
Pada malam itu boneka mayat tikus telah menyebar kesuluruh penjuru ibukota negara Terian. Korban pertama bertemu dengan tikus itu ditengah perjalanan pulangnya dia adalah seorang pedagang dari negeri asing yang pernah membayar orang untuk mencuri resep pembuatan obat darah dewa. Ditengah malam yang disinari bulan dia melihat seekor tikus hitam besar dan memutuskan untuk tidak memperdulikannya namun kemanapunn dia melangkah tikus it uterus mengikutinya yang pada akhirnya membuatnya takut dan marah.
“Cih mahluk menjijikan pergi kau” kata pria itu sambil melemparkan batu kearah tikus itu.
Tikus itu kemudian menghindari lemparan batu dari pria itu dan dengan cepat melompat kearahnya.
“AAAarrrgghhh” teriak pria itu.
Tikus hitam itu menempel tepat diwajahnya dan kemudian tikus itu mencakar dan menggigit wajah pria itu. Setelah wajah pria itu terluka tikus itu kemudian pergi berlari meniggalkan tikus itu.
“Aaah tikus sialan awas saja kau” kata pria itu yang sedikit kesakitan.
Tiba-tiba dari bekas cakaran dan gigitan tikus itu muncul bercak merah yang kemudian menjalar kesuluruh tubuhnya. Bercak itu muncul secara tiba-tiba dan dengan kecepatan yang cepat menjalar dari atas sampai bawah tubuhnya.
“Apa-apaan ini” kata pria itu yang terkejut dengan kondisi dirinya.
Setelah bercak itu muncul dia kemudian merasakan rasa sakit yang luar biasa diseluruh tubuhnya rasa sakit seakan ditusuk oleh jarum diseluruh tubuhnya.
“Aaaaaarrrhggh…TOLONG….TOLONGG” pria itu kemudian menjerit kesakitan dan berusaha meminta pertolongan.
Lalu orang-orang kemudian berkumpul mendengar suara meminta pertolongan darinya lalu mereka berusaha untuk menolong pria itu. Namun ketika dia melihat orang-orang mendekat tiba-tiba seluruh tubuhnya menghitam yang kemudian mulai memunculkan api ditubuhnya. Api hitam kebiruan muncul dari tubuhnya yang kemudian membakar seluruh tubuhnya dan ketika dia mencoba meminta bantuan orang-orang para warga lari ketakutan melihat tubuhnya terbakar mereka takut akan terkena api dari tubuh pria itu. Menderita dan putus asa itulah yang terlihat dari tatapan mata pria itu yang sudah pasrah akan keadaan dia terbakar sampai hangus dan mati mayatnya sampai sulit dikenali lagi.
“Hmm..hmmm.hmm.. yang pertama” kata Reiga sambil bersenandung.
Kejadian yang sama telah terjadi hampir diseluruh ibu kota dari mereka yang sedang mandi didatangi oleh tikus hitam, dia yang sedang berusaha pergi dari kota didatangi oleh tikus hitam, dan mereka yang sedang beristirahat mati oleh tikus hitam. Mereka semua mati dan terkana cakaran racun oleh para tikus mereka semua memiliki satu kesamaan yaitu mereka adalah orang-orang yang mencari masalah di toko kreasi dewa yang dipimpin oleh Lucy tanpa mereka sadari disaat mereka memcari masalah pada toko tersebut mereka sudah memancing amarah dari dewa fraksi hitam yang dewa yang terkenal memiliki dewa-dewa yang gila diantar fraksi dewa yang lain.
“Hmm…hm bagus sudah 57 orang, Haaah perasaan akan darah dan penderitaan yang terlahir dari mereka yang mati benar-benar terasa nikmat” kata Reiga yang auranya keluar semakin pekat.
Kejadian tikus-tikus itu membuat para warga panik yang membuat ketiga dewa itu menyadari masalah yang telah terjadi.
“Ada masalah terjadi di ibukota” kata Foria dewi pengampunan.
“Benar dari aura yang dikeluarkan energy ini berasal dari dewa fraksi hitam yang gila itu, bagaimana ini Justin kita harus segera bertindak” kata Guila dewa hukuman.
“Hmm.. aku merasakan aura haus darah yang besar dari arah 100 Km dari jauh” kata Justin dewa keadilan.
Kedua dewa/dewi itu kemudian mulai mencoba merasakan keberadaan haus darah tersebut dan pada akhirnya mata dewa dari ketiga dewa itu melihat Reiga yang sedang melihat negara Terian. Bersamaan dengan penglihatan dari ketiga dewa/dewi itu Reiga juga ikut merasakan ada yang melihatnya dari jauh dia Reiga kemudia tersenyum karena dia mengetahui siapa yang sedang melihatnya.
“Yoo apa kabar tiga dewa penjaga negara Terian” kata Reiga yang melihat kearah langit seakan berbicara dengan mereka bertiga.
“Ok ternyata sisialan itu yang berani mengacak-acak wilayah kita” kata Guila.
“Kita harus bergerak sebelum para penduduk semakin menderita” kata Foria.
“Baiklah kalau begitu Foria kau bantu para penduduk disini aku dan Guila akan menghadapi dewa gila itu” kata Justin.
Mereka bertiga kemudian bergerak bersamaan terbang kedua arah yang berbeda. Sementara Justin dan Guila pergi menuju arah Reiga ibukota yang diserang boneka mayat tikus ditangani oleh Foria dia dengan cepat menuju tengah kota dan melepaskan skillnya.
“Skill kesempatan kedua ( memberikan kesempatan dari mahluk entitas yang berada dibawah pemilik skill untuk hidup kembali dari kematian dengan syarat belum lewat 24 jam dan memiliki keinginan hidup yang kuat )” skill kuat milik Foria kemudian menyebar dengan cepat kearah seluruh ibukota.
Skillnya seperti kunang-kunang cahaya yang hangat menyelimuti mereka yang tewas bersamaan dengan menyebarnya skill itu beberapa oran yang memiliki keinginan kuat satu demi satu kembali hidup dari kematian mereka luka bakar ditubuh mereka juga perlahan-lahan mulai menghilang. Foria kemudian tersenyum senang melihat ada beberapa yang dapat hidup kembali dan pada akhirnya dia menyadari akar dari kekacauan di ibukota. Dia melihat para tikus hitam itu dengan amarah yang besar karena telah berani membuat kekacauan di wilayahnya.
“Skill Tear of despair ( dengan mengumpulkan keputus asaan dari para umatnya dia dapat menciptakan satu tetes air mata putih dan bening seperti kristal yang dapat dengan mudah dia kendalika, skill ini membuat air mata itu menjadi seperti jarum kuat dan tipis yang dapat menembus tubuh dari seorang dewa yang tingkatnya sama dengannya )” Foria yang mengatifkan skillnya menggunakan air matanya untuk menembus para tikus hitam itu.
Air mata itu kemudian membunuh tikus-tikus hitam itu satu persatu dengan cepat dan dalam hitungan detik seluruh tikus itu telah terbunuh seluruhnya.
Pada saat yang sama ditempat yang berbeda 100 km dari ibukota negara Terian tepat disana ada dua jalur cahaya yang dengan kecepatan tinggi menuju arah Reiga. Dengan santainya Reiga menyuruh para pengikutnya untuk pergi meninggalka dirinya sendirian menunggu kedua dewa itu dengan santai tidak lama kemudian muncullah Justin dan Guila yang menghampiri Reiga dengan persiapan untuk bertarung.
“Hmm dari armor sampai senjata mereka berdua adalah perlengkapan kelas legenda dan juga ada item tambahan yang tidak dapat kulihat sedang mereka gunakan, ini pasti akan menyenangka” pikir Reiga yang melihat Justin dan Guila datang menemuinya.
Justin dengan lengkap menggunakan armor raja keadilan ( item armor berbentuk bintang putih tinggkat legenda yang dapat menagkis serangan jahat dan bahkan dapat menahan serangan dari senjata tinggkat suci ) dan tombak penusuk cahaya ( tombak dengan umata tombak seperti kriss besar, senjata tingkat suci yang dapat mengeluarkan energy suci dari ujung tombaknya dan dapat menigkatkan kekuatan dari penggunanya selain itu tombak ini dapat mengikis pertahanan lawan ).
“Kau cukup berani ya menyerang wilayah kami” kata Justin.
“Hahaha terimakasih atas pujianmu” kata Reiga yang kemudian juga menyiapkan white night.
“Haaah akan kuhapus wajah menjijikanmu itu dengan pedangku” kata Guila yang mengacungkan pedang besar yang memiliki panjang 1,5 meter dan besar 30 cm dengan satu sisi tajam yang berbentuk seperti pisau raksasa.
Guila yang juga datang kesana menggunakan armor darah pendosa ( Armor yang berbentuk duri api yang memiliki bau darah disekitarnya yang dapat membuat lawan dengan mental lemah ketakutan dan memiliki fungsi semakin banyak serangan yang didapat maka akan menambahkan kekuatan dari pengguna armor itu ) dan pedang besar yang dia pegang ( Pedang pemenggal merupakan sisa pecahan dari pisau dewi raksasa Ymir yang hancur saat kematiannya dan dibentuk ulang menjadi senjata khusus oleh Guila dengan menggunakan darah dari 1.000 orang tahanan yang dia hukum mati, pedang ini memberikan rasa sakit dua kali lipat saat menebas lawannya dan akan semakin tajam jika terkena darah musuhnya ).
“Haaah kalian berdua sampai datang menemuiku langsung seperti ini, aku meresa tersanjung dengan kehadiran kalian” kata Reiga yang mencoba memancing emosi mereka.
“Sialan ini, MATI KAU” Guila yang terpancing emosinya lansung menerjang Reiga dari udara dia melancarkann serangan yang kuat sehingga membuat sebuah ledakan kecil.
“Cih sialan padahal cuman tergores kecil tapi bisa sesakit ini” pikir Reiga yang berhasil menghidari serangan Guila tetapi tetap menggores bahu kirinya.
“Pedang kematian tehnik kedua : tusukan penghancur” Reiga langsung dengan cepat melancarkan serangan balasan.
Tusukan penghancur dengan cepat mengarah tepat ke kepala Guila tetapi Justin bertindak cepat dengan tombaknya dia dapat mengubah arah serang dari pedang Reiga kearah tanah yang membuat ledakan cukup besar.
“Cih hampir saja” kata Guila yang melompat mundur kebelakang.
“Kalau kena tadi kau bisa kehilangan kepalamu, berhati-hatilah jangan terpancing propokasinya” kata Justin.
“Ya terimakasih” kata Guila.
“Hei jangan ngomong aja maju sini kalian berdua” kata Reiga.
“Ok kalau begitu tehnik tombak keadilan : tusukan matahari” Justin dengan memusatkan auranya keseruh mata tombaknya menciptakan sebuah serangan cahaya yang memiliki area luas.
Reiga yang merasa tidak peduli dengan serangan yang dilancarkan oleh Justin langsung menerimanya begitu saja tampa pertahanan sama sekali.
“Haaah rasakan” kata Guila.
“Cuman itu saja gatal tau” kata Reiga yang beberapa bagian tubuhnya terkikis sehingga bisa terlihat tulangnya.
Tetapi Reiga yang tidak peduli langsung dengan cepat pulih seakan tidak terjadi apa-apa. Justin dan Guila yang melihat kecepatan dari pemulihan Reiga menyadari kalau Reiga bukanlah lawan yang bisa mereka anggap enteng.
“Kau monster” kata Justin yang terkejut dengan kecepatan pemulihan Reiga
“Bukan aku adalah Ghoul” kata Reiga yang menyiapkan kuda-kudanya.
Bersambung.........
tolong berikan like dan komen kalian agar penulis semakin semangat dan certinya semakin menarik
dan juga beri vote kalian jika menyukai cerita di novel ini Ok...