
Sebelumnya ketika Diana telah menaklukan instana milik Frey dia menemukan tiga buah artefak tingkat bencana yang mana membuat Frey ditakuti sebagai dewa raja terkuat peringkat ke 10, namun sekarang ketiga artefak tersebut ada ditangan Reiga dan salah satunya adalah sebuah artefak yang bernamakan pengekang agung, itu adalah artefak yang mana juga merupakan sebuah formasi yang dapat mengikat siapa saja bahkan dewa raja terkuat peringkat 1 sekalipun. Namun untuk mengaptifkan arfak tersebut membutuhkan bantuan dari 3 kekuatan dewa raja terkuat yang mana masing-masing akan mengalirkan energy mereka, dan mereka lalu akan diberikan tiga buah tali yang mana dapat mengikat siapapun yang ada ditengah mereka bertiga.
Dan sekarang ini artefak tersebut telah digunakan untuk mengikat Guila yang mana kekuatannya saat ini sedang berada dipuncaknya.
“AAaarRRrGGggggKKkkkhHH…. Apa-aPaaN Ini akU tidAK biSa beRGeraK” kata Guila yang man berusaha untuk melepaskan ikatan ditubuhnya.
“Percuma saja artefak ini mengikat segalanya yang ada didunia ini, namun karena kekuatannya yang luar biasa tersebut artefak ini hanya bisa dipakai tiga kali lalu setelahnya dia akan hancur” kata Reiga.
“GrrrRRR….. AkU tiDak perNAh TaHU akAn kebeRADAan ArtEfaK inI” kata Guila.
“Memang kau tidak akan tahu, karena dulu sekali Frey hanya menggunakannya satu kali dan itu adalah disaat dirinya mengambil peringkat ke 10 dari 100 dewa raja terkuat” kata Reiga yang mana telah mendekati Guila sangat dekat.
“KEKEKEKEK….GHAHAHAHa….. JadI beGituKah sepeRTInya kaLI Ini giliRaNku UntuK diMangSa” kata Guila.
“Srrrraaaaasssttt……” dengan satu tebasan kuat dan cepat Reiga menebas kepalanya dan mengakhiri kisah menyedihkan dari sang inkarnasi kerakusan.
“Ping… Ping…. Selamat bagi Reiga karena telah berhasil membunuh Guila sang dewa iblis kerakusan, Ping… ping… ping… sekarang ini Reiga akan dinaikan dari rangking 80 ke 67, sebuah kota dari salah satu teritori Guila akan diberikan pada Reiga” kata sistem yang memberitahukan pada seluruh alam atas.
Disisi lain dijalan sebuah pasukan dari fraksi dewa iblis yang berjumlah ratusan ribu, didalam salah satu kreta kuda tersebut telah duduk dengan santainya Arogan sang pimpinan dewa iblis, lalu ketika dia mendengar berita tersebut dia lalu mengeluarkan aura iblis yang sangat luar biasa kuatnya. Aura iblis miliknya membuat para prajurit disekitarnya terkejut dan ketakutan dengan kekuatan dari Arogan tersebut, beberapa dari mereka yang tidak kuat bahkan jatuh pingsan karena tidak kuat menahan kekuatan iblis milik Arogan.
“Sirakus itu benar-benar tewas bagus juga kalau dia mati, tetapi Reiga ini dia telah berani membunuh 2 dari 7 dewa iblis miliku kalau dibiarkan terus maka harga diriku sebagai pimpinan dari para dewa iblis akan jatuh” kata Arogan.
Disisi lain tepatnya dibagian agak jauh dengan Arogan adalah kreta kuda Acedin dan Invidia, merekan bersama-sama memimpin ratusan pasukan iblis untuk menaklukan dewa langit Aeria.
“Sialan…. Si kurus rakus itu beraninya dia kalah setelah menerima banyak tumbal dariku” kata Invidia yang mendengar pengumuman dari sistem.
“Zzzz… Hmmm… kenapa kau marah-marah, kan bukan kau yang mati ngapain ambil pusing” kata Acedin yang sama sekali tidak perduli.
“Cih aku iri dengan sikap tenangmu itu, tapi sekarang ini aku yakin Arogan pasti marah besar lalu Lujuria dan Codcia akan menerima amarahnya” kata Invidia.
“Hmm… lah kenapa pula dia harus marah kemereka” kata Acedin.
“Tentu saja mereka berdua ada disana, bukannya membantu Guila mereka malah membiarkan dia terbunuh dan lagi aku yakin kematian Guila ada ambil bagian dari mereka juga” kata Invidia.
“Yah kita lihat saja nanti, lagi pula pimpinan kita itu adalah orang yang memiliki harga diri yang tinggi jadi aku tidak yakin dia akan membahas hal itu” kata Acedin.
Ditempat lain Reiga yang telah mengalahkan Guila langsung terduduk jatuh karena kelelahan, dia menampung terlalu banyak kekuatan jiwa yang mana melebihi kapasitas dari tubuh yang diapunya, karena itulah sekarang ini Reiga berada dalam kondisi terlemah dan dapat dibunuh siapa saja bahkan anak kecil dengan pisau sekalipun dapat membunuhnya.
Lalu tiba-tiba saja Reiga mendengar suara langkah kaki mendekati dirinya.
“Yoo… kau cepat sekali datang kemari” kata Reiga.
“Hehehe…. Apa kau masih bisa santai seperti itu, kau tahukan kalau aku bisa dengan mudah membunuhmu sekarang ini” kata Codicia.
“Hahaha… tidak mungkin karena jika kau melakukan hal itu maka kau akan kehilangan keuntungan jangka panjang dariku” kata Reiga.
“Cih… sudahlah kalau kau tahu itu” kata Codicia.
“Kau benar-benar tidak menghormati saudaramu sendiri yah” kata Reiga.
“Memangnya kenapa, dia sudah mati aku yakin dia sama sekali tidak membutuhkan hal ini dialam kematian sana” kata Codicia.
“Terserah kau saja” kata Reiga yang terlalu kelelahan untuk melawan kata-kata Codicia.
Tidak lama kemudia Diana dan Lujuria datang kesana mereka senang melihat Reiga sama sekali tidak terluka, namun disaat yang sama Lujuria sedikit ketakutan memikirkan kalau Arogan akan mengetahui perbuatannya yang merupakan sebuah penghiatan bagi dirinya.
“Kau tenang saja jika dia berani datang padamu maka akan kubunuh dia, jangan lupa kau sendir yang bilang kalau kau adalah milikku” kata Reiga yang melihat wajah gelisah Lujuria.
Mendengar perkataan Reiga tersebut Lujuria tersenyum manis dengan wajah yang memerah dipipinya.
“Haaah… memang bagus kalau kau berkata seperti itu, tapi sekarang kita tidak bisa melawan mereka bertiga secara langsung” kata Codicia.
“Hmmm…. Kalau itu kau tenang saja karena aku telah mengirimkan hadiah istimewa pada dia saat ini” kata Reiga dengan senyum licik diwajahnya.
Sementara itu ditempat pasuka Arogan yang mana sedang berjalan menujuk kota kekuatasaan dewa langit Aeria, mereka terhenti karena sesuatu menghalangi mereka.
“Ada apa ini, kenapa kalian tidak bergerak??” tanya Arogan yang duduk didalam kreta kudanya.
“Lapor tuan kita telah dihalangi” kata salah satu prajurit Arogan.
“Hmmm…. Kalau begitu hapuskan saja hal itu, kita memiliki formasi sihir dan artefak baik itu mahluk mistik maupun beberapa dinding penghalang dapat dengan mudah akan kita tembus” kata Arogan.
“Tapi… kelihatannya yang ini akan sulit untuk ditembus” kata bawahannya.
Mendengar perkataan bawahannya tersebut Arogan dengan aura iblisnya yang pekat menempel di zirah perangnya keluar dari kreta kudanya, dan ketika dia melihat apa yang ada didepan menghalangi para pasukannya dia langsung terkejut karena melihat sebuah dinding yang mana terbuat dari api agung yang mana berasal dari mahluk mistik ras phoenix.
“Sialan api ini adalah salah satu yang paling menakutkan bagi klan demonku, sebuah api yang mengandung kekuatan cahaya dan kehancuran yang sangat kuat, tetapi apa hubungan antara klan phoenix dengan dewi langit” kata Arogan yang mana melihat ada 6 phoenix terbang diatasnya.
Sementara itu disisi lain tempat Invida dan Acedin pasukan mereka dihalangi oleh beberapa mahluk mistik raksasa yang mana berbentuk aneh, dan lagi ada beberapa mayat yang mana menginfeksi pasukanya untuk berubah menjadi pasukan mayat dan melawan sesama temannya.
“Apa-apaan ini, siapa mereka” kata Invidia yang mana membekukan semua yang mencoba mendekati dirinya.
“Hmmm…. Kelihatannya ada seseorang yang memendam dendam pada kita…. Lihat saja tujuan pasukan ini…. Mereka sama sekali tidak mengincar kita… tetapi mereka mengincar pasukan kita dan menggagalkan penyerangan kita” kata Acedin yang mana melihat bwahannya satu demi satu tergigit dan berubah menjadi pasukan mayat kematian.
“K… Ka… Kau gila, kau menyuruh Zero dan istrimu Riana untuk menghalangi rencana penyerangan Arogan, untuk apa??” tanya Codecia.
“Hmmm… tentu saja untuk balas dendam, dan tentu saja untuk mendapatkan sebuah keuntungan” kata Reiga.
“Jangan-jangan yang kau maksud adalah…” kata Codecia yang mana akhirnya mengetahui maksud dari Reiga.
“Yah benar sekali rencanaku adalah untuk membantu dia keluar dari tempat persembunyiannya dan juga membawa dirinya masuk kedalam aliansiku, dewa raja terkuat peringkat 4 dewa bumi Susano” kata Reiga.
Bersambung.......