
Acedin sang dewa iblis kemalasan sesosok mahluk yang mana tidak diketahui identitasnya, beberapa puluhan tahun yang lalu dia dibawa oleh Arogan yang mana langsung mengangkat dirinya sebagai dewa iblis penguasa kemalasan. Umur tidak diketahui, identitas tidak diketahui bahkan sampai ras miliknya juga tidak jelas dia hanya menjadi iblis setelah menerima darah dari Arogan lalu dia melayani Arogan sebagai dewa raja terkuat rangking bawah.
Dan sekarang ini pertarungan didalam kastil kegelapan akan mengungkitkan banyak kebenaran yang disembunyikan oleh dunia, Arogan sang penguasa kesombongan yang sedang berhadapan dengan Susano penguasa bumi menggunakan tehnik unik miliknya untuk menciptakan sesuatu dari ketiadaan dia menciptakan sebuah boneka dari aura miliknya yang mana boneka tersebut memiliki kekuatan dan rupa yang mirib dengan salah satu dewa iblis yang telah mati Ira sang penguasa amarah.
“BOOMMSSHH… BOOMMSSHH… BOOMMSSHH…” Susano yang mana meminjam kekuatan dari bumi, kekuatan miliknya sangatlah kuat bahkan boneka aura yang tercipta dari aura Arogan perlahan-lahan mulai hancur, walaupun boneka aura itu berusaha untuk memperbaiki tubuhnya namun kecepatan dan kekuatan kuat dari setiap serangan Susano dapat membuat boneka aura tersebut mulai hancur sedikit demi sedikit.
“Matilah….” Kata Susano yang mana telah memusatkan semua energy miliknya pada satu pukulan.
“BOOOMMSSHH….” Satu pukulan tersebut lalu langsung menghancurkan bonekan aura milik Arogan, melihat boneka aura yang diapunya hancur Arogan hanya diam berdiri tegak. “Srrraaangggsss…” dia lalu mengeluarkan artefak senjata miliknya dari ruang penyimpanannya itu adalah sebuah artefak yang mana berbentuk katana hitam pekat yang memiliki panjang 5 meter, katana tersebut memancarkan aura mematikan dan aura penindasan yang sangat kuat didalamnya.
“Akhirnya kau mulai serius juga” kata Susano yang mana merasakan aura penindasan yang kuat didalam pedangnya.
“Pedang ini dinamakan Void Blade, sebuah artefak tingkat bencana yang mana terlahir ketika kemunculan sebuah retakan dimensi yang cukup besar, lalu sistem yang melihat hal tersebut menggunakan otoritas miliknya untuk menekan retakan dimensi tersebut dan lalu ketika penekanan itu berlangsung sebuah batu hitam tercipta karenanya dan setelah ditempa oleh aura langit dan bumi selama ribuan tahun katana ini akhirnya terlahir sebagai artefak tingkat bencana” kata Arogan.
“Srrrraaassshh…” dan ketika Arogan mengayunkan pedangnya “Crrraaassstt…” walaupun mereka berjarak lebih dari 10 meter tetapi serangan tebasa Arogan dapat dengan mudah menjangkau bahu Susano.
“Sialan apa-apaan itu, aku sama sekali tidak merasakan seranagan jarak jauh aura pedangnya” pikir Susano yang mana berusaha menyembuhkan dirinya menggunakan hukum kehidupan miliknya.
“Kau mengira tadi adalah serangan dari aura pedangkan, kau salah tadi itu bukanlah serangan aura pedang namun sebuah skill dari artefak ini yang mana tebasannya dapat menembus dimensi dan mengabaikan hukum ruang” kata Arogan yang menjelaskan tentang kehebatan artefak miliknya.
“Hahahhaa… itu artefak yang sangat bagus, aku akan dengan sangat senang hati mengambilnya dari mayatmu nantinya” kata Susano.
“Teruslah bermimpi bocah liar” kata Arogan yang merasa sedikit terpancing oleh kata-kata Susano.
Keduanya lalu kembali saling beradu serangan Susano yang mengetahui kemampuan dari artefak Arogan berinisiatif untuk memperpendek jarak mereka, dia dengan cepat langsung mendekati Arogan dan langsung menyerannya dengan sebuah pukulan “TRRAAANGGSS…..”. namun serangan cepat dari Susano dapat dengan mudah dihadang oleh Arogan, dan dengan gerakan pedang dari Arogan dia dengan mudahnya membuat Susano tertekan mundur “Trraannggss… Krraannggss… Srraannggss…” serangan cepat dari pedang Arogan yang mana mengincar setiap titik kelemahan milik Susano.
“Sialan aku tidak menyangka dia sangat handal dalam permainan pedang” pikir Susano yang kesulitan untuk menahan serangan dari pedang Arogan.
Sementara itu Aeria yang sedang melawan Acedin mulai kewalahan, armor yang dia gunakan sangatlah kuat walaupun armor tersebut cuman terbuat dari skill miliknya tetapi setiap kali anak kucing hitam yang terbuat dari bayangan Acedin menyerang dirinya armor tersebut menghancurkan anak-anak kucing tersebut. Sementara itu Acedin yang melihat hal tersebut malah menambah jumlah anak kucing hitam tersebut, dia seperti memiliki energy tampa batas dan dia dapat dengan mudah membaca mantra kutukan dengan kecepatan tinggi lalu kutukan yang dia kendalikan juga sangatlah banyak.
Hal itu membuat Aeria kesulitan karena serangan berunturan dari Acedin membuat armor miliknya semakin lama semakin terkikis, sedikit demi sedikit serangan dia diserang dari berbagai arah namun disaat dia menyerang Acedin “Srrraass…. Trrrraanngg…” sebuah pelindung tak kasat mata menahan setiap serangannya, “Booommssh…” dan bahkan pelindung itu membalikan serangan Aeria dengan sebuah bom energy besar.
“Sebuah skill yang menciptakan minion tak terhingga dan juga pelindung tak terlihat yang mana membalikan serangankah, dari segimanapun aku tidak dapat menyerangnya dan satu-satunya pilihanku adalah untuk melancarkan sebuah serangan skala besar namun disaat aku melakukan hal itu akan ada sebuah celah karena lamanya pengambilan energy yang terjadi, disaat itulah anak-anak kucing hitam ini akan menyerangku” pikir Aeria, dia sama sekali tidak bisa menyerang dan dipaksa untuk bertahan oleh Acedin.
“Hmmm…. Ada apa, apa kau tidak bisa menari lagi…. kalau tidak bisa langsung mati saja bisa ini semakin membosankan dan membuatku mengantuk” kata Acedin, dengan keinginannya untuk tertidur sebuah energy iblis yang luar biasa kuatnya mulai muncul dari tubuh Acedin.
“Hmmm… apa ini, kenapa energy ini terasa sangat familiar sekali” pikir Reiga yang merasakan energy dari tubuh Acedin.
“Ekor-ekor itu, tidak salah lagi dia bukanlah mahluk hidup” pikir Reiga yang mana melihat Acedin dengan kemampuan dari skill Soul Harvet miliknya.
Reiga yang mengetahui rahasia dari Acedin ingin membantu Aeria namun disaat yang bersamaan Reiga tidak bisa membantu karena dia harus menghadapi Ludex Albius, serangan petir miliknya membuat Reiga kesulitan namun disaat yang sama juga dia mulai terbiasa dengan petir milik Ludex Albius.
“Aeria bagaimana kalau kita tukar posisi sebentar” kata Reiga, Acedin dan Ludex Albius yang mendengar kata-kata tersebut langsung dibuat kebingungan karenanya, mereka sama sekali tidak bisa menebak apa rencana dari Reiga.
“Kenapa..??, apa kau kesulitan menghadapi dirinya” kata Aeria.
“Bukan hanya saja aku perlu berurusan dengan anak kecil yang malang itu” kata Reiga.
“Anak kecil yang malangkah, dari penglihatanku dia adalah monster didalam tubuh bocah kecil” kata Aeria yang sedari tadi kesulitan menghadapi Acedin.
“Aku mohon….” Kata Reiga.
“Ok kalau kau bilang begitu” kata Aeria.
“Hmmm…, kau pikir kami akan membiarkanmu, kau pikir bisa kabur dari kami haah…” kata Ludex Albius, dia lalu mengeluarkan sebuah artefak palu ditangan kirinya dan dengan cepat menyerang kearah Reiga.
Disaat yang bersamaan Reiga mengeluarkan skill Unholy Flame miliknya “Booommsshh….” Dia lalu membakar atap-atap membuat tabir asap yang mana mambuat Ludex Albius tidak bisa melihat Reiga.
“Sialan….” Kata Ludex Albius.
“Srrrraaannggsss….” Dan disaat yang sama Aeria dengan kekuatan langitnya melancarkan serangan pedang jarak jauh miliknya.
“Kau wanita kurang ajar, berani sekali kau menyerang kami” kata Ludex Albius.
Acedin yang mengetahui kalau Aeria sudah pergi ketempat yang lain langsung melihat disekitarnya namun dia tidak dapat melihat dimana posisi Reiga dibalik tabir asap itu, namun disaat tabir asap tersebut sudah menghilang Acedin kemudian melihat ada banyak boneka mayat milik Reiga disekelilingnya.
“Apa-apaan ini, kau mau bermain-main denganku” kata Acedin.
“Tidak aku hanya akan membuatmu tidur untuk selamanya” kata Reiga, dia melapisi tangan kanannya dengan aura hijau kehitaman yang menakutkan.
Bersambung..........