
Pada hari itu Agnus yang seperti biasanya sedang mengumpulkan kekuatan dengan cara berusaha berhubungan dengan cara menyebarkan obat darah dewa keberbagai tempat. Dengan menggunakan obat tersebut dia dapat mengait banyak mata dari para bangsawan yang juga ingin ikut ambil bagian dalam bisnis obat tersebut lalu ada juga para dewa fraksi putih yang kuilnya ada didekat sana ingin menggunakan obat tersebut untuk mengait banyak pengikut.
Lalu para sore hari yang tenang tiba-tiba banyak burung yang berterbangan seakan-akan takut dengan apa yang ada dibelakang mereka. Salah satu kota didekat kerajaan Emas agung kota Diamon adalah salah satu kota yang kecil bagian dari kerajaan Emas agung kota tersebut kebetulan searah jalan dengan wilayah kota pesisir pantai yang sedan ditempati oleh Agnus. Sore itu bianya kota tersebut dipenuhi oleh kegembiraan dan suara bising dari banyak orang yang sedang berdagang disana namun pada hari itu gerombolan Ware wolf yang marah melintasi kota tersebut.
Melihat segerombolan Ware wolf tersebut para penjaga kota langsung bersipa beratarung.
“Ting…ting…ting” lonceng dibunyikan tanda ada serangan yang mengarah kekota tersebut.
Para pasukan disana telah berisap dengan zirah perang mereka dan senjata baja mereka dan ketika kedua kubuh tersebut bertabrakan “Sraaaass… Craaaas… Braaaks…” keduanya saling serang ratusan tombak menusuk tubuh dari para Ware wolf namun karena kekuatan dari regenerasi mereka, membuat mereka tidak peduli dan tetap maju dengan buasnya. Serangan dan tusukanpun dihujani oleh pasukan pelindung kota tersebut namun diahadapan para Ware wolf dengan kekuatan dan kecepatan super “Sraaas… Sraaas… Sraaas…” mudah bagi mereka untuk membantai para pasukan disana.
Putus asa akan keadaan tersebut membuat dewa yang membuat kuil disana keluar dari kuilnya dan maju menghadapi para Ware wolf tersebut “Tiinnggss…. Twiiisshh… Twiiisshh… Twiiisshh…” puluhan cahaya lalu menembus tubuh dari para Ware wolf tersebut. Melihat keberadaan dari seorang dewa membuat para Ware wolf jadi sedikit takut untuk maju, dewa tingkat bawah dewa api putih dia adalah seorang dewa yang memurnikan
kejahatan dengan api putih miliknya dan dengan mengubah bentuk api tersebut dia dapat menyerang musuhnya dalam situasi apapun.
Lalu pada saat para Ware wolf telah terdiam karena merasakan ancaman bahaya dari Dewa tersebut Fenrir lalu maju kedepan dewa itu dia berbeda dengan para Ware wolf lainnya yang hanya menggunakan cakar dan taring mereka untuk bertarung, Fenrir menggunakan jubah perang dan juga senjata belati yang merupakan artefak.
“Jadi kau pemimpin dari mahluk-mahluk ini yah, kalau begitu bagus matilah dan tebus dosamu karena berani menyerang daerah kekuasaanku” kata Dewa api putih.
Dewa tersebut lalu maju langsung kearah Fenrir dengan cepat tetapi tiba-tiba saat Fenrir menggunakan belati tulang dewa, sebuah wilayah hitam tercipta dan dalam hitungan detik dewa api putih kehilangan hampir selurh kekuatannya diapun terjatuh karena lemah saat memasuki area tersebut.
“Maafkan aku dewa tapi kami adalah ras yang terlahir dengan membawa dosa dikehidupan kami” kata Fenrir.
“Craaattsss…” lalu Fenrir langsung membunuh dewa tersebut dengan menusuk jantungnya menggunakan belati tulang dewa, lalu saat belati tulang dewa menusuk tubuh dari dewa api putih belati itu juga menyerap kekuatan kedewaan dirinya dan memberikan setengah kekuatan yang dia miliki pada Fenrir.
Lalu pada saat area hitam tersebut menghilang para Ware wolf dan prajurit disan terkejut melihat kalau dewa api putih telah mati terbunuh ditangan ketua suku para Ware wolf Fenrir. Melihat kematian dari dewa membuat para prajurit kehilangan semangat bertarung mereka sementara para itu Ware wolf yang melihat ketuanya telah membunuh seorang dewa menjadi liar dan tambah bersemangat untuk beratarung, mereka merasa tidak akan terkalahkan tidak lama kemudian para pasukan Ware wolf telah berhasil menaklukan kota Diamon.
“PARA PRAJURITKU SEKARANG ADALAH WAKTUNYA BAGI KITA UNTUK BANGKIT, MAKAN DAN BUNUHLAH SEPUAS KALIAN KARENA LAWAN KITA BERIKUTNYA ADALAH KUNCI BAGI KITA MENUJU KEJAYAAN, KARENA ITULAH SIAPKAN MENTAL KALIAN DAN MAJU BERSAMAKU” teriak Fenrir pada semua anggota sukunya.
“AAARRRWWOOOOOHHHNGG…….” Para gerombolang Ware wolf itu lalu melonglong bersamaan mereka seakan seperti sedang berpesta, dibawah mayat dan darah dari para prajurit dan para penduduk yang ada dikota tersebut.
Setelah mereka semua bersenang-senang dengan membantai para warga kota dan memakan mereka semua para
Ware wolf itu langsung pergi beramai-ramai menuju kota didekat pantai tempat dimana Agnus sedang berada. Tetapi para Ware wolf itu tidak tahu satu kalau para dewa yang ada disana telah memperhatikan mereka karena artefak yang digunakan Fenrir memancarkan aura yang dapat mereka rasakan dari jarak yang sangat jauh.
“Ini cukup gawat, dia dapat setara dengan dewa, artefak itu benar-benar gawat” kata Reiga yang merasakan energy dari artefk tersebut, setelah merasakan energy tersebut Reiga lalu menggunakan kekuatan dari skill soul harvest miliknya untuk membaca jiwa dari para korban yang ada disana.
Sedangkan lima dewa fraksi cahaya langsung berkumpul ditempat dewa pelindung Aegis, disana ada dewa penjelajah, dewi kupu-kupu, dewa tinju dan dewa Armor. Semua yang ada disana adalah dewa tingkat bawah terkecuali Aegis yang merupakan dewa tingkat menengah, mereka berkumpul disana membahas tentang energy yang sangat gelap dan juga menghilangnya dewa api putih bersamaan dengan munculnya energy tersebut.
“Apa ada yang bisa menghubungi dewa api putih??” tanya dewi kupu-kupu ( seorang dewi yang mengenakan cadar dan memiliki sayap kupu-kupu yang warnanya berubah-ubah, memiliki tinggi sekitar 160 cm ).
“Tidak ada aku sudah mencoba berkali-kali” kata dewa penjelajah ( dewa yang terlihat seperti pria dewasa dengan wajah yang brewokan dan kulit coklat ).
“Itu artinya dia telah mati dan energy hitam yang kita rasakan itulah yang telah membunuhnya” kata dewa tinju ( dengan tinggi 175 cm dia memiliki tubuh atletis dan kedua tangan yang penuh luka seakan telah dilatih selama ratusan kali untuk menghadapi banyak musuh ).
“Hmmm… bagaimana menurutmu Aegis” tanya dewa Armor ( dengan tubuh dan wajah yang ditutupi oleh
armor dengan bentuk domba berwarna silver tidak ada yang bisa tahu apakah dia laki-laki atau perempuan, karena suaranya juga menjadi tidak jelas ketika dia berada dalam armornya ).
“Sepertinya aku tahu penyebab dari semua masalah ini” kata Aegis.
“Bisa kalian lihat semuanya, ini adalah mayat dari seorang ras Ware wolf yang beberapa hari lalu menyerang pangeran Agnus” kata Aegis.
Melihat mayat tersebut para dewa yang lainnya langsung bisa menebak pelaku dari kekuatan energy hitam yang mereka rasakan.
“Jadi maksudmu ras Ware wolf yang telah membunuh dewa api putih” kata dewa tinju.
“Ya.., bisa dibilang seperti itu, dari yang aku ketahui pangeran Agnus telah diincar oleh ras Ware wolf sebanyak dua kali” kata Aegis.
“Dua kali katamu, kalau begitu kenapa aku baru mendengar beritanya sekarang??” tanya dewi kupu-kupu.
“Alasannya adalah tidak adanya bukti untuk melapor, serangan yang pertama berhasil ditangani oleh pangeran Agnus namun Ware wolf yang menyerangnya berhasil kabur dengan keadaan terluka, lalu serangan yang kedua terjadi beberapa hari yang lalu dengan kemenanga dan kali ini dia berhasil membunuh Ware wolf yang menjadi penyerang” kata Aegis.
“Begitu ya… bertepatan dengan kematian dari Ware wolf penyerang yang kedua, dewa api putih yang kuilnya terletak dekat dengan kota ini mati dan juga sebuah energy hitam yang pekat muncul entah dari mana” kata dewa Armor.
“Dari semua clue yang didapatkan, semuanya mengarah kalau Ware wolf telah menyerang dengan pasukan besar dan tujuannya adalah pangeran Agnus” kata dewa penjelajah.
“Ya dan untuk energy hitam itu bisa kita tebak itu adalah artefak mereka, mengigat dewa pencipta mereka adalah dewa fraksi hitam yang kuat, rasanya sangat mungkin mereka punya satu atau dua artefak ditangan mereka” kata Aegis.
“Berarti sudah jelaskan, apa lagi yang kita tunggu ayo kita hampiri mereka dan hajar mereka semua sampai mati” kata dewa tinju.
“Jangan terburu-buru, ingatlah yang mereka incar ada dikota ini cepat atau lambat mereka pasti akan datang, yang perlu kita lakukan hanyalah bersiap untuk peperangan saja” kata Aegis.
Lalu mendengar perkataan dari Aegi para dewa yang lain langsung menghilang dan kembali kekuil mereka masing-masing, mereka semua menyiapkan diri mereka menggunakan artefak yang mereka punya dan juga menyiapkan pasukan untuk menjadi bantuan kota tersebut.
Sementara itu Aegis yang telah mengetahui kalau ras Ware wolf akan menyerang kedaerah kekuasaanya langsung pergi dan menjumpai Agnus. Didalam kamarnya Agnus sendirian dengan setumpuk kertas kerja yang memenuhi meja belajarnya.
“Maaf kalau mengganggu…” kata Aegis yang langsung masuk kedalam ruangan Agnus.
“Dewa Aegis apa kabar” kata Agnus sambil menundukkan kepalanya.
“Aku cuman ingin menyampaikan kalau kau harus bersiap” kata Aegis.
“Bersiap…, untuk apa??” tanya Agnus.
“Pasukan dari ras Ware wolf telah menghancurkan kota Diamond an kemungkinan yang kutahu mereka akan datang menyerang kemari untukmu” kata Aegis.
“Jadi begitu, maafkan hamba jika kehadiran saya membawa bencana bagi kota ini” kata Agnus.
“Tidak perlu risau ini adalah wilayahku sudah jelas kalau aku harus melindunginya, dan juga mereka adalah mahluk dari fraksi gelap jadi sebagai dewa fraksi putih sudah tugasku untuk menghabisi mereka semua” kata Aegis.
Setelah mengatakan semua itu dia langsung pergi dari ruangan Agnus.
“Sesuai dengan perkataan dewa Reiga, kalau begitu mohon maafkan aku dewa Aegis kalau kau akan menjadi tumbal dari rencana kami” kata Agnus.
Bersambung......
Berikan dukungan kalian dengan cara Like, Komen, Giff, dan Vote novel ini jika kalian menyukai cerita yang ada didalamnya agar penulis semakin semangat dan ceritanya semakin menari lagi, Ok...