I Am The God Of Ghoul

I Am The God Of Ghoul
Bab 212 Dia yang tidak bisa tertidur bagian 2



Acedin yang diam saja disaat dikepung oleh boneka mayat Reiga mulai menguap akan kebosanan, dia lalu menggunakan ketiga ekornya untuk menghancurkan seluruh boneka mayat milik Reiga “Crrasstt… trraasstt… Crraasstt…” seluruh boneka mayat tersebut hancur satu demi satu dengan mudahnya.


“Kalau seperti ini cara mainmu, maka ini akan sangat membosankan” kata Acedin.


Namun disaat Acedin sedang lengah Reiga tiba-tiba saja sudah berada dibelakang dirinya, dengan pedangnya yang telah dilapisi hukum kebenaran pedang dia menebas pelindung milik Acedin “Crrrrannggss…” pelindung milik Acedin hancur dibuat oleh Reiga. Setelah itu Acedin berusahan untuk melompat mundur menghindari Reiga namun dengan tangan kanannya Reiga dengan cepat mencekik Acedin.


“GAAAAHHH….” Ketika energy hijau kehitaman yang mana dilapisi ditangan kanannya itu langsung membuat Acedin kesakitan karena energy itu mulai merusak tubuh Acedin.


“Sudah kuduga kau bukanlah mahluk hidup, kau arwah gentayangan” kata Reiga yang mana melihat Acedin yang kesakitan.


“SIALAN CEPAT LEPASKAN AKU” kata Acedin yang mana mulai mengeluarkan sihir kutukan miliknya, sihir kutukannya langsung mewujudkan sesosok harimau hitam yang mana menyerang Reiga dengan ganas.


“Kalau kena sedikit saja maka bisa gawat, Skill Unholy Flame” Reiga lalu menggunakan api miliknya untuk membakar harimau tersebut, harimau yang terbuat dari energy terkutuk tersebut disucikan dan hancur menjadi debu.


“Cih… sialan jangan kira cuman itu saja kemampuanku” kata Acedin, dia lalu mengutuk dirinya sendiri dan membuat dirinya bertambah besar, cakar hitam panjang mulai muncul dari tangan kanan dan kiri miliknya setelah itu tubuhnya ditutupi oleh kata-kata kutukan yang mana membentuk sebuah armor untuknya.


“Kau sudah terlalu jauh, terimalah kenyataan dan istirihatlah untuk selamanya” kata Reiga yang memandang Acedin dengan mata khasian.


“Diam-diam….. ROOAAARR…” Acedin yang mana telah mengamuk langsung menerjang Reiga dengan wujud miliknya, dia ju berencana menyerang Reiga dengan cakar-cakar hitam panjang miliknya yang mana terbuat dari energy kutukan.


“Akan kubuat ini cepat selesai agar kau tidak terlalu kesakitan, skill Soul Harvest ( lapisi pedang ), Soul Blade” Reiga yang tidak berpindah dari tempat dia berdiri menyipakan skill yang dia punya.


“Srrraasstt… Crrraasstt…” dan dengan cepat saat Acedin ingin meyerang Reiga lima tebasan yang sangat cepat dilancarkan oleh Reiga sebelum Acedin bisa menebas dirinya, Acedin yang terkena serangan pedang tersebut tidak mendapatkan luka ditubuhnya namun dia tidak bisa bergerak dan tidak bisa melakukan apapun.


“Aku… aku mengingat semuanya sekarang” kata Acedin yang mana mengingat siapa jati dirinya yang sebenarnya.


Disuatu tempat yang gelap dan dingin terdapat beberapa anak dari berbagai macam ras yang mana dikurung oleh seseorang, anak-anak tersebut dikurung karena akan dijadikan sebagai tikus percobaan bagi orang tersebut dan lalu saat orang itu memegang tubuh Acedin yang mana lemah karena hampir tidak mendapatkan makanan. Dia membawa Acedin kesebuah tempat gelap dan menyeramkan, disana terdapat banyak cipratan darah dan bau busuk dari mayat-mayat yang telah mati namun Acedin cuman diam dan menerima nasibnya karena dia sudah tidak bisa apa-apa, didalam ruangan tersebut para peneliti disana sedang meneliti sebuah kristal hitam yang mana merupakan batu tabu mereka lalu menanamkan kristal tersebut kedala tubuh Acedin.


Setelah mereka menanamkan kristal tabu ke kepala Acedin para jiwa-jiwa gila yang mana terkurung didalam kristal tersebut lalu mulai mengamuk, mereka menggunakan tubuh Acedin untuk membacakan mantra kutukan yang sangat kuat dan mantrak kutukan tersebut meledak “BOOOMMSSSHH….” Ledakan dari mantra kutukan tersebut lalu membuat seluruh orang yang ada dikota itu mati secara instan. Baik itu orang, hewan, tumbuhan dan serangga tidak ada yang lewat dari mantra kutukan itu bahkan Acedin sendiripun kehilangan tubuhnya karena mantra tersebut dia lalu menggunakan sisa-sisa mayat yang ada didekatnya sebagai tubuh barunya, setelah beberapa waktu dia menunggu disitu tampa tahu haru melakukan apa dia pada akhirny bertemu dengan Arogan yang berjalan kesana menghampiri Acedin.


“Apa kau yang menghancurkan tempat penelitianku” kata Arogan yang mana merupakan dalang dibalik penderitaan Acedin.


Acedin yang mana tidak bisa mengingat apapun setelah kematiannya cuman bisa menggelengkan kepala karena dia tidak tahu apapun.


“Terserah saja kalau begitu, tetapi kau harus ikut denganku aku tidak bisa membiarkan sesosok senjata hidup seperti dirimu berkeliaran tampa pengawasanku” kata Arogan, dia lalu membawa Acedin kedalam istananya dan mengangkat Acedin sebagai dewa iblis penguasa dosa kemalasan.


“Tidak usah berterimakasih, aku adalah dewa kematian membantu mereka yang telah mati menyebrang kealam lain” kata Reiga yang mana mendapatkan sebagian kecil dari kekuatan jiwa milik Acedin.


“Bagituyah kalau begitu aku ucapkan selamat tinggal dan berhati-hatilah dengan Arogan, dia memiliki kekuatan dari dunia lain dan kekuatan itu dapat merusak hukum alam dunia ini” kata Acedin, tali-tali cahaya yang mengikat tubuh dan jiwanya lalu terputus satu persatu dan jiwanya lalu menghilang pergi kedunia lain sementara itu tubuhnya hancur menjadi abu.


“Selamat tinggal, semoga kau dapat tidur dengan nyenyak sekarang wahai dewa kemalasan Acedin” kata Reiga.


“BOOMMSSHH…” sementara itu Aeria yang mana berhadapan satu alawan satu melawan Ludex Albius sedikit kesulitan karena hukum yang dimiliki Ludex Albius berbeda dari hukum yang lainnya.


“Apa-apaan kekuatan hukumnya itu, padahal cuman hukum petir biasa tetapi bisa mengalahkan kekuatan hukum langit miliku” pikir Aeria yang dipukul mundur oleh Ludex Albius.


“Srrriiissstt…” Reiga yang mana datang dengan cepat memberikan serangan pada tubuh Ludex Albius.


“Membuli seorang gadis seperti itu, kau benar-benar bukan pria jantan” kata Reiga, energy pedang dan hukum pedang kebenaran yang diapunya telah menyatu menjadi satu dan bahkan dapat menebas hukum milik Ludex Albius.


“Hei begini-begini rangkingku itu lebih tinggi darimu” kata Aeria yang mana melihat Reiga dengan tatapan tajam.


“Hahahha… maaf-maaf aku tidak bermaksud seperti itu” kata Reiga yang mana malah membuat Aeria marah pada dirinya.


“Boommsshh…” Ludex Albius yang mana melihat Reiga melukai tubuhnya dengan cepat langsung menyerang kearah Reiga, namun dengan cepat Reiga dapat menghindari serangan tersebut.


“Kalian berdua benar-benar menyebalkan, maju saja sekali dua akan kami habisi kalian” kata Ludex Albius.


“Sedari tadi dia mengatakan kata kami, apa maksudnya itu” pikir Reiga yang mana merasakan perasaan tidak enak saat Ludex Albius mengatakan kata kami.


“Hukum langit + hukum angin diaktifkan, alam awan langit” Aeria lalu mengaptifkan kekuatan hukum yang diapunya dan menciptakan sebuah area yang dipenuhi oleh kabut-kabut putih.


“Buusshhtt…” dengan kecepatan penuh begitu Ludex Albius mengetahui kalau dia berada dalam area milik Aeria, dia langsung mengarahkan seluruh kekuatan serangannya pada Aeria petir miliknya keluar dari kedua artefak miliknya dan mengicar Aeria dengan cepat. “Srrraaasss….” Namun disaat petir tersebut menyentuh tubuh Aeria dia sama sekali tidak terlukan sedikitpun, bahkan dia dengan cepat langsung bergerak kearah Ludex Albius “Trrrraaanggs…” dan mendarat sebuah pukulan kuat namun pukulan tersebut dapat ditahan oleh Ludex Albius tetapi tiba-tiba “Buugg… Buugg… Buugg…” disaat Ludex Albius mengira telah berhasil menahan serangan dari Aeria sebuah pukulan tak terlihat lalu memukul perutnya sebanyak tiga kali.


“Aaaaggkkhh… apa itu, kami tidak melihatnya, dari mana, kita yakin telah menahan serangannya tadi” pikir Ludex Albius yang mana keheranan dengan serangan dari Aeria barusan.


Bersambung….