Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
19. Akselerasi?



Erick, Jeno dan yang lainnya akhirnya memutuskan untuk berkeliling setelah bosan mengobrol di kantin. Ke tujuh remaja itu sontak menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana, terutama Jesslyn yang merupakan satu-satunya perempuan di antara mereka.


"Masih lumayan lama gak sih acara intinya?" tanya Virzan. Keano melirik jam tangan miliknya, "gak sih paling sejam lagi lah"


"Terus kita ngapain?"


"Keliling lagi aja lah, atau ngapain kek biar gak boring. Tuh ada stand photo tuh" Brian menunjuk stand photo yang paling penuh dengan antrian.


"Ck rame amat!"


"Namanya juga remaja. Mengabadikan moment itu penting"


"Prett"


"Aneh lo Zan. Bokap lo dua-duanya suka photography, lah anaknya kaga suka di foto" seru Keano dengan raut heran. Virzan mengibaskan tangannya ke udara. "Bukan gak suka, gua gak tertarik aja"


"Sama aja anjir"


"Lo mah emang paling beda udah" seru Brian menimpali.


Ketika Virzan, Keano, dan Brian sibuk berdebat, Erick justru sibuk menghampiri satu persatu stand makanan dengan Jeno yang Setia mengikutinya di belakang. Matanya berbinar cerah melihat berbagai makanan yang terjajar rapih.


"Kalian ribut terus. Tuh liat Erick, udah megang berapa kantong makanan dia" Jesslyn menyela pembicaraan ketiganya, tangannya menunjuk pada Jeno dan Erick yang tengah berdiri di stand jajanan Jepang.


"Gak kaget si gua liat Erick begitu" seru Brian.


"Jeno udah kaya bodyguard aja" ucap Virzan.


"Manusia bucin mah susah" ucap Jovan dengan nada ketus yang sejak tadi diam akhirnya ikut menimpali.


Keano menepuk pelan bahu sahabatnya itu sambil tertawa kecil. "Kkkkk. Emosi banget bos"


Akhirnya mereka memutuskan untuk lanjut berkeliling, membiarkan Erick dengan makanannya dan Jeno dengan kebucinannya.


"Kamu gak kenyang?" tanya Jeno pada Erick yang tengah menunggu makanan miliknya matang.


Erick menggeleng ribut. "Selalu ada space untuk makanan" jawabnya santai.


"Ini ka pesanannya. Terimakasih sudah berbelanja" ucap seorang siswi penjaga stand sembari memberikan kantong plastik kepada Erick.


Erick menyerahkan tiga lembar uang sepuluh dolar pada siswi tersebut. "Sama-sama" balasnya dengan senyum lebar.


"Udah dulu yuk jajannya. Tangan kamu udah penuh loh itu, abisin dulu yang udah di beli"


"Oke. Ayo duduk"


Erick berjalan duluan di depan membiarkan Jeno yang setia mengikutinya. Langkahnya ia bawa pada sebuah pohon mangga besar yang berada di pinggir lapangan. Ia akan menikmati makanan miliknya sambil bersantai di bawah pohon.


"Yang lain kemana?" tanya Erick begitu menyadari teman-teman nya tak ada.


Jeno mengedikkan bahunya. "Keliling mungkin"


"Kamu mau?"


"Tidak"


"Yakin?"


"Iya sayang. Nanti perut karet kamu gak kenyang"


Tatapan sinis Erick layangkan pada kekasihnya itu. Enak saja perutnya di bilang karet.


Saat Erick asik menghabiskan makanan miliknya, Jeno justru sibuk memperhatikan kekasih manisnya itu. Tangannya sesekali mengusap sudut bibir Erick jika di rasa sang kekasih yang makan dengan belepotan.


"Pelan-pelan, gak akan ada yang ngambil makanan kamu" tegur Jeno yangs di balas cengiran oleh Erick.


"Hehehe"


"Rick"


"Kamu gak mau ngambil kelas akselerasi?" Jeno bertanya dengan nada lembut.


Erick melirik sang kekasih sekilas, lalu kembali fokus pada makanannya. "Bukannya udah terlambat?"


"Kamu bisa ikut ujian bareng kelas tiga tahun ini" jelas Jeno.


Erick menggeleng. "Gak ah. Aku masih pengen nikmatin masa Junior aku. Kenapa kamu tanya gitu?"


"Kalau aku sama yang lain lulus, tinggal kamu sama Keano di sini"


"Oh? Aku lupa kalo Jovan dan yang lainnya anak aksel"


"Kamu yakin gak mau ngambil?" tanya Jeno meyakinkan.


Erick menatap Jeno ragu-ragu. "Kamu.... Mau berangkat ke Cartesy ya?"


Jeno mengangguk. "Aku akan melanjutkan sekolah ku di sana bersama Geo. Kamu gak mau berangkat bareng aku?"


"Kan masih lama"


Jeno menunduk, bibirnya mengulas senyum tipis. Dirinya masih ragu untuk mengatakan apa yang ingin ia sampaikan sejak lama pada Erick.


"Aku takut gak bisa berangkat bareng kamu" nada suara Jeno berubah lirih.


"Aku bisa nyusul kamu kan? Kenapa kamu kaya sedih gitu"


"Gak apa-apa sayang. Aku cuma khawatir apa yang udah aku rencanain gak sesuai dengan apa yang aku harapkan"


"Asal kamu gak ninggalin aku gitu aja, aku rasa semua akan baik-baik saja"


"Yeah"


**


Cafe Garden City.


Jesslyn menatap lekat wajah kaka kembarnya yang terlihat murung. "Di liat dari wajah kamu kayanya kamu masih belum ngomong sama Erick ya?" tebaknya tepat sasaran.


Jeno menjilat bibirnya yang terasa kering. Meraih gelas minuman miliknya meminumnya hingga tandas.


"Waktu lo udah gak banyak, Jen. Kalai gak sekarang kapan lo mau ngasih tau dia?" seru Virzan.


Jeno menghembuskan nafas pelan. "Gua akan kasih tau sebelum gua berangkat"


"Pas di bandara maksud lo?" sahut Jovan dengan nada ketus.


"Lo tau Erick, Jen. Sekali lo bikin dia kecewa, dia gak pernah mandang lo dengan sama lagi" Brian ikut menimpali. Dirinya jadi ikut pusing dengan tingkah sepupunya ini.


"Dia udah tau kalau gua mau berangkat, tapi dia pikir itu masih lama. Tadu gua nanya apa dia gak mau masuk kelas aksel"


"Dan dia nolak?" tebak Brian. Jeno mengangguk. "Kenapa gak langsung lo kasih tau?! Bikin emosi aja lu ah"


"Gua bingung"


"Ck! Kelamaan mikir. Jangan ampe gua yang ngomong sama dia!"


Jovan mendengus keras. "Kalo kata papah Galih, lo sama begonya sama bunda. Pelajaran doang pinter, masalah cinta nol besar"


"Sialan!"


"Kasih tau dia sekarang atau biarin dia benci lo selamanya!!" tekan Jovan yang mulai hilang kesabaran.


Jeno terdiam tidak mampu membalas perkataan Jovan. Bagaimanapun apa yang di katakan saudara kembarnya itu memang benar. Biarkan Erick tau atau Erick akan membencinya selamanya.


****


See you!