
Pedang adalah sebuah senjata taktis yang mana dapat dipakai dalam keadaan apapun dan juga dimanapun, hal itulah yang membuat banyaknya yang meminati pedang sebagai senjata dan membuat pendekar pedang banyak diseluruh dunia. Pendekar pedang pada akhirnya menciptakan banyak tehnik dan jurus dari pedang yang mereka gunakan, ada tehnik yang bahkan membelah gunung, ada tusukan yang dapat menusuk dasar samudra, dan bahkan ada tehnik pedang yang dapat membunuh ribuan orang dalam sekali tebasan.
Dan kumpulan semua tehnik pedang yang ada didunia Erras ini semuanya telah dipelajari oleh Damaskus ketika dia mencapai puncak kedewaannya, sistem memasukan seluruh pengetahuan berpedang dari alam bawah kedalam pikiran Damaskus ketika dia mencapai kedewaannya dan dari semua tehnik yang ada diseluruh alam bawah itulah terlahir 5 tehnik pedang penguasa dunia yang mana terdiri tebasan dan tusukan cepat yang mana mengandung energy melimpah dalam setiap gerakannya.
“Dari setiap tehnik pedangnya dia dapat menghilangkan keberadaannya, menghentikan waktu, mengahancurkan pertahanan dan yang keempat dia membuat sebuah tusukan yang dapat menghancurkan setiap serangan, serangan terakhir tehnik kelima pasti adalah serangan cukup kuat sampai dia harus mengorbankan nyawa miliknya” pikir Reiga yang mana sedikit ketakutan melihat tehnik Adamas.
Lalu Reiga dengan cepat menyuruh The corpe-devouring sword miliknya untuk menyerang Damaskus, “Wuussshh… swwunggss… swwunggss… swwunggss… swwunggss…” ribuang pedang hitam yang terbentuk dari darah, daging dan tulang itu lalu berterbangan dengan cepat mengincar Damaskus yang mana sedang mempersiapkan kuda-kudanya.
Dan disaat seluruh pedang-pedang itu akan menusuk Damaskus secara bersamaan, “Wwuusssh…” dia tiba-tiba menghilang seperti hantu tubuhnya menembus pedang-pedang itu dan menghilang bagaikan asap.
“Dimana-dimana dia” kata Reiga sambil berusaha mencari Damaskus.
“BUUUSSSHHH…..” kemudian Damaskus muncul dibelakang Reiga yang mana tubuhnya sudah diselimuti oleh energy yang melimpah, tubuhnya bercahaya dengan energy asing dari pedang itu yang mana menyelimuti seluruh tubuhya.
“Tehnik pedang penguasa dunia, tehnik kelima” kata Damaskus sambil memadatkan seluruh energy yang ada kedalam pedangnya.
“Ini gawat jika terkena tehniknya maka aku bisa mati….., Raiya aku butuh bantuanmu sekarang” kata Reiga yang mana menghubungi Raiya.
“Tebas dan tusuk, taklukan dan hancurkan dunia” Damaskus lalu melakukan tehnik gila yang mana dirinya secara hampir bersamaan menebas dan menusuk ratusan kali dalam tempo 0,0001 detik sangat cepat.
Dan hasil dari pergerakan pedangnya tersebut mampu membuat poros dari pelanet tersebut hampir berhenti berputar dan menyebabkan ganguan energy kuat dimana-mana dialam bawah, menyebabkan berbagai bencana alam muncul dibanyak tempat bahkan sistem yang memperhatikan dunia dari atas berusaha dengan keras untuk melindungi dunia bawah tujuh benua diala bawah. Sementara itu Reiga yang terkena dampak dari energy itu dari dekat langsung hancur berkeping-keping dan Hill yang juga ada disana juga ikut mati karena energy kehancuran dari serangan pedang Damaskus.
“Twweeehhhhh….. Booommmmssshh….” Seluruh warga bahkan kota Avalon hancur oleh serangan itu terkecuali mereka yang ada diluar formasi darah ilahi dan mereka yang ada didalam colesseum, dalam sekejap kota Avalon berubah menjadi gurun tandush.
“Haaah… haaah… haaah… haaah…, aku berhasil… dengan serangan tadi aku yakin dia pasti akan mati…. Setelah ini aku akan mengambil pecahan pedang miliknya dan beritirahat sebentar sebelum pergi kealam atas” kata Damaskus yang mana hampir mati kehabisan energy didalam tubuhnya.
Lalu dengan sisa-sisa kekuatannya dia membuat pecahan pedang yang dimiliki Reiga melayang dan ketika dia hampir berhasil mendapatkan pecahan pedang itu, “Crraaassttt…” secara mengejutkan pecahan pedang itu terbang liar dan menembus jantung Damaskus.
“AAAAaagghhkk…. Ap.. apa yang…” lalu pada saat Damaskus sedang kesakitan mencoba menutupi lukannya dia melihat kalau pecahan pedang yang terbang itu bercahaya hijau kehitaman.
“Hahahahaha…. apa kau pikir kau bisa dengan mudah mengalahkanku” sebuah suara lalu muncul pecahan pedang yang terbang tersebut.
“Suara itu…. Reiga… tidak mungkin… aku yakin tubuhmu sudah hancur terkena tehnik pedang miliku” kata Damaskus yang sedang sekarat.
“Haaah…. Haaah…. Tapi kenapa kau masih bisa hidup??” tanya Damaskus yang mana sudah hampir mencapai batasnya.
“Terimakasih pada Drakula yang mana telah menyerahkan artefak permata darah phoenix miliknya padaku” kata Reiga.
Sebelumnya Drakula yang telah dibunuh oleh dewa pedang hitam dapat bangkit kembali dengan bantuan dari artefak tersebut didalam tubuhnya ( Bab 111 ), artefak itu bernama permata darah phoenix yang mana merupakan setetes dari darah leluhur dewa binatang mistik yang mana bernama phoenix. Seekor burung dengan bulu merah yang mana dapat mengendalikan api dan juga terlahir dengan skill untuk bisa terlahir kembali ketika dia mati, pada saat phoenix meninggal dunia pada saat itulah tubuhnya akan melahirkan dua atau lebih telur yang mana akan melahirkan phoenix kecil, dan dkiatakan kalau salah seekor phoenix itu menjadi dewa dan memimpin seluruh klannya dan karena keberadaan mereka sangat kuat mereka dipindahkan secara paksa oleh sistem kealam atas tempat dimana mereka dapat terbang dengan bebas.
Dan ratusan tahun yang lalu pada saat para vampire bawahan Drakula sedang menyerang sebuah desa mereka membakar dan menghisap darah seluruh penduduk desa untuk bersenang-senang dan lalu pada saat salah seorang Drakula membunuh seorang wanita didesa itu dia melihat kalau wanita itu menggunakan sebuah kalung permata berwarna merah yang sangat aneh, kalung tersebut memiliki aura sangat menakutkan lalu vampire itu mengambil kalungnya dan menyerahkan kalung itu pada dewanya Drakula.
Drakula yang melihat kalung tersebut langsung senang dan memberikan vampire itu beberapa tetes darahnya, dan lalu Drakula menelan permata merah itu dan menyimpannya didalam perutnya. Permata darah phoenix adalah sebuah artefak tipe sihir yang mana tingkatannya tidak diketahui, dengan permata itu maka pengguna dapat bangkit dari kematian selama jiwanya masih utuh namun permata itu hanya dapat digunakan ketika ada sumber energy yang berlimpah untuk mengaptifkannya.
“Secara kebetulan saat aku memutuskan koneksi Drakula pada formasi darah ilahi miliknya maka dia tidak bisa mengaptifkan artefak ini, dan aku juga beruntung dapat menemukan permata ini dalam tubuhnya yang hancur pada saat kehilangan jiwanya lalu aku menggunakan sisa-sisa energy yang ada pada formasi ini untuk mengaptifkan artefak permata ini” kata Reiga.
Lalu dengan gerakan tangannya pecahan-pecahan The corpe-devouring sword milik Reiga yang mana telah terpotong kecil-kecil menjadi butira debu lalu mulai terbang dan mendekati Reiga, dan pada saat Damaskus melihat hal itu dia mulai putus asaa pada saat dia melihat tubuh The corpe-devouring sword menyatu dan berubah menjadi tubuh milik Reiga lagi.
“Tidak mungkin….” Kata Damaskus yang melihat tubuh Reiga kembali seperti semula.
“Hmm… ooh ini kau lupa aku adalah dewa jiwa hitam…. Tubuh hanyalah pakaianku… dan jiwa adalah wujudku yang sebenarnya…. Sementara para boneka mayatku mereka adalah jari-jemariku yang terbentuk dari darah dan dagingku jadi wajar saja kalau aku menyuruh mereka untuk kembali padaku kan..” kata Reiga dengan senyum diwajahnya.
“Dasar sialan…” kata Damaskus yang berusaha ingin bangkit namun tubuhnya mulai menghilang perlahan-lahan.
“Hei sebelum kau menghilang aku ingin bertanya…., bagaimana rasanya semua usahamu selama puluhan tahun hilang begitu saja…., Hahahaha…. setelah kau menghilang aku akan dengan senang hati menerima pedangmu dan seluruh artefak daan hartamu kau juga jangan khawatir salah satu pengikutku Azazel sudah menemukan inti kuilmu dan akan menghancurkan untukmu… jadi matilah dengan penyesalan yang sangat mendalam” kata Reiga dengan senyum menyeramkan diwajahnya.
“DASAR SIIAAALAAAN KAU…. REEEIIIGAAAAAA…..” bersama teriakan Damaskus tubuhnya menghilang menjadi butiran cahaya, dirinya menghilang bersama dengan kota dan semua ambisi miliknya.
Bersama menghilangnya Damaskus disaat itulah Reiga mulai menyadari kalau emosi sudah berada diluar kendali dirinya bahkan sampai membuat Damaskus mati dengan penuh dengan keputusasaan.
"Ini mulai berbahaya..., aku harus mencari cara agar bisa mengendalikan emosiku ini" pikir Reiga yang lalu berjala kearah pintu masuk colesseum.
Bersambung.........