I Am The God Of Ghoul

I Am The God Of Ghoul
Bab 118 Ambil alih dan bangun ulang



Setelah kemenangannya Reiga lalu mengambil pedang milik Damaskus pedang tersebut beresonansi dengan pecahan pedang yang dia miliki, dan lalu dalam tiba-tiba pecahan pedang itu langsung terbang dan menyatu dengan pedang putih milik Damaskus secara ajaib pedang itu lalu memunculkan ukiran garis yang samar-samar bewarna emas.


 “Ini sedikit menarik, kekuatannya juga bertambah” pikir Reiga.


 Dan lalu pada saat Reiga ingin pergi kedalam colesseum untuk menghancurkan inti kuil dari Damaskus, dengan cepat dari langit Azazel langsung datang menghadap dirinya. Dia berlutut dihadapan Reiga dengan menundukkan kepala dan keenam sayapnya.


 “Bangunlah..” kata Reiga yang melihat Azazel.


 “Tuanku, hamba membawakan beberapa barang dari dalam kuil dewa Damaskus, beserta inti kuil miliknya” kata Azazel yang memberikan harta dari kuil Azazel beserta inti kuil Damaskus.


 “Krrraaannggsss….” Dengan cepat Reiga langsung menebas inti kuil tersebut menggunakan pedang putih milik Damaskus.


 “Kerja bagus” kata Reiga yang lalu hanya mengambil sebuah kotak hitam kecil yang mana menyimpan pecahan pedang misterius tersebut.


 Reiga yang tidak memperdulikan harta yang lainnya selain kotak tersebut membuat Azazel bingung, dan lalu ketika Reiga membuka kotak hitam kecil itu dengan cepat seperti magnet kuat pecahan pedang yang besar mulai menyatu dengan pedang misterius tersebut. Dengan bergabungnya pecahan itu warna pedang itu yang awalnya bewarna putih cerah berubah menjadi hitam pekat yang memiliki ukiran berwarna keemasan.


 “Energy ini benar-benar unik, dia tidak kuat seperti energy cahaya tidak menyerap seperti energy kegelapan dan juga tidak mendominasi seperti energy iblis, energy ini hanya menetralisir semuanya baik itu energy internal maupun eksternal” pikir Reiga yang merasakan kekuatan energy dari pedang tersebut.


 Pedang itu memiliki energy yang lembut seperti kapas dan memiliki kemampuan untuk menetralisir energy apapun seperti arus sungai yang membersihkan apapun.


 “Inti dari energy ini adalaha mengalir, dia terus menarik dan menetralisir energy dari lawan dan serangan sehingga menciptakan suatu perputaran energy yang menguras kekuatan lawan, tetapi untuk mengendalikannya aku perlu dua pecahan pedang tadi jika tidak maka aku bisa kewalahan seperti Damaskus tadi” pikir Reiga.


 Ketika mata Reiga masih melihat dan mengamati energy misterius dari pedang itu, dengan cepat dari arah laut ditengah kota yang hancur dua gadis cantik dengan cepat menuju kearah mereka. Lucy dan Nabila yang baru menyadari sebuah formasi di kota Avalon dengan cepat berlari keluar dari pulau tersebut, “Crraak… crraak… crraak…” Lucy dengan kemampuan langkah kakinya dapat membuatnya berjalan diatas air.


 “Rrrrnngggg……” Nabila dengan kemampuan mengubah bentuk tubuhnya dia menciptakan enam sayap capung


dipunggungnya dan dengan cepat terbang kearah kota Avalon, “Crraaaaaasshhh….” Namun mereka tib-tiba dikejutkan dengan kemunculan mahluk mistik laut hiu hitam raksasa yang mana berukurang 20 meter panjangnya.


 Dengan amarah dia mengeluarkan mengaptifkan tato pendosa miliknya dan dengan tinju miliknya “Boommsshh…. Crraassstt…” dengan ganas dirinya menghancurkan hiu hitam tersebut.


 “Wuuusshhh… Crraanngg… Crraanngg…” sementara itu Nabila yang sedang terbang diatas dihalangi oleh gagak hitam raksasa yang menganggapnya sebagai mangsa.


 “Haaah…. Ayam hitam jelek berani kau menghalangiku” kata Nabila, dengan tatapan matanya gagak hitam raksasa itu langsung mati karena jiwanya telah dilahap oleh Nabila.


 Mereka dua menjadi liar dan buas ketika mereka mengetahui tuan mereka dan juga sekaligus pria yang mereka cintai dalam bahaya, walaupun mereka tahu tidak ada satu orangpun yang dapat menjadi lawannya tetapi wajah mereka tidak bisa berhenti untuk khawatir dengan keadaan Reiga sekarang ini.


 “Trriiiinngggg….. Boooommmssshhhh…..” langkah kaki mereka lalu terhenti ketika mereka melihat sebuah cahaya putih nanterang yang menutupi seluruh kota Avalon, jika tidak ada sebuah formasi yang mengurung kota itu maka semua mahluk hidup yang ada dalam radius 100 km meter akan mati terbunuh oleh serangan dari Damaskus.


“Khhh….. apa-apaan ini, ratusan bom energy yang sangat besar dilemparkan secara cepat dalam waktu singkat” kata Lucy yang berusaha bertahan dari aura deras dari serangan terakhir Damaskus.


 “Kyaaaaaahh……” sementara itu Nabila yang awalnya hampir sampai langsung terhempas jauh akibat angin kuat dari energy tersebut.


 “Dasar anak merepotkan” kata Lucy yang melompat untuk menangkap Nabila.


 Dengan kekuatan kakinya Lucy berhasil melompat dan menangkap Nabila namun dirinya juga ikut terhempas karena sayap Nabila membuat mereka terdorong akibat angin yang kuat.


 “LEPASKAN SAYAPMU… CEPAT…” teriak Lucy.


 Karena sayapnya sudah dia cabut mereka berdua lalu dapat kembali mendarat di laut, “Booommmss….” Dan dalam seketika setelah mereka mendarat Lucy yang menggendong Nabila dipunggungnya langsung melesat dengan cepat menuju kota Avalon.


 Ketika mereka berhasil mendarat kedaratan kota mereka melihat sebuah formasi hitam yang sudah hampir kehilangan energy dan akan menghilang, mereka lalu lebih dikejutkan disaat kabut asap menghilang yang mana menampilkan penampakan yang tadinya adalah sebuah kota sekarang berubah menjadi gurun pasir yang gersang.


 “Apa yang terjadi disini” kata Nabila yang turun dari atas Lucy.


 Setelah mereka melihat kota mereka lalu dengan cepat menuju kearah colesseum, satu-satunya bangunan yang masik tetap kokoh dan disanalah mereka melihat bayangan dua orang yang mana itu adalah Reiga dan Azazel.


 Ketika mereka tahu kalau Reiga selamat wajah mereka langsung menujukkan senyum bahagia dan rasa syukur, setelah itu mereka lalu langsung berlutut dihadapan Reiga dengan nafas yang terengah-engah karena telah berlari melintasi lautan dengan jarak 50 km meter jauhnya.


 “Kalian berdua sudah kelelahan seperti itu, tidak perlu berlutut dihadapanku dan untuk seterusnya pengecualian untuk kalian hanya perlu menundukka kepala saja” kata Reiga yang menyuruh mereka berdua agar tidak berlutut lagi dihadapannya.


“Baik tuan… akan kami lakukan” kata mereka berdua dengan wajah senang karena mereka merasa sudah mulai lebih dekat dengan Reiga.


 Reiga lalu melihat kedua Lucy dan Nabila dengan tatapan aneh, dia seperti memiliki sesuatu yang ingin dia katakan pada mereka namun karena harga dirinya dia memutuskan untuk tidak mengatakan apapun. Dia lalu mendekati Azazel.


 “Azazel katakan bagaimana situasi didalam colesseum??” tanya Reiga.


 “Didalam sana terjadi perang internal dalam pengikut dewa Damaskus yang membuat hampir seluruh pengikutnya terbunuh dan juga para saint Damaskus semuanya telah tewas, termasuk Graamm yang menunjukka rungan harta dan tempat Damaskus menyimpan inti kuilnya, dia tewas karena kehilangan banyak darah” kata Azazel yang menunjukkan wajah sedih.


 Reiga lalu melihat wajah Azazel dia mengetahui dan mengerti apa yang dirasakan oleh Azazel karena emosinya telah dia dapatkan.


 “Kalau begitu setelah kelompok Raiya kembali kita makamkan mereka semua, tidak terkecuali satupun dan lalu setelah itu kita selamatkan para kontestan lainnya yang sedang ada dipulau itu” kata Reiga yang mulai bisa membaca suasana.


 Dan lalu dengan kecepatan dan kecekatan dari bawahan Raiya mereka dapat menyelamatkan para penduduk yang masih hidup dan bersama para penduduk memakamkan para korban, setelah itu dengan perahu dari para penduduk mereka menyelamatkan para kontestan yang ada dipulau itu Rial, Rael dan juga Leon yang berada dipulau itu berhasil diselamatkan.


 Sementara itu Borus dewa perdagangan secara ajaib juga ikut selamat beserta semua pengikutnya, mereka menggunakan banyak artefak dan formasi pertahanan untuk menahan serangan terakhir dari Damaskus. Dan lalu para warga yang telah kehilangan rumahnya seluruhnya tersentuh dengan perbuatan Reiga dan memutuskan untuk menyembahnya sebagai dewa mereka, Reiga yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu langsung memutuskan untuk menetap dikota Avalon untuk menjaga para penduduk kota itu.


 Reiga lalu menyuruh Nabila, Leon, Rial dan Rael untuk kembali dan membawa bantuan untuk membangun kembali kota Avalon, sementara itu Lucy tetap bersama Reiga dikota itu sementar itu Dagan yang terluka akibat pertarungan juga ikut menetap untuk menjalani perawatan walaupun dia adalah naga tetap saja luka dari seorang klan raksasa bukanlah hal mudah untuk disembuhkan.


Dan dalam waktu beberapa hari bantuan lalu datang dan dengan bantuan dari Borus mereka membangun kembali kota Avalon dan juga mendirikan dua kuil yaitu kuil Reiga dan Borus dikota itu, keduanya membuat perjanjian untuk tidak serang satu sama lain demi keuntungan masing-masing. Dalam hitungan dua bulan kota Avalon kembali seperti semula dan juga beberapa warga kota memilih untuk menjadi Ghoul karena kepercayaan mereka pada Reiga, tiga bulan kemudian kota Avalon kembali normal walaupun penduduk mereka sedikit tetapi mereka tetepa beraktifitas seperti biasanya.


 Sementara itu Reiga yang duduk diatas salah satu tugu pedang batu raksasa mulai melihat langit dari kejauhan dengan memegang pedang misterius milik Damaskus ditangannya, dia lalu memikirkan tujuan dari Damaskus untuk pergi kealam atas.


 “Alam atas yah…., sepertinya akan menarik….” Kata Reiga yang melihat keatas langit yang dipenuhi awan.


 Dan lalu dia melihat lagi para warga kota Avalon yang beberapa adalah Ghoul dan juga para perajurit terpecayanya Lucy, Nabila, Raiya, Rial, Rael, Azazel, Dagan, dan Leon. Dia melihat mereka makan dan berpesta dariatas seakan tidak memiliki beban apapun, ketika dia melihat kebersamaan mereka Reiga hanya tersenyum kecil.


 “Boleh juga.., tetapi alam atas harus menunggu sebentar…, aku masih memiliki banyak musuh yang harus kuhabisi, demi para orang-orang yang sudah percaya padaku akan kuberikan mereka kehidupan damai selamanya” kata Reiga dengan tatapan yang dipenuhi tekat kuat.


Bersambung.........


Dukung terus novel ini agar dapat terus berlanjut dengan cara Like, Komen, Giff, dan Vote jika kalian menyukai cerita yang ada didalamnya, Ok....