I Am The God Of Ghoul

I Am The God Of Ghoul
Bab 189 Bunuh sang ular



Didalam hutan merah tempat tinggal para phoenix disana kehidupan telah menjadi lebih baik, karena batasan ras mereka telah dilepaskan dan membuat mereka dapat berhubungan bebas dengan ras-ras lainnya, itu semua disebabkan oleh saran Reiga yang mengatakan kalau para phoenix berhak untuk hidup bebas dan melakukan apapun yang diamau. Dan pada saat itu Reiga datang bersama dengan beberapa orang bersama dengannya, mereka semua memancarkan aura yang kuat dan membuat para phoenix penasaran dibuatnya.


 “Sudah cukup lamayah Reiga, sedang apa kemari” kata Tiana yang menyambut Reiga bersama para tamunya yang lain.


 “Ibu kami datang berkunjung sekaligu ingin membahas sesuatu” kata Riana yang langsung berjalan mendekati ibunya.


 “Hmmm…. Membahas sesuatu, kalau begitu mari masuk kedalam kediamanku” kata Tiana yang mengundang para tamunya untuk masuk.


 Setelah mereka masuk Susano langsung menunjukkan dirinya pada Tiana, dan dalam sekejap Tiana langsung terkejut karena merasakan hawa keberadaan Oroci dari dalam tubuh Susano.


 “Dari wajahmu kelihatannya kau sudah tahu tujuan kami kemarikan” kata Reiga.


 “Yah… dan bisa kubilang ini adalah suatu yang sangat menyedihkan untuk melihat sesama korban dari ular busuk itu” kata Tiana.


 “Jadi apa kau bisa menyembuhkan racun didalam tubuhku” kata  Susano.


 “Kalau untuk menyembuhkannya itu mustahil” kata Tiana.


 “Hmmm…. Apa maksud dari perkataanmu, apa dia sudah tidak bisa diselamatkan lagi” kata Aeria yang khawatir pada Susano.


 “Bukannya tidak bisa tetapi ada dua cara yang cukup berbahaya” kata Tiana.


 “Bisa katakan cara apa itu” kata Reiga.


 “Yang pertama adalah untuk meminta Oroci sendiri menarik racun miliknya tetapi itu sama sekali tidak mungkin, kebanggaannya terhadap racun miliknya itu sangatlah kuat dia bahkan bersumpah pada dirinya kalau tidak ada yang bisa hidup setelah terkena racun miliknya, dan kedua yah tentu saja membunuh ular itu maka racun dari dalah tubuhnya akan hilang dengan sendirinya” kata Tiana.


 “Haaah…. Apa tidak ada cara lainnya” tanya Susano.


 “Sama sekali tidak ada, racun tersebut bukanlah sebuah racun tetapi sebuah bakteri yang hidup dan menggerogoti tubuh dari mereka yang terkena racun tersebut, terlebih lagi bakteri tersebut akan tetap hidup selama Oroci ataupun inang mereka tetap hidup” kata Tiana.


“Yaah… kalau begitu mau bagaimana lagi, mari kita bersiap waktunya untuk memotong kepala ular” kata Reiga yang mana telah mempersiapkan dirinya untuk menyerang Oroci sang ular pembawa bencana.


 “Hihihihihi…. Kalau kau memang seyakin itu bisa-bisa anakku kehilangan suaminya tahu, jadi berpikirlah dulu baik-baik sebelum kau bertindak” kata Tiana.


 “Tidak juga aku sudah memikirkan hal ini untuk waktu yang cukup lama, karena setelah aku naik kealamatas ini salah satu keluarganya adalah mahluk pertama yang telah aku bunuh dan sekarang kemungkinan besar dia juga telah menargetkanku” kata Reiga.


 “Tetapi bagaimana cara mengalahkannya, dulu sekali 8 orang dewa raja terkuat berusaha untuk membunuhnya tetapi mereka kalah dan mati ditempat” kata Susano.


 “Yah itu adalah pada saat kekuatannya berada dalam puncaknya namun sekarang ini aku sama sekali tidak yakin dia telah pulih setelah 8 kepalanya dipotong saat itu” kata Reiga.


 “Mungkin belum sepenuhnya pulih tetapi ratusan tahun aku rasa sudah cukup untuk dirinya memulihkan beberapa kepala ular miliknya” kata Tiana.


 “Hihihihi…. aku tahu itu kalau kau benar-benar sangat licik, aku memang bisa melawan dirinya namun aku tidak yakin bisa menang walaupun aku bertarung bersama dengan kalian semua” kata Tiana.


 “Hahahaha…. jangan bercanda aku sangat yakin kalau kekuatan yang kau punya sekarang ini lebih kuat dari ratusan tahun yang lalu” kata Reiga yang mana mengingatkan pada Tiana tentang warisan yang dia dapatkan.


“Hihihihi…. masalahnya bukan cuman Oroci saja, tetapi para kepala mahluk mistik yang lainnya, dari beberapa informasi yang aku dapatkan ada delapan dari mereka yang telah mencapai tingkatan mahluk mistik tingkat dewa, dan mereka semua adalah anak-anaknya Oroci” kata Tiana.


 “Kalau itu jangan kau cemaskan mereka dapat aku urus, dengan bantuan yang lainnya lagi pula para mahluk mistik tersebut tidak memiliki kekuatan yang sama tingkatannya dengan Oroci” kata Reiga.


 “Baiklah kalau begitu, aku juga akan menyiapkan para bawahan terpercayaku agar bersiap juga” kata Tiana.


 Dan besoknya mereka langsung pergi Reiga, Susano, Aeria, Riana, Diana, Tiana, Zero, dan kelima orang dari ras phoenix yang kekuatannya hampir mencapai tingkat dewa. Sedangka sisa dari dewa yang lainnya tetapi tinggal untuk menjaga tempat mereka, Reiga khawatir akan ada sebuah serangan dari salah satu dewa iblis tersebut yang mana disaat dia tidak ada disana.


 Setelah perjalanan panjang selama satu minggu penuh tampa berhenti pada akhirnya mereka sampai dihutan mahluk mistik, sebuah tempat yang merupakan surga bagi para mahluk mistik pemangsa orang. Sebagian besar mahluk mistik yang berada dalam hutan tersebut adalah bawahan milik Oroci yang mana membuat semuanya semaki sulit.


 “Tampaknya akan sulit untuk bisa menyerang Oroci secara diam-diam” kata Tiana.


 “Diam-diam… hahahaha…. untuk apa perlu diam-diam selama kau bisa menyerang mereka dengan gaya, apa kau siap Reiga” kata Zero.


 “Mulai aba-abanya kawanku” kata Reiga.


 “Baiklah mari kita mulai pesta pembantaiannya” kata Zero yang mana mengeluarkan bendera hitam putih miliknya, dan dengan bendera tersebut dia memanggil semua mahluk mistik percobaannya yang mana para mahluk mistik tersebut memiliki wujud yang aneh-aneh dan bentuk berbeda-beda.


 “Otoritas tanah hitam diaktifkan, memanggil boneka mayat : parade 1.000 mahluk mati” Reiga juga memanggil para pasukan boneka mayat miliknya yang terdiri dari petarung tingkat dewa raja dan mahluk mistik tingkat raja dan saint.


 “Kalian berdua gila” kata Susano yang mana melihat tindakan Reiga dan Zero.


 “Jangan terlalu pikirkan kau akan terbiasa lama kelamaan” kata Riana yang mana sudah terlihat terbiasa dengan kelakuan suaminya yang diluar nalar tersebut.


 Ratusan pasukan pasukan Reiga dan Zero lalu menyerang hutan mahluk mistik dan hal tersebut memancing amarah para mahluk mistik yang tinggal disana, dan terjadilah perang disana. “Booossmmhh…. Krrraaasstt…. Crrraaassstt…. Trrraaasstt….” Mereka saling serang satu sama lainnya namun nampak jelas terlihat kalau pasukan dari Zero dan Reiga kalah melawan para mahluk mistik yang buas dan ganas. Namun beberapa menit kemudian disaat banyak mayat yang berjatuhan disaat itulah kekuatan Reiga mulai beraksi, mayat-mayat mahluk mistik tersebut mulai bangkit kembali dan menyerang kawan-kawan mereka hal tersebut membuat keadaan berbalik karena jumlah dari pasukan Reiga mulai bertambah pesat.


 “Hmmm…. Menarik dalam peperangan jangka panjang yang mana akan banyak manyat terkumpul disana, sungguh kekuatan yang sangat mengerikan aku bersyukur kita bukanlah musuh” kata Susano.


 “Hahahahaha…. tidak usah memuji seperti itu, kita berdua tahu kalau kita ini sesama dewa yang memiliki kekuatan mengerikan” kata Reiga.


 “Krrraaakk…. Booommssshhh…..” dan tiba-tiba saja sebuah ledakan mulai muncul yang mana memporak-porandakan seluruh pasukan milik Reiga dan Zero, dan dari balik ledakan tersebut muncullah seorang pria dengan wajah seram yang mana ditubuhnya ditutupi sisik ular yang menutupi dirinya bagaikan sebuah armor. Dia terlihat seperti manusia ular yang mana memiliki sisik merah, rambut merah, dan mata yang merah terang seperti darah.


 “Sssshhkkk…. Berisik sekali kalian ini, ayahku Oroci telah mengutusku untuk membungkam mulut kalian” kata pria tersebut yang mana merupakan salah satu dari 8 anak Oroci, dia adalah Urah sang ular api mahluk mistik tingkat sains yang mana dapat dengan bebas mengendalikan api dan juga telah mempelajari hukum api.


 Bersambung………..