I Am The God Of Ghoul

I Am The God Of Ghoul
Bab 102 Rencana sang bayangan hitam



Lucy yang berlari menuju arah Nabila dengan kecepatan penuh dikejutkan dengan berjumpanya dia dengna Zordun yang terlihat sedang kesakitan, tubuhnya terlihat tidak apa-apa karena kemampuan regenerasi yang dia miliki namun dia terus memegang kepalanya seakan-akan ada rasa sakit dikepalanya. Lucy yang melihat kesempatan tersebut langsung menyerangnya tampa ragu sedikitpun, dengan kekuatan tinjunya dia menyerang Zordun dengan cepat.


 “Sialan…” kata Zordun yang berhasil melompat menghindari serangan dari Lucy.


 “Booomsshh…” serangan tinju Lucy sangat kuat sehingga menyebabkan sebuah ledakan, Zordun yang mengetahui kalau Lucy adalah saint dari dewa Reiga langsung berusaha kabur darinya karena dia tahu kalau keadaannya sekarang ini sangatlah tidak mungkin untuk melawan Lucy. Dan disaat Zordun melompat keatas pohon kakinya dipegang oleh Lucy dan dengan kuat “Boommmsshh...” Lucy dengan kuatnya membanting tubuhnya.


 “Bangunlah aku tahu kau tidak akan bisa alah kalau cuman seperti itu saja” kata Lucy.


 “Wanita jangan terlalu sombong kau” Zordun lalu menyerang Lucy dengan cakarnya.


 Namun Lucy yang memiliki beladiri lebih tinggi dari Zordun berhasil menepis semua serangan dari Zordun, setiap cakaran yang sangat cepat itu dia tepis dengan mudahnya walaupun serangan Zordun sangatlah cepat tetapi dimata Lucy serangannya sangatlah lemah dan lambat. Para penonton yang menyaksikan keduanya bertarung lalu histeris dibangku mereka “HOOOAAAHH…” selain para penonto para dewa yang menyaksikan pertarungan itu merasa kagum dengan kekuatan dari Lucy, sementara Drakula yang menyaksikan saintnya dipermainkan langsung merasa marah dan dia mengarahkan aura membunuhnya pada Reiga.


 “Hmmm… aura ini, oooh dia” pikir Reiga yang merasakan aura dari Drakula.


 Reiga yang merasakan aura membunuh yang kuat dari Drakula langsung membalasnya dengan sebuah senyum manis, Drakula yang melihat Reiga cuman tersenyum tersebut semakin kesal dan ingin langsung menyerang dirinya. Namun tiba-tiba seorang dewa langsung menghentikan Drakula dia adalah dewa fraksi hitam kelas bawah dewa pedang hitam, dirinya terlihat seperti seorang pria dengan tinggi 165 cm dengan telinga runcing, rambut hitam dan dengan kulitnya yang gelap dilengkapi dengan sebuah parang hitam pekat dipinggangnya dan juga sebuah kacamata gelap yang menutupi matanya.


 “Tenanglah kau jangan lupa tujuan utama kita datang kemari” kata dewa pedang hitam.


 Drakula lalu melihat beberapa dewa yang juga sudah beraliansi dengan dirinya mereka semua terlihat sedang merencanakan sesuatu, sementara itu Reiga yang tadi berusaha memprofokasi Drakula merasa kecewa karena rencananya digagalkan oleh dewa pedang hitam.


 “Cihh…, padahal tinggal sedikit lagi aku bisa punya alasan yang pas untuk menghabisi nyamuk itu disini sekarang juga” pikir Reiga.


 Tetapi karena tindakan dari dewa pedang hitam dia langsung mengetahui kalau bukan cuman dewa fraksi hitam dan abu-abu yang telah berkoalasi dengan Drakula tetapi ada beberapa dewa fraksi putih yang juga ikut ambil bagian dengan rencana mereka, walaupun Reiga tidak tahu apapun rencana Drakula dan para dewa yang lainnya tetapi dia merasa kalau rencana mereka akan sangat menghibur dirinya.


 Sementara itu Lucy yang sedang berhadapan dengan Zordan, sangat tampak jelas kalau Zordan telah dihajar habis-habisan oleh Lucy namun karena kemampuan mantra sihir milik Zordan dia dapat melawan Lucy dengan meledakkan hutan “BOOMSS…”. Dia lalu menggunakan kesempatan tersebut untuk kabur dari Lucy.


 “Sialan apa seluruh gadis yang mengikuti kompetisi ini semuanya monster, mereka semua kuat sekali” kata Zordan yang terluka akibat mantra ledakannya sendiri.


 “Kau mau lari kemana….” Kata Lucy yang langsung dengan cepat mengejar Zordan.


 Lucy pada akhirnya menggunakan skill tato pendosa miliknya dan membuat dia terlindung dari mantra ledakan tersebut, dan dengan kekuatan peningkatan dari skill tato pendosa dia dapat melihat dari tabir asap akibat ledakan tadi dan dengan cepat mengejar Zordan.


 “Jari agung, jari keempat : tombak langit, tombak matahari” Lucy lalu menyerang Zordan menggunakan serangan panas dari tehnik tombak matahari miliknya.


 Dengan serangan tersebut dia dengan cepat menyerang Zordan.


 “Booommsshh….” Walaupun Zordan telah menutupi tubuhnya dengan armor tetapi serangan yang dilancarkan Lucy sangat kuat dan sangat dekat, para penonton yang berada di colosseum tersebut “HOOOAAAHH… WOOOOHH…” mereka semua bersorak untuk kemenangan Lucy. Namun dibalik asap dari serangan tersebut di dalam layar besar ditengah colosseum terlihatlah Lucy yang tangannya sedikit terbakar akibat menahan serangan tombak matahari miliknya sendiri sementara itu Zordan yang terhempas agak jauh karena serangan Lucy telah kehilangan sebagian dari tubuhnya.


 Tubuhnya terbakar dari bahu kanan kebawah sampai kaki kanannya telah lenyap akibat serangan dari tombak matahari milik Lucy, dan jika bukan karena armor darah milik Zordan diapasti sudah mati.


 “Hebat juga kau, untuk seukuran raja nyamuk penghisap darah aku berikan kau sedikit pujian” kata Lucy yang telah memadatkan energy ditubuhnya kedalam dua jarinya dan membentuk pedang energy.


 Dengan pedang energy yang tajam dia lalu perlahan-lahan mendekati Zordun dan lalu pada saat dia sudah dekat dan akan menebas kepala Zordun, “Booommssshh…” Zordun secara tiba-tiba bangun dan mengeluarkan mantra yang mana dari mantra tersebut muncul sebuah asap racun yang menyebar disekitar yang membuat Lucy kehilangan penglihatannya. Asap racun itu sama sekali tidak mempengaruhi Lucy tetapi karena asap itu masuk kematanya membuat penglihatannya jadi sedikit buram, marah dan kesal dengan asap itu Lucy lalu mengganti tehniknya menjadi tehnik pukulan dan lalu dia meninju kearah langit “Boommssh…” dengan sekali tinju asap racun tersebut telah menghilang dari pandangannya.


 “Sepertinya dia sudah kabur yah, pengucut…” kata Lucy yang sedikit marah melihat kalau Zordun sudah tidak ada ditempat.


 Zordun menggunakan mantra untuk menciptakan sebuah asap racun dan ditengah asap beracun tersebut dirinya langsung memasuki dimensi bayangan dan langsung lari menjauh dari Lucy dengan cepat.


 “Uhhukk… uhhuuuk… sialan kedua perempuan itu sudah membuatku malu, tunggu saja nanti ketika aku sudah memiliki banyak darah maka aku bisa membunuh mereka dengan formasi darah milikku” kata Zordun yang terus berlari didalam dimensi bayangan.


Dan lalu saat penggunaan dimensi bayangan berakhir dia dipaksa untuk keluar dari dimensi tersebut, dan saat dia keluar dia tetap lanjut berlari ditengah perlariannya dia bertemu dengan mahluk mistik.


 “Pasekali aku membutuhkan darah untuk memulihkan tubuhku” kata Zordun yang akan menyerang mahluk mistik tersebut.


 Namun disaat dia ingin menyerang mahluk mistik itu tiba-tiba saja mahluk mistik itu menghilang dan berubah menjadi asap, disaat dia kebingungan dengan hal itu “Boomssh… boomsshh… boomsshh… boomsshh… boomsshh…” sebuah serangan panah yang sangat kuat menyerang dirinya. Kekuatan dari panah tersebut sangatlah kuat sama seperti sebuah serangan peluru tank, dan lagi Zordun yang sudah terluka parah tidak dapat menghindari seranga tersebut dan alhasil dia mati berubah menjadi abu akibat serangan panah tersebut.


 “Akhirnya aku bisa menjebakmu” kata Rial dengan menggunakan skill blood armor miliknya dia dapat menggabungkan senjata sihir tingkat atasnya dengan tangan kirinya dan dengan hal itu kekuatan dari panahnya meningkat berkali-kali lipat.


 Sebelumnya Rial sudah melihat Zordun dari jauh dia juga telah memperhatikan pertarungan Zordun melawan Nabila lalu Lucy, didalam pertarunga tersebut Rial telah menghapus seluruh hawa keberadaanya yang membuat dia tidak bisa disadari oleh Lucy maupun Nabila. Mengetahui kalau Zordun dapat kabur kedalam dimensi yang berbeda Rial lalu memutuskan untuk menggunakan umpan yang mana dirinya menggunakan kemampuan dari skill kabut ilusi, dan memancing Zordun yang sedang haus darah kedalam perangkapnya lalu menghabisi dirinya.


 “SIALAN…. SIALAN…. SIALAN… REIGA KURANG AJAR KAU, KAU TELAH MERENCANAKAN SEMUA INI BUKAN” teriak Drakula yang melihat saintnya mati ditangan tiga pengikut Reiga.


 Reiga yang mendengar teriakan dari Drakula cuman tersenyum manis sambil memandan rendah Drakul dari jauh, tidak bisa menahan amarahnya Drakul lalu langsung menyerang Reiga ditengah keramaian tersebut. Sementara itu Reiga yang telah menunggu gerakan dari Drakul telah menyiapkan pedangnya, dia telah bersiap untuk memenggal kepala Drakula.


 Dan disaat Drakul akan menyerang Reiga “Srraaassshh…” hal yang tak terduga telah terjadi.


Bersambung......


Berikan dukungan kalian dengan cara Like, Komen, Giff, dan Vote novel ini jika kalian menyukai cerita yang ada didalamnya agar penulis semakin semangat dan ceritanya semakin menarik lagi, Ok.....