I Am The God Of Ghoul

I Am The God Of Ghoul
Bab 205 Perang melawan dewa iblis bagian 2



“Trrraakknng.... Trrraakknng.... Trrraakknng....” langkah kaki dari para pasukan aliansi milik Reiga mulai terdengar sangat kuat, mereka semua telah sampai didepan pintu gerbang istana kegelapan milik Arogan namun disana mereka sama sekali tidak menemukan satupun prajurit disana, semuanya sangat sunyi sebuah kesunyian yang sangat menakutkan bagaikan ketenangan sebelum badai begitulah penggambaran dari tempat itu.


“Hei, kalian juga mencium bau inikan” kata Reiga yang mana mencium aroma tidak sedap dari balik gerbang istana Arogan.


“Hahahahha…. Yayaya sangat jelas sekali, bau dari darah dan jumlah darah yang keluar pasti lebih dari ribuan orang untuk bisa membuat baunya sampai seperti ini” kata Zero yang mana juga ikut mencium bau darah yang sangat kuat.


“Dan lagi ini adalah bau dari darah segar, dengan kata lain ada sebuah pembantaian terjadi dibalik gerbang ini” kata Susano.


“Hmmm…. Begituyah, SEMUANYA BERSIAP UNTUK BERTARUNG” teriak Reiga, sebuah perasaan buruk tiba-tiba datang pada dirinya karena mencium bau darah tersebut, Reiga juga langsung mengeluarkan semua set artefak yang dia punya.


“Hooo… artefak barukah, itu yang kau buat bersama dua orang bebal itu yah” kata Zero, dia melihat Reiga menggunakan artefak armor berwarna hitam pekat dan armor tersebut terbuat dari sisik milik Oroci.


Artefak tingkat raja armor sisik delapan element sebuah armor yang diciptakan dari sisik ular pembawa bencana yang dapat mengendalikan delapan element sesukanya, armor ini memiliki daya tahan yang kuat terhadap delapan element terlebih lagi akan mengeluarkan racun kuat pada mereka yang mencoba menyerang pengguna armor ini.


Melihat Reiga yang telah mengeluarkan semua set artefak yang diapunya membuat para prajurit terkagum sekaligus menjadi lebih fokus, mereka berpikir kalau mereka dapat menarik perhatian Reiga maka mereka dapat menjadi muridnya dan mendapatkan beberapa artefak kuat dari dirinya. “Buurrrkkmm…” dan secara tiba-tiba saja


ketika para prajurit aliansi Reiga sudah siap untuk bertarung seekor raksasa hijau kehitaman muncul dari balik gerbang istana kegelapan, raksasa tersebut memiliki lima buah bola mata yang mana sangat merah dan dimulutnya terdapat sisa-sisa darah yang keluar sebuah darah segar dari ras demon yang mana dia jadikan santapan lalu dengan sebuah kapak batu raksasa dia berusaha menyerang Susano, orang yang paling didepan dan pertama kali raksasa tesebut lihat.


“Trrraaaanggkkss….” Namun ketika raksasa tersebut menyerang Susano, dengan kedua tangannya Susano dapat menahan serangan raksasa tersebut walaupun tubuhnya sedikit terluka karena serangan tersebut.


“Lumayan juga kau, tapi apa cuman itu saja kekuatanmu” kata Susano, “Trriiiinggsss…” dengan kekuatannya dia mengangkat tangannya dan membuat mundur raksasa tersebut. “Buummsshh…” dan dengan lompatan kuat Susano langsung menerjang kearah kepala raksasa tersebut “Buuggkkk… Buuggkkk… Buuggkkk… Buuggkkk…” dan mendaratkan beberapa pukulan kuat kearahnya.


“Swwwuussshh…” namun disaat Susano ingin mengakhiri raksasa tersebut sebuah tombak raksasa tiba-tiba saja melesat kearah dirinya, “TRRRAAANGGKKSS…” Susano berhasil menahan serangan lemparan tombak tersebut namun luka ditubuhnya sangat kuat beserta tombak tersebut memiliki racun dimatanya.


“Aku pikir hanya satu, tetapi ini tampaknya menjelaskan kenapa kita sama sekali tidak melihat ada satupun prajurit demon dari kubu Arogan dikastil ini” kata Reiga yang mana melihat ada puluhan raksasa hijau kehitaman yang sangat ganas sedang melihat kearah mereka, para raksasa tersebut melihat Reiga dan seluruh pasukannya bagaikan sebuah mangsa yang sangat kuat dan mereka ingin melakukan apapun untuk bisa memangsa Reiga dan seluruh pasukannya.


“Kahahahahahha…. Bagus-bagus ini yang seharusnya dinamakan perang, mari semuanya kita beratarung sampai mati” kata Susano yang mana telah kehilangan ketenangannya.


“Buuuggsshh…” dan tibat-tiba dari belakang Susano sebuah tendangan yang kuat dilancarkan oleh Aeria.


“Uuuggkkkhh… kenapa kau menendangku” kata Susano yang terhempas ketanah akibat tendangan dari Aeria.


“Aku yang seharusnya bertanya apa-apaan maksudmu itu, ingatlah ini sekarang dimedan perang kita harus memikirkan formasi pasukan dan strategi, kalau menyerang sembarangan itu sama saja mencari mati namanya” kata Aeria yang mana melihat Susano dengan tatapan tajam penuh dengan niat membunuh.


“Pasukan ahli sihir dengarkan perintahku, gunakan mantra serangan tipe besar dan serang kepala mereka” kata Reiga.


Mengikuti perintah dari Reiga para ahli sihir lalu membacakan mantra ledakan dari berbagai element, “Boommsshh…. Boommsshh…. Boommsshh….” Para ahli sihir tersebut memborbardir puluhan raksasa itu. Namun disaat para ahli sihir telah selesai melancarkan mantra-mantra mereka hal yang mengejutkan serangan bombardir dari mantra seluruh element cuman memberikan para raksasa tersebut luka-luka kecil.


“Guru biarkan aku yang maju membawa para pasukan jarak dekat untuk menghabisi mereka semua” kata Diana, mata dari Diana menunjukkan sebuah tekad yang kuat dimana ketika Reiga melihanya dia langsung tahu kalau Diana tidak akan kalah disaat itu juga.


“Baiklah kalau begitu, Zero panggil para monster- monster milikmu dan suruh mereka bekerja sama dengan para pasukan, aku juga akan memanggil pasukan boneka mayat milikku” kata Reiga.


“Hahahahahhahaha…. Bagus-bagus ini yang kutunggu-tunggu, ayo maju para anak-anaku yang manis” kata Zero, dengan satu kibasan dari bendera yang diapunya ratusan mahluk-mahluk mistik aneh bermunculan dari dalam benderannya, mereka beramai-ramai menyerang para raksasa tersebut.


“SEMUANYA IKUTI AKU, KITA HABISI MAHLUK-MAHLUK TERKUTUK INI” kata Diana, dia lalu dengan pedangnya memimpin pasukan prajurit berjarak dekat, meraka lalu langsung bersemangat karena melihat karisma dari Diana dan langsung dengan gagah berani menyerang puluhan raksasa tersebut.


“Otoritas tanah hitam diaktifkan + Skill Crazy Docter + Soul Harvest ( Perasukan roh gelap ) + Energy yin hitam ( peningkatan kekuatan )” dengan kekuatan miliknya Reiga lalu memanggi dua buah raksasa boneka mayat yang mana terbentuk dari mayat ribuan petarung dan mahluk mistik ditambah Reiga juga memasukan roh gelap untuk membuat kedua raksasa tersebut semakin liar dan ganas.


“GRRRRAAAHH…. ROOOAARR…” kedua boneka mayat raksasa tersebut langsung berlari kearah kumpulan raksasa hijau kehitama tersebut “Grrraaanggss…” dan dengan ganas menyerang mereka.


Sementara itu didalam istana kegelapan sudah menungu empat sosok dewa raja terkuat yang mana sedang menikmati pertunjukkan dari dalam istana.


“Hmmm…. Mereka dapat tetap tenang ketika melihat mahluk itu, luar biasa padahal mereka itu cuman pasukan gabungan” kata Acedin.


“Cih gadis iblis itu yang bernama Diana, memilik karisma yang sangat kuat sampai dapat mempengaruhi semangat pasukan mereka, gadis cantik berkarisma seperti itu benar-benar membuat aku iri saja” kata Invidia sambil menggigit jari jempol miliknya.


“Hahahha… bersenang-senanglah para rekanku, kali ini kita akan memakamkan 9 dewa raja terkuat dan 2 mahluk mistik tingkat dewa, semua ini berkat teman baru kita” kata Arogan yang mana sambil memegang minuman yang merah seperti darah.


“Sudah kami katakan, kami bukanlah temanmu, dan lagi kami tidak percaya kalau kau dengan mudahnya mengorbankan ribuan pasukanmu sendiri” kata Ludex Albius yang mana berbicara dengan dua suara yang berbeda-beda.


“Semua itu adalah pengorbanan yang pantas untuk memenangkan peperangan ini, dan lagi mereka seharusnya senang karena bisa mati demi dewa mereka” kata Arogan.


Bersambung........