Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
16. Isabella dan Geo



Isabella mengetuk-ngetuk jarinya yang cukup panjang pada pembatas balkon. Tiga kali panggilannya di tolak sejak 10 menit yang lalu. Tapi dirinya sama sekali tidak menyerah, terus menerus meneror sosok tersebut.


"Aunty tidak berkontribusi apapun dalam kesalahan kakekmu, kenapa kau menghindari aunty juga?" Serbunya begitu panggilannya di jawab.


Kening Isabella mengkerut, alisnya menyatu tanda dirinya tengah kesal pada seseorang di seberang sana yang tengah ia ajak bicara.


"Aku tidak bermaksud begitu, aunty" balas sosok itu dengan nada suara yang terdengar sungkan dan lirih.


Isabella berdecak cukup keras. "Benarkah? Kalau begitu berikan alasan mu agar aunty bisa memaafkan mu"


"Aunty mengenal bagaimana daddy kan? Jadi aunty jelas tau apa jawaban ku" jawaban sederhana tapi mampu membuat Isabella tergelak.


'Dasar anak daddy' serunya dalam hati.


"Cukup bisa di terima. So? how do you feel now?"


"Not good but nod bad"


"Mmh?"


"Entahlah aunty, aku masih enggan mengatakan apa pun"


"Aunty mengerti, maafkan aunty ya. Apa kau akan pulang nanti?"


"Ya. Untuk menjemput Jeno"


"Seingat ku dia bukan bayi berusia 4 bulan, kenapa harus di jemput?"


Kekehan renyah terdengar dari sebarang sana. "Takut nyasar katanya"


"Halah. Alasan!"


"Tidak apa-apa, aunty. Setidaknya ini menjadi alasan terkuat ku untuk pulang"


"Aunty mengerti. Jangan lupa hubungi papah mu ya? Kasihan dia, merindukan putra sulungnya tapi putranya tidak ingin bicara dengannya"


"Aunty...."


"Kau tidak tau seberapa takutnya papah mu ketika mengandung kalian. Dia takut akan menjadi seperti ayahnya dan dia takut anak-anak nya merasakan apa yang dia rasakan dulu.


Nak, dua tahun papah mu mengharapkan kehadiran kalian tapi dia tidak bisa melawan rasa takutnya. Dia berjuang sekuat tenaga untuk menjadi sosok yang baik bagi kalian. Apa yang kakek mu lakukan padanya dulu masih menyimpan trauma besar dalam hatinya.


Aunty mengerti jika kau marah pada kakek mu, aunty tidak akan repot membujuk mu untuk memaafkan nya, tapi papah mu tidak terlibat apa pun, sayang. Jangan menjauhinya, jangan membencinya seperti kamu membenci mereka. Dia sangat menyayangi mu, Geo. Kau adalah hal paling hebat yang dia miliki dalam hidupnya.


Dan kamu harus ingat bahwa, aunty tidak pernah memaafkan siapa pun yang membuatnya terluka.


Geo paham?"


"Paham aunty"


"Baiklah, selamat beristirahat. Maaf aunty mengganggu waktu mu"


"Tidak apa-apa. Kalau begitu selamat malam aunty"


"Selamat malam, boy"


Telpon berakhir, Isabella memandang ponselnya dengan raut datar.


"Jangan terlalu menekannya, Bee" ucap Justin.


Sejak tadi pria tampan itu mendengarkan dengan seksama apa yang istrinya bicarakan di telpon. Tidak ingin menguping, hanya memastikan bahwa sang istri tidak kelepasan menggunakan emosinya.


"Aku tidak tahan, Boo. Harusnya ka Kevin bisa bersikap tegas"


"Kevin bahkan tidak lagi bertegur sapa dengan mertuanya. Dia sendiri mulai jengah, Bee.


Apa yang sebenarnya terjadi? Paman tidak seperti ini sebelumnya" Tanya Justin penasaran.


Isabella tidak menjawab, netra abu gelapnya fokus menatap ke arah pintu kamarnya. Justin yang mengerti menolehkan kepalanya ke samping.


"Tidak sopan menguping pembicaraan orang tua mu, Princess" serunya sedikit keras.


Pintu kamar terbuka menampilkan Jesslyn yang seperti nya sudah sejak tadi berdiri di depan pintu kamar orang tuanya.


"Maaf ayah, Jesslyn hanya ingin mencari Valerie" ucap Jesslyn tak enak.


"Valerie di kamarnya, dia sudah tidur"


"O-oh. Kalau gitu Jesslyn akan ke kamar Valerie. Selamat malam ayah, selamat malam bunda"


"Selamat malam, princess"


Jesslyn kembali menutup kamar berlalu pergi dari sana sebelum mendapat amukan dari sang bunda yang sudah menampilkan raut tak bersahabat.


Isabella memutar bola matanya malas. "Awas. Aku mau tidur"


"Galak sekali"


**


Kevin masuk ke dalam kamar setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya, dirinya mendapati sang istri yang melamun di pinggir ranjang.


Tangan kanannya terjulur, mengelus lembut pipi chubi itu. Membuat Galih sontak tersadar dari lamunannya.


"Hubby sudah selesai?" Galih cukup terkejut melihat sang suami yang sudah berdiri di hadapannya.


"Kau melamun, Love?" Tanya Kevin yang sejujurnya lelaki itu sudah tau jawabannya. "Kenapa?"


"Aku-- aku tidak apa-apa, hubby"


"Jangan berbohong pada ku. Kau merindukan Geo?"


Hanya tatapan sendu yang bisa Galih berikan. Dirinya sudah kembali mencoba menghubungi putra sulungnya itu, tapi hasilnya tetap sama Geo tidak mengangkat panggilannya.


"Geo sudah tidur. Tadi dia berbicara dengan Isabella sebentar, setelah itu dia langsung istirahat. Kegiatannya cukup padat hari ini" Kevin menjelaskan info yang di dapatnya entah dari mana.


"Geo masih marah sama aku?"


"Tidak sayang"


"Hubby selalu jawab seperti itu"


"Besok kita hubungi Geo ya"


Mata Galih berbinar cerah setelah mendengar perkataan sang suami. "Sungguh?"


Kevin mengangguk mantap. "Iya sayang"


"Hubby janji kan?"


"Janji"


Dengan cepat Galih berhambur memeluk erat tubuh Kevin, menenggelamkan kepalanya di dada bidang lelaki itu.


"Sekarang kita tidur ya?"


"Mm"


Galih merangkak naik ke atas ranjang, merebahkan tubuhnya tepat di tengah ranjang. Kevin menyusul setelah melepaskan kaus yang dikenakannya. Menarik tubuh Galih kembali masuk ke pelukannya.


Setelahnya hanya ada dengkuran halus yang terdengar dari bibir keduanya.


**


"Ayo hubungi Geo" Erick berucap penuh semangat. Ia tau sepupunya itu pasti akan mengangkat telpon jika Jeno yang menghubunginya.


"Geo sedang istirahat sayang" tolak Jeno.


Kening Erick mengkerut. "Kata siapa? Sok tau"


"Loh memang benar. Ini jamnya Geo istirahat dan kita tidak boleh mengganggunya"


"Tapi aku kangen"


"Kita hubungi dia besok ya"


"Janji ya"


"Janji sayang. Nah, sekarang ayo tidur"


"Aku belum ngantuk"


"Erick."


"Ish iya iya" Erick membalikan tubuhnya menjadi membelakangi Jeno. Sedangkan Jeno hanya menggeleng maklum dengan mood sang kekasih yang sedang tidak bagus.


"Selamat malam, sweetheart"


Cupp..


****


See you