Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
52.



Tiga bulan kemudian...


Hari-hari berlalu melupakan segala kejadian pahit di masa lalu. Langkah kaki yang terus menapak menyusuri jalan entah akan di bawa kemana, seolah hanya mengikuti arah angin membawa.


Waktu liburan telah habis dan semester pertama telah di mulai sejak beberapa minggu lalu. Aktifitas sehari-hari sebagai seorang pelajar kembali di mulai


Tubuh tegap milik remaja berusia 14 tahun itu membungkuk dengan kedua tangan yang menumpu pada lutut. Nafasnya terengah, keringat membanjiri wajah dan seluruh tubuhnya, begitupun rambutnya yang mulai lepek karena keringat.


Seorang remaja laki-laki lainnya berjalan menghampiri dengan kondisi yang tak kalah jauh. Namun terlihat lebih santai dari temannya yang masih sibuk menetralkan rasa lelah.


"Jeno gak akan seneng liat lo begini. Kenapa hukum diri sendiri sih? Selagi Jeno gak ninggalin lo tanpa kabar lo gak boleh berpikir macam-macam" ucap cowok tersebut disertai nada cibiran di setiap kalimatnya.


Dengan gerakan cepat remaja 14 tahun itu menegakkan kembali tubuhnya. Tatapan kesal dia layangkan pada sahabatnya itu.


"Gak ada hubungannya sama Jeno ya bangsat!" balasnya tak suka.


Kening Virzan mengkerut, kedua tangannya bertengger apik di pinggang, juga satu alisnya yang menukik tajam.


"Bullshit"


Erick mendengus, ada banyak alasan yang membuat dirinya bekerja keras seperti ini. Meski ia akui bahwa sang kekasih menjadi salah satu dari sekian banyak alasan tersebut.


"Gua gak mungkin bergantung sama Lo dan Jovan buat jagain gua" Erick berucap dengan lirih, dirinya tak ingin menjadi beban untuk orang lain.


Virzan kembali merubah ekspresi wajahnya menjadi datar. "Ka, terlepas dari amanat Jeno, udah jadi kewajiban gua jagain lo. Selama ini gua cuma ngawasin lo dari jauh karena ada Jeno di samping lo, jadi gua gak perlu terlalu khawatir"


Perkataan Virzan sukses menarik senyum manis Erick keluar. "So sweet banget.... Aw jadi terharu" godanya di iringi kedipan manja.


"Nyesel gua ngomong" ucap Virzan geli.


"Hehehe, ayo kantin gua laper"


"Gak ada gunanya juga si lo olahraga"


"Hehehe"


Keduanya pun berjalan menuju kantin sekolah.


Setibanya di kantin Erick langsung memesan makan dan minum, sedangkan Virzan hanya mengambil sebotol air mineral dari kulkas khusus para siswa yang ada di kantin.


"Kan kata gua ge apa, percuma dia olahraga. Perasaan papah kaga doyan makan begini dah" entah bagaimana lagi harus bereaksi, rasanya Virzan sudah tidak sanggup melihat sahabat nya yang gila makan tapi tetap ingin olahraga.


"Berkurang kaga malah makin numpuk itu lemak" sindir Virzan. Erick mendelik sinis, "berisik!"


***


"Kapan kamu mulai latihan?" Jesslyn melirik Jovan yang tengah bermain game sambil duduk di counter dapur. Sebelumnya cowok itu berkata ingin menemani nya membuat cookies. Benar-benar definisi menemani tanpa membantu apapun.


"Gak tau, paman masih sibuk" jawab Jovan tanpa melirik ke arah kaka kembarnya itu.


"Nanti kalau aku nyusul Jeno, kamu mau lanjut kemana?" Jovan meletakkan ponselnya begitu permainannya selesai. Netra berbeda warnanya menatap lurus kedua Netra hazel milik Jesslyn.


Jesslyn menggeleng kecil. "Yang jelas gak satu sekolah sama kalian" balasnya ketus.


"Hih! Gak mau! Bisa sawan aku lama-lama sama kalian"


"Tapi kata ayah kalau kita belum 17 tahun kita gak boleh berpisah" Jovan ingat kata-kata sang ayah bahwa jika mereka belum memasuki usia legal mereka tidak boleh berpisah.


Mata Jesslyn menyipit, bibirnya mengerucut kecil. "Aku yang bakal ngerayu ayah nanti"


"Semangat"


"Ish"


**


Pukul 11 siang, Erick baru saja tiba di rumahnya setelah berolahraga sedikit dengan Virzan di sekolah. Meski akhirnya olahraga nya tetap sia-sia karena Erick tidak bisa menahan keinginannya untuk berhenti makan.


Tubuh Erick mematung di depan pintu, satu tangannya memegang gagang pintu yang sudah terbuka sedikit dan satu laginya menggenggam ponsel miliknya.


Bukan tanpa alasan Erick terdiam seperti patung, pasalnya ia baru saja membuka ponselnya dan Erick tidak mendapati satupun notifikasi dari sang kekasih.


Biasanya sejak pagi buta Jeno pasti sudah menerornya dengan telpon, tapi hari ini Erick justru tidak mendapati satu pun panggilan dari nomor Jeno. Bahkan pesannya tadi pagi belum juga di baca oleh cowok itu.


Jari Erick bergerak diatas nama Jeno tanpa menunggu lama menekan tombol panggilan lalu menempelkan ponselnya telinga.


Suara operator telpon menjadi yang pertama masuk ke dalam telinganya, hal ini membuat Erick semakin bingung. Ada apa dengan kekasihnya?


"Apa dia sibuk? Atau belum bangun?"


Erick menggelengkan kepalanya menepis segala pikiran buruk yang hinggap.


"Mungkin dia memang lagi sibuk"


**


Cartesy High School, Jerman.


Di salah satu kursi di dalam perpustakaan sekolah, dengan meja yang penuh buku dimana dua remaja laki-laki duduk saling berhadapan. Salah satunya tengah fokus pada buku di tangannya, sedangkan yang lainnya hanya memperhatikan sahabatnya.


Geo menatap Jeno lekat dengan tatapan penuh arti, sesekali melirik pada ponsel cowok itu yang tergeletak mengenaskan di atas meja, tak tersentuh sejak dua jam yang lalu.


Ponsel Jeno biasanya tidak pernah sepi, selalu kedap kedip seperti lampu disko karena Jeno pasti tidak akan berhenti mengirimkan pesan pada kekasih nya sebelum cowok itu pergi tidur. Tapi sekarang ponselnya justru mati seperti kehabisan daya.


'Dia gak serius sama kata-katanya kan?' Geo bergumam dalam hati, merapal doa semoga Jeno tidak benar-benar serius dengan perkataannya.


"Daripada kau terus melirik ku dan ponsel ku berkali-kali, lebih baik kau fokus pada presentasi mu yang tak kunjung selesai"


Seolah tau apa yang di pikirkan Geo, Jeno berucap menyadarkan Geo dari lamunannya.


"Jangan ingatkan aku, brengsek!" umpat Geo kesal.


****


See you!