
Dia lebih tinggi dari pegunungan dengan delapan kepala yang melunjang tinggi, banyak nyawa jatuh hanya karena berada didekatnya, bumi bergetar dihadapannya hutan akan hancur jika dia berjalan dan bencana akan datang jika dia marah. Oroci sang ular kepala delapan yang membawa bencana disetiap kepalanya, sekarang ini Reiga berada didepannya berhadapan dengan ular setinggi 50 meter membuat dirinya semakin tertarik untuk bertarung, darahnya bergejolak dan adrenalinnya semakin memuncak.
“Hmm…. Kelihatannya kau benar Reiga” kata Tiana.
“Yah ada 3 dari delapan kepalanya tidak aktif” kata Reiga yang mana melihat kalau 3 kepala Oroci matanya masih tertutup dan tertunduk seakan-akan tertidur.
“Kalau begitu aku serahkan bagian serangan darat pada kalian, aku akan membakar ular ini dari atas langit” kata Tiana, dia langsung berubah kebentuk phoenixnya dia bertransformasi menjadi burung api raksasa yang mana memiliki api berwarna merah keemasan dan dengan seluruh tubuhnya yang hampir tidak kelihatan karena tertutup penuh oleh api miliknya.
“Bagus Diana bantu aku, kau tetap serang dia dari samping namun jangan sampai menarik perhatiannya terlalu banyak” kata Reiga.
“Baik guru” kata Diana yang langsung dengan cepat pergi kearah samping Oroci, gerakan kakinya unik dan cepat membuat dirinya sampai meninggalkan bayangannya sendiri dibelakang.
“Susano aku yakin tidak perlu mengatakan ini, tetapi karena kekuatan saat ini telah dikunci kau bisa pergi melindungi dirimu sendirikan” kata Reiga.
“Hahaha…. Jangan khawatir aku sudah ratusan tahun bersembunyi, untuk menyembunyikan wujudku dari ular besar seperti ini itu masalah yang sangat mudah, kau pergi saja dan nikmati pertarunganmu” kata Susano.
“Baiklah jaga dirimu” kata Reiga yang mana dengan cepat langsung mengarahkan serangan pedangnya kedepan salah satu kepala Oroci.
“Srrraaaassnnggg….” Serangan pedang Reiga beerhasil menggores tubuh Oroci namun dengan cepat juga luka goresan tersebut sembuh dengan sendirinya, “Kkksssaaahhh…..” Oroci yang marah langsung membuka mulutnya dan dari dalam mulutnya keluarlah sebuah bola api besar yang mana terdapat aura racun didalam apinya. “Boooosssmm….” Dengan ganasnya dia menembakkan bola api beracun tersebut kearah Reiga, namun Reiga
berhasil menghindari serangan tersebut dengan cara melayang dengan cepat menggunakan sayap phoenix iblis miliknya.
“Hmm…. Sayap itu, tidak salah lagi itu adalah sayap seseorang dari kla phoenix, tetapi bagaimana bisa aku tidak pernah mendengar ada seorang phoenix laki-laki” pikir Oroci yang mana terkejut melihat sayap Reiga.
“Buurrrnn….. Boooommmsshh….” Namun disaat Oroci sedang lengah Tiana dengan kekuatan semburan apinya melukai kelima kepala Oroci, apinya sangat kuat “Ksaaaaahh….. Grrrr…..” sampai-sampai membuat Oroci kesakitan dan marah.
“Oooi… kau sebaiknya janga terlalu banyak menghayal, karena bukan cuman dia yang kau hadapi” kata Tiana yang mana terbang diatas Oroci.
“Nenek tua kalau kau mati duluan akan kukabulkan keinginanmu, mantra kutukan pembeku (^&^#%^%$&)” Oroci lalu membukan salah satu mulut kepalanya, dan dari dalam mulutnya sebuah tombak es tercipta dan yang luar biasanya lagi dia menambahkan kutukan pembeku didalam tombak es tersebut.
“Cih… gawat kalau aku terkena sedikit saja serangan itu maka aku tidak akan bisa bergerak untuk beberapa detik, waktu sebanyak itu cukup untuk memberikan serangan mematikan kearahku” pikir Tiana yang melihat skill Oroci.
“Pedang iblis putih, tarian putih bunga lili” namun pada saat Oroci akan menembakkan tombak es tersebut “Srrraass… Crrraassstt…. Srrraaass…. Krrraasss…”, Diana dengan cepat melancarkan serangan dari tehnik pedangnya dan dengan melapisi pedangnya menggunakan hukum iblis yang diapunya membuat Oroci kehilangan konsentrasi dalam mantranya.
“Krrrraaakk…. Trraaannggss…” tombak es tersebut langsung pecah karena Oroci yang kehilangan fokus miliknya hal itu membuatnya terkena efek balik dari kutukanya sendiri membuat dia tidak bisa bergerak untuk beberapa detik.
“Kerja bagus Diana kesempatan ini tidak boleh dilewatkan, skill Unholy Flame + energy Yin hitam (Perkuat) + Hukum kematian (Lapisi)” Reiga lalu menciptakan sebuah bola api yang mana sangat hitam dan pekat, api tersebut memancarkan aura kematian yang sangat kuat didalamnya.
“Boooossmmmhh….. Buuuurrrnnnn” keduanya lalu melancarkan sebuah serangan diwaktu yang bersamaan, Oroci yang tidak bisa bergerak karena efek balik kutukannya terkena seranga telak yang sangat fatak. “KSSSAAAAHHH….GRRRAAAHH…. ROOOAAAARR….” Dia menjerit kesakitan dan menggeliat-liat bagaikan cacing kepanasan.
“Bagus aku rasa itu pasti akan sangat menyakitkan” kata Reiga dengan senyuman jahat diwajahnya.
Dan disaat api dari mereka berdua telah menghilang, “Tik… tik… tik….” Salah satu kepala Oroci pecah dan membuat dia kehilangan sebagian besar dari kekuatan miliknya, marah karena hal tersebut Oroci langsung menggunakan kepalanya untuk menyerang Reiga “KSaaaaahh….” Dia berencana melahap Reiga bulat-bulat dan melelehkannya didalam perutnya.
“Crrrraaaasstt…..” namun disaat Oroci sudah hampir mencapai Reiga, dengan cepat dan tepar sebuah pedang raksasa terlempar kearahnya dan mengenai salah satu matanya.
“Jangan kira kau bisa menyentuh guruku” kata Diana yang menggunakan skill dan kekuatan hukumnya untuk menyerang Oroci, dengan tingkatannya yang sekarang ini lebih tinggi Diana dapat mengendalikan lebih dari 50 senjata yang mana semua itu adalah artefak level legenda yang lemah, namun begitu dia melapisi semua senjata tersebut menggunakan kekuatan hukumnya semua senjata yang terbang diatasnya langsung memilik serangan yang kuatnya menyamai serangan artefak tingkat penguasa.
“Bagus Diana kau benar-benar membuatku bangga, energy yin hitam (Perkuat tubuh) + Hukum kehidupan (Curi kehidupan), pedang kematian tehnik ketiga : mekarnya mawar darah” Reiga yang melihat kepala Oroci yang mana terserang oleh senjata Diana itu terhenti didepanya, langsung dengan cepat menyerangnya.
Dengan tarian pedangnya dia menciptakan mawar darah kehitaman yang mana mekar didalam tubuh Oroci, sebuah mawar darah besar mekar disaat dia mengayunkan pedangnya membuat Oroci terpesona sampai pada akhirnya dia terlambat menyadari kalau dia telah tertebas. Melihat salah satu kepalanya telah sekarat karena tebasan milik Reiga, dengan cepat Oroci langsung ingin meyerang menggunakan salah satu kepalanya yang lain “Crrrraaaassst….” Namun sebelum kepala itu bisa bergerak Tiana langsung mencengkram kepalanya menggunakan cakar Phoenix yang diapunya.
“Sudah kubilangkan, lawanmu bukan cuman mereka” kata Tiana.
Oroci yang sudah marah lalu menggigit Tiana “Crrraakkss… Crrraakkss…” dua kepala Oroci menggigit perut dan leher Tiana, dia kemudian menyuntikkan racun kedalam tubuh Tiana.
“Kau pikir trik 100 tahun yang lalu dapat bekerja lagi melawanku” kata Tiana, api disekitar tubuhnya lalu membesar dan membakar dua kepala Oroci yang menggitgit dirinya.
“Kssaaaahh…. Sialan rasakan ini” kata Oroci yang melepaskan gigitannya, dia melemparkan bola angin dan es secara bersamaan kearah Tiana “Booomsssshhh…. Krrraasssshh….” Kedua serangan bole element itu lalu beresonansi dan menciptakan serangan yang lebih kuat, api dari tubuh Tiana hampir padam dibuatnya.
Melihat Tiana yang sedang kesulitan Reiga lalu memanggi sesosok boneka mayat raksasa yang mana setinggi 30 meter, boneka mayat tersebut memilik empat lengan dan dengan keempat lengannya dia menahan tubuh Oroci. “Taaaaasskkkk….” Namun belum lama ditahan Oroci menggunakan ekornya menghempaskan boneka mayat raksasa tersebut, tetapi Oroci tidak sadar pada saat boneka mayat raksasa itu menahan dirinya Reiga diam-diam telah naik ketubuh Oroci dan disaat dia sedang lengah.
“Hukum kematian diaktifkan, wujud asli kematian : jubah dewa kematian” Reiga lalu menggunakan wujud asli dari kekuatan hukum kematian yang dia punya, dan sebuah kabut gelap menutupi hampir seluruh tubuhnya membuat jubah yang melindungi sekaligus memberikan ketakutan pada siapapun yang melihatnya.
Pedang Reiga WhiteNigtmare juga beresonansi dengan hukum kematian dan berubah bentuk menjadi sebuah sabit putih raksasa, melihat hal tersebut Oroci langsung panik dia menggoyangkan tubuhnya untuk menjatuhkan Reiga dari tubuhnya, namun dengan sayap phoenix iblis yang Reiga punya dia sama sekali tidak jatuh dan langsung terbang kearah Oroci.
“Sudah berakhir” kata Reiga yang melaju dengan cepat kesalah satu kepala milik Oroci, “Srrrrraaasssttts….” Dan dengan satu tebasan kuat salah satu kepal Oroci langsung terluka parah dan hampir putus. Namun hukum kematian yang masih bersisa didalam serangan tersebut langsung menjalar dari lehernya yang hampir putus dan menuju arah jantung Oroci.
“Sialan dia berencana menyerang jantungku dengan hukum kematian” kata Oroci yang terlihat ketakutan melihat hukum kematian yang mana menjalan dengan cepat menuju jantung miliknya.
Bersambung…..
Berikan dukungan kalian dengan cara Like, Komen, Giff, dan Vote yah, agar novel ini semakin menarik lagi ceritanya, Ok.......