
Pada malam itu Invidia telah mengumpulkan ribuan orang dari berbagai macam ras yang mana semuanya adalah petarung tingkat dewa dari berbagai tingkatan, dia menggunakan kemampuanya untuk menangkap mereka semua hidup-hidup dan juga melemahkannya agar mereka semua tidak bisa melawan pada dirinya.
“Kekekekeke…… bagus-bagus sekali mereka semua terlihat sangat lezat” kata Guila.
“Hmmm…. Aku senang kau suka dengan para tumbal yang aku kumpulkan, jadi seharusnya ini sudah cukup bukan” tanya Invidia.
Mereka semua terkumpul dalam sebuah lubang besar didalam gua yang mana terpasang formasi untuk membuat
mereka tidak bisa keluar, namun mereka dibiarkan sadar agar Guila dapat menikmati bumbu spesial dari rasa takut mereka semua pada saat mereka dimakan hidup-hidup.
“Kekekekekek….. cukup-cukup sekali, namun ini hanya cukup untuk membunuh Reiga, kalau kau ingin aku membunuh Lujuria juga maka kau harus persiapkan tumbal dua kali lipat dari yang ada sekarang” kata Guila yang mulai memeras Invidia.
“Hahahaha…. kalau cuman dua kali lipat dari ini itu mudah, tetapi aku akan berikan saat kau telah membunuhnya, kalau misalnya kau kabur maka perjanjian kita akan dibatalkan” kata Invidia.
“Haaah… baiklah aku mengerti sebelum itu aku akan makan hidangan pembukan dulu sebelum memangsa hidangan utamanya” kata Guila.
“Selamat menikmati makananmu, aku akan tunggu diluar” kata Invidia.
“Kekekeke…. Hahahahhahahahaha…..” Guila lalu menggunakan skill transformasi miliknya, dia lalu berubah menjadi seekor raksasa dengan kepala domba bertanduk enam dia juga memiliki mulut yang lebar dan tiga buah lidah.
“L… La… lari…, selamatkan diri kalian…, dia salah satu dewa iblis pemegang dosa…, cepat pergi dari sini….” Kata orang-orang tersebut yang berusaha melarikan diri dari Guila.
“Kreekreeekreeekree….KaliaN TidaK aKan BisA lAri, TemPat ini SuDah diberIkan PengHalanG SatU-sAtunyA yang bisa KalIan LakUkaN adAlAh masuK kEdalaM PerUtku” kata Guila suaranya seperti ratusan mahluk buas yang kelaparan, “Trrraaanggss….” Dia lalu mengeluarkan artefak miliknya sebuah pisau raksasa ditangan kirinya, dan sebuah garpu raksasa ditangan kanannya.
“UAAAAHHH….KRRAAASSSTT… GRRRAAUUGGTT…. KRRRAAAUUUSSSTT…” suaran tulang yang hancur dan daging yang dikoyak-koyak mulai terdengar dari luar gua tersebut, jeritan-jeritan mulai bermunculan dari dalam dan dalam hitangan detik semuanya menjadi sunyi meninggalkan sebuah suara dimana seekor mahluk buas yang sedang memakan mangsanya.
Dilain tempat Reiga yang mana secara tiba-tiba membatalkan kutukan pada diri Lujuria memutuskan untuk membuat keduanya menginap ditempat tinggalnya.
“Uwaaah…. Tempat ini benar-benar sangat nyaman, akhirnya aku bisa bersantai akhir-akhir ini aku kelelahan karena perang yang cukup panjang” kata Codicia.
“Baguslah kalau kau suka dengan pelayanan ditempatku, sekarang aku mau bertanya lagi denganmu tentang tawaran itu” kata Reiga.
“Hmmm… oh maksudmu tentang Arogan yang mana mengundangmu kekastilnya, bisa saja katanya kau bisa
kau bisa menemuinya kapanpun” kata Codicia.
“Begitukah.., kelihatannya aku harus bersiap dulu” kata Reiga yang mana telah memikirkan sebuah rencana.
Sementara itu Lujuria yang risau sedang berada dihalaman luar yang mana dia berdiri disana sendirian memandang bunga, wajahnya seperti seseorang yang kebingungan tentang apa yang harus dia lakukan.
“Aku akan pergi sebentar, dan ketika aku kembali aku harap dapat memiliki kerja sama panjang denganmu” kata Reiga.
“Hooo…. Aku menunggu tawaran yang kau berikan” kata Codicia yang menebak apa keinginan dari Reiga.
Ketika Lujuria sedang sendirian Reiga secara tiba-tiba muncul dari belakangnya, dan dengan cepat Lujuria menyerangnya dengan artefak kipas yang dia miliki “Trrraanggss…” namun tidak seperti dulu Reiga dapat menahan serangan dari artefak milik Lujuria.
“Diam-diam berada dibelakang seorang gadis itu tidak sopan kau tahu” kata Lujuria yang melihat wajah Reiga dengan wajah sedih.
“Itu kalau untuk gadis biasa, sementar kau aku ragu berapa banyak yang bisa selamat dari seranganmu tadi” kata Reiga yang mencoba menggoda Lujuria.
“Kau berisik….” Kata Lujuria, dia mengalirkan sejumlah besar energy kedalam artefak miliknya dan dari setiap ujung kipas tersebut muncul lima bilah pedang energy berwarna ungu gelap.
“Hooo… menarik” kata Reiga yang mana dengan cepat menyembuhkan luka-luka sayatan ditubuhnya.
“Kau masih saja banyak bicara, kalau kau kesini cuman untuk menggangguku lebih baik mati saja sana, skill : Poison Blade” sebuah aura kuat yang berbahaya mulai keluar dari kelima bilah pedang energy tersebut, “Srrrrraaaass…..” dan kali ini Lujuria memperkuat serangannya yang mana energy serangannya berubah menjadi sepuluh serangan pedang.
“Kalau begitu bagaimana dengan ini, pedang kematian, tehnik pertama : salju dimusim semi, tebasan tampa emosi” Reiga lalu memperkuat seluruh energy yang diapunya dengan mengalirkan pada pedangnya, sejumlah besar energy lalu dipadatkan didalam sebuah bilah pedang yang tajam dan dihempaskan dengan sebuah gerakan tebasan biasa yang.
Kemudian saat kedua serangan tersebut saling beradu “TTTTRAAAANGGSS…” serangan milik Lujuria hancur total dan meninggalkan energy tembasan Reiga yang mengarah langsung kearahnya, dan disaat dia ingin berlindung dengan kipasnya energy pedang tersebut melewati sebelahnya dan sama sekali tidak mengenainya.
“Apa…??” kata Lujuria yang heran karena melihat serangan Reiga yang meleset.
Dan disaat dia melihat kearah depannya Reiga sudah ada didepannya dan dengan tehnik pedang tusukannya “Trraaanggss….” Reiga dengan mudahnya menyerang kipas milik Lujuria dan membuatnya kipas tersebut terlepas dan terlempar dari tangan Lujuria. Melihat Reiga yang ada didepannya dan dirinya yang tidak bersenjata Lujuria terduduk dan hanya bisa pasrah.
“Ada apa, kau sudah menang sekarang ayo bunuh aku” kata Lujuria.
“Aku tidak mau…” kata Reiga.
“Haaah… apa maksudmu itu, asal kau tahu saja aku telah diperintahkan oleh Arogan untuk menghabisimu saat kau menolak tawarannya, aku telah berhianat padamu sekarang kau bilang kau mau mengampuniku” kata Lujuria.
“Yah… lalu kenapa kalau kau disuruh seperti itu, memangnya kau bisa membunuhku” kata Reiga yang lalu menyarungkan pedannya dan pergi dari sana.
“Tunggu sebentar, lalu untuk apa semua itu jangan seenaknya sendiri aku sudah kalah sekarang nyawaku sudah jadi milikmu, cepat kemari dan habisi aku” kata Lujuria yang mana sambil mengeluarkan air mata.
“Yah… kau sudah kalah dan aku tidak menginginkan nyawamu” kata Reiga.
“Dasar kau ini seenaknya saja, kenapa-kenapa pula kau mau mengampuniku aku sama sekali tidak butuh rasa kasihanmu” kata Lujuria.
“Hahahaha…. karena aku adalah dewa aku melakukan apapun yang aku mau dan jika ada sesuatu yang menghalangiku maka akan aku hancurkan itu saja” kata Reiga.
“Ha… hahaha…. Apa-apaan itu, karena dia adalah dewa makanya dia bisa seenaknyakah, jadi begitu yah kalau begitu maka kau mau berbuat seenakmu maka aku juga akan berbuat sesukan hatiku” kata Lujuria yang menyiapkan sebuah rencana pada Reiga.
Reiga yang pergi langsung terbang kembali kekamarnya dia memutuskan untuk tertidur menyimpan lebih banyak energy, karena dia tidak tahu seberapa kuat dewa iblis kesombongan Arogan tersebut. Esok paginya energy Reiga sudah terkumpul dengan cepat dan semua luka-luka dalam yang diapunya sudah sembuh, namun perasaan tidak enak mulai muncul pada Reiga, dia merasakan ada energy iblis didalam tubuhnya yang mana itu bukanlah dari phoenix iblis miliknya.
“Hmm… ini aneh energy iblis berwarna ungu apa ini” kata Reiga.
Dan pada saat dia melihat disamping kasurnya dia melihat sesuatu yang tidak biasa.
“Hmmm…. Hoaaammm…. Hmm… kau sudah bangun” Lujuria yang sedang setengah telanjang tertidur tepat disebelahnya.
“………., kau…. sedang apa kau disini???????” tanya Reiga yang kebingungan.
“Heheheh… kan aku sudah bilang kalau nyawaku telah menjadi milikmu, dan dengan kata lain aku telah menjadi milikmu baik tubuh dan jiwaku” kata Lujuria.
“Eeeeh…. Maaf tapi bisa gak aku nolaknya” kata Reiga yang masih kebingungan, wajahnya kelihatan tenang namun jantungnya berdetak dengan kencang karena panik melihat diri Lujuria yang sekarang ini menarik hatinya.
“Hmmm. Gak mau kan kau sendiri yang bilang kalau dewa itu seenaknya dan melakukan apapun yang diamau, dan sekarang aku menurti perkataanmu aku tidak akan mematuhi Arogan lagi dan memutuskan akan mengambil hatimu” kata Lujuria sambil memegang tangan Reiga.
“Sialan… dia menggunakan kata-kata milikku untuk melawanku” pikir Reiga.
Bersambung................