebut, bukan cuman itu saja raksasa tersebut langsung jatuh karena kekuatan cahaya yang dimiliki oleh White king.


“Sialan…. Skill Ice Chain” Invidia yang melompat dari pundak raksasa tersebut lalu menggunakan skill miliknya, dia lalu mengeluarkan lima rantai yang terbuat dari es dan rantai-rantai tesebuat dengan cepat mengarah kearah White king.


“Crrraanggss… Krrraaanggss…” rantai-rantai tersebut mengekang tubuh White king dan membuatnya tidak bisa bergerak.


“Rantai-rantai apa ini, aku merasakan tenagaku diserap olehnya” kata White king yang mana berusaha untuk menghancurkan rantai-rantai es tersebut.


“Hihihihihi…. Rantai-rantai itu dibuat secara khusus dengan memasukan beberapa mantra sihir didalamnya dan salah satunya itu adalah mantra penyerap, semakin lama kau terikat oleh rantai itu maka akan semakin kuat pula kekuatan dari rantai itu” kata Invidia yang mana menyerap kekuatan dari White king.


“Seperti biasa, kau ini wanita jelek yang tidak menerima kenyataan” kata Lujuria, dia menggunakan artefak kipas miliknya untuk membuat kelopak bunga berwarna ungu kehitaman.


Invidia yang mengetahui kekuatan dari kelopak bunga tersebut langsung menghindari kepungan dari ratusan kelopak bunga tersebut, namun  dengan cepat Lujuria memadatkan ratusan kelopak bunga tersebut dan membuat sebilah pedang yang sangat tajam “Srrraasstt….” Dan dengan cepat Lujuria mendaratkan sebuah serangan telak pada tubuh Invidia.


“Dasar wanita murahan, berani sekali kau ( mantra ular es + mantra kutukan pembeku ) !#%%$@%^&” Invidia yang marah karena dirinya terkena serangan langsung membacakan dua mantra dan menggabungkannya, setelah dia membacakan mantra tersebut seekor ular es raksasa lalu muncul dari belakang Invidia.


Ular es raksasa tersebut dengan cepat langsung mengincar Lujuria dengan niat membunuh, “Srrraass… Srrraass… Srrraass…” namun dengan gerakan yang indah Lujuria dapat dengan mudah menebas ular es raksasa tersebut. Tetapi Invidia yang melihat hal tersebut hanya tersenyu licik dan Lujuria yang melihat senyuman itu langsung merasakan sebuah perasaan buruk, dan benar saja ular es yang dipotong-potong oleh Lujuria mulai hancur dan berubah menjadi ratusan ular es kecil bukan cuman jumlah dan ukurannya saja yang berubah tetapi ular-ular es tersebut menjad semakin cepat dan mereka semua beramai-ramai menyerang kearah Lujuria.


“Kau pikir bisa mengalahkanku dengan ini, pinjamkan kekuatanmu wahai artefak Kipas seratus bunga iblis” kipas milik Lujuria lalu bercahaya seakan-akan artefak miliknya telah mendengarkan permintaan dari tuannya, lalu dari kipas milik Lujuria muncul kelopak-kelopak bunga berwarna hitam kelopak-kelopak bunga hitam tersebut kemudian satu persatu menyentuh tubuh ular-ular es yang kecil tersebut.


“Trrraaassstt….” Dan ketika kelopak-kelopak bunga hitam bersentuhan dengan tubuh ular-ular es kecil tersebut sebuah ledakan kecil muncul dan dari ledakan tersebut element kegelapan langsung melahap seluruh tubuh ular-ular es tersebut. Sampai pada akhirnya tidak ada ular-ular es kecil yang tersisa, hal tersebut membuat Invidia terkejut karena selama ini dia tidak tahu kalau Lujuria dapat beresonansi dengan artefak yang diapunya.


“Grrr… kau benar-benar membuatku kesal, HEI RAKSASA BODOH APA YANG KAU LAKUKAN CEPAT BANGUN” teriak Invidia, dengan kata-katanya tersebut raksasa itu mulai bangkit kembali luka-luka yang disebabkan oleh White king sudah pulih dengan cepat dan tato iblis ditubuh raksasa itu mulai mengeluarkan aura gelap yang menakutkan.


“Hmmm…. Kalau tidak salah itu adalah tato budah milik klan iblis, tetapi ada sedikit perbedaan” pikir Codiscia, dia melihat tato dari raksasa itu dan merasakan ada yang aneh darinya.


“ROOAARR…” raksasa itu lalu bangkit dan dengan kedua tangannya dia menghantam pasukan aliansi milik Reiga, “BOOOMMSSHH…” pasukan aliansi yang dipimpin oleh Riana langsung luluh lantah akibat serangan tersebut, dan melihat kerugian besar yang disebabkan oleh raksasa itu Codicia lalu langsung bergerak dengan sebuah tongkat pendek yang dilapisi emas dia berusaha menyerang raksasa itu. “Buuussshhkk…” dan hanya dengan satu kali pukulan dari tongkatnya “Krraaakk… trraaakkk…” dia membuat tulang kepala raksasa itu retak dan membuatnya terjatuh sekali lagi, melihat kesempatan yang dibuat oleh Codicia dengan cepat Riana memerintahkan para phoenix untuk terbang dan membakar raksasa itu dengan api mereka.


“BUUURRRNNNKKK…..” para phoenix yang terbang diangkasa lalu menyemburkan api mereka dan membakar raksasa itu sampai dia hangus terbakar.


“Sialan…. Codicia itu dia kalau dia tidak ikut campur maka aku bisa menghancurkan seluruh pasukannya tadi” pikir Invidia yang kesal dengan tindakan dari Codicia.


“Maaf bukannya aku punya dendam padamu, tetapi aku adalah seorang pembisnis dan ini semua hanyalah masalah bisnis” kata Codicia.


“Kalian semua pikir ini sudah selesai, akan kubunuh kalian sendiri dan hancurkan semua yang ada disini, Hukum diaktifkan : hukum iblis + hukum es + hukum kutukan, area badai salju kedengkian” Invidia lalu mengaptifkan area miliknya dan dalam hitungan detik area miliknya telah melebar sampai 1 km jauhnya.


Didalam area miliknya semua yang hidup dan lemah akan langsung membeku dan mereka yang membeku tidak akan langsung mati melainkan akan tersiksa didalam es dan energynya akan diserap oleh Invidia, area milik Invidia hampir mengurung seluruh pasukan aliansi yang dipimpin oleh Riana terkecuali mereka yang memiliki energy yang kuat dapat bertahan dengan cara menahan angin dingin menggunakan energy mereka. Melihat pasukannya satu persatu mulai terkurung didalam es membuat Riana geram dan ingin mengakhiri dirinya, namun tiba-tiba saja saat Riana ingin bergerak Codicia muncul didepannya dan menghalangi dirinya.


“Kau apa yang kau lakukan, apa kau ingin berhianat melawan kami sekarang” kata Riana yang sudah siap untuk melawan Codicia.


“Bukan seperti itu, aku meminta maaf kalau memang menghalangi dirimu tetapi mohon tunggu sebentar karena ini adalah keinginan darinya” kata Codicia yang melihat Lujuria.


Lujuria lalu mulai mengeluarkan sejumlah besar energy yang ada ditubuhnya dan energy itu lalu membuat semua orang yang ada disana terpukau karena keindahan yang ditampilkannya.


“Hukum diaktifkan : hukum iblis + hukum racun + hukum bunga, perwujudan dari dewi nafsu” dan ketika Lujuria mengaptifkan kekuatan hukum miliknya dia menciptakan sebuah avatar raksasa yang sangat cantik, avatar tersebut berwujudkan sebuah energy berwarna pink kehitaman yang mana disekitarnya terdapat beberapa kelopak bunga yang mengelilingi tubuhnya, dari ujung kuku avatar tersebut terdapat sebuah energy berwarna hijau yang sangat kecil dan juga memancarkan aura yang sangat mengancam.


“Jadi itu kartu asmu, tetapi itu semua percuma kalian semua akan mati dan menjadi makananku” kata Invidia.


“Kalau itu yang kau katakan maka mari kita lihat saja siapa yang mati sekarang” kata Lujuria mata miliknya telah memperlihatkan sebuah tekad yang sangat kuat.


Bersambung.......