I Am The God Of Ghoul

I Am The God Of Ghoul
Bab 49 Perang besar perebutan benua bagian 3



Justin dewa keadilan dari fraksi putih dan Reiga dewa tanah hitam dari fraksi hitam, keduanya bertarung saling tebas “Straaangss..” saling serang “Traaangss…” satu sama lain bergantian tanpa henti. Pertarungan mereka berdua membaut para dewa lain yang melihat terpukau dengan gaya pertaruangan mereka yang bebas dan memukau.


 “Tehnik tombak keadilan : serangan keberanian” Justin kemudian mengeluarkan tusukan dengan kekuatan ledakan suara untuk menyerang Reiga.


 “Pedang kematian tehnik kedua : tusukan penghancur” Reiga lalu membalas serangan tusukannya dengan tusukan pedangnya.


 “TRAAAANGSSSS…….” Kedua serangan itu beradu membuat suara nyaring yang sangat deras, para prajurit dibawah mereka yang mendengar suara dari serangan itu merasakan rasa sakit yang luar biasa dikepalanya yang diakibatkan suara nyaring tersebut.


 “Sialan tehnik pedangnya lebih baik dari tehnik tombaku” kata Justin yang tulang tangannya retak setelah beradu serangan dengan Reiga.


 “Kenapa, apa cuman segini saja kekuatanmu benar-benar mengecewakan” kata Reiga yang memancing emosi Justin.


 “Si sialan ini walaupun aku tahu itu cuman pancingan tetapi mulutnya benar-benar tajam” pikir Justin.


 “Tehnik pedang eksekusi : serangan pemenggal, tebasan Horizontal” Guila yang berhasil kembali hidup berkat artefak miliknya dengan mengorbankan 100 orang dari pengikutnya.


 Tehnik pedang dari Guila tidak dapat diprediksi oleh Reiga “Sraaaaaasssst..” sehingga mampu menebas perutnya dan membuat Reiga terpotong jadi dua.


 “Rasakan itu..” kata Guila yang senang berahasil melancarkan seragannya kearah Reiga.


 “Skill Corpse Eater” Reiga menggunakan skillnya untuk mengorbankan 10 dari koleksi boneka mayatnya lalu dengan skill itu dia berhasil menyambungkan kembali tubuh atas dan bawahnya yang terpotong.


Urat daging merah dari tubuh atas dan bawahnya kemudian keluar lalu saling menyambungkan satu sama lain dan memaksa untuk menyatu secara instan baik itu saraf, daging, kulit, ataupun tulang terhubung kembali dengan isntans semuanya pulih seperti tidak terjadi apa-apa.


 “Yoo.., lumayan juga kau” kata Reiga.


 “Haah aku tahu kau tidak akan mati cuman dengan itu saja” kata Guila yang terkejut dengan penyembuhan super Reiga.


 “Oooh ayolah kau juga samakan, walaupun milikmu itu lebih buruk dari pada punyaku” kata Reiga.


 Guila yang merasa kesal langsung kembali menyerang Reiga dari depan tetapi karena pedangnya lambat Reiga dengan mudah menghindari serangan itu dan disaat Reiga menghindar Justin hadir kembali menyerang Reiga. Keduanya saling menyerang Reiga satu sama lain melihat Reiga yang serang oleh dua orang dewa Grizz dan dewa tombak ikut maju membantu Reiga mereka bekerjasama menghadang dewa tombak.


 “Tehnik tombak ular” dewa tombak kembali menyerang menggunkan tehnik tombanya yang membuat tombak nya bergerak melengkung tidak pasti seperti ular.


 “Tehnik tombak keadilan : wilayah cahaya” tetapi Justin yang telah melihat tehnik itu dengan mudah mampu menangkisnya.


 Dengan serangan area yang besar dia mampu membuat menepis serangan dari dewa tombak. Dan ketika dewa tombak gagal Grizz datang dari belakang dewa tombak dengan tinjunya meyerang Justin dengan sekuat tenaga. Serangan Grizz berdampak jelas pada Justin karena tehnik area miliknya kalah kuat dengan serangan focus dari tinju Grizz dan juga tulang tangannya yang tadi retak karena Reiga masih belum sembuh.


 “Tehnik tombak keadilan : serangan keberanian” Justin yang mengganti tehniknya kali ini dengan serangan focus kuat pada satu titik berharap bisa mengalahkan Grizz dengan serangan ini.


 “Sraaaaas” tetapi tangan kanan milik Justin terpotong oleh dewi pembunuh yang keberadaannya telah dia lupakan.


 “Skill Silent Night Death, kau akan mati jika melupakan keberadaanku” kata dewi pembunuh yang sangat tenang memotong tangan kanan milik Justin.


Grizz yang tidak menyia-nyiakan kesempatan langsung dengan kuat menyerang Justin, walaupun serangan milik Grizz dapat dihadangnya menggunakan satu tangan namun dampak dari energy alam yang tidak ditahan dengan sekuat tenaga menyebabkan beberapa kerusakan organ pada tubuh Justin yang membaut dia kehilangan kekuatannya untuk sementara dan jatuh dari langit.


 Guila yang melihat Justin terjatuh kehilangan focus terhadap Reiga dan dia berakhir terkena serangan telak.


 “Pedang kematian tehnik ketiga : mekarnya mawar darah” tarian pedang yang dibuat oleh Reiga membuatnya melukiskan sebuah mawar ditubuh Guila yang kemudian lukisan itu berubah merah karena darah yang dia miliki.


 “Sialan kenapa artefakku tidak bisa diaktifkan..” kata Guila yang mencoba pulih menggunakan artefaknya.


 “Hmmm coba tebak kenapa” kata Reiga dengan senyum dingin.


 Sebelumnya ketika Guila dan Foria terkena serangan telak oleh dewa pembunuh Guila yang sementar itu menggunakan artefaknya untuk bisa tetap hidup sementara Foria kembali kekuilnya untuk memulihkan dirinya dia percaya kalau dengan dua rekannya dapat memenangkan perang tersebut. Tetapi begitu dia sampai di kuilnya didalam mimpi dia merasakan kalau para pengikutnya mati satu persatu dan memohon pertolongan lantas dia pada akhirnya menggunakan artefak yang dia miliki kristal kekuatan ( terbuat dari lima macam kristal dengan energy murni yang ditempa selama satu setengah tahun, tergantung pada pemakaiannya kristal ini bisa digunakan untuk menyimpan energy yang dapat digunakan dalam berbagai cara dan untuk Foria sendiri dia sering menggunakan kristalnya untuk membantu dirinya dalam memulihkan orang-orang untuk menari lebih banya umat dan sekaran dia menggunakan kristalnya untuk mempercepat pemulihan tubuh fananya ).


 Ketika dia keluar dari kuillnya dia telah melihat banyak ghoul yang menyerang ibukota, para ghoul itu berfokus untuk menyerang kuil ketiga dewa mereka membunuh seluruh pengikut mereka dan tidak menyentuh inti dewa tersebut agar ketiga dewa tidak menyadari apa yang terjadi didalam kuilnya.


 “Apa-apaan ini, para ghoul itu bagaimana mungkin mereka bisa menembus pertahanan negara” pikir Foria.


Lalu dia pada akhirnya melihat seluruh perajurit dan para warga biasa tergeletak lemas seperti tidak memiliki tenaga seakan ada sesuatu yang menguras kekuatan mereka.


 “Apa ini, energy ini tidak salah lagi, Reiga” kata Foria yang menyadari kesamaan dalam energy yang ada didalam tubuh para warga.


 Foria melihat para pengikutnya terbantai marah dan langsung menghampiri para perajurit ghoul Reiga.


 “Kalian mahluk kotor beraninya menyentuh para umatku, skill Tear of despair : sepuluh tetes air mata” Foria lalu memanggil 10 tetes air mata yang terbentuk dari penderitaan para pengikutnya dan sepuluh jarum putih tersebut.


 Kesepuluh jarum itu lalu menyerang para ghoul satu persatu. Menyadari kalau bawahannya telah tewas beberapa Lucy lalu langsung pergi kearah Foria dia maju dengan cepat.


 “Nona Lucy kau mau kemana” kata Leon yang berada didalam rombongan pasukan Lucy.


 “Ada yang harus kulakukan, kalian pergi saja duluan” kata Lucy.


 Tujuan dari kelompok Leon adalah tidak lain untuk mengambil alih wilayah pemerintahan yang dimana disana telah menunggu pembalasan dendamnya terhadap ayahnya. Sementara itu Lucy yang cepat menuju arah Foria dia melihat kalau bawahannya telah dibunuh satu persatu jantung mereka telah tertembus oleh jarum air mata penderitaan milik Foria.


 “Skill Blood Range + skill tato pendosa + skill tinju pemusnah” Lucy yang marah lansung melompat dan melancarkan serangan tinju langsung kearah Foria.


 Foria yang bisa merasakan aura haus darah Lucy langsung menggunakan kesepuluh jarumnya menyatu dan membentuk sebuah perisai untuk menghalangi pukulan Lucy.


 “Mahluk barbar kau pikir bisa menyentuhku” kata Foria yang memandang rendah Lucy.


 Tetapi Lucy yang telah termakan amarah mendapatkan kekuatan lebih dari kombinasi skill Blood Range dengan tato pendosa. Walaupun tangannya telah rusak dan beberapa tulang tangannya retak tetapi dia tidak peduli dan dengan semangat dan amarahnya pelindung jarum itu kemudian pecah “Braaaask..” lalu satu pukulan telah berhasil Lucy lancarkan kearah wajah seorang dewi tingkat menengah yang menjadi sebuah momok baginya karena telah dipukul oleh seorang yang bahkan tidak berada dikelas dewa.


 “Kau mahluk kotor sialan akan cincang dan kubakar kau hidup-hidup” kata Foria yang marah.


 “Hahahaha…, maaf melihat wajah seorang dewi yang memar itu rupanya lucu juga” kata Lucy yang menghina Foria.


 “Skill skill Tear of despair : seratus tetes air mata” Foria lalu mengeluarkan seratus air mata penderitaan yang mana bukan membuat bentuk jarum tetapi sebuah  pedang air putih jernih yang sedikit transparan.


Bersambung..........


tolong berikan like dan komentarnya agar penulis semakin semangat dan ceritanya semakin menarik


dan juga berkan vote kalian untuk mendukung novel ini kalau kalian menyukai cerita yang ada dinovel ini OK..........