
"Hahahaha" Lelaki itu tertawa, kepalanya terlempar kebelakang, merasa lucu dengan perkataan bocah didepannya ini. "Kau pikir hanya kau yang tau? "
"Tidak! Tapi aku yakin kakek rayyan belum mengetahui apapun, right?" Vion menyeringai, merasa dirinya akan menang. Bocah ini lupa siapa yang ada dihadapannya.
"Bukankah mafia punya aturan untuk tidak mengusik wilayah orang lain, ka Bella? " Aldre berbicara dengan keras, membuat semua orang menoleh padanya. Vion menggeram kesal, rencananya gagal.
Isabella menatap tajam keponakannya. "Lavion Devano Courtland! Bukankah bibi sudah memeringatimu? "
"Aku hanya menyapa paman Aldre, bibi. Apakah itu salah? " Vion mengelak, memberikan senyum manis pada bibinya itu.
"Benarkah? Kau baru saja mengancamku Vion! " ujar Aldre cepat.
Vion meneguk ludahnya kasar, kini semua orang memandang kearahnya. Matanya menatap lekat sang bibi, mencoba menerka intruksi apa yang coba wanita itu berikan.
Galih menatap sahabatnya, walau wajahnya tidak berekspresi, dia jelas tau bahwa sahabatnya itu tengah mendapatkan jackpotnya. Perasaan khawatir menyelimutinya, apa yang sedang terjadi disini?
"Kakek Rayyan! " Tuan Rayyan menoleh, menatap cucu sahabatnya. "Ada apa Vion?"
"Apakah kakek pernah bertemu keluarga angkat paman Aldre? " Vion menyeringai. Aldre mengepalkan kedua tangannya erat, ekspresinya masih sama, datar dan tenang.
"Apa ada sesuatu, Vion? " Tanya tuan Rayyan.
"Kau tau, kakek? Putra bungsumu terlibat dengan keluarga paling berbahaya didunia... " Vion menjeda ucapannya, menatap sekilas kearah Aldre yang menatapnya penuh permusuhan. "Romanov! "
"VION!!! " Kevin berteriak marah.
PRANGG!!
Gelas ditangan Galih jatuh seketika, lelaki itu terkejut, begitupun yang lainnya. Tuan Rayyan menatap sang putra dengan pandangan sulit diartikan, lalu beralih menatap sang sahabat, tuan Revano.
"Apa itu benar? Van? " suaranya pelan dan lirih.
"Maafkan aku, Rayyan "
BRUKKK!!
"Ayah!!! " Daniel dan Dion berlari cepat, begitu tuan Rayyan ambruk. Mengangkat tubuh pria paruh baya itu, dan membawanya ke kamar.
"Love... " Galih menepis tangan Kevin yang hendak menyentuhnya. "Kau pasti tau ini kan? Iya kan Hubby? "
"Lov-- "
"Kenapa kau rahasiakan padaku? KENAPA?!!! "
"Maafkan aku Love, I'm sorry! "
Galih menatap nanar sahabatnya, seharusnya mereka tidak merahasiakan hal ini darinya. Memilih keluar dari sana, menyusul sang ayah. Sedangkan Aldre, lelaki itu sudah lebih dulu berlarj begitu tubuh sang ayah dibawa keluar. Dia khawatir melihat ayahnya tiba-tiba terjatuh.
.
Di dalam kamar, tuan Rayyan perlahan mulai sadar. Tatapan matanya kosong, seperti tidak ada kehiduoan didalamnya. Pria paruh baya itu mengalami shock berat.
Galih menyeret paksa adiknya untuk keluar, tidak membiarkan Aldre sama sekali. "Aku ingin melihat ayah, ka!! " ucapnya memberontak.
Plakk!!
"...."
Galih kembali masuk kedalam kamar, rasanya dia ingin sekali mengamuk, Erick bahkan sudah memberontak minta keluar. Menjaga jarak dari suaminya. Sedangkan Kevin hanya menatao sendu kearah istrinya.
"Isabella " panggil tuan Rayyan. Isabella mendekat, menggenggam tangan tua itu. "Ya, ayah? "
"Kamu akan membawanya kembali kan? "
"Tentu. Tapi aku masih butuh ijin dari seseorang "
Tuan Rayyan berailh menatap Justin, mengerti siapa yang putrinya maksud. "Justin... " Justin menghela nafas pelan, "Justin ijinkan paman "
"Bawa dia kembali Isabella, ayah mohon.. Hiks " suara isakan yang begitu menyakitkan dari seoarang ayah yang begitu mencintai anaknya, terdengar memilukan.
"Isabella berjanji ayah. Jangan khawatir, everything gonna be alright " ucap Isabella, suaranya seperti meyakinkan dirinya sendiri.
"Love... " Galih menghempas kasar tangan suaminya yang hendak meraih tangannya. Menatap marah lelaki itu. "I'm sorry " ucap Kevin lirih.
"Lov--" tangan Galih terangkat, meminta sang suami untuk diam. Matanya terpejam erat, menetralkan emosinya yang hampir meledak.
Kevin berbalik, menatap tajam keponakannya. "Ikut dengan paman, twins! Paman punya pelajaran untuk kaliab berdua! "
Vien terkejut, dia tidak terlibat apapun, kenapa ikut disalahkan ? "Tapi paman-- "
"Vien!! " Kevin melangkah keluar, diikuti si kembar V.
Galih membuka matanya yang sejak tadi terpejam, menatap Isabella, dan berjalan cepat menuju ke arahnya. Tangannya menjambak rambut wanita itu kencang, membuat Isabella tersentak. "Erick!! "
Justin berlari meraih tubuh Galih, menjauhkan dari istrinya. "Menjauh dari istriku Erick! " peringatnya. Erick menggeram marah, matanya masih menatap tajam Isabella.
Senyum sinis terlukis diwajah tampan lelaki bermata hijau itu. "Beraninya kau menipu Galih, baby girl! "
Isabella kembali berdiri tegak, menatap lurus. "Aku tidak menipu siapapun. Semua hal harus dipertimbangkan dengan matang Erick! Kau tidak mengerti betapa berapnya dunia kami, segala sesuatu yang aku putuskan harus dipikirkan dengan baik. "
"Tapi kau bisa berbicara sejak awal. "
Isabella menggeleng, "tidak semudah itu, Erick! Yang sedang dipertaruhkan adalah posisi seorang kaka dan ayah. Berbicara itu mudah bertindaknya yang sulit. "
Isabella menatap sang ayah sebentar sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku juga tidak ingin menyembunyikan hal ini, tapi aku memiliki pilihan? Apa kau pikir Galih tidak akan bertindak bodoh dengan menegur adiknya? Kau harus mengerti Erick, jika aku tidak bicara-- maka aku sedang mempersipakan banyak hal. Dan jika aku sudah bicara, maka artinya persiapan itu sudah selesai! Kau mengerti? "
Erick mengendurkan pertahanannya, merilekskan tubuhnya perlahan. "Maafkan aku" suaranya mendayu lemah. Isabella melangkah menuju sahabatnya, menarik lelaki itu kedalam pelukan hangatnya dengan erat. Perlahan posisinya kembali bertukar dengan sang pemilik asli tubuh.
"Kamu percaya aku kan, Ge? " Galih mengangguk pelan, matanya berkaca - kaca, tidak butuh waktu Lama tubuhnya bergetar hebat.
....
Aku punya banyak alasan untuk menyerah padamu dan pergi begitu saja. Tetapi aku memilih untuk tetap tinggal. Kamu punya banyak alasan untuk tetap tinggal, tetapi kamu memutuskan untuk menyerah dan pergi.
......
T B C?
Bye!