
Pendekar pedang adalah seorang yang menguasai seni pertarungan menggunakan pedang dan biasanya kecepatan dan tehnik mereka ada ditingkat atas, bahkan katanya kalau seorang pendekar pedang yang sangat kuat dapat memotong peluru yang ditembakkan kearahnya, dan sekarang ini sudah ada dua orang pendekar yang mendedikasikan diri mereka pada tehnik berpedang sedang berhadapan satu sama lain. Bagi orang biasa mereka hanya saling menatap satu sama lain tidak melakukan apapun tetapi bagi mereka petarung yang kuat dapat merasakan kalau kedua aura mereka sedang beradu satu sama lain, keduanya memikirkan satu hal yang sama yaitu : “Bagaimana caranya aku menebas orang ini”.
“Sebelum kita mulai bertarung aku ingin bertanya satu hal, apa kau juga suruhan dari orang itu” tanya pria berambut hitam yang ada didepan Reiga.
“Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan, tampaknya kau memiliki beberapa masalah diarena ini ya???” tanya Reiga yang bingung.
“Hmm… bukan urusanmu, aku Diablo akan menghabisimu dengan cepat entah apapun itu niatmu” kata pria berambut hitam tersebut yang mengenalkan namanya.
“Hahahaha…. Diablo ya, bagus-bagus kau tahu aku berada ditingkatan dewa raja tetapi kau tetap berani menghadapiku, tidak salah kalau aku menantangmu mengalahkan mu diarena ini pasti akan sangat memuaskan” kata Reiga yang mengeluarkan pedangnya.
“Tetapi kalau seperti ini tidak akan menarik” kata Reiga.
Dan lalu dari bayangan Reiga muncul sebuah gumpalan daging yang terbang melayang dibelakang Reiga, gumpalan daging tersebut berubah menjadi lima buah paku hitam.
“Boneka mayat tingkat nol : paku segel hitam” kelima paku hitam itu lalu menusuk tubuh Reiga, tangan, kaki, dan belakang lehernya tertusuk oleh paku hitam itu, dalam sekejab energy ditubuh Reiga langsung berkurang dan tingkatannya turun ketingkat dewa tingkat bawah.
“Cihh…. Akan kubuat kau menyesali perbuatanmu itu” kata Diablo yang kesal melihat Reiga menahan tingkatannya.
Diablo dengan cepat langsung mengarahkan serangan pedangnya kearah Reiga, “Srrannng…. Sriinnggss… Sriinnggss… Sriinnggss… Srraannggss…” dengan cepat dalam satu nafas dirinya langsung mendaratkan puluhan tebasan kearah Reiga.
“Trraanggss… trraanggss… trraanggss… trraanggss…” namun Reiga dapat mengimbangi kecepatan tebasan Diablo dan menangkis setiap serangan yang dilancarkan padanya.
“Lumayan cepat juga, tapi apa cuman itu saja kemampuanmu” kata Reiga yang berusaha memprofokasi Diablo.
“Jangan bercanda itu tadi cuman pemanasan saja, pedang iblis putih : tusukan ilusi” Diablo lalu mencoba mendaratkan serangan tusukan pada Reiga dengan tehnik pedangnya.
“Hmm… apa-apaan ini, serangannya jauh lebih lambat dari yang tadi” pikir Reiga yang melihat serangan Diablo.
“Crraaasstt….” Namun secara mengejutkan serangan tusukan yang dilihat Reiga lambat itu berhasil menusuk perutnya.
“Apa..??, bagaimana mungkin, aku yakin tadi telah menangkis serangannya barusan namun tiba-tiba saja serangan yang diarahkan kedada kiri berpindah dengan cepat kearah perut” pikir Reiga yang kebingungan karena arah serangan dari tusukan Diablo berpindah seperti sebuah ilusi dari dada kiri atas menjadi perut.
“Krraasstt…” Diablo lalu menarik langsung pedangnya dan melihat Reiga dengan tatapan remeh.
“Kemana sikap sombongmu barusan haah, apa sekarang kau sudah menyesal karena telah menyegel tingkatan aslimu” kata Diablo yang berusaha memancing amarah Reiga.
Reiga lalu melihat luka diperutnya dan melihat kalau ada energy putih seperti energy cahaya namun memiliki sifat dari energy iblis yang mana berusaha mengambil alih tubuhnya, namun karena energy tersebut cukup lemah Reiga dengan mudahnya menghilangkan energy putih tersebut dan dengan cepat menyembuhkan luka diperutnya.
“Hmm… regenerasi superkah, dapat menyingkirkan energy pedangku luar biasa” pikir Diablo yang melihat luka Reiga sembuh dalam hitungan detik saja.
“Hahahaha…. ini baru menarik, ayo kita lanjutkan lagi” Reiga yang dipenuhi oleh emosi senang karena pertarungan yang sangat menyenangkan baginya kehilangan kendali, dan dia lalu menyerang Diablo seperti orang gila.
“Srraanngss… trraangss… srraasshh…. trraasshh…” keduanya lalu saling beradu serangan namun Diablo dapat dengan mudah mengkis serangan – serangan dari Reiga, sementara Reiga terus menerima luka serangan dari tehnik pedang Diablo.
“Ini menyusahkan, setiap luka akibat serangan pedangku dapat dia sembuhkan dengan cepat, aku harus membuat sebuah serangan telak untuk mengakhirinya” pikir Diablo.
“Hehehe… kau tidak fokus, tehnik pedang kematian, tehnik kedua : tusukan penghancur” disaat Diablo sedang berpikir dan pikirannya teralihkan Reiga dengan cepat melancarkan tehnik tusukannya.
“Srraass… srraasstt… srraasst…” baju Diablo langsung tercabik-cabik dan membuat beberapa luka gores pada tubuhnya.
“Sialan…..” Diablo lalu langsung mundur dan mengambil jarak dari Reiga, “Srraaaahh….” Dia lalu menggunakan energy pedangnya untuk menciptakan sebuah tebasan jarak jauh.
“Energy pedang tingkat kedua cukup hebat untuk dewa tingkat bawah bisa menggunakannya, namun itu terlalu lemah” kata Reiga dia lalu melakukan sebuah tebasan biasa “Trraass…” dan serangan energy pedang milik Diablo langsung mudah dia patahkan.
“Masih belum, Skill master seratus senjata : Quarted weapon” Diablo lalu mengeluarkan tiga senjata lain dari penyimpanan hampa miliknya, tombak, kapak, dan palu keluar melayang mengelilingi Diablo.
“Hmm… artefak senjata kelas legenda” pikir Reiga yang melihat keempat senjata mulai terbang disekitar diri Diablo.
“Sekarang mari kita akhiri pertarungan kita” teriak Diablo yang berlari langsung menuju kearah Reiga dengan cepat.
Reiga yang semakin tertantang memutuskan untuk tidak menghindari serangan dari Diablo, dia ingin menghadapi serangan tersebut secara langsung.
“Energy yin hitam : perkuat, pertajam, dominasi” Reiga lalu memperkuat pedangnya dengan energy yin hitam miliknya, dan karena dia berada dialam atas kekuatan yin hitam miliknya jadi lebih kuat dari sebelumnya.
Disaat yang bersamaan Diablo juga meningkatkan kekuatan energy iblis di keempat senjatanya, dan tubuhnya mengeluarkan sebuah aura seakan-akan dia memiliki empat tangan yang memegang senjata besar.
“MATI KAU…” teriak Diablo yang melompat saat sudah dekat dengan Reiga, dia bermaksud menggunakan grafitasi untuk meningkatkan kekuatan serangannya.
“Naif, pedang kematian, tehnik ketiga : mekarnya mawar darah” disaat Diablo telah dengan dengan Reiga, dirinya lalu terpukau karena melihat aura yang berbentuk mawar darah kehitaman yang sangat memukau.
Para penonton juga dibuat terpukau oleh aura tersebut, “Srrraass… srraasstt… crraass… crraasstth…” aura mawar tersebut langsung menyerang Diablo yang tepat berada diatas Reiga.
“Aaaagghhtt…” Diablo langsung terpental jauh sampai keluar arena, dirinya juga mengalami beberapa luka tebasan dari pedang Reiga namun dia berada dalam kondisi yang parah karena Reiga menghindari memberi serangan fatal padanya.
“Hmmm…. Bau ini dan juga aura ini, jangan-janga dia…” kata Reiga yang melihat kalau Diablo sudah dibawa pergi oleh staf arena.
Sementara itu diatas bangku penonton tempat dimana Reiga duduk, disebelahnya pria asing yang berbicara padanya berdiri dengan tegak terpesona melihat tehnik pedang dari Reiga.
“Hahahahahahaha…… luar biasa – luar biasa – luar biasa, tidak pernah aku melihat tehnik seindah itu, begitu gelap, menakutkan, sadis dan mematikan, Hahahahhahaha…. Ternyata benar dia adalah orang yang sangat menarik, tidak herang Orochi sampai menyuruh bawahannya untuk mengawasi dirinya” kata pria asing itu yang tertawa dengan gilanya.
“Sepertinya anda sedang senang tuan” kata seseorang yang tiba-tiba muncul dari bayangannya.
“Ooooh tidak apa-apa, bagaimana apa kau sudah mengurunya” tanya pria asing tersebut.
“Sudah selesai, cukup sulit untuk mengurus mahluk mistik tingkat saint yang bisa berubah menjadi manusia, karena mereka bisa menggunakan tehnik bela diri dan juga sihir, karena itu juga kita kehilanga 20 orang dari grup bayangan” kata orang yang berada dalam banyangan tersebut, sambil melemparkan sebuah kepala.
“Heheheh…. Aku yakin Orochi pasti akan marah besar nantinya” kata pria asing tersebut yang mana penampilan dan wajahnya berubah, dengan menggunakan pakaian serba putih dan wajah yang kepucatan dan topeng hitam yang menutupi setengah wajahnya.
“Tapi hamba penasaran siapa orang sial yang bisa menarik perhatian anda, dewa raja tingkat ke 50 dewa kegilaan Zero” kata orang yang berada dibalik bayangan.
Bersambung........