
Kota pesisir pantai yang merupakan bagian dari negara Terian dulunya merupakan salah satu wilayah perairan miliki dewi samudra Hilia tetapi semenjak dewi itu terbunuh oleh tetua naga perak wilayah air didekat pantai pesisir itu telah diambil alih oleh salah satu dari 72 iblis agung yaitu Leviatan dia menggunakan para orang-orang yang telah membuat kontrak dengannya lalu mengubahnya menjadi monster air laut dalam lalu menyuruh mereka untuk membuat kekacauan disekitar wilayah itu. Sampai Guila datang kesana dan membantai sebagian besar monster itu namun sayangnya dia tidak bisa masuk kedalam wilayah perairan dalam yang merupakan teritori dari Leviatan karena itulah Guila cuman dapat membentuk pelindung disekitar pantai namun tidak bisa menjaga daerah laut.
“Tuan Leon sebentar lagi kita akan sampai dirumah baru anda” kata joki kuda yang mengantar Leon ketempatnya yang baru di daerah pesisir pantai.
Sementara itu Leon yang sedang menuju kota pesisir pantai ditemani puluhan orang yang merupakan ghoul menggunakan mantra sihir untuk menutupi wujud asli mereka.
“Bagus setelah kita sampai disana kita bisa memulai rencana awalnya” kata Leon yang telah memberikan sumpah setianya kepada Reiga.
Ketika mereka sampai disana Leon dan para bawahannya melihat rumah yang besar namun sudah using dan lama tidak digunakan sehingga terlihat seperti akan hancur kapan saja.
“Emmm tuan Leon, ini yakin rumahnya???” kata salah satu bawahannya.
“Yah mau bagaimana lagi, daerah ini sering mendapat serangan dari monster dan pendapatan perairan yang sudah menjadi mata pencahrian utama para nelayan disekitar sini telah lama tidak bisa melaut dikarenakan para monter laut itu” kata Leon.
“Ooooh ok tuan kami akan meminta tolong kepada nona Lucy untuk bisa mengirimkan bantuan untuk merenofasi tempat ini” kata salah satu bawahannya.
“Aaah ok terima kasih dan untuk barang bawaanku biarkan aku sendiri saja yang membawanya” kata Leon.
Leon dan para bawahannyapun memulai untuk membereskan mansion itu mereka mencoba sedikit merenofasinya sedikit agar bisa untuk ditinggali.
Sementara itu para pasukan pengintai yang merupakan umat pengikut dari tiga dewa telah berhasil melacak keberadaan Reiga sampai kewilayah kerajaan Matahari hitam.
“Kita sampai sesuai informasi yang kita dapatkan kerajaan ini telah diambil alih oleh dewa Reiga, hampir seluruh penduduk disini telah menjadi ghoul” kata ketua pengintai.
“Apa yang harus kita lakukan ketua kita tetapi lanjut atau kembali sekarang” kata salah satu anggota pengintai itu.
Para pengintai dari pengikut tiga dewa adalah pengikut paling setia yang telah menerima pelatiha keras selama beberapa tahun bahkan ketika mereka ditangkap mereka lebih memilih untuk mati dari pada membocorkan informasi mereka. Ketika mereka sedang berdiskusi untuk memutuskan apa yang harus mereka lakukan disaat itulah muncul sesosok perempuan kelinci.
“Hihihihi…, hei kalian sedang apa” kata Lea dengan tawa imut yang menakutkan.
“Sialan kita sudah ketahuan bunuh dia” kata pemimpin pengintai itu.
“Skill Blood Armor : Blood Bots” Lea yang menciptakan armor darah dikakinya berhasil dengan mudah menghindari serangan mereka.
Kecepatan Lea sangatlah cepat yang membuat dia dapat bergerak dalam kecepatan suara dan dalam kecepatan itu dia telah mencabik-cabik hampir semua tim pengintai itu menggunakan pisau yang merupakan hadiah dari Reiga untuknya pisau itu memiliki satu sisi tajam yang mata pisaunya sepanjan 35 cm dan lebar 5 cm pisau itu dinamakan Darah gila ( senjata kelas unik yang dibuat menggunakan kuku dari naga emas yang dibunuh dan digabungkan dengan campuran besi khusus, pisau ini memiliki kekuatan untuk mengendalikan angin dan dapat menopang bobot dari pengguna yang membuat penggunanya semakin cepat dan lebih bebas dalam bergerak ).
“Hihihi..Hahahah, rasanya luar biasa pisau hadiah dari dewa Reiga memang yang terbaik memotong daging manusia sekarang terasa seperti memotong buah” kata Lea yang senang dengan senjata barunya.
Sementara itu satu-satunya orang yang berhasil selamat dari serangan Lea memutuskan untuk kabur dia bukan kabur karena takut tetapi dia tahu tidak akan bisa menang melawan Lea dan memutuskan untuk melaporkan hasil pengintaiannya kepada tiga dewa.
“Cihhh main kabur aja, gak seru” kata Lea yang cemberut.
“Hahaha tenanglah ini memang rencananya membiarkan dia membawa infomasi tentang keberadaanku disini” kata Reiga yang muncul tiba-tiba.
“Hormat pada tuan Reiga” kata Lea yang langsung memberi hormatnya.
“Berdirilah…” kata Reiga.
“Aku mau tanya kenapa tidak dihabisi saja yang itu kan bisa gawat kalau seluruh pasukan mereka kemari” kata Lea.
“Memang itu tujuanku membuat mereka tahu dan membuat pasukan mereka menyerang kemari lalu setelah itu Leon dan Lucy akan menyerang negara Terian yang tidak terjaga setelah satu kuil mereka hancur mereka akan terkena penalty dan melemah sehingga aku dapat dengan mudah membunuh mereka” kata Reiga yang merencanakan semuanya secara matang-matang.
“Lalu bagaimana dengan seluruh pasukan mereka” kata Lea dengan senyum kecil.
“Mereka akan mendapatkan kehormatan karena telah menjadi tumbal untukku” kata Reiga yang mengeluarkan energy hitam pekat.
“Hehehe dengan kata lain bunuh semua dan jangan berikan ampun pada mereka” kata Lea.
Dan untuk pengintai yang berhasil kabur itu dia pergi dengan kecepatan yang cepat menuju negara terian dia kembali untuk melaporkan hasil pengintainnya. Setelah sampai digerbang depan negara itu dia pingsan karena kehilangan banyak darah sewaktu melawan Lea disaat itu Foria langsung dengan cepat menyembuhkannya dan membawanya kehadapan dua dewa yang lain.
“Hoi kenapa dengan dia itu kelihatannya hampir mati aja” kata Guila.
“Yah dia memang hampir mati” kata Foria.
“Lebih baik kita tunggu sampai dia sadar baru kita tanyakan apa yang terjadi padanya” kata Justin.
“Eeeh gak bisa sekarang aja, Foria gak bisa kau buat dia bangun sekarang” kata Guila.
“Gak, aku cuman bisa menyembuhkan luka luar dan dalam kalau urusan mental itu bukan bidangku” kata Foria.
“Haaah yaudah kita tunggu aja dia bangun” kata Guila.
Dan tidak lama kemudian satu-satunya yang selamat dari grup pengintai itu sadar dan kemudian dia melihat ketiga dewa ada didepannya.
“Hormat saya kepada Dewa Justin, Dewi Foria dan Dewa Guila” kata pengintai itu.
“Angkat kepalamu, sekarang katakana padaku apa yang sebenarnya terjadi” kata Justin yang menuntut sebuah penjelasan.
“Kejadian yang sebenarnya adalah kami 12 pengintai telah berhasil menemukan jejak dari Dewa Reiga di kerajaan Matahari hitam disana kami menemukan bahwa hampir seluruh penduduk disana adalah ghoul, ketika kami memutukan untuk kembali kami ketahuan oleh seorang pejuang dari ras ghoul disana kami semua tidak bisa mengalahkannya dan yang lainnya mengorbankan diri mereka agar aku bisa kembali untuk memberiahu ketiga dewa masalah ini” kata pengintai itu.
“Cih rupanya dia telah berhasil menaklukan negara tetangga ya” kata Guila yang kesal.
“Ya itu cukup mengejutkan tapi ada satu hal dalam laporanmu, kau tidak kabur darinya tapi dibiarkan kabur oleh Reiga” kata Justin.
“Eeeeh apa maksud tuan ??” kata pengintai yang bingung itu.
Sementara itu Reiga yang berada dikuilnya sedang mendengarkan percakapan pengintai itu dengan ketiga dewa menggunakan darah yang dia lapisi dipisau Lea yang membuat dia bisa tahu apa yang pengintai itu katakana dan mendengar apa yang pengintai itu dengar.
“Sialan insting dewa keadilan itu bagus juga kalau begitu, meledaklah” kata Reiga yang suda ketahuan.
Pengintai itu tubuhnya tiba-tiba mengenhitam dan mengeluarkan cahaya merah.
“Arrrggghhh, tolong aku dewa TOLONG” pengintai itu menjerit kesakitan meminta pertolongan dari ketiga dewa namun sebelum Foria berhasil menyelamatkannya dia sudah meledak hancur menjadi kepingan daging cincang.
Foria yang sedih meneteskan air mata karena tidak bisa menyelamatkan nyawanya sementara Justin dan Guila yang tidak bergerak setelah tahu dia akan meledak tetap duduk diam seperti biasa.
“Sampai akhir dia tetap menghina kita ya si sialan Reiga itu akan kupotong kepalanya” kata Guila yang marah besar melihat bawahannya mati konyol.
“Tenanglah kalian berdua kalian musti ingat mereka yang telah masuk difisi pengintai telah lama bersiap untuk keadaan apapun bahkan sudah siap mati” kata Justin.
“Tetapi kita tidak bisa diam saja melihat semua ini” kata Foria yang mulai mengeluarkan aura yang kuat.
“Ya aku tahu kita harus segera bersiap untuk peperangan, peperangan besar yang menentukan penguasa dari benua ini” kata Justin.
Akhirnya dimulailah perang antara dewa yang telah memancing mata dari para dewa kelas raja yang tinggal
dialam langit. Perang besar untuk memutuskan masa depan dewa kelas raja yang baru.
Bersambung......
tolong berikan like dan komentar kalian agar penulis semakin semangat dan ceritanya jadi lebih menarik
dan juga berikan votenya kalau kalian menyukai cerita di novel ini Ok....