
Disalah satu benua dewa fraksi hitam ditanah itu adalah tempat yang keras dimana para penghuninya harus berataruhnyawa setiap harinya untuk bisa bertahan hidup, benua itu dihuni oleh lima dewa fraksi gelap dan dua dewa fraksi abu-abu tidak seperti Reiga yang menjaga dan mengatur para warganya. Para dewa fraksi hitam dibenua ini membiarkan para warganya untuk melakukan apapun sehingga banyak yang berbuat kejahatan dimana-mana, seperti alam liar yang mana sikuat akan menang dan silemah akan dimangsa seperti itulah tempat itu.
Dan salah satu penguasa disana adalah Drakula dewa bayangan yang mana telah dibunuh oleh Reiga dan dihancurkan jiwa dewanya, kematian Drakula mengakibatkan perang disana para dewa fraksi gelap itu berperang untuk memperebutkan harta dan wilayah Drakula. Gu sang dewa racun yang merupakan satu-satunya dewa vampire yang tersisa mengambil seluruh pengikut Drakula yang mana tidak memiliki tujuan.
“Drakula sisialan itu akhirnya mati juga, dengan begini wilayah dan seluruh pengikutnya dapat aku ambil” pikir Gu yang melihat wilayah Drakula dari kuilnya.
Kuil dari dewa racun berbentuk kastil besar hitam menyeramkan disana terdapat banyak penjara yang mana menahan banyak orang untuk dijadikan bahan percobaannya, para tahanan itu adalah mereka yang ditangkap dari desa-desa disekitar dan juga ada beberapa budak yang dibeli dari pedangang. Gu adalah dewa yang sangat gila yang mana dia bereskperimen pada manusia hidup dia menyuntikkan racun ditubuh mereka dan menyaksikan rasa sakit yang mereka alami, dan yang paling gila dari dirinya adalah hobinya menuliskan semua penderitaan kelinci percobaannya.
“Hehehe… sekarang racun apa yang akan aku gunakan untuk percobaan selanjutnya” pikir Gu sambil mulai menghilang dan pergi ke tempat dia menyimpan seluruh kelinci percobaannya.
Dan disaat dia akan memilih kelinci percobaan mana yang akan dia gunakan, “BOOMMSSS….” Tiba-tiba muncul sebuah ledakan yang mana membuat seluruh kuilnya bergetar.
“Apa yang sedang terjadi diatas” kata Gu yang langsug terbang keluar.
Ketika dia melihat keluar dia dan para pengikutnya dikejutkan dengan pemandangan ratusan ribu mayat berzirah hitam yang mana bergerak bersamaan menuju kuilnya, “Boom.. Boom.. Boom.. Boom..” dan dibelakang para pasukan mayat itu ada sesosok raksasa besar yang mana ditangan kanannya dia telah memegang sebilah golok belasar yang mana terbuat dari darah, daging dan tulang.
“Tunggu…. Itukan…” kata Gu sambil melihat seseorang yang duduk santai dipundak raksasa itu.
Dipundak kiri raksas Jootun sedang duduk santai Reiga dengan senyumnya yang terlihat manis sambil melambaikan tangannya melihat wajah Gu.
“SIALAN…. KENAPA PULA DIA BISA ADA DISINI…” kata Gu yang ketakutan melihat Reiga.
Disaat Gu sedang ketakutan melihat Reiga para pasukan boneka mayat milik Reiga telah mengepung kastil Gu, dan seluruh pengikutnya yang mencoba melawan “Crraass… Crraass… Krrraaastt…” dibunuh karena kalah jumlah.
“Sial kalau sudah seperti ini aku harus melawannya dengan kekuatan penuhku, skill Blood Poison : Acid Poison Green Smoke” dengan setetes darah hijau yang dijatuhkan Gu dari ujung jarinya dia lalu menciptakan asap tebal.
“Tssss….” Suara meleleh lalu muncul dimana-mana setiap orang yang memasuki kabut hijau Gu akan meleleh karena racun asam yang sangat kuat, pasukan boneka mayat Reiga lalu satu persatu mulai berjatuhan karena meleleh oleh kabut itu.
“Lumayan, Skill : energy yin hitam, regenerasi” dengan aura gelap dari seluruh tubuhnya dia mengumpulkan energy yin hitam ditelapak tangannya dan melemparkannya pada seluruh pasukan boneka mayat miliknya.
Dan dalam hitungan detik para boneka mayat yang tadinya meleleh langsung kembali kembentuk semula, mereka beregenarasi dengan bantuan dari energy gelap Reiga energy itu mengendalikan setiap saraf otot dan darah dari para boneka mayat yang memaksanya untuk kembali seperti semula jika terkena luka sekecil apapun.
“Sialan…. Dia bisa seperti itu juga” kata Gu yang melihat kalau kabut hijau miliknya sudah tidak memberikan dampak serangan pada pasukan mayat Reiga.
Sementara itu ditempat lain tepat diruangan bawah tanah kastil Gu, Lucy yang sudah ada didalam kuil milik Gu menerima misi dari Reiga, yaitu pada saat Gu dan seluruh pengikutnya teralihkan perhatiannya dia dan beberapa pasukan kecil dari kubu Reiga harus membebaskan para tahanan dari ruangan bawah tanah. Hal ini dilakukan Reiga untuk bisa membuat para tahanan itu mengamuk dan membuat sibuk para pengikut Gu dan juga agar Reiga bisa mengambil hati para tawanan itu dan dia bisa dengan mudah membangun kuilnya disini.
“Berpencar…, kita bebaskan mereka semua” kata Lucy yang memerintahkan para bawahannya.
Dengan cepat dan cekatan Lucy membebaskan mereka satu persatu “Crraaanggs….” Dirinya sama sekali tidak membutuhkan kunci untuk membebaskan para tahanan karena hanya dengan sebelah tangannya dia dapat dengan mudah memotong gembok baja penjara itu, dengan kecantikan dan kehebatannya membuat para tahanan terpukau olehnya dirinya bagaikan seorang dewi penyelamat bagi mereka.
Dan lalu pada saat Lucy sedang membebaskan beberapa tawanan terakhir “Wuussshh…” dirinya merasakan sebuah energy memasuki tubuhnya tetapi dia tidak tahu energy apa itu, dia hanya merasa kalau seluruh tubuhnya menjadi ringan.
Dan dalam hitungan beberapa menit dirinya bersama beberapa orang bawahanya sudah membebaskan seluruh tawanan yang ada didalam penjara bawah tanah dari kuil Gu, para tahanan itu lalu berlutut didepan Lucy dan memuja sebagai penyelamat mereka.
“Tidak perlu berlutut sekarang kalian bisa keluar dari jalan yang kami lewati tadi, atau kalian bisa memilih untuk ikut dengan kami untuk menghancurkan tempat ini” kata Lucy.
Mata para tahanan itu menunjukkan ketakutan disaat mereka disuruh untuk meninggalkan Lucy, karena mereka takut kalau mereka akan ditangkap lagi oleh para bawahan Gu dan juga karena percobaan jangka panjang dari Gu membuat tubuh mereka melemah bahkan ada beberapa yang cacat.
“Kalian tidak perlu khawatir kami telah mengamankan jalan keluarnya, aku bersumpah kalau kalian keluar dari sini maka keselamatan kalian akan terjamin” kata Lucy yang melihat wajah mereka yang menyedihkan.
“Terimakasih… terimakasih…. Terimakasih banyak…” kata orang-orang itu, mereka lalu beramai-ramai berlari keluar dari tempat itu.
Sementar itu Lucy dan seluruh anak buahnya lanjut naik keatas lantai berikutnya mereka memasang banyak sekali artefak kelas sihir tingkat atas yang mana adalah sebuah peledak jarak jauh, kekuatan ledakan dari artefak ini sangatlah kuat sehingga bisa menghancurkan sebuah dinding beton yang sangat tebal, Lucy bersama anak buah nya mulai berpencar dan memasang banyak peledak didalam kuil Gu.
“Siapa kalian...??” disaat Lucy sedang memasangkan sebuah peledak dirinya dilihat oleh lima orang vampire kelas ksatria.
“Jari agung, jari ketiga : cakar naga, tarian naga bumi” dengan langkah kaki yang indah dirinya mencabik-cabik para vampire itu.
Namun yang paling mengerikan dari tehnik Lucy kali ini adalah kecepatan dan ketepatannya yang membuat tidak ada suara yang keluar dari setiap serangan miliknya, setiap gerakan sangat teliti yang membuat tidak ada suara yang keluar dan para vampire itu mati tampa tahu apa yang terjadi pada mereka.
“Dasar hama, mengganggu saja” kata Lucy yang lalu langsung pergi memasang beberapa peledak lagi.
Sementara itu Reiga yang sedang duduk santai dibahu raksasa Jootun langsung menerima kabar dari Lucy.
“Bagus… sudah dipasang semua kah….” Kata Reiga, dan dengan gerakan kecil dari tangan kirinya.
“Bomms… Bomms… Bomms…” raksasa Jootun lalu langsung bergerak maju mendekati kuil Gu yang mana berbentuk kastil tersebut.
“Cepat nyalakan formasi pertahanan….” Teriak Gu pada para pengikutnya.
“Ziiinngggs….” Sebuah energy besar yang lalu muncul dan menutupi kastil Gu mulai muncul, pertahanan tersebut berbentuk cahaya kotak yang sangat besar, namun seakan tidak peduli raksasa Jootun kemudian mengangkat tangan kanannya yang sedang memegang golok raksasa. “TRRRAAASSSKKK…..” dengan kekuatan yang sangat besar dia raksasa Jootun menebas pelindung itu namun karena sangat kuat pelindung tersebut sama sekali tidak tergores sedikitpun.
“HAHAHAHAHA….. Bagaimana kau tidak akan bisa menembus formasi pelindungku” kata Gu dengan wajah yang sudah berkeringat.
“Hmmm… kalau satu kali tidak bisa, maka cobalah berkali-kali sampai hancur, aku penasaran butuh berapa tebasa sampai formasi bisa hancur” kata Reiga, dan dengan perintah Reiga raksasa Jootun mengangkat tangannya lagi dan bersiap untuk menebas kembali.
“TRRAAASSSKK….. TRRAAASSKKK….. TRRAAASSKKK….. TRRAAASSKKK….. TRRAAASSKKK…..” dengan serangan yang sangat kuat raksasa Jootun mulai menyerang pelindung itu berkali-kali seperti perintah Reiga.
Bersambung......
Tetap dukung novel ini dengan cara Like, Komen, Vote, dan Giff jika kalian menyukai ceritanya, Ok....