
Aura membunuh yang sangat luar biasa yang hanya bisa didapatkan oleh seseorang yang mana telah membunuh jutaan bahkan milayaran nyawa, didepan aura pekat yang mematikan tersebut Reiga berdiri dengan perasaan gelisah dihatinya bukan karena dia takut atau ragu menghadapi Zero, namun dia gugup karena kegirangan bisa menghadapi seseorang yang sangat luar biasa seperti Zero. Tidak seperti berhadapan dengan Lujuria yang mana tidak menghadapi Reiga dengan serius sedangkan Zero dapat dengan jelas dirasakan oleh Reiga nafsu ingin membunuh yang sangat kuat.
“Hmmm…. lumayan ini mulai menarik” pikir Reiga yang sudah bersiap untuk bertarung, dia bahkan sudah mengaptifkan banyak skill peningkatan kekuatan dan sudah melapisi pedangnya dengan aura pedang tingkat ketiga.
“Hehehehe…. kalau begitu mari” Zero kemudian memasukkan tangannya didalam sebuah kantung, yang mana didalam kantung tersebut tersimpan senjata mematikan miliknya.
“Booommngg…” dari kantungnya tersebut keluarlah sesuatu yang tidak diharapkan oleh Reiga ataupun Diana.
“Eeeeehh….” Teriak Diana yang terkejut melihat apa yang Zero keluarkan dari kantungnya.
“Aku menyerah….. mari berdamai… genjatan senjata” kata Zero sambil mengeluarkan sebuah bendera putih besar dari kantung bajunya.
“??????????” sedangkan Reiga diam kebingungan melihat tingkah dari Zero.
“Hmmm… kenapa, kalian sepertinya kecewa akan sesuatu” kata Zero dengan wajah yang merasa tak bersalah.
“Uuuugghhkkk…. Aku bodoh berharap sesuatu dari badut sepertimu, ayo kita pergi tinggalkan dia” kata Reiga yang berusaha untuk meninggalkan Zero.
“Eeeh padahal aku mau mengundang kalian makan dulu, gak mau nanti aku yang traktir looh…” kata Zero.
“Gak usah, aku udah puas makan angin dijalan” kata Reiga yang masih kesal.
“Sangat disayangkan, kurasa harus ada sedikit paksaan” Zero kemudian mengalirkan energy yang dia miliki kebendera putih yang dia pegang dan “Tookk… toook…” dia lalu mengtuk bendera itu dua kali kelantai, dan tiba-tiba kain putih benderanya memanjang dengan sendirinya kain itu dengan cepatnya mengakap Diana dan Reiga.
“Oiii…. Apa maksudmu ini” kata Reiga yang sudah naik pitam.
“Cuman sedikit atraksi kecil dari sang badut, Hahhahahaha….” Dan dalam hitungan detik Reiga dan Diana telah terjebak sepenuhnya oleh kain putih tersebut.
“Sialan aku lengah, orang itu sangat kuat selain tidak bisa bergerak energy yang kupunya juga telah ditekan oleh kain ini, kemungkinan besar dia adalah salah satu seratus dewa raja terkuat” pikir Reiga yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Dan dalam hitungan detik Reiga denga Diana sudah berada dalam sebuah ruangan yang mana didalam ruangan tersebut telah disiapkan meja, kursi, makanan, dan minuman disana.
“Selamat datang dirumahku, anggap saja ini rumah kalian sendiri dan juga makanannya masih hangat silahkan dinikmati” kata Zero yang mana sudah berganti pakaian dengan baju rapih, jas setengah hitam dan putih.
“Itu tadi tehnik perpindahan ruangan, tidak sebuah dimensi ciptaan sendiri kain putih tadi adalah sebuah pintu dalam dimensi itu” pikir Reiga.
“Oooohh… makanannya semua terlihat enak-enak” pikir Diana.
“Kenapa hanya dilihat saja, ayo semuanya makan-makan” kata Zero.
“Langsung keintinya saja tidak usah basa-basi, kau siapa dan mau apa kau mengundangku masuk kedalam dimensimu ini” kata Reiga.
“Hahahahahah…. Sesuai yang diharapkan dari orang yang menarik perhatian Lujuria sang dewi nafsu, kau memang sangat menarik dalam sekali lihat kau bahkan tahu kalau ini adalah sebuah dimensi lain” kata Zero yang mana sambil melahap daging besar dipiringnya.
“Krrraauugggssstt….” Sebuah paha ayam raksasa dilahap dengan sangat ganas oleh dirinya membuat Diana menjadi agak kelaparan melihatnya.
Melihat Zero makan dengan lahap Diana juga mulai mengambil sebuah makanan dan melahapnya, sebuah sayuran dengan daging cincang diatasnya serta bumbu putih yang berkilauan melengkapi hidangan tersebut.
“Hehehe… tampaknya gadis kecil disana menyukai makanannya, dan untuk mu akan kujawab semua pertanyaanmu, namaku adalah Zero salah satu dari seratus dewa raj terkuat Zero sang dewa kegilaan dan untuk alasan kenapa aku mengundangmu kemari yah tidak alasan pasti aku cuman penasaran saja” kata Zero.
“Haaaah… sesuai yang diharapkan dari seseorang yang dipanggil dewa kegilaan, alasan yang benar-benar sepele namun kau sampai menculik kami seperti itu” kata Reiga yang memegang segelas minuman.
Mereka lalu diam selama beberapa menit untuk menikmati makanan yang ada diatas meja tersebut mereka menikmatinya, dan pada akhirnya Reiga dan Diana menyadari kalau santapan yang mereka santap dapat meningkatkan kekuatan dan energy didalam tubuh mereka. Dari yang terlihat setiap hidangan tersebut dibuat dari mahluk-mahluk mistik yang langkah serta sayuran-sayuran herbal langkah yang biasanya digunakan sebagai obat-obatan penyelamat hidup.
“Haaahh…. Itu tadi nikmat sekali, walaupun kau sudah menjadi dewa dan tidak butuh makanan dan minuman tapi kau tidak akan bisa melupakan sensasi rasa yang luar biasa saat makan dan minum” kata Zero dengan senyum lebar diwajahnya.
“Terimakasih atas makanannya, sekarang keluarkan kami dari sini” kata Reiga yang sudah mau pergi.
“Eeeehh… kau tahu, itu sama sekali tidak sopan setelah makan dirumah orang dan langsung pergi kau sama sekali tidak menghargai tuan rumah itu namanya” kata Zero yang sedang mengajari Reiga.
“Yaah itu kalau tuan rumahnya gak menculik dan maksa masuk ketempatnya, dan lagi tempat ini memberikan perasaan nyaman yang aneh, seakan-akan memaksaku untuk tetap berada disini” kata Reiga.
“Hahaha… jadi kau menyadarinya memang benar tempat ini dinamakan ruang putih kedamaian, semua yang masuk kedalam sini jika mereka tidak memiliki mental yang kuat maka mereka akan mabuk karena kenikmatan dari makanan dan suasana yang ada disini, bahkan dewa tingkat raja akan sulit meninggalkan tempat ini jika merasa nyaman disini” kata Zero.
“Jadi kau ingin menjebak kami disini” kata Reiga yang mana mengeluarkan pedang White Nightmare.
“Aku sarankan agar kau menyimpan pedangmu, karena itu tidak ada gunanya ditempat ini” kata Zero yang mana dengan nada sedikit mengancam.
Reiga kemudian dengan cepat melompat langsung kearah Zero dengan mengacungkan pedangnya, “Crrraaasstt…” dan dengan cepat dirinya menusuk jantung dari Zero, namun Zero hanya tersenyum sambil memuntahkan darah dari mulutnya.
“Hahahahahaha…. Kau benar-benar gila, tidak kusangka kau akan menyerangku secara langsung, tapi apa kau yakin serangan sekecil ini bisa mengalahkanku” kata Zero, yang mana luka tusukan pedang yang dibuat Reiga mulai menutup kembali dan tubuhnya seperti akan melahap pedang Reiga yang menempel didadanya.
“Crrraaassstt….” Dengan cepat Reiga lalu menarik kembali pedangnya, Zero yang melihat Reiga mundur langsung mencoba menyerangnya dengan kedua tangannya, sebuah energy lima element terpancar dari telapak tangan Zero yang mana akan menghancurkan apa saja yang dia pengang, “Boomssh… Boomssh… Boomssh… Boomssh…” namun Diana yang tidak bisa melihat saja dengan skillnya melemparkan tiga buah tombak kearah Zero. Serangan telah didapatkan Zero yang membuat tubuhnya hancur tercerai berai, namun sekali lagi tubuhnya mulai membentuk kembali dan bersatu.
“Jadi begitu kau memiliki skill keabadian, yang membuatmu tidak bisa mati walaupun seluruh tubuhmu dihancurkan” kata Reiga.
Keabadian sebuah skill yang mana dapat membuat pemilik skill ini tidak akan mati meskipun seluruh tubuhnya telah hancur lebur menjadi butiran debu, bahkan skill membuat penggunanya dapat terhindar dari setiap efek racun yang ada didunia ini.
“Sebuah skill yang mana lebih tinggi tingkatannya dari regenerasi super yang kumiliki, namun bukan berarti dia tidak bisa dikalahkan” pikir Reiga yang merencanakan sesuatu.
“Hahahaha…. kau benar sekali tebakanmu itu, memang aku ini abadi dan kalian sekarang tidak bisa berbuat apa-apa jadi menyerah saja dan jadilah mainanku” kata Zero.
“Haaah…. Kau tampaknya meremehkanku” secara tiba-tiba kekuatan Reiga naik kepuncaknya, dirinya yang sudah lama tidak bertarung secara serius selama dialam atas mulai menunjukkan taring yang dia miliki.
“Apa ini….???, kekuatannya sekarang sudah hampir menyamai seratus dewa raja terkuat, peningkatan kekuatan kah tidak peningkatan kekuatan saja tidak akan bisa menaikkan kekuatannya sebesar ini” pikir Zero yang kehilangan senyum diwajahnya setelah melihat kekuatan meluap dari tubuh Reiga.
“Ayo kita akhiri ini semua, pedang kematian, tehnik ketiga : mekarnya mawar darah, bunga kematian” dengan energy yang besar Reiga melepaskan kekuatan dari aura pedang tingkat kelima ( Area ) yang mana aura pedang tersebut menyangkup seluruh dimensi milik Zero.
“Sialan dia berencana menghancurkan dimensiku dengan tehnik pedangnya” kata Zero yang terkejut dengan tidakan Reiga.
Bersambung.....
Ayo semuanya tetap dukung terus Novel ini dengan cara Like, Komen, Giff, dan Vote yah, kalau kalian semua menyukai cerita yang ada didalamnya, Ok.....