I Am The God Of Ghoul

I Am The God Of Ghoul
Bab 43 Deklarasi perang bagian 2



Ketiga dewa telah betemu satu samalain yang menyebabkan sebuah guncangan energy disekitar mereka. Justin, Guila melawan Reiga mereka yang sudah melihat satu sama lain telah bersiap bertarung sampai akhir kecuali Reiga yang memiliki rencana lain dikantongnya.


 “Kalau begitu aku maju duluan, pedang kematian tehnik pertama : salju dimusim semi, pedang kebohongan” Reiga langsung menghilang dari pandangan mereka berudua.


 Seperti hantu hawa keberadaanya lenyap begitu saja yang membuat kedua dewa itu was-was mencari keberadaannya. Tetapi setelah beberapa detik Reiga tidak terlihat membuat penjagaan mereka turun yang menjadi kesempatan bagi Reiga yang tiba-tiba muncul dibelakang Guila. Reiga dengan cepat menebas Guila dia mengincar lehernya.


 “Tehnik eksekusi pedang : tebasan terbalik” Guila dengan cepat menebas dari bawah keatas dan menangkis tebasan Reiga dengan sisi pedangnya yang tumpul.


 Reiga yang serangannya ditangkis langsung mundur tetapi dia berhasil “Sraaaas” memotong tangan kanan Guila. Energy yin hitam dia ubah menjadi tajam sehingga membuat serangan kedua yang tidak dapat dihindari setelah serangan pertama berhasi dihindari karen itulah nama tehniknya disebut pedang kebohongan karena serangannya merupakan sebuah tipu muslihat.


 “Aaaaaghhk dasar sialan…” teriak Guila yang kesakitan kehilangan tangan kanannya.


 “Tehnik tombak keadilan : serangan keberanian” Justin menyerang Reiga secara langsung.


Reiga yang heran langsung dengan mudah menangkis serangan tombaknya dengan pedangnya tetapi ketika Reiga menangkis serangan itu aura yang diciptakan oleh Justin menciptakan “Boooom…” ledakan suara yang membuat Reiga tercampak cukup jauh.


 “Aaaaghkk… itu tadi benar-benar tidak terduga” kata Reiga sambil memuntahkan sedikit darah dari tubuhnya.


 Serangan tombak itu sederhana namun mematikan karena ledakan suara yang dibuat bukan cuman menyerang luaran tubuh tetapi juga merusak organ dalam dari Reiga.


“Sialan beberapa tulangku retak dibuatnya dan juga jantungku terasa dicengkram tadi” pikir Reiga setelah terkena serangan dari Justin.


 “Tehnik eksekusi pedang : serangan pemenggal” serangan tebasan garis lurus dilancarkan yang menciptakan sebuah aura tipis yang dapat menyerang dari jarak jauh.


 Tetapi walau cukup cepat Reiga dengan mudah menghindari serangan itu. Saat Reiga melihat kearah Guila dia sadar kalau Justin telah menghilang.


 “Dimana dia, sialan area pedang hitam aktifkan” White night kemudian membuka auranya dan kemudian menemukan Justin yang berada diatas Reiga.


 Justin mencoba menyerang Reiga dengan serangan keberanian lagi Reiga yang sudah mengetahui dampak dari


serangan itu langsung menghindarinya. Ketika Reiga menghindari serangan Justin tepat dari sisi kiri Reiga sebuah mata pedang besar datang menghampirinya. Guila yang tahu kalau Reiga bisa menghindari serangan itu langsung dengan cepat menyerangnya serangan tersebut berhasil ditahan oleh Reiga dengan pedangnya namun efek kesakitan membuat Reiga tidak bisa focus mengendalikan aura pertahanannya yang membaut dia tercampak dan tubuhnya tergores sedikit.


 “Grrr efek rasa sakitnya benar-benar menyebalkan, aku tidak bisa menghadapi mereka berdua sekaligus nampaknya sampai disini saja permainan ini, yah aku juga sudah mendapatkan banyak data tentang mereka” pikir Reiga sambil tersenyum.


 “Kenapa kau senyum-senyum haah, apa kau jadi gila karena mau kalah” kata Guila.


 “Tidak juga aku cuman merasa bertarung denga kalian sangat menyenangkan tetapi sayangnya harus kita akhiri, boneka mayat: tikus penjelajah neraka bangkit dan meledak” kata Reiga sambil memberi sinyal dengan tangannya.


 Para boneka mayat tikus itu kembali hidup setelah kekuatan jantungnya ditutup mereka kemudian menyebar


kebeberapa tempat dengan cepat kearah kuil tiga dewa Foria terkejut melihat para tikus itu kembali hidup.


 “Apa yang terjadi ini, aku punya firasat buruk” pikir Foria.


 Justin dan Guila langsung merasakan perasaan tidak enak dari ucapan Reiga dan benar saja Justin dan Guila tiba-tiba merasakan bahwa kuil mereka telah diserang. Dengan bantuan dari Leon dia telah mendapatkan informasi mengenai keberadaan inti kuil tiga dewa dan arena itulah Reiga telah menyuruh boneka mayatnya untuk mendekati inti kuil tersebut.


 “Baiklah selamat tinggal” kata Reiga dengan cepat langsung pergi terbang meninggalkan mereka berdua.


 Justin dan Guila yang bingung harus memutuskan kuil mereka atau Reiga yang kabur memutuskan untuk kembali ke Terian untuk menyelamatkan kuil dan pengikut mereka.


 “Sialan-sialan, dewa fraksi hitam sialan itu menggunakan cara yang licik dia menyerang kuil kita disaat kita bertarung dengannya” kata Guila.


 “Tenang aku rasa ini adalah cara dia agar bisa melarikan diri dari kita” kata Justin.


 Dan tebakan Justin itu benar yang diincar Reiga bukanlah kuil mereka tetapi cuman melihat bentuk kekuatan dan senjata yang mereka berdua miliki.


 “Ternyata memang benar selain armor dan senjata, mereka memiliki sesuatu yang lebih berbahaya dikantung mereka” pikir Reiga.


 Setelah mereka berdua sampai di ibukota tepatnya dikuil mereka Justin dan Guila melihat banyak energy hitam dimana-mana yang tersebar akibat ledakan dari para boneka mayat tikus milik Reiga.


 “Terlalu banyak energy hitam disini umat-umat kita bisa mati lemas karena menghirup energy yang berlawanan” kata Guila.


 “Tenang aktifkan artifak tinggkat suci cincin malaikat ( sebuah artefak berbentuk cincin lingkaran yang besar dan memiliki element cahaya yang kuat dikatakan kalau ertefak ini dibuat dari batu permata putih yang jatuh dari angkasa, cincin ini memiliki kekuatan untuk memurnikan segala element namun ada batasan 10 tahun sekali pemakain )” Justin kemudian mengeluarkan artefak rahasiannya untuk memurnikan energy hitam yang menyebar diibukota.


 Sekali cincin malaikat itu digunakan cahaya besar keluar dan memurnikan segala yang ada diibukota sana. Sementara itu Lucy dan para ghoul bawahannya yang melihat kekutan artefak tersebut menggunakan darah Reiga yang mereka simpan untuk menahan efeka dari artefak itu.


 Disaat cahaya itu muncul Foria dengan cepat menyadari keberadaan dari Justin dan dia langsung terbat melesat kearah mereka. Disaat dia sampai dan bertemu mereka berdua Guila yang sedang emosi mendekati Foria.


 “Kau apa saja yang kau lakukan, kenapa kau biarkan mereka untuk mendekati kuil-kuil kita” kata Guila yang melampiaskan amarahnya ke Foria.


 "Aku minta maaf tadi itu aku sudah yakin kalau sudah menusuk seluruh jantung mereka tetapi aku tertipu mahluk yang aku hadapi ternya adalah mayat yang dikendalikan jarak jauh” kata Foria.


 “Jadi begitu ya disaat dia bertarung dengan kami secara bersamaan dia juga mengendalikan tikus-tikus ini, dengan kata lain dia sama sekali tidak serius melawan aku dan Guila tadi” kata Justin.


 “Jangan bercanda, kau bilang monster tadi cuman bermain-main dengan kita” kata Guila yang terkejut.


 “Yah terserah saja untuk sekarang kita periksa kuil kita dulu untuk melihat apa bagaiman kondisinya” kata Justin setelah itu mereka kemudian pergi menuju ketempat kuil mereka.


 Pada malam itu ibu kota Terian mengalami sebuah serangan yang menghancurkan sebagian besar rumah mereka. Serangan itu dianggap serius oleh ketiga dewa yang menganggap itu adalah sebuah pernyataan perang bagi mereka oleh karena itu mereka bertiga langsung membuat pasukan khusus dari para umat mereka untuk membereskan para boneka mayat tikus yang telah tersisa dan juga mereka ditugaskan untuk mencari segala informasi mengenai Reiga.


 “Mereka bergerak cepat juga” kata Lucy yang sedang membereskan tokonya dari kekacauan tadi.


 “Nona haruskah aku singkirkan mereka semua??” kata salah satu pegawai Lucy.


“Tidak jangan biarkan saja mereka menyelidiki kita sesuka hati pada akhirnya mereka tidak akan mendapatkan apapun” kata Lucy.


 Disaat yang bersamaan ditengah ibukota para warga sedang bersedih melihat sekitar mereka yang telah meniggal akibat serangan dari para boneka mayat tikus itu mereka semua adalah kenalan dari para bangsawan yang mencoba mengganggu usaha Lucy di ibukota. Dan juga paling mengejutkan Leon juga ikut berdiri disitu menangisi ketiga mayat yang merupakan ibu dan kedua pelayannya ikut tewa didalam serangan itu.


 “Lihat bukankah itu jendral Leon, kudengar rumahnya diserang dan ibunya yang lumpuh mati terbunuh akibat serangan itu” kata para warga disekitar sana.


 Ketiga dewa yang melihat para warga yang bersedih itu langsung pergi untuk melihat keadaan disekitar karena masih terlihat jelas banyak sekali energy hitam menyebar di ibukota walaupun sudah di bersihkan menggunakan artefak cincin malaikat.


 “Sialan walaupun sudah dibersihkan tetapi energy hitam ini tetap keluar lagi dari para mayat tikus yang tersisa” kata Guila.


 “Dia pasti sudah merencanakan agar para warga kehilangan semangat mereka akibat energy hitam ini dan menyerang disaat kita lemah” kata Foria yang melihat kondisi para warga yang lemas.


 “Ya kita juga telah kehilangan salah satu jendral kita” kata Justin.


 “Hmmm siapa maksudmu ??” kata Guila.


 “Leon memutuskan untuk berhenti dari posisinya dan memutuskan untuk menjual rumahnya di ibukota dan memutuskan pindah ke wilayah pesisir pantai” kata Justin.


 “Jadi dia pergi setelah kehilangan ibunya yah, benar-benar menyedihkan seharusnya kita maafkan saja ibunya itu” kata Foria.


 “Haaah memangnya kenapa ibunya itu jelas bersalah jadi biarkan saja, lagi pula dia memutuskan untuk berhenti ketimbang balas dendam untuk ibunya itu sudah jelas kalau dia itu mentalnya lemah tidak ada artinya lagi memikirkan orang itu” kata Justin.


 “Memang benar kata Guila itu aneh untuk dia tidak memilih balas dendam, mungkin cuman perasaanku saja” pikir Justin.


 Disaat malam tiba dirumah Leon yang barang-barangnya sedang dikemas untuk kepindahan munculah dari bayangan Raiya yang menemui Leon dengan senjata sihir cakar bulan hita yang memiliki bentuk bulan berwarna hitam ( merupakan senjata sihir tingkat atas dengan ketajamannya dapat membunuh orang secara diam-diam ).


 “Jadi kau yang namanya Raiya..” kata Leon.


 “Ya aku memberikan selamat pada anda tuan Leon karena telah berhasil membunuh dua parasite di rumah anda” kata Raiya.


 “Hahaha aku juga tidak percaya kalau ayahku sampai menyelinapkan mata-mata ditempatku” kata Leon.


 “Oooh iya ibu mu menitipkan surat untukmu, nih ambil” kata Raiya yang menyerahkan suratnya.


 “Dasar ibu padahal baru sembuh tetapi sudah banya bergerak” kata Leon yang sedikit mengeluarkan airmata bahagia.


 Sebenarnya tas yang diserahkan oleh Reiga merupakan mayat yang telah di otak-atik oleh Reiga yang sedikit mengambil darah dari ibu Leon untuk meyakinkan para dewa kalau ibu dari Leon itu mati ditempat. Pada malam penyerangan tikus itu Leon langsung menaruh mayat palsu dikamar ibunya dan dia juga yang telah menghabisi kedua pelayan yang sebenarnya adalah mata-mata ayahnya setelah itu dia membiarkan masuk para boneka mayat tikus itu agar membakar ketiga mayat agar kematiannya tak dikenali.


 “Baiklah sekarang setelah aku tidak menjadi jendral lagi aku bisa focus untuk membangun kuil tuan Reiga di kota pesisir pantai” kata Leon yang kulitnya tiba-tiba berubah pucat dan rambutnya berbah jadi silver dibawah sinar rembulan dia telah menerima darah Reiga dan menjadi seorang ghoul.


Bersambung.....


tolong berikan like dan komennya agar penulis semakin semangat dan ceritanya semakin menarik


dan juga berikan vote kalian jika kalian menyukai cerita di novel ini Ok.....