I Am The God Of Ghoul

I Am The God Of Ghoul
Bab 51 Perang besar perebutan benua bagian 5



Pengadilan adalah suatu bentuk kegiatan manusia yang dimana untuk memutuskan takdir seorang yang telah dinyatakan bersalah didalam pengadilan dijunjung tinggi kejujuran dalam keadilan dan juga pengadilan akan memutuskan apakah tersangka bersalah akan mendapatkan sebuah pengampunan atau hukuman dari sang hakim yang akan menjadi penentu nasib sang tersangka.


 Sementara itu dimedan perang yang mana Reiga telah mengalahkan Guila menggunakan tehnik pedang ketiganya : lahirnya mawar darah dan juga Justin yang terjatuh ketanah akibat serangan tinju dari Grizz.


 “Kau apa yang kau lakukan, aku tidak bisa mengaptifkan artefakku” kata Guil yang sudah diambang kematiannya.


 “Hahaha baiklah karena kau sangat ingin tahu, akan kuberi tahu artefakmu itu bisa diaktifkan kalau menggunakan tumbal dari pengikutmu bukan jadi bagaimana kalau seluruh pengikutmu itu mati sebelum kau tumbalkan” kata Reiga dengan senyum diwajahnya.


 “Itu tidak mungkin kalau pengikutku mati aku bisa mengetahuinya lewat doa-doa mereka” kata Guila yang kemudian menyadari kalau sedari tadi ada butiran salju hitam yang sedikit transparan bahkan sulit untuk dilihat dengan mata telanjang.


 “Akhirnya kau melihatnya, butiran salju hitam itu adalah energy hitam murni yang sangat muri bahkan hampir sama dengan alam sehingga sangat sulit dilacak namun dengan kekuatan dari para ras satans bawahanku dapat dengan bebas mengendalikannya lalu dengan kekuatan mereka aku membuat penghalang yang membaut kalian semua terisolasi dari luar” kata Reiga.


 “Jadi…. begitu.. sejak awal.. kami semua telah bermain ditelapak tanganmu.. Aggkk.. tetapi kau juga tidak akan selamat dari ini semua…. Agggkkss” kata Guila yang kemudian jatuh dan tubuh fananya menghilang.


 “Apa maksudnya tidak akan selamat, nampaknya mereka masih memiliki suatu senjata rahasia” pikir Reiga.


 Reiga kemudian memikirkan arti perkataan dari Guila lalu dia menyadari kalau Justin masih hidup. Dia kemudian turun kebawah untuk mengakhiri Justin dan sesampainya dia dibawah sana seluruh pengikutnya berlutut menyembah dirinya.


 Dia berjalan perlahan mendekati Justin yang sudah sekarat disana para prajurit dari negeri Terian yang sudah setengah mati ketakutan karena melihat Reiga berdiri tegak menghalangi jalan Reiga mereka dengan berani menghalangi jalan dari seorang dewa.


 “Hoo..lumayan untuk sekelompok prajurit biasa, tapi itu sebuah kesalahan besar” kata Reiga yang memuji keberanian mereka.


 Keberanian mereka telah diakui oleh Reiga tetapi mereka juga akan mendapatkan amarahnya karena telah berani menghalangi jalannya.


 “Energy yin hitam : Dominasi + Kegilaan” Reiga lalu dengan kejamnya memancarkan aura hitam pekat yang menyerang langsung kemental para prajurit itu.


 Prajurit yang menghalangi jalan Reiga itu satu persatu berjatuhan mereka kesakitan dan susah bernafas tekanan yang diberikan oleh Reiga sangat kuat bahkan sampai membuat beberapa orang dari mereka kehilangan pikirannya. Reiga lalu dengan santai berjalan bersamaan dia mendekati Justin para prajurit negeri Terian berjatuhan kesakitan, sesak nafas, menjadi gila, bahkan mati ditempat setalah berjalan selangkah demi selangkah seluruh prajurit negeri terian seluruhnya tumbang dan meninggalkan Justin sendirian yang sudah terluka parah.


 “Hmmm… sehat” kata Reiga yang sedang menghina kondisi dari Justin yang terluka bahkan hampir tidak bisa berdiri.


 Justin yang memegang teguh harga dirinya berusaha untuk bangkit sambil kesakitan dia mencoba berdiri dengan bantuan tombaknya. Setelah menunggu sebentar akhirnya dia bisa berdiri dengan kedua kakinya setelah itu dia mengacungkan tombaknya kearah Reiga.


 “Itu baru bagus, mari kita akhiri ini” kata Reiga yang mengeluarkan pedangnya.


 “Maju….” Kata Justin yang sudah sekarat.


 Justin yang sudah sempoyongan lalu maju perlahan dan.


 “Crooooostt…” dengan cepat Reiga mengakhiri Justin.


 Jantungnya ditusuk dengan cepat dan lembut sehingga hampir membuat Justin tidak merasakan apapun dari serangan Reiga.


 “Tidurlah dewa keadilan,  tidurlah dengan tenang” bisik Reiga pada Justin.


 “Akhirnya sudah selesai, hancurkan kuil mereka bertiga” kata Reiga yang menghubungi pengikutnya yang telah menginfasi negara Terian.


 “Daaaaarsshh….Braaarssh…..Daaarraarrsshh….” ketiga kuil dan inti dari kuil itu satu persatu dihancurkan baik itu kuil utama mereka maupun kuil cabang mereka dihancurkan dan para pengikutnya dibunuh tampa ampun.


 Setelah menghancurkan inti kuil dari ketiga dewa itu para pengikut Reiga lalu menjarah kuilnya setelah itu tampa perasaan bersalah mereka membakar kuil itu untuk menjadikannya contoh kalau ada yang berusaha melawan Reiga akan mendapatkan akibat yang sama.


 Sementara itu demedan perang para prajurit dari kebuh Reiga bersorak-sorak atas kemenangan yang mereka dapatkan dengan kemenangan itu mereka pada akhirnya telah berhasil menjadi bagian dari sejarah penyatuan kerajaan dalam satu benua yang akan menjadi legenda dan dikenang oleh seluruh keturunan mereka.


 Lalu para prajurit dan pengikutnya bersorak senang gembira akan kemenangan mereka Reiga, Grizz, dewa tombak dan dewi pembunuh menghilang menjadi butiran cahaya mereka telah menggunakan banya tenaga dalam perang tersebut sehingga memaksa mereka untuk tidur selama beberapa hari.


 Beberapa hari kemudian negeri Terian lalu dirobak ulang dan kuil dari dewa Justin, Guila dan Foria dihancurkan pengikut mereka yang berusaha melawan dihukum mati ditempat dibawah kepemimpinan Leon yang sekarang menjadi pemimpin negeri tersebut dan Lucy yang menjadi algojonya dia membawa seluruh anggotanya untuk memberantas sisi dari orang-orang yang menentang kepemimpinan Leon. Satu minggu kemudian kuil dewa Reiga dibangun di ibukota yang mana didalamnya ada sebuah batu berbentuk tengkorak hitam besar yang didampingi oleh batu bentuk beruang, tombak, dan pisau yang merupakan lambang dari ketiga dewa bawahan Reiga.


 Sementara itu setelah dua hari dibangun kuilnya Reiga terbangun dari tidurnya.


“Hoaaaam… tidurku kali ini cukup lama juga” kata Reiga yang berada diwujud rohnya.


 Dia kemudian terbangkeluar menembus dinding untuk melihat situasi diluar dan setelah keluar dia melihat ibukota yang hancur akibat perang mulai dibangun.


 “Hoooh kerja Leon cepat juga, dia bisa dengan cepat membangun beberapa bangunan penting” kata Reiga yang melihat beberap bangunan telah selesai dibangun kembali.


 Lalu dia terbang kembali melihat Lucy yang sedang mencoba merekrut para pengemis yang tidak punya tujuan dan arah. Mereka semua dibagikan satu tetes darah Reiga dan dengan darah itu satu persatu ras mereka berubah menjadi ghoul.


 “Ada lebih dari 100 orang bagus dengan ini aku bisa menggantikan para prajuritku yang telah mati dimedan perang” kata Reiga, dan disaat dia sedang senang dengan perkembangan di negara Terian.


 “Ping…ping…ping” sistem tiba-tiba memberikan pemberitahuan kepada Reiga.


 “Dewa tanah hitam Reiga menerima 2.000.000 GP dari pembantaian atas dewa keadilan, dewa hukuman, dan dewi pengampunan” kata sistem dikepala Reiga.


 “Bagus ini namanya jakpot, dengan ini raksasa Jootun bisa kembali ditingkatkan, tapi lebih baik aku membeli ini dulu” kata Reiga yang membuka kitab duni ( Akasic ).


 Reiga lalu membeli sebuah pelindung besar yang mencakup benua dengan harga 500.000 GP. Pelindung itu berbentuk 8 buah pilar raksasa  yang memiliki tinggi 10 meter  dan besar 3 meter sebuah pilar raksasa yang terbuat dari pilar hitam bernama pilar besi kabut hitam ( pilar yang terbuat dari besi hitam memiliki kekuatan untuk menahan kekuata dari 10 orang dewa tingkat tinggi dan memiliki lebar mencakup satu benua, pelindung tersebut membentuk kabut hitam kecil yang sulit terlihat lalu akan menolak para dewa  yang memiliki kinginan jahat dan juga dapat mengekang dewa tingkat tinggi jika berada dalam pelindung ).


Tetapi Reiga tidak sadar dengan membunuh ketiga dewa itu dia telah memancing amarah dari seseorang yang tidak mungkin dia lawan.


Bersambung..........


tolong berikan like dan komennya ya agar penulis semakin rajin dan ceritanya semakin menarik


dan juga vote untuk mendukung novel ini untuk semakin lebih baik lagi Ok...