I Am The God Of Ghoul

I Am The God Of Ghoul
Bab 48 Perang besar perebutan benua bagian 2



Negara suatu negara dapat dipenduk dengan adanya banyak orang yang berkumpul dalam suatu wilayah yang dimana mereka semua memiliki tujuan untuk hidup disana. Pemimpin suatau negara adalah seorang yang dipilih berdasarkan keputusan baik itu dari rakyat atau para petinggi negara itu dan tujuan dari pemimpin negara adalah untuk membuat negaranya berkembang dan maju. Jika pemimpin suatu negara tidak dapat membuat negerinya berkembang baik itu dari infrasruktur maupun tehknologi maka negara tersebut akan terancam ditaklukan oleh negara yang lebih maju namun serakah.


 Sekarang disinilah dua kubuh dewa yang akan memutuskan perkembangan seperti apa yang akan terjadi didalam benua ini pemenangnya akan menjadi yang memutuskan benua ini menjadi seperti apa.


 “Apa-apaan itu raksasa, tidak itu lebih besar dari klan raksasa yang kutahu” pikir Guila yang terkejut melihat raksasa Jootun.


 “Raksasa Jootun bunuh mereka” kata Reiga yang memerintahkan raksasa Jootun untuk bergerak.


 Pihak dewa Reiga langsung pergi dari sana mundur kebelakang raksasa Jootun sementara itu para tiga dewa menyadari kalau dia melihat raksasa Jootun mulai bergerak tangannya mulai mencoba meraih ke tiga dewa itu. Walaupun tubuhnya besar tetapi dia bergerak sangat cepat dalam sekejap kaki Foria tertangkap oleh raksasa Jootun.


 “FORIA…” Guila dengan cepat mencoba membantunya, dia mencoba menebas tangan raksasa Jootun.


 Walaupun Guila sudah mencoba untuk menebasnya beberapa kali tetapi regenerasi dari raksasa Jootun sangatlah cepat dan kulitnya sangat keras luka sayatan yang diahasilkan dapat sembuh dengan cepat dalam hitungan beberapa detik.


 “Sialan tidak bisa kutebas” kata Guila.


 “Sraaaaas…” lalu dengan cepat cahaya tombak Justin denga cepat memotong kaki Foria yang tertangkap oleh raksasa Jootun.


 “Wau keputusan yang benar-benar berani” kata Reiga yang melihat tindakan Justin.


“Akhhgg…” Foria yang kakinya dipotong berusaha menahan rasa sakitnya.


 “Maaf tapi cuman itu yang dapat aku lakukan” kata Justin.


 “Aku tau..” kata Foria.


 Dengan cepat Foria langsung menyembuhkan kakinya yang terpotong itu. Dalam hitungan detik kakinya tumbuh seperti sedia kala.


 “Jangan kira ini sudah selesai, pedang kematian tehnik kedua : tusukan penghancur” Reiga langsung dengan cepat menyerang kearah mereka bertiga.


 Justin yang sigap langsung mencoba untuk melindungi Foria yang sedang menyembuhkan diri tetapi saat tombaknya menyentuh pedang Reiga.


 “Tusukan penghancur : bayangan kehancuran” saat menyentuh tombak Justin tubuh Reiga berubah menjadi bayangan hitam yang lalu menghilang dan muncul disebelah Guila.


 Yang sebenarnya Reiga incar bukanlah Foria melainkan Guila dia langsung mengarahkan ujung pedangnya kearah jantung Guila lalu dengan daya ledak yang tinggi dihasilkan oleh tehnik Reiga tubuh Guila langsung berlubang. Justin lalu berusaha menyerang Reiga tetapi serangannya berhasil ditepis dan Reiga kembali mundur menjaga jarak mereka.


 “Aaakhgg… Dewa fraksi hitam sialan” kata Guila yang tubuhnya sudah bolong akibat tusukan Reiga tetapi tiba-tiba tubuh Guila memancarkan cahaya merah darah.


 “Aktifkan artefak kalung darah pengganti” Guila kemudian mengaptifkan artefak kalung kristal merah yang dia punya lalu dengan cepat luka ditubuhnya tertutup lagi seperti sediakala.


 “Itu dia artefak milik Guila yang memiliki peringkat legenda tetapi setara dengan artefak kelas suci ( kalung kristal merah merupakan kalung yang terbuat dari tetesan air mata darah yang dihasilkan oleh mereka yang terkena hukuman mati oleh Guila membutuhkan 100 tetes air mata darah untuk dapat membuat kristal merah tersebut, kristal ini memiliki fungsi mengembalikan kondisi penggunanya yang terkena luka maupun kutukan ataupun status negative yang lainnya dengan bayaran satunyawa yang akan menjadi tumbal sebagai ganti dari pengaptifan artefak tersebut ), kalung itu benar-benar curang tetapi yang menggunakannya lebih gila lagi karena dia menggunakan para pengikutnya sebagai tumbal pengaptifan kalung tersebut” pikir Reiga.


 Guila yang sedang mengaptikan artefaknya dan Foria yang sedang menyembuhkan dirinya tiga dari dua dewa tersebut sedang dalam kondisi tidak bisa diganggu yang membuat mereka rentan akan serangan apapun.


 Tusukan yang dia sangat halus dan lembut sehingga membuat serangannya hampir tidak memiliki suara. Tetapi Justin dengan cepat menghadang tombaknya dengan beberapa putaran tombak dari Justin dapat mematahkan serangan dewa tombak. Merasa terhina karena kalah dengan senjata tombak dewa  tombak melancarkan tusukan berputar yang membuat tombaknya melaju seperti ular dan saat Justin berusaha menangkis tombak nya, ujung tombak itu berputar seperti hidup mengganti arah dan “Croooostt” berhasil menusuk kaki dari Justin.


 “Tehnik tombak keadilan : wilayah cahaya” Justin yang terluka kakinya menggunakan tehniknya dia menyebarkan energy di ujung tombaknya membentuk bola penghalang cahaya yang membuat dewa tombak tercampak.


 “Sialan padahal sudah kena” kata dewa tombak.


 “Sekarang giliranku, skill energy alam + tinju penghancur gunung” Grizz langsung maju untuk mencoba kekuatan dari Justin.


 “Tehnik tombak keadilan : serangan keberanian” Justin langsung melawan Grizz dari depan.


 Tinju Grizz dan ujung tombak Justin saling berbentrokkan satu sama lain keduannya saling beradu serangan dan menghasilkan energy yang menyebabkan kekacauan. Tetapi walaupun serangan Grizz dapat menyamai serangan tombak Justin besar energy dari perbedaan kelas terlihat sangat besar yang menyebabkan Grizz kalah dan tangannya terluka. Reiga yang ingin membantu Grizz juga langsung maju ikut menyerang dari sampan namun dapat diahalang oleh Justin dengan menebas menggunakan tombak dengan tangan kirinya serangan tombak itu sangat luas mencakup putaran 90 derajat.


 “Lumayan juga kau” kata Reiga.


 “Hmm kalau kau cuman seperti ini saja itu gampang” kata Justin.


“Hahaha tapi kau sepertinya melupakan sesuatu” kata Reiga yang melihat Guila dan Foria yang sedang menyembuhkan luka.


 Saat Justin melihat kembali kedua rekannya itu dia akhirnya menyadari ada bayangan perempuan yang muncul terlihat dibelakang mereka berdua. Dan ketika Justin berusaha memperingati mereka semua sedah terlambat.


 “Sraaaaass” dengan cepat dan tenang dewi pembunuh menebas kepala mereka berdua.


 “Skill Silent Night Death” dewi pembunuh menghilang dan menyembunyikan hawa keberadaannya yang membuat dia tidak bisa dilacak dan saat mereka lengah dia dengan gampangnya membunuh mangsanya.


 “Hmmmm dua jatuh tinggal satu lagi” kata Reiga dengan senyum yang jahat.


 Justin tidak bisa melakukan apa-apa selain melihat temanya mati dihadapan matanya membuatnya marah walaupun mereka dapat hidup kembali karena mereka adalah dewa tetapi dia tetap marah karena merasa dirinya telah terhina oleh serangan diam-diam dari kelompok Reiga.


 “Kraataaanggsss” dengan cepat Justin langsung maju untuk menyerang Reiga. Pedang milik Reiga dan tombak milik jutin saling beradu satu sama lain.


 “Reiga kau yang pertama akan kubunuh disini” kata Justin yang termakan amarah.


"Heeeh coba saja kalau kau bisa" kata Reiga dengan wajah sombong.


Bersambung..........


berikan like dan komen kalian agar penulis semakin semangat dan ceritanya jadi lebih menarik lagi


dan juga berikan votenya kalau kalian menyukai cerita yang ada di novel ini OK....