I Am The God Of Ghoul

I Am The God Of Ghoul
Bab 86 Kegelapan VS Kegelapan



Dewa adalah entitas yang terlahir dengan tujuan kebutuhan untuk dunia agar dewa itu bisa membimbing entitas yang lebih rendah dibawahnya, namun karena para dewa memandang dirinya lebih tinggi dari yang lainnya karena itulah mereka selalu merasa yang paling benar. Para dewa pun mulai membanding-bandingkan wilayah dan kekuatan mereka sehingga menyababkan perselisihan satu sama lain.


 Karena itulah ketika ada dua dewa yang memiliki harga diri yang sangat tinggi maka mereka akan saling bertarung sampai ada salah satu diantara mereka yang tunduk pada yang lainnya. Namun karena kesombongan mereka para dewa itu akan lebih memilih bertarung sampai mati melawan dewa yang lainnya.


 Sekarang ini sudah terlihat kedua dewa dari fraksi hitam yang sedang berhadapan satu sama lain, diantara mereka berdua jelas terlihat kalau cuman ada satu yang akan bertahan hidup. Kesombongan kedua dewa itu menyebabkan beberapa bencana alam di benua itu langit menghitam, para binatang panic dan berlarian kesana kemari.


 Sementara itu Agnus bersama Merlin dan Dagan melihat kejadian langkah tersebut tertegun dan juga merasa takut. Karena ini pertama kalinya mereka melihat dua dewa fraksi hitam saling berhadapan satu sama lain.


 Lalu disaat Reiga dengan Lycan telah menyiapkan kuda-kuda mereka masing-masing. Reiga mengambil inisiatif dan menyerang terlebih dahulu, dia dengan cepat ujung pedangnya dan ingin melancarkan serangan tusukan.


 “Trraanggss…” namus Lycan yang sudah membalut kedua tangannya dengan energy kegelapan dan keputusasaan dapat dengan mudah menghentikan serangan tusukan pedang Reiga menggunakan telapak tangannya, Reiga yang melihat serangannya dihentikan langsung menarik kembali pedangnya dan melancarkan lagi serangan tusukan bertubi-tubi, sepuluh tusukan dilancarkan dalam satu nafas.


 “Trraanggss… trraanggss… trraanggss… trraanggss… trraanggss…” dengan tangannya tampa pelindung Lycan dapat menangkis serangannya, namun ketika tusukan kesepuluh dilancarkan Reiga langsung memusatkan energy kedalam tusukan terakhir. Lycan yang merasakan serangan terakhir dari Reiga berbeda langsung mencoba mundur untuk menghidari seragan yang terakhir, namun gerakan tusukan Reiga lebih cepat.


 “Booommsshh…” serangannya membuat ledakan yang membuat Lycan terdorong mundur beberapa langkah, walaupun Lycan sudah menggunakan kedua tangannya untuk menangkis serangan yang terakhir tadi tetapi daya ledaknya dapat membuat tangannya sedikit terluka.


 “Lumayan… kau bisa mengores tanganku” kata Lycan yang kedua tangannya sedikit terluka akibat serangan dari Reiga barusan.


 “Kau juga, padahal aku bermaksud untuk melubangi tubuhmu tetapi aku tidak menyangka kau bisa menahan serangan yang terakhir” kata Reiga.


 “Hahaha… sombong sekali, tetapi memang seperti itulah seharusnya sikap dari dewa fraksi gelap” kata Lycan.


 Lycan lalu melompat tinggi keudara dan dengan memadatkan energy di kedua tangannya menjadi berbentuk bola, dia memdatkan sejumlah besar energy hitam menjadi sebuah bola kecil seukuran bola golf. Dan lalu ketika dia sudah memadatkan energy tersebut “Boomngssh… boomngssh…” Lycan menembakkan kedua bola energy hitam tersebut, energy hitam tersebut dengan cepat mengarah kearah Reiga “Srraanggss… srraanggss…” namun Reiga dengan cepat menebas kedua bola energy tersebut.


 “Gila yang tadi itu benar-benar sangat cepat” kata Reiga yang melihat kecepatan bola energy tersebut.


 Kecepatan dari energy tersebut terlempar adalah hampir melebihi kecepatan suara yang membuatnya cukup sulit untuk dihindari apalagi ditangkis, namun Reiga yang sudah berpengalaman dengan berbagai peratarungan dapat membelah kedua bola energy hitam tersebut.


 “Kalau dua tidak bisa, bagaimana dengan sepuluh” kata Lycan yang kemudian memadatkan lima bola energy hitam dimasing-masing tangannya.


 “Boomngssh… boomngssh… boomngssh… boomngssh… boomngssh…” lalu dengan cepat kesepuluh bola energy tersebut ditembakkan.


 “Pedang kematian, tehnik kedua : tusukan penghancur, versi area” Reiga lalu menggunakan tusukan penghancur miliknya, dia mengarahkan energy tusukan pedangnya kebawah tanah yang menyebabkan energy pedang tersebut menyebar keseluruh area disekitarnya. “Trraangss… trraangss… trraangss… trraangss… trraangss…” area tersebut lalu dengan mudah menyingkirkan semua energy bola hitam tersebut.


 Namun ketika Reiga sedang focus menangkis kesepuluh energy bola hitam tersebut dia menyadari kalau Lycan sudah menghilang dari udara, dan tiba-tiba Lycan muncul dari belakang Reiga.


 “Skill The world of despair, bagian kedua : Despair brings death” dengan tinju yang sudah dipenuhi dengan energy dari keputus asaan Lycan menyerang Reiga dari belakang, namun Reiga degan cepat berbalik dan menggunakan pangkal pedangnya untuk menangkis tinju dari Lycan “TRRAANGGSSHH….” walaupun sudah ditangkis menggunakan pangkal pedangnya Regia tetap tercampak cukup jauh akibat serangan tinju dari Lycan.


 “Booomsshh….” Reiga tercampak cukup jauh dan terseret ditanah.


 “Kau punya senjata yang bagus” kata Lycan yang sedikit terkejut melihat kalau pedang Reiga tidak rusak setelah terkena tinju dengan kekuatan penuh darinya.


 “Kau juga…. Yang tadi itu benar-benar sakit sekali” kata Reiga yang mengorbankan 100 boneka mayat untuk menyembuhkan tubuhnya.


 Dan secara perlahan-lahan warna gelap ditubuh Reiga mulai menghilang sedikit demi sedikit, Lycan melihat kalau energy keputusasaannya mulai terhapus dari tubuh Reiga yang membuatnya menyadari kalau dia harus cepat-cepat membunuh Reiga dengan satu serangan kuat.


 “Serangannya dari jarak dekat maupun jauh sangat berat, untuk melawannya aku butuh rencana, tampaknya kau cuman bisa menggunakan beberapa boneka mayat karena mereka tidak akan terpengaruh oleh energy keputusasaan miliknya” pikir Reiga yang sedang memikirkan rencana untuk menghadapi Lycan.


 “Tehnik, penyembuhan dan senjata yang bagus, akan sangat berbahaya bagiku untuk terlalu lama melawan dirinya, kebangkitanku juga tidak sempurna jangan sampai dia tahu kalau aku cuman bisa membentuk wujud selama beberapa jam” pikir Lycan yang ternyata cuman bisa bertarung beberapa jam saja.


 Dan ketika Lycan ingin segera mengakhiri pertarugannya Reiga lalu memanggi ratusan boneka mayat, sebagian dari boneka mayat itu adalah Ware wolf yang ada dimedan perang tidak jauh dengannya.


 “Bayar dengan GP lipat gandakan jumlah boneka mayat” kata Reiga.


 “Ping…ping… boneka mayat kelas bawah berjumlah 135, membutuhkan 10 GP untuk masing-masing satu boneka mayat jika ingin dilipat gandakan” balas sistem.


 “Jadikan tiga kalilipat lalu bayar semuanya” kata Reiga.


 “Ping… ping harga diubah menjadi 30 GP untuk setiap boneka mayat, mengambil 4.050 GP dari dewa Reiga” balas sistem.


 Boneka mayat Reiga lalu membelah diri dan berbah semakin banyak, dari 135 boneka mayat berubah menjadi 405 boneka mayat. Tetapi melihat hal itu Lycan tetap tenang karena dia tahu walaupun energy keputusasaannya tidak berdampak pada mayat tetapi dengan fisiknya dia dapat dengan mudah menghacurkan pasukan boneka mayat milik Reiga.


 “Percuma saja, sekali walau sebanyak apapun mereka sampah tetap sampah” kata Lycan.


 “Hahahah… kalau begitu bagaimana jika kita perkuat sedikit, skill Crazy docter” dengan skillnya Reiga menggabungkan beberapa boneka mayat tadi.


 Dari jumlah 405 sekarang sudah berubah menjadi 40 boneka mayat tetapi walaupun sudah berkurang boneka mayat yang dimiliki Reiga sekarang memiliki tubuh yang kuat, regenerasi cepat dari ras Ware wolf, dan juga tinggi badan setinggi 3 meter.


 “Aku namakan itu boneka mayat kelas menengah : Immortal doll of rotten flesh” kata Reiga yang memperlihatkan boneka mayatnya.


 “Maju, akan kuhancurkan seluruh mainanmu itu” kata Lycan.


 Lalu dengan satu gerakan tangan dari Reiga ke 40 boneka mayat tersebut beramai-ramai menyerang Lycan dari segala penjuru dan mengepung dirinya.


Bersambung..........


Berikan dukungan kalian dengan cara Like, Komen, Giff, dan Vote novel ini jika kalian menyukai cerita yang ada didalamnya, agar penulis semakin semangat dan juga ceritanya semakin menarik lagi, Ok...