
Sebelumnya beberapa menit sebelum Invidia menyerang kelompok Riana dan dibunuh oleh Lujuria, ditempat lain tepatnya dibagian gerbang depan kastil kegelapan kelompok Reiga berpecah menjadi 2 kelompok yang pertama kelompok untuk menahan serangan raksasa bermata lima dan kelompok kedua bertugas untuk masuk kedalam kastil kegelapan dan mencari para dewa iblis. Kelompok pertama ditinggalkan pada Diana, Zero, dewa batu api dan dewa besi hitam lalu kelompok kedua terdiri dari tiga orang Reiga, Susano dan Aeria ketiganya langsung memasuki istana kegelapan begitu perhatian raksasa bermata lima tersebut teralihkan oleh kelompok pertama.
“Srraaanggss… Srraaanggss… Srraaanggss…” suara pedang yang memotong dinding kastil bagaikan memotong keju, Reiga dan yang lainnya memasuki istana kegelapan dengan cara memotong diding kastil yang mereka lihat, sesampainya mereka masuk kedalam mereka dikejutkan betapa sepinya istana tersebut tidak ada suara apapun yang dapat terdengar dari dalam istana tersebut.
“Disini sepi sekali” kata Susano.
“Kelihatannya semua yang ada disini sudah dijadikan tumbal untuk memperbanyak ingkarnasi kehancuran itu” kata Reiga.
“Mereka memang sangat kejam, mereka bahkan tidak memperdulikan orang-orang mereka sendiri” kata Aeria yang melihat-lihat.
Sementara itu Acedin yang memasang penghalang diluar istana merasakan hawa keberadaan dari tiga dewa raja terkuat telah masuk kedalam kastil.
“Arogan…. Mereka sudah masuk kedalam” kata Acedin.
“Berapa jumlah mereka” tanya Arogan.
“Cuman tiga orang, tetapi dapat dipastikan kalau mereka adalah dewa raja terkuat dan salah satunya memiliki energy bumi yang sangat kuat” kata Acedin.
“Hahahahahha… akhirnya Susano datang kesini juga, aku tebak dua orang yang lainnya pasti adalah Reiga dan Aeria, menebak tindakan mereka berdua aku yakin wanita itu tidak akan mau meninggalkan kekasihnya dan lagi si Reiga pasti sangat ingin mengambil posisiku karena itulah dia pasti masuk kedalam” kata Arogan.
“Sesuai rencananya kalian hadapi dua yang lain sedangkan aku akan menghadapi Reiga” kata Ludex Albius.
“Tentu saja silahkan, lagi pula aku tidak tertarik dengan bocah kecil yang bau kencur seperti dirinya itu” kata Arogan yang mana menghina Reiga.
“Hoooaaamm… kalau begitu aku akan kembali tidur dikamarku” kata Acedin yang mana mau pergi melanjutkan tidurnya.
“Oi-oi-oi… jangan pergi dulu, kau itu harus menghadang Aeria disaat aku bertarung melawan Susano, walaupun kekuatan mereka berdua tidak ada apa-apanya dibandingkan diriku tetapi akan sangat merepotkan untuk melawan dua dewa raja terkuat sekaligus” kata Arogan.
“Haaaaaaaaaaah…. Baiklah kalau begitu” kata Acedin yang malas mendengarkan perintah dari Arogan.
Lalu tidak lama kemudian dibalik pintu ruangan tempat Arogan, Acedin dan Ludex Albius berada mereka merasakan hawa keberadaan yang sangat kuat, “Tookk… tookk… tookk…” lalu suara ketukan pintu mulai muncul.
“Masuk aja gak dikunci kok” kata Acedin.
“BOOMMSSHH….” Kelompok Reiga lalu menghancurkan pintu tersebut dengan kekuatan mereka.
“Maaf tanganku terlalu kuat mengetok pintunya” kata Susano.
“Akhirnya kalian tiba juga disini” kata Arogan, aura iblis dari Arogan mulai keluar begitu dia melihat Susano yang berdiri disamping Reiga.
“Salam dewa bumi Susano aku salah satu dari seratus dewa raja terkuat dewa hakim surgawi Ludex Albius peringkat ke 11” kata Ludex Albius dia memperkenalkan dirinya pada mereka beritiga sambil mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat kearah Reiga.
“Ternyata kau maaf soal anak-anakmu” kata Reiga yang mana berusaha memancing emosi Ludex Albius.
Lalu disaat mereka berbicara tiba-tiba aura gelap berbentu tangan iblis raksasa muncul dan mengincar kelompok Reiga, namun Susano yang melihat hal tersebut dengan tinjunya “BUUUGGKK…” dia menahan serangan tersebut dan membuat aura tangan iblis raksasa tersebut lenyap.
“Jangan banyak bicara ayo kita bertarung saja sekarang” kata Arogan, dia langsung melancarkan serangannya disaat lawannya lengah.
“Hahahhaha… itu baru bagus, MAJULAH” kata Susano yang mana dengan kecepatan penuh meluncur kearah Arogan.
“BOOOMMSSSHH…” keduanya saling berbenturan Susano yang menggunakan pukulan kuatnya untuk menyerang sementara Arogan yang menggunakan aura gelap miliknya untuk bertahan dari serangan kuat Susano, disaat yang sama Aeria yang melihat Susano bergerak sendiri ingin mengejar dirinya tetapi “Crrraanggss… Trrraanggss…” sebuah rantai yang hampir kasat mata mulai muncul dan mengunci kakinya, melihat hal tersebut “Srrrannggss… Srrrannggss… Srrrannggss…” Reiga dengan menggunakan pedangnya memotong rantai-rantai tersebut.
“Jangan lengah lawanmu ada disana, walaupun dia terlihat seperti itu tetapi Zero pernah bilang padaku kalau kekuatannya lebih berbahaya dari pada Arogan” kata Reiga yang mendeskripsikan kekuatan dari Acedin sang penguasa kemalasan.
“Hei nona… kau yang akan jadi lawanku yah… kalau begitu mari kita santai-santai saja ok” kata Acedin yang berguling-guling ditempat tidur melayang miliknya.
“Hohoho… aku mau saja, tetapi aku harus segera mengejar orang bodoh tadi jadi maafkan aku kalau aku sedikit kasar” kata Aeria, dia menyelimuti pergelangan tangannya dengan aura angin yang mana berputar seperti sebuah gelang tipis yang tajam.
“Trrraanggsss…..” disaat Reiga pandangan Reiga sedang teralihkan karena penasaran dengan kekuatan Acedin tiba-tiba saja Ludex Albius menyerang menggunakan pedang miliknya, pedang miliknya berbentuk seperti sebuah jarum hitam besar yang mana terlihat seperti digunakan untuk menusuk setiap lawannya dan dari aura yang dikeluarkannya senjata itu berada ditahap artefak tingkat bencana.
“Hmm… ada apa, kenapa kau buru-buru sekali apa wajahku mengingatkanmu dengan bagaimana ketiga anakmu itu mati ditanganku” kata Reiga, dia berusaha memancing emosi Ludex Albius agar dia dapat membuat celah dan memenangkan pertarungan dengan mudah.
“Tampaknya kau salah paham dewa kematian Reiga, aku sama sekali tidak menganggap mereka adalah anak-anakku semenjak mereka kalah darimu, memang benar kalau mereka adalah darah dagingku tetapi mereka cuman sampah lemah jadi untuk apa aku memikirkan sampah, satu-satunya yang membuatku marah adalah kau menghancurkan rencana yang kusiapkan untuk menguasai alam bawah” kata Ludex Albius, dia dengan dingin tidak menganggap anak-anaknya yang mati dan hanya memikirkan tentang rencananya yang mana untuk menguasai alam bawah.
“Wah-wah-wah, kau ini memang benar-benar contoh ayah yang buruk yah, entah kenapa mengetahui hal itu membuatku semakin ingin memenggal kepalamu” kata Reiga, sebuah niat membunuh yang tercampur dengan aura kematian mulai keluar dari tubuh Reiga aura tersebut seperti sebuah kabut hitam yang mana jika orang biasa yang melihatnya akan ketakutan setangah mati kerena kengerian kekuata aura tersebut.
“Jangan hanya banyak bicara saja, maju sini kau” kata Ludex Albius, yang mana telah mempersiapkan kuda-kudanya dan dari tubuhnya terpancar aura petir kuat seakan sebuah guntur yang ingin menyambar setiap mahluk hidup.
Sementara itu Susano dan Arogan yang terlempar jatuh dari ruangan tersebut jatuh agak jauh karena sebelumnya mereka berada dilantai 10, mereka jatuh sampai kehalaman bunga yang mana disana banyak bunga putih bercahaya ditanam disana “Trraakkhhhtt…” mereka berdua jatuh namun tidak ada luka sama sekali ditubuh mereka.
“Tetap liar seperti duluyah, apa kau tidak ada rencana mengganti gaya bertarungmu yang bar-bar itu” kata Arogan.
“Hahahaha…. laki-laki itu haruslah liar, kalau kau sendiri masih tetap dengan gaya bangsawanmu itu Haaaah…” kata Susano.
Bersambung.............