
Disebuah ruangan putih yang tidak ada apa-apa terlihat seorang gadis kecil dari ras demon sedang menangis, dia memiliki rambut putih dan dua tanduk putih yang cantik walaupun salah satu tanduknya sudah patah dan rusak, diruangan itu dia menangis namun tiba-tiba seorang pria tua dari ras demon datang menghampiri dirinya dan kedatangannya membuat gadis itu berhenti menangis pria tua itu mengendong gadis tersebut keatas pundaknya dan membuat dirinya tertawa dengan ceria.
Waktu demi waktu mulai berlalu dan sang gadis demon sudah mencapi umur 12 tahun disanalah sang pria tua itu mengajaknya keatas puncak gunung disana dia mengajari gadis itu caranya mengayunkan pedang, dan sang gadis yang melihat tehnik berpedang pria tua itupun terpesona oleh gerakan-gerakannya dia lalu menetabkan hatinya untuk berlatih pedang, hari demi hari berlalu baik itu panas terik ataupun dinginnya hujan gadis demon itu tetap mengayunkan pedangnya dengan tujuan untuk membuat pria tua itu bangga.
Dan beberapa tahun telah berlalu sang gadis lalu sudah mencapai umur 15 tahun dan dirinya sudah menjadi gadis cantik yang menawan, banyak laki-laki dikota terpesona olehnya dan banyak yang mencoba mendapatkan hatinya namun gadis itu dengan tegas dan wajah dingin mengusir semua laki-laki dihadapannya dengan keterampilan pedangnya. Gadis demon itu tidak tertarik pada laki-laki lemah yang mencoba menarik perhatiannya dengan harta ataupun paras wajah mereka, dia hanya tertarik pada kekuatan dan dirinya patuh pada pria tua yang menjaganya seperti seorang ayah.
Namun hari-hari damai sang gadis itu telah berakhir lima orang kuat mulai muncul dihadapannya dengan maksud tertentu pada sang gadis demon, kelima orang tersebut sangat kuat sehingga beberapa orang yang berusaha menyelamatkan gadis tersebut terbunuh hanya dengan satu gerakan. Ditengah ketakutan dan keputus atasaan tersebut pria tua tersebut lalu datang dan menghadapi kelima orang tersebut, dengan tehnik pedangnya pria tua itu dapat mengimbangi kelima orang tersebut walaupun mereka berlima bersama-sama menyerang dirinya, mereka bertarung selama satu hari satu malam dan disaat kelima orang tersebut sedang tersudut mereka mulai mengincar gadis demon tersebut, dengan cepat pria tua itu melindungi gadis itu walaupun dia kehilangan satu lengan yang dia punya tapi dia berhasil membunuh salah satu dari kelima orang itu dan mengusir keempat yang lainnya.
Disaat keempat orang itu pergi pria tua itu lalu jatuh karena kehabisan darah, luka berat, dan racun didalam tubuhnya, melihat pria tua itu terjatuh sang gadis itu lalu menangis kembali dia menangis karena tidak bisa berbuat apapun dan menjadi penyebab pria tua itu terluka parah.
“Janga sedih gadis kecil, aku tahu suatu hari nanti kita pasti akan berpisah, yang kuinginkan cuman satuhal yaitu kau harus jadi lebih kuat dan bertahan hidup, kalau bisa tolong jangan balas dendam” kata pria tua tersebut yang lalu mati perlahan-lahan.
Ditengah hari yang hujan tersebut sang gadis demon itu menangis sampai dia kehabisan air mata, sejak hari itu gadis itu mulai menetapkan hatinya untuk menjadi lebih kuat dan mencari keberadaan keempat orang yang menyerang dirinya.
“Aaagghhkk…. Dimana aku” kata Diablo yang mana baru terbangun didalam ruang perawatan.
“Hmm… kau sudah bangun” kata wanita yang merupakan staff perawat didalam arena tersebut.
“Berapa lama aku pingsan tadi” kata Diablo yang memegang kepalanya.
“Jangan khawatir kau cuman tidur selama beberapa menit saja kok…” kata perawat tersebut.
“Krraanngg…. Trraaanggss…” Diablo lalu bangkit dari tempat tidurnya dan berusaha untuk berdiri, walaupun luka yang dibuat Reiga tidak mengenai titik fital dirinya namun luka itu cukup fatal sampai membuat orang biasa tidak akan bangun selama beberapa hari.
“Jangan memaksakan dirimu, luka-lukamu baru saja aku obati, jadi sebaiknya kau istirahat saja dulu tuan bukan nona kecil” kata staff perawat tersebut.
“Bukan urusanmu” kata Diablo yang langsung pergi keluar ruang perawatan.
“Haah… sudah lama aku tidak pernah melihat dirinya tersenyum seperti dulu, sejak dia mulai memakai pakaian laki-laki senyum manis diwajahnya menghilang” kata perawat tersebut.
Diablo yang tertarik pada Reiga karena telah mengalahkan dirinya langsung pergi kedalam arena, didalam perjalanannya dia mendengar suara histeris penonton “HOOOOAAAAHH…..” dari suaranya sesuatu yang besar sedang terjadi didalam arena tersebut, Diablo lalu mempercepat jalannya walaupun dia kesulitan berjalan karena cideranya dia mencoba untuk cepat-cepat melihat apa yang terjadi di arena.
Dan begitu dia sampai didepan pintu arena dia melihat Reiga sedang bertarung melawat puluhan petarung dan beberapa mahluk mistik tingkat purba tingkat tinggi yang sudah mau mencapai alam raja. Disana Diablo terpukau melihat Reiga yang memainkan pedangnya dengan gerakan yang cepat dan sedikit kasar Reiga menghabisi semua lawannya.
Sebelumnya beberapa menit setelah Reiga mengalahkan Diablo staf arena disana menghampiri dirinya.
“Hmm… kenapa???” tanya Reiga yang kebingungan.
“Ini karena anda telah seenaknya masuk kedalam arena petarungan jadi anda haru membayar beberapa kompesasi dulu kalau mau keluar, jika kau tidak punya uang maka kau harus menang dalam beberapa petarungan dulu” kata staf arena yang mengancam Reiga.
“Hooo…. Katakan padaku berapa banyak yang harus kulawan untuk bisa keluar dari tempat ini” tanya Reiga yang emosinya terpancing.
“Yaah… normalnya tiga petarungan melawan petarung sudah cukup, tetapi karena anda sudah masuk tampa ijin maka paling tidak anda harus bertarung lima kali” kata staf arena yang memandang rendah Reiga.
“Bertarung lima kali kau bilang, terlalu lama panggil sepuluh petarung terkuat yang kau punya akan kubantai mereka semua disini” kata Reiga yang mulai melepas segela paku hitam didalam tubuhnya.
“Trriinggss… trriiinggss… trriiinggss…” ketika segel didalam tubuh Reiga mulai lepas seketika aura disekitarnya mulai mencekam, banyak orang yang melihat dirinya mulai takut karena aura gelap yang kuat keluar dari tubuhnya.
“Hehehehehe….. luar biasa” kata Zero yang mengigil melihat aura milik Reiga.
Staf yang sombong tadi mulai ketakutan melihat Riega dan ketika dia melihat mata Reiga, seketika pula dia merasa kalau kematian akan menghampiri dirinya staf yang ketakutan tersebut lalu berlari dan memanggil beberapa petarung untuk menghabisi Reiga.
“Dengarkan kalian semua, akan kuberikan kalian hadiah khusus kalau kalian bisa membunuhnya, jangan khawatir aku akan meyakinkan bos tentang masalah ini” kata staf tersebut, karena dia merasa malu dilihat berlari ketakutan dihadapan banyak orang, karena itulah dia memutuskan untuk membalas dendam pada Reiga dengan menyuruh petarung arena untuk membunuh dirinya.
“Crrraanggss…. Trrriiinnggss….” Sepuluh orang petarung ditingkat dewa kelas atas lalu masuk kedalam arena, dari tubuh mereka terasa sangat kuat hawa ingin membunuh yang dapat dirasakan oleh Reiga.
“Ooohh… begitu rupanya kalian ingin membunuhku, maju kalian kalau bisa” kata Reiga yang mengacungkan pedangnya.
“Dasar sombong, kubunuh kau” kata seorang petarung yang memegang kapak.
Petarung itu menggunaka skill di kapaknya yang memancarkan aura merah darah yang mana akan memberikan rasa sakit kuat pada mereka yang terkana serangan kapaknya, namun Reiga dengan mudah menghindari serangannya karena petarung itu sangat lambat dimata Reiga.
“Tusukan penghancur” Reiga lalu langsung memabalasnya dengan serangan tusukan lambat.
Petarung itu lalu mengira dapat menaha serangan tusukan pedang Reiga dengan kapaknya namun begitu ujung pedang Reiga menyentuk kapak petarung tersebut, “Trrraaaasssshh…. Crraassshhtt…” kapak dan tubuh petarung tersebut langsung hancur menjadi berkeping-keping. Para petarung yang sebelumnya memandang rendah Reiga langsung takut dibuatnya.
“Terlalu mudah kalau kalian maju satu persatu, sini kalian maju semua akan kubantai kalian semua” kata Reiga yang mana aura membunuhnya memancar dengan kuat.
Bersambung.........