Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
9. Markas Phoenix



Seperti dugaan Isabella sebelumnya bahwa keluarga Skholvies tengah menyiapkan pesta kecil untuk ulang tahun Erick.


Terbukti pagi ini, dua wanita utama penghuni mansion Skholvies tengah di sibukkan dengan berbagai macam bahan makanan. Sedangkan satu wanita muda lainnya, yang baru saja menyandang marga Skholvies sibuk dengan bahan-bahan kue.


"Semua bahannya sudah lengkap Ara?" tanya Liya pada Ara.


Ara mengangguk sekilas. "Sudah lengkap, ka. Yang kita butuhkan hanya lilinnya saja" jawab Ara dengan tawa kecil.


Liya menepuk dahinya pelan. Dirinya lupa lagi untuk membeli lilin ulang tahun. Padahal suaminya sudah mengingatkan berulang kali.


"Aku rasa aku sudah tua" katanya berdecak ringan.


"Manusiawi namanya" timpal Riyani yang sejak tadi sibuk memotong sayur sambil menyimak percakapan dua menantunya.


***


"Terimakasih ya ka Bella, ka Justin untuk hidangannya. Maaf sudah merepotkan kalian" ucap Ana.


"Tidak sama sekali, Ana" jawab Justin. "Tapi kalian membuat putraku bersedih" timpal Isabella melirik kearah Jeno.


"Hah?" Jeno menatap sang bunda tak mengerti. "Kenapa aku?"


"Bukankah kamu ingin mengajak Erick berkencan?"


"Ah... Masih bisa besok" Jeno menggaruk tengkuknya yang terasa tidak gatal.


"Padahal sudah izin tidak sekolah"


"Kasihan" ejek Jovan membuat sang kaka langsung mendelik tajam ke arahnya.


Ana dan Daniel saling pandang, mereka tidak pernah mengira bahwa Jeno akan seserius ini pada putra sulung mereka. Dan Erick, hanya menyimak pembicaraan semua orang sambil memilin kedua tangannya di depan perut.


"Maaf ya, Jeno. Lain kali kamu bisa mengajak Erick jalan-jalan. Tapi hari ini kakek dan neneknya pasti sudah menunggu di rumah" jelas Daniel.


Jeno tersenyum maklum, dirinya jelas tidak bisa memaksa jika sudah menyangkut tentang keluarga. "Tidak apa-apa, paman. Aku mengerti"


"Apa orang tua mu akan datang, Daniel?" Tanya Justin. Daniel mengangguk. "Mereka tidak bisa datang hari ini karena masih berada di Jepang. Mereka akan tiba lusa nanti"


"Bagus kalau begitu"


"Kalau gitu kami pamit dulu ka Justin, Ka Bella"


"Ya, hati-hati"


Daniel dan Ana membawa Erick dan Harena keluar dari kediaman Scander setelah berpamitan dengan pemilik rumah. Jeno mengantarkan sampai mobil mereka keluar dari halaman rumahnya, setelah itu baru cowok itu berjalan masuk kembali ke dalam rumah.


"Jadi? Kita mau ngapain? Udah terlanjur izin gak masuk juga kan" seru Jesslyn menatap kedua saudara kembarnya.


"Ke rumah Daddy yuk" ajak Jovan.


"Ke rumah daddy Veno?" Tanya Jesslyn memastikan. Jovan mengangguk dengan semangat.


"Setuju. Ayok bersiap"


Dengan semangat yang membara, Jovan berlari menuju kamarnya. Berganti pakaian dan menyiapkan beberapa barang yang akan di bawanya. Jeno dan Jesslyn hanya menatap geli kepergiaan si bungsu di antara mereka itu. Jovan hanya akan bersemangat pada hal-hal yang di sukainya.


Jeno masuk ke dalam ruang kerja Justin setelah mengetuk pintu. Justin yang melihat kedatangan sang putra langsung meletakkan kembali iPad di tangannya.


"Ada apa Jeno?" Tanya Justin.


"Aku ingin meminta izin ayah. Kami bertiga ingin pergi ke markas Phoenix, sudah lama aku tidak bertemu dengan Shakki" Jeno memberitahu alasannya.


Shakki adalah hiu putih besar milik Devan yang berusia hampir 20 tahun. Hiu putih itu tidak di letakkan di dalam aquarium, tapi di biarkan bebas di lautan karena bagian belakang markas Phoenix adalah sebuah dermaga


Meski begitu, shakki tidak pernah meninggalkan wilayah teritori milik Phoenix di lautan. Hiu putih besar itu hanya akan berenang di sekitar dermaga, atau mengikuti Devan jika pria itu sedang bermain jetski.


"Menginap?" Tanya Justin lagi. Jeno menggeleng. "Tidak ayah, Jeno hanya izin sehari. Mungkin kami akan pulang agak malam"


"Baiklah kalau begitu. Tapi tidak boleh pergi ke tempat lain tanpa memberitahu ayah. Mengerti?"


"Mengerti"


"Ayah akan menghubungi paman mu"


"Kalau begitu Jeno mau siap-siap dulu" Jeno bergegas keluar dari ruang kerja sang ayah. Melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan kedua adiknya.


Justin mengeluarkan ponsel miliknya untuk menghubungi kaka iparnya guna memberitahu ketiga putranya akan datang kesana.


**


"Sudah izin pada ayah?" Isabella menatap ketiganya yang sudah rapih dan juga ransel yang bertengger di bahu mereka.


Ketiganya mengangguk kompak. "Beritahu bunda jika sudah sampai di sana oke?"


"Oke bunda"


Isabella mengangguk kecil pada Robert. Lelaki itu membukakan pintu mobil untuk ketiganya. Robert lah yang akan mengantar sekaligus mengawal mereka selama di sana nanti.


Mobil yang Robert kendarai melaju cepat keluar dari halam Mansion Scander. Di ikuti 5 mobil lain di belakangnya yang mengawal ketat ketiga kesayangan Justin Scander itu.


"kau membawa pedang mu?" tanya Jeno pada Jovan yang membawa tas lain di genggamannya.


Jovan melotot tajam pada sang kaka. "jangan berisik, nanti Robert dengar!! bagaimana jika ketahuan ayah?!" kesalnya.


Jeno hanya menggedikkan bahunya tidak perduli. toh yang akan di omeli sang ayah juga bukan dirinya nanti. sedangkan Jesslyn hanya memutar bola matanya mendengar perdebatan kedua saudaranya.


Tanpa ketiganya sadari, Robert tersenyum simpul. Earpiece di telinganya sudah terpasang sejak tadi, dan jelas saja tuan besarnya akan mendengar percakapan anak-anaknya.


****


See you!!