I Am The God Of Ghoul

I Am The God Of Ghoul
Bab 253 Reiga



Bau darah merah yang keluar dari sang pembunuh mulai muncul tetapi sang raja pelahap darah yang mana telah menjebaknya tidak menunjukkan ekspresi senang sama sekali, karena dia tidak bisa menghabisi sang pembunuh yang berhasil melukai tubuhnya itu.


“Kau hebat juga” kata raja pelahap darah sambil melihat kondisi Raiya, tangan kanannya terpotong dan diserap masuk kedalam tubuh raja pelahap darah tersebut.


“Haah-haah… Haah-haah…, tadi itu hampir saja” kata Raiya, dia memotong tangannya sendiri menggunakan cakar besi miliknya dan dengan cara itulah dirinya dapat berhasil lepas dari serangan raja pelahap darah yang ingin menghabisi dirinya.


“Hahahahahah… kalian para dewa-dewi lemah memang sangat sulit untuk dikalahkan, aku penasaran walaupun kalian ini lemah tetapi bagaimana bisa kalian sangat sulit untuk dibunuh” kata raja pelahap darah.


Dia mengangkat tangannya dan menggunakan tanganyan dia mengalirkan energy hukum darah monster kearea sekitarnya, “Boommsshh… Boommsshh…” dan tiba-tiba saja langit jadi gelap lalu petir bermunculan dunia seakan-akan sedang mencoba untuk mengusir raja pelahap darah yang mengeluarkan kekuatan hukum miliknya. Dengan menyebarnya kekuatan hukum miliknya para dewa/dewi dan para pengikut mereka menjadi melemah seakan-akan kekuatan mereka ditarik secara paksa keluar dari tubuhmereka, sementara para pelahap darah yang mana masi tersisa berubah menjadi lebih kuat lagi dan berevolusi dari mereka yang memiliki ketinggian 5 meter berubah menjadi sesosok raksasa dengan ketinggian lebih dari 10 meter.


Para raksasa pelahap darah tersebut lalu berkumpul dibelakang raja mereka, dan beramai-ramai berlutut dihadapan dirinya.


“Tidak perlu berlutut rekan-rekanku, sekarang adalah waktunya kita untuk bersenang-senang, mari makan dan kembali kepencipta kita” kata raja pelahap darah dengan senyum lebar diwajahnya, senyum miliknya membuat orang-orang yang mendengar ucapannya langsung menggigil ketakutan karena aura miliknya sangat menakutkan.


“LARI, Kita semua akan mati” kata orang-orang biasa yang merupakan pengikut para dewa, mereka berlarian karena terintimidasi oleh aura dari raja pelahap darah.


“Krriieeekk… Krriieeekk… Krriieeekk…” para pelahap darah yang mana melihat banyak prajurit pengikut para dewa yang kabur langsung mulai bersemangat, mereka melihat ketakutan dari wajah prajurit tersebut dan merasa senang karena buruan mereka terlihat putus asa dan itu membuat mereka menjadi semakin lezat dimata para pelahap darah tersebut.


“Krrassstt… Crrraassst…. Gaaaahhh….” Teriakan-teriakan dan suara pembantaian mulai memenuhi pantai disana, para pelahap darah yang mana telah bersemangat langsung dengan kejam membantai para prajurit tersebut dan bagi mereka yang mati akan menjadi santapan bagi para pelahap darah itu.


“Buuurrnnnn…..” namun diantara para prajurit tersebut ada beberapa dari mereka yang mana bukanlah manusia dan masih mencoba untuk melawan para pelahap darah itu “Trrraannggss…. Krrraannggss….” Bahkan diantara mereka ada ras naga merah yang memiliki keunggulan dalam serangan api mereka.


Dengan api miliknya dia berusaha untuk memimpin sebuah kelompok kecil pasukan untuk menghadapi para pelahap darah tersebut, namun semua usahanya sia-sia karena jumlah dan kekuata mereka terlalu jauh berbeda. Walaupun dirinya terus menyerang para pelahap darah tetapi mereka terus berdatangan bagaikan gerombolan semut yang berjumlah jutaan, para pelahap darah yang mana telah melahap daging mangsanya langsung dengan cepat membelah diri dan menambah jumlahnya.


Melihat hal itu naga merah itu langsung terdiam dan tidak melawan lagi karen dia telah merasakan keputusasaan, dan ketika ada pelahap darah didepannya dihanya dia dan menunggu untuk dihabisi lalu tiba-tiba “Booommss… Booommss… Booommss…” lima buah bola api muncul dari belakang dirinya dan membakar para pelahap darah yang ada disekitarnya.


“Jangan menyerah wahai kau prajurit ras naga” kata raja naga merah yang datang kearahnya dengan penuh luka.


“Rajaku…” kata naga merah tersebut, dia melihat rajanya yang penuh luka dengan mata kagum.


“Ingatlah kau adalah naga merah, naga terkuat dari setiap klan naga yang ada dialam ini jangan lupakan kebanggaan kita sebagai yang terkuat dan bertarunglah dengan memegang kebanggaan itu” kata raja naga merah.


“Aku mengerti rajaku mohon maafkan kebodohanku tadi, ketika perang ini telah selesai hamba siap untuk menerima hukuman hamba” kata naga merah tersebut, dirinya langsung bertransformasi menjadi sesosok naga merah cerah dengan empat tanduk dikepalanya.


Naga merah itu lalu membalut tubuhnya dengan api merah semerah darah “Buurrnn…” dan dengan api tersebut naga merah itu lalu terbang ketengah kerumunan para mahluk pelahap darah tersebut, “BOOMMSSHH…” dan dengan gagah berani dirinya meledakan tubuhnya dan membakar ribuan pelahap darah yang ada disana. Sementara itu naga merah yang meledak tadi berdiri ditengah ribuan pelahap darah yang terbakar tersebut, dengan luka-luka ditubuhnya naga merah itu tetap berusaha untuk bertarung dengan segenap tenaganya.


“Kalau begitu kami ingin iku denganmu” kata Lucy, dirinya datang dengan luka-luka parah namun dia berusaha bergerak dengan cara ditopang oleh Nabila.


“Hei otak otot apa kau yakin ingin bertarung dengan kondisimu yang seperti itu, kalau kau mau kau bisa beristirahat dan tinggalkan sisanya padaku akan aku selesaikan dengan mudah” kata Nabila.


“Hahahaha… bocah kecil aku tidak mengerti apa maksudmu itu, dibandingkan dengan perang yang aku lalui ini semua bukanlah apa-apa” kata Lucy, dengan kekuatannya dia berusaha untuk berdiri sendiri tampa bantuan dari Nabila.


“Hahahha… aku sangat beruntung dapat ditemani oleh dua gadis cantik, setelah perang ini usai apa mau kalian berdua menemaniku makan malam nanti” kata raja pelahap darah yang mana telah bersiap untuk bertarung sampai mati.


Dan ditengah kepungan para pelahap darah tersebut raja pelahap darah yang mana merasakan kalau dirinya adalah yang terkuat dialam bawah langsung merasa merinding, dia merasakan sebuah hawa dingin dibelakang lehernya sebuah hawa yang mana seperti akan membunuhnya.


“Hahaha… maaf tetapi aku rasa itu sama sekali tidak mungkin, karena merak berdua adalah milikku” kata sesosok pria tampan yang terbang dengan sayap hitam kebiruan terbang dibelakang Lucy dan Nabila.


Melihat sosok tersebut para dewa dari fraksi Reiga merasakan sebuah perasaan tersentuh kerena mereka bisa melihat dirinya, sang dewa yang mana naik kealam atas dan menjadi dewa kematian ada dihadapan mereka, sementara itu Nabila dan Lucy yang mana memiliki perasaan pada Reiga tampa sadar mengeluarkan air mata mereka. Selama puluhan tahun dialam bawah mereka berusaha terus menerus demi menjaga tempat yang mana adalah wilayah milik Reiga semua itu demi suatu saat nanti mereka dapat bertemu kembali dengan pria yang mereka cintai.


“Taaakkk…” melihat kedua gadi itu menangi dihadapannya Reiga lalu mengelus kepala mereka dan menggunakan hukum kehidupan miliknya Reiga menyembuhkan setiap luka-luka yang ada ditubuh mereka berdua, Lucy dan Nabila lalu dikejutkan dengan kekuatan aura hukum milik Reiga yang mana mengobati setiap luak ditubuh mereka.


“Kerja bagus sekarang serahkan semuanya padaku” kata Reiga sambil berjalan kedepan jutaan mahluk pelahap darah yang mana telah mengincar dirinya sebagai mangsa.


Para pelahap darah itu merasakan sedikit aura hukum saat Reiga menyembuhkan Lucy dan Nabila tetapi setelahnya mereka sama sekalli tidak dapat merasakan kekuatan milik Reiga, seakan-akan aura miliknya lenyap tampa sisa sehingga membuat para pelahap darah kebingung.


“Apa yang kalian tunggu cepat bunuh dan lahap dia” kata raja pelahap darah, dia juga sama dengan para pelahap darah yang lainnya, dia sama sekali tidak bisa merasakan kekuatan milik Reiga namun dia tahu kalau laki-laki yang ada dihadapannnya itu adalah sesosok yang tidak boleh diremehkan.


“Kalian mahluk rendahan beraninya menginjakkan kaki diwilayahku, bayarlah dosa kalian dengan hidup kalian yang rendah itu, pedang kematian, tehnik kedua : salju dimusim semi, tebasan pembunuh emosi” dengan sebuah tebasan yang mana mengandung kekuatan aura pedang membuat semua mahluk yang menjadi incarannya langsung melihat sebuah dunia tampa warna dunia itu terasa hambar dan lalu para pelahap darah itu kemudian kehilangan penglihatan mereka, setelah itu mereka semua kehilangan pendengaran lalu semua pelahap darah itu kehilangan indra perasa mereka sampai pada akhirnya jutaan pelahap darah tersebut mati dalam kesunyian.


“A… Aapa…???? Apa yang terjadi ???” kata raja pelahap darah yang mana dengan wajah terkejut melihat jutaan bawahannya mati dalam satu kali tebasan.


Reiga yang melihat wajah panik dari raja pelahap darah hanya tersenyum sambil melihat kearahnya, dan untuk pertama kalinya sang raja dari pelahap darah ingin melarikan diri dari seseorang yang ada dihadapannya.


Bersambung……


Berikan dukungan kalian dengan cara Like, Komen, Giff, dan Vote yah, agar novel ini tetap lanjut dan ceritanya semakin menarik lagi, Ok......