I Am The God Of Ghoul

I Am The God Of Ghoul
Bab 139 Arena yang dipenuhi oleh darah



Pedang digunakan untuk memotong, menusuk, menebas dan melindungi penggunanya, pedang juga dapat menjadi status dan simbol seseorang bangsawan namun sekarang ini yang dilihat oleh Diablo dan para penonton diarena adalah pedang yang digunakan untuk membantai, darah berterbangan kemana-mana mayat mulai berjatuhan satu demi satu. Disaat semua orang melihat hal itu dengan ketakutan dan terkejut cuman satu orang diatas arena yang dengan mudahnya tersenyum membantai semua orang yang ada didalam arena tersebut.


 “Aaaakkkkhhhgg…. Srraass…. Crraassthh….” Para petarung satu demi satu mati diatas pedangnya nyawa mereka dengan mudahnya melayang dengan satu kali tebasan yang dia ciptakan.


 “Hahahah… ada apa, apa cuman ini belum cukup ini belum cukup untuk pemanasanku” kata Reiga yang melihat para staf arena.


 Mereka yang sebelumnya percaya diri kalau Reiga akan mati sekarang ketakutan karena melihat Reiga dengan mudahnya membantai para petarung kuat yang mereka punya.


 “Lepaskan… cepat lepaskan para mahluk mistik, kita tidak bisa membiarkan dirinya keluar dari arena ini hidup-hidup” kata salah seorang staf yang sebelumnya ketakutan terkena ancaman Reiga.


 Para staf yang lainnya kemudian mengikuti perintahnya karena ketakutan melihat Reiga, dan juga kalau mereka melepaskan Reiga setelah dia membunuh banyak petarung maka pimpinan para staf itu pasti akan membunuh mereka semua.


 “Crrraaaagggkkk….. Trrrraaangggkkt…. Krrraaaanggss….” Dari dalam arena muncul sebuah kurungan raksasa yang mengurung seekor mahluk mistik tingkat raja, mahluk mistik ini sudah dapat berbicara bahkan mempelajari sihir dan memiliki skill.


 “Gegegegege…. Akhirnya aku bisa merasakan darah segar lagi, setelah sekian lama Gegegegege……” kata mahluk mistik tersebut dengan tawanya yang aneh.


 “Mahluk itu….. Manticore kah….” Kata Reiga setelah melihat mahluk tersebut dengan seksama.


 Manticore adalah mahluk mistik yang mempunyai kebiasaan memakan manusia dan apa saja yang dapat berbicara ataupun mirib manusia, mereka berbentuk seperti singa besar dengan wajah manusia dimuka mereka dan ekor kalajengking dengan racun yang sangat mematikan, yang paling mengerikan lagi adalah mereka sangat suka menyiksa mangsa mereka sebelum membunuh mangsanya para Mantircore menyukai jeritan para mangsa mereka, bagi mereka jeritan penderitaan akan membuat nafsu makan mahluk ini semakin meningkat.


 “Dulu aku bernasip sial sebelum mencapai tingkatan raja aku tertangkap oleh para pemburu, dan dimasukan kedalam arena ini sebagai pertunjukan sekarang akan kulampiaskan seluruh amarahku pada kalian seluruh musuhku, aku akan makan kalian semua dan menjadi lebih kuat setelah itu kabur dari kota ini” pikir Manticore tersebut yang menatap Reiga seperti menatap sebuah santapan lezat.


 Para penonton yang melihat keluarnya Manticore dari dalam sangkarnya mulai menggila “ROOAAAAHHH…HWWOOOUUUHH…..” mereka mulai bersemangat akan pertarungan yang akan ditunjukan oleh kedua mahluk yang ada didalam arena tersebut, sementara itu Reiga yang melihat Manticore keluar cuman menatapnya dengan tatapan yang dingin namun dia juga sudah menyiapkan kuda-kudanya.


 “Hehehe… bagus-bagus orang itu sudah kelelahan, Manticore pasti akan membunuhnya dengan mudah” kata staf yang melihat diluar arena.


 Sementara itu seseorang petarung yang tadinya pingsan setelah melawan Reiga mulai sadar, tetapi saat dia melihat Manticore muncul diatas arena dirinya kembali pura-pura pingsan.


 “Sialan-sialan para staf kurang ajar itu, beraninya dia melepaskan Manticore disaat aku masih ada diatas arena, apa dia ingin membunuh kami semua” kata petarung tersebut yang menutup matanya dan berpura-pura pingsan.


 Dan ketika Manticore menyadari keberadaan petarung tersebut “Krraattakkrraaakk…. Crraaattssshh…” dia menggunakan ekornya dan menusuk tubuh petarung tersebut.


 “Aaaaaggghhkkk…. Gaaaahhkk” Petarung itu lalu menjerit kesakitan karena racun dari tubuh Manticore yang merangsang rasa sakit didalam tubuhnya.


 “Mahluk ini benar-benar punya hobi yang aneh” pikir Reiga melihat perilaku Manticore yang menusuk petarung tersebut dengan ekor beracun dirinya.


 Kemudian setelah menusuk petarung tersebut sampai mati Manticore melempar petarung tersebut keudara dan “Booommssh…” Manticore tersebut melompat dan melahap petarung tersebut “Crrraasstthh…. Crraauugghhtt….”.


 “Slluuppss…. Gegegege tubuh seorang petarung yang terlatih memang sangat lezat…” kata Manticore yang melahap tubuh petarung tersebut bulat-bulat.


 Melihat kalau Manticore tersebut sedang lengah Reiga lalu dengan cepat bergerak kebelakang tubuh Manticore tersebut, “Srraaasshhtt….” dan dengan cepat Reiga menyerang Manticore tersebut dengan pedangnya namun dengan cepat Manticore tersebut melompat menghindari tebasan Reiga.


 “Grrr….. sialan…” kata Manticore tersebut yang marah karena walaupun dia sudah menghindari serangan tebasan Reiga namun ekornya tetap putus terkena tebasan aura pedang dari serangan kedua.


 “Hehehe…. Dia hebat saat Manticore itu menghindari serangan tebasan pertama dengan lompatan, Reiga menggunakan energy pedannya untuk membuat serangan kedua dengan serangan jarak jauh sehingga Manticore itu tidak bisa menghindari serangan Reiga dari udara” pikir Zero yang melihat dari tempat duduk penonton.


 “Hmmm…. Hei kau melupakan sesuatu….,” kata Reiga “Krraaggtthh….” Sambil menginjak ekor Manticore tersebut.


 “Brraaahhtt…. Krrraaaatthh…” Manticore tersebut menyerang Reiga dengan buasnya namun Reiga dengan cepat dapat menghindari semua serangan tersebut, kedua mahluk diatas arena tersebut bergerak dengan sangat cepat yang membuat para penonton takjub melihat keduanya.


 “Trrraanggsss…. Krraaanggsssstt…” setiap serangan cakaran dan gigitan dari Manticore dapat dibalas Reiga dengan serangan tebasan pedangnya, sehingga membuat Manticore tersebut kesulitan menyerang Reiga.


 “Ada apa haaah…. Apa kau hanya bisa menghindar dan bertahan” kata Manticore yang berusaha memancing Reiga.


 “Hmmm… pedang kematian, teknik pertama : salju dimusim semi” Reiga lalu menyerang dengan serangan pedangnya yang membuat sebuat energy pedang berwarna merah kehitaman, energy tebasan itu kemudian berubah menjadi butiran-butirang merah kecil yang menyerang Manicore.


 “Grrrrr..., skill Best Roar…. RROOOOAAARR….” Namun serangan dari Reiga dapat dihancurkan Manticore menggunakan skillnya dan bukan cuman itu saja Maonticore langsung menyerang Reiga yang telah selesai menyerang karena Reiga terlihat menunjukkan sebuah celah.


 “BOOOMMSSHHTT…” tampa menunggu lama Maonticore langsung menerjang Reiga menggunakan mulutnya, seranganya menghancurkan sebagian besar penggung arena dan menciptakan tabir asap.


 “Hmmm…. Mana dia, aku yakin tadi sudah menerkamnya menggunakan taringku??” kata Manticore yang kebingungan.


 “Salju dimusim semi, tebasan penipu” Reiga lalu secara tiba-tiba muncul didekatnya “Crrrrraaasssttt…..” dan dengan cepatnya menebas leher Manticore “Trrraaakkk… Krraattaak…” kepala Manticore lalu putus dan jaruh keluar dari arena.


 Dengan santai Reiga lalu memegang kepala dari mahluk mistik yang menjadi mimpi buruk seluruh petarung dalam arena tersebut, dia mengangkat tinggi-tinggi kepalanya dan hal tersebut membuat para penonton histeris karena takjub melihat pertarungan Reiga yang sangat luar biasa “UUWWOOOOAAAHH…. YEEAAAAAHH….”.


 Sementara itu disisi lain para staff arena yang ketakutan melihat kalau Manticore telah terbunuh, menggigil ketakutan diruangan mereka karena dua hal satu mereka takut kalau Reiga akan membalas mereka dan membunuh mereka kedua mereka takut pada bos mereka dia adalah orang yang menangkap Manticore hidup-hidup dan sekarang ini bos mereka sedang pergi mengurus sebuah urusan, karena itu arena dititipkan pada mereka. Dan mereka mengingat sikap kejam dari bos mereka maka bukan hanya mereka saja yang terkena imbas seluruh keluarga mereka bisa-bisa ikut dibunuh bersama mereka.


 “Bgaimana sekarang…. Hewan peliharan bos sudah mati” kata salah seorang staff yang ada disana.


 “T.. tenang aku yakin kita bisa menyelesaikan ini, kita tinggal bilang saja kalau orang itulah yang membunuh Manticorenya, dan semua akan selesai” kata staff yang tadi dipermalukan Reiga.


 “Buuugghhtt….” Seorang petarung yang ada disana lalu memukul staf tersebut menggunakan tinjunya.


 “Kau- kau apa yang kau lakukan, kau mau dijatuhi hukuman arena” kata staff tersebut.


“Memangnya kenapa aku jijik melihat perilaku kalian semua, asal kalian tahu saja bos arena ini adalah guruku dan dia secara diam-diam mengutusku untuk menyelidiki kalian, tinggal masalah waktu saja kalian akan mati ditangannya” kata petarung itu yang memandang hina para staff arena yang selama ini berbuat semena-mena dibelakang bos mereka.


 “Haaaah… akhirnya sudah selesai, kurusa aku bisa pergi sekarang” pikir Reiga yang menuju pintu keluar dari arena, dan dipintu keluar tersebut terlihat Diablo sedang menunggu dirinya.


 “Kau… namamu Reiga bukan…” kata Diablo.


 “Ya… ada apa, kau mau tanding ulang??” tanya Reiga.


 “Tidak aku cuman punya permintaan, tolong-tolong” kata Diablo dengan wajah sedikit ragu.


 “Hmmm… apa tolong apa…??” tanya Reiga.


 “Tolong jadikan aku muridmu…” kata Diablo yang kata-katanya membuat Riega terkejut.


Bersambung.........