
Pukul 05.45am dan Aldre sudah mengeluarkan ungkapan cintanya lebih dari 10 kata. Luar biasa!
Pasalnya pagi ini ketika ia membuka, Aldre seperti mendengar suara seseorang yang sepertinya sedang mengobrol, karena ada dua suara dewasa yang saling bersahutan.
Rasa penasarannya membuat Aldre mengintip siapa gerangan yang tengah mengobrol didalam apartmentnya, dan inilah alasan Aldre sudah mengeluarkan ungkapan cintanya dipaginya yang sepertinya tidak akan menjadi cerah.
Entah kapan pria tua itu datang, tapi kini dengan santainya dia mengobrol diruang tamu apartnya dengan sahabatnya sejak beberapa hari lalu terus mengikutinya seperti anak ayam.
"Memang pria tua bajingan! Kenapa tidak sekalian dia pindahkan saja markas sialannya kedalam apartment ku?!"
Aldre berdiri dengan berkacak pinggang dibelakang pintu, menatap benda kayu berwarna hitam itu penuh peemusuhan.
06.23am
Aldre keluar dari kamarnya dengan keadaan segar. Tetesan air yang berjatuhan kecil dari rambutnya yang sengaja tidak ia keringkan.
"Selamat pagi, Aldre" sapaan hangat dari sosok tak diundang yang masih setia duduk santai diatas sofa miliknya Aldre dapatkan.
"Seingatku ini bukan markas phoenix" gumam Aldre sarkas. "Selamat pagi, ka Devan" menampilkan senyum palsu.
Devan terkekeh, sepertinya bocah ini masih menyimpan dendam. "Tidak ramah, bintang satu!"
"Ck! Katakan itu pada putramu"
Benar kan dugaan Devan? Calon adik iparnya ini masih menyimpan dendam pada putranya.
"Dia ada diasrama sekarang" jawab Devan memberikan informasi penting.
"Bagus! Dia harus belajar menjadi manusia yang baik"
"Kau bahkan tidak sebaik itu bocah!" Sahutan tajam dari arah dapur membuat Aldre mendelik sinis. "Aku tidak bicara denganmu pria tua!" Balaa Aldre.
"Yang ada dihadapanmu juga pria tua jika kau lupa! Dia bahkan lebih tua dariku"
"Apa apartment ku menjadi tempat penampungan pria tua?" Bisiknya kencang.
"Hahaha" bukannya marah, Devan malah tertawa dengan sindiran pedas Aldre.
"Dari pada kau marah-marah tidak jelas, lebih baik kau makan ini" Leo meletakkan sepiring bacon dan omelette yang baru selesai dibuatnya keatas meja makan.
Setelah selesai sarapan, ketiganya kembali duduk santai disofa.
"Kau tidak kerja, bocah?" Tanya Leo. "Work from home" jawab Aldre singkat.
"Jika ka Devan datang kesini hanya untuk membujukku, lebih baik pergilah karena jawabanku akan tetap sama"
Devan menyeringai, "aku bahkan belum mengatakan apapun padamu. Jangan mengambil kesimpulan tanpa mendengarkan penjelasan orang lain, Aldre"
Aldre mengernyit bingung, "lalu?"
"Kalung itu, harusnya sudah lama dimusnahkan bahkan sebelum Justin memimpin TCruel'd. Sepuluh tahun sebelumnya" Devan menatap Aldre yang duduk dihadapannya dengan lekat. "Tidak mungkin kalung itu datang padamu dengan sendirinya. Benar kan?"
"Sepertinya ka Devan tau banyak tentang TCruel'd" senyum tipis Aldre sampirkan dibibirnya.
"I know who you are, and what's your problem with them" lanjutnya lagi.
"Where's the naklace?"
"Justin Scander"
Leo menoleh kearah Devan, sorot matanya penuh dengan peringatan. "Biarkan Justin menanganinya"
Rahang Devan mengeras. "Tidak! Aku tidak akan membiarkan kalung itu masih berkeliaran bebas" ucap Devan.
"Jangan keras kepala, Devan! Kau tau apa yang akan terjadu jika kau menyentuh Justin. Aku yakin sangat yakin Isabella dalam keadaan emosi yang tidak baik"
Sedikit kekhawatiran tersirat dalam suara Leo. Sahabatnya yang satu ini sangat sulit diajak negosiasi, keputusannya selalu mutlak, dan tidak akan berubah.
Tidak ada jawaban dari Devan setelah beberapa menit, dan Leo tau Devan tidak mendengarkan perkataannya.
"Tidak kah ka Devan berfikir, jika itu bukan ka Justin seharusnya masalah ini sudah hampir menuju jalan keluar. Iya kan?" Aldre kembali bersuara. Ia merasa harus membantu pria tua menyusahkan itu untuk membujuk kaka sulung kekasihnya ini.
"Kalung itu tidak akan lepas dari ka Justin dan kalian tau itu. Merebut paksa kalung itu sama dengan membunuh pemiliknya. Apa ka Bella akan diam saja jika suaminya dikorbankan?"
"Dimana dia? Orang yang memberi kalung itu padamu"
"Terakhir aku bertemu dengannya dikorea"
"Siapa dia?" Tanya Leo.
"Dia masih hidup?" Tanya Leo tak percaya. Aldre mengangguk cepat.
"Lalu siapa yang kau habisi saat itu, Devan?"
"Sial!" tidak meleset dari dugaannya. kalung itu tidak mungkin bangkit jika bukan keturunan aslinya yang membangkitkan kembali.
tapi... bagaimana bisa pria itu hidup kembali? sialan memang, ia kecolongan.
"Dia mengincar ka Kevin. Memintaku membawa ka Kevin kehadapannya dengan alasan membantunya mengatasi masalah yang sedang ia hadapi" jelas Aldre.
"Apa jawabanmu?" Rahang Devan mengencang kuat. Tidak akan dia biarkan adik iparnya menjadi bagian dari mereka.
"Aku menolak! Aku tidak mau berurusan dengan orang gila sepeti ka Kevin" jawab Aldre tegas.
"Mereka tidak akan bisa mendapatkan Kevin. Ini pasti bukan yang pertama mereka menginginkan Kevin" Seketika Leo teringat saat pertama kali nama Black Sweeper menjadi booming karena tindakan luar biasanya.
Banyak yang mengincar sahabat adiknya itu. Bahkan tidak segan-segan melakukan pemberontakan pada Phoenix agar Kevin mau menjadi bagian dari mereka.
"Apa yang akan kalian lakukan?" Aldre menatap keduanya bergantian.
Devan memajamkan matanya, menarik nafas, merilekskan tubuhnya yang kaku. "Kita harus bicara dengan Isabella. Dia pasti tau langkah apa yanh harus kita ambil"
"Kalian benar-benar mengandalkannya ya?"
"Untuk masalah besar seperti ini, rencana Isabella yang paling tepat. Lebih tepatnya menghindari tindakan ceroboh yang bisa saja kita lakukan. tidak ada yang bisa menandingi otak jeniusnya, Al" seru Leo.
Aldre menyandarkan tubuhnya pada bagian belakang sofa. "Aku mengerti"
.
.
"Bisakah kamu tidak pergi kemanapun, Hubby?" Galih menegur sang suami yang sudah berpakaian rapih.
Kevin mendongak, mendengus geli dengan tingkah protektif istrinya. "Aku harus mengurus perkebunan, Love" ucapnya dengan kedua tangan yang sibuk mengikat tali sepatu.
"Kau bisa menyerahkannya pada orang kepercayaanmu, tidak perlu kamu yang turun langsung"
"Tanggung jawab itu sebuah prioritas dalam pekerjaan, Love. Remember?"
Kevin bukan tidak tau kekhawatiran yang dirasakan pria yang sangat ia cintai ini. Tapi berdiam diri dirumah tidak akan menghasilkan apapun.
"Aku mohon..." Tatapan khawatir itu tak bisa lagi Galih sembunyikan.
"Aku akan kembali sebelum pukul 4 sore. I promise"
Kevin bangkit, merengkuh tubuh ramping Galih, membawanya dalam pelukan erat, dan memberikan kecupan hangat dikeningnya.
'Maafkan aku, love. Tapi semuanya harus segera diakhiri'
Kevin tiba diperkebunan miliknya 40 menit kemudian. matanya memicing mendapati sosok yang tak asing berdiri tak jauh darinya.
"Jovan" panggilnya sedikit kencang.
sosok itu, Jovan menoleh. tersenyum sambil melambaikan tangan. "hai Daddy " sapanya begitu ia tiba dihadapan Kevin.
"apa yang kau lakukan disini?"
"memastikan sesuatu" Jovan menjawab dengan santai.
"apa bunda dan ayah tau?"
"ayah yang mengantarku"
Keduanya berjalan memasuki perkebunan, karena tadi mereka berdiri tepat didelan gerbang.
"ada yang mengincar Daddy, benarkan?" Jovan mendongak, menatap lekat sosok asli dibalik nama Black Sweeper.
"bagaimana kau tau?" sekarang Kevin benar-benar ingin tau seberapa banyak yang Isabella ajarkan pada putranya ini.
"everything"
.....
T B C?
BYE!