
Erick membuka matanya yang sedikit bengkak, ia tertidur setelah menangis semalaman. Mulutnya menguap lebar dan dengan malas bangkit dari posisi berbaringnya.
"WOAAHH!!" teriakan terkejut keluar dari mulut Erick. Ia baru membuka matanya lebar dan sudah dikejutkan dengan penampakan sesosok cowok dengan aura yang sangat dingin berada di dalam kamarnya.
Tangan kanannya mengelus dadanya yang berdenyut hebat karena jantungnya berdetak 2x lebih cepat.
"Kau mengejutkan ku, Zan. Bisakah setidaknya kau membuka suara?" Omel Erick.
Pasalnya, Virzan hanya duduk diam di sofa kamarnya yang menghadap ke tempat tidur sambil menatap ke arahnya dengan ekspresi datar andalannya.
"Good morning" sapa Virzan setelah Erick mengeluarkan omelannya.
Erick mendengus, memutar bola matanya malas. "Apa yang kau lakukan di kamar ku?"
"Menunggu kaka bangun" jawab Virzan santai.
"Memangnya aku bocah"
Netra biru Erick mengedar, menatap penampilan Virzan yang terkesan santai hari ini. Apa bocah itu tidak pergi ke sekolah?
"Dimana seragam mu?" tanya Erick bingung. "Aku tidak memiliki kelas hari ini, ka" jawab Virzan masih dengan nada santainya.
"Hah?"
"Aku sudah masuk kelas aksel" ucap Virzan menjawab kebingungan Erick.
"Sejak kapan?"
"Sejak sebulan lalu"
"Oh" Erick mengangguk mengerti. "Kalau begitu aku mau mandi" Erick bergerak turun dari ranjang untuk memulai rutinitas paginya.
"Kaka tidak perlu ke sekolah. Aku sudah mendaftarkan kaka ke kelas aksel bersama ku" perkataan Virzan membuat Erick tercengang hebat.
"HEI!!! Siapa yang mengatakan bahwa aku mau masuk kelas aksel?!" serunya setengah berteriak.
Virzan menggeleng dengan wajah polosnya. "Aku hanya ingin kaka lulus bersama ku" jawabnya tanpa beban.
Erick meremat rambutnya kesal. "Kau--" Tunjuknya tepat di depan wajah Virzan. "Sama menyebalkannya dengan sepupu mu itu. Kau paham?!"
Sekali lagi dengan ekspresi polosnya, Virzan mengangguk sebagai jawaban. Dengan perasaan kesal, Erick melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Kakinya menghentak kesal di setiap langkahnya.
--
"Ada apa dengan wajah kusut mu itu?" tanya Aldre. Mata Erick memicing melihat kehadiran sang paman di rumahnya pagi buta begini. "Sejak kapan paman disini?" ujar Erick balik bertanya.
"Satu jam yang lalu mungkin" jawab Aldre sambil mengedikkan bahunya. "Ini masih pagi buta" balas Erick.
"Kenapa bocah ini mirip sekali dengan daddynya?" gumam Aldre yang masih bisa di dengan jelas oleh Erick dan Virzan.
"Namanya juga ayah dan anak" ucap Erick.
Daniel datang di tengah-tengah perbincangan mereka. Pria itu baru saja selesai membantu sang istri membereskan meja makan.
"Erick ingin sarapan sekarang? Mamah sedang menyiapkan cemilan untuk mu" Daniel bertanya pada sang putra.
Semalam Erick mengatakan bahwa ia tidak ingin dibangunkan pagi-pagi, ia ingin tidur sampai siang. Tapi bocah itu justru bangun tepat setelah sarapan selesai, tentu saja karena Virzan yang mengganggu tidur sahabatnya.
"Nanti saja, papah. Erick belum lapar" jawab Erick.
"Baiklah" Daniel mengalihkan tatapannya pada Virzan yang masih berdiri diam tanpa suara. "Duduklah, Zan. Kau tidak pegal berdiri terus?"
"Iya, papah" Virzan mengambil duduk tepat di samping Erick.
Aldre mendekatkan dirinya pada Daniel begitu sang kaka sudah duduk nyaman di kursinya.
"Seingat ku ka Verrel tidak sedingin ini" bisiknya pelan. Matanya melirik ke arah Virzan hati-hati.
Daniel tertawa kecil mendengar ucapan adik bungsunya itu. "Dia bahkan lebih dingin dari putranya, Al"
"Benarkah?"
Daniel menganggukkan kepalanya sekali. "Tapi dia sedikit lebih hangat sekarang"
Aldre kembali merubah posisinya kembali seperti semula, netra cokelat gelapnya memandang ke arah Virzan dengan lekat.
"Bisakah paman bertanya sesuatu pada mu, Virzan?" Ujar Aldre.Virzan mengangguk singkat.
"Kau.... Sungguh menyukai Geo?" Aldre bertanya dengan wajah ragu. Erick yang mendengar perkataan sang paman langsung melotot ke arah lelaki itu. "Paman?!"
Daniel menatap ketiganya bingung. "Apa maksudnya?" Lalu memfokuskan pandangannya pada Virzan. "Apa itu benar, Virzan?"
Virzan menatap tiga orang di hadapannya bergantian. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, ia juga masih memasang ekspresi datar andalannya.
"Apa paman keberatan?" tanya Virzan yang akhirnya membuka suara. Aldre menggeleng kuat. "Tentu saja tidak. Tapi jika itu memang benar, bisakah paman percayakan kebahagiannya pada mu?" tatapan Aldre pada Virzan menyorot penuh harap.
"Tentu saja" Virzan menjawab dengan mantap.
"Terimakasih, Virzan"
----
See you!